Figur

EDUWART MANALU: DARI “SATU RASA” JADI “SAMBUNG RASA”

Masih sedikit orang yang paham bahwa profesi aktor tidak melulu soal dunia glamor dan ketenaran. Aktor Eduwart Manalu mengajak kita merunut perjalanannya belajar akting, beradaptasi di era pandemi, hingga perannya sebagai si Kumis dalam film yang diadaptasi dari novel Eka Kurniawan dan mendapat pengakuan internasional baru-baru ini, “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”.

title

FROYONION.COM - Banyak memori yang kita rindukan dari perayaan hari kemerdekaan sebelum pandemi. Dari lomba makan kerupuk, panjat pinang, sampai balap karung. Maklum di masa PPKM begini, semua orang masih terkurung di rumah masing-masing.

Bagi aktor Eduwart Manalu, perayaan hari kemerdekaan di bulan Agustus mengantarnya pada kenangan masa kecil saat ia bersentuhan pertama kali dengan dunia seni peran. Itulah momen saat Eduwart (Edu) menyadari dirinya memiliki minat dan bakat pada dunia akting.

“Di kampung dulu di Cileungsi, Bogor, tiap perayaan 17 Agustus aku sering memainkan peran pahlawan, pakai bambu runcing, pakai kain merah putih ala kadarnya untuk menggambarkan suasana perang,” kenangnya saat mengobrol secara virtual Sabtu (7/ 8/2021).

Meskipun Edu cilik belum paham arti kata “akting” tapi ia sudah mengalaminya dan mempraktikkannya secara langsung tanpa bimbingan mentor atau guru.

Karena biaya kuliah cukup membebani keuangan keluarga saat itu, Edu pun memutuskan untuk menseriusi bakat aktingnya dengan bergabung dengan Teater Populer pimpinan sutradara dan aktor watak Slamet Rahardjo saat usia remaja sekitar tahun 2003-2004.

“Aku belajar dari Slamet Rahardjo. Saat itu akan dibuat drama komedi untuk TVRI dan aku diajak temen untuk gabung. Tapi temenku itu malah mundur karena mungkin bayarannya nggak seberapa. Saat itu aku nggak mikir soal bisa dapet berapa tapi bisa belajar apa nih dari Slamet Rahardjo,” tutur Edu yang saat ini tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Slamet yang dikenal sebagai salah satu sosok terkemuka dalam seni peran ini memang mengelola Sanggar Teater Populer tempat Edu belajar. Sebagai pegiat seni peran, nama Slamet sudah lebih mapan. Ia diakui sebagai aktor, sutradara, dan penulis naskah yang mumpuni.

 

BELAJAR KEHIDUPAN

Edu pun menikmati proses yang dijalaninya setiap hari. Berkebalikan dari dugaan orang awam bahwa belajar akting harus teriak-teriak atau menangis-nangis hebat, justru saat belajar dengan Slamet Rahardjo, Edu belajar hal-hal yang sekilas terkesan bukan bagian dari pembelajaran teknik akting.

“Aku malah belajar mengenal kehidupan secara umum, mengenal kehidupan bertetangga, bukan belajar akting nangis, marah, dan lain-lain.”

Ia mencontohkan lebih lanjut proses bahwa belajar di sanggar milik Slamet Rahardjo yang diwariskan oleh mendiang Teguh Karya itu misalnya adalah ia tiap pagi harus menyapu halaman. Tapi alih-alih cuma asal menyapu seenaknya, Edu diharuskan menghayati aktivitas membersihkan halaman dengan sapu itu. 

“Nyapunya nggak sembarangan. Harus ada iramanya. Kan pasti ada bedanya tuh saat perasaan seseorang yang menyapu kalau lagi hepi sama lagi nggak. Di sini aku belajar sesuatu. Ini tanpa disadari juga sebenarnya bentuk latihan juga. Sebuah latihan mempertajam rasa.”

Tak cuma menyapu, latihan-latihan akting lainnya yang tak pernah terpikirkan baginya ialah berbicara dengan benda-benda mati.

“Aku disuruh ngomong sama tembok, sama pohon, sama kursi. Ini melatih kepekaan kita terhadap sekeliling kita bahkan benda mati sekalipun yang tidak bisa ngomong.”

Awalnya saat diharuskan menjalani latihan-latihan yang terkesan konyol ini, Edu merasa memberontak dalam dirinya. Sebagai anak muda yang baru belajar seni peran, ia memang belum paham sepenuhnya makna dan tujuan di balik latihan semacam itu.

“Ah buat apa sih ini? Kayak orang gila, ngomong sendiri ama tembok. Tapi kemudian diberitahu bahwa kita nanti sebagai aktor nggak main sama manusia, atau yang bernyawa dan bernapas saja tapi kamu juga harus bisa ‘menghidupkan’ benda mati di depanmu. Baru di situ aku sadar, oh iya bener juga ya kalau nggak bisa berakting di depan benda mati repot juga ya dan akhirnya malah seneng ngomong sendiri ama tembok, kursi. Haha.”

Edu sendiri mengaku banyak cara untuk bisa belajar akting. Ia lebih banyak observasi di luar lokasi sanggar. Tidak melulu berkutat di dalam lingkungan sanggar yang terbatas. 

Di luar sanggar ia bisa menyelami kehidupan orang lain yang ia temui. Misalnya ia pernah mengamati secara sengaja beberapa orang yang mengais rezeki jelang Lebaran dengan menyediakan jasa penukaran uang 10 ribuan untuk dibagikan ke anak-anak saat Idulfitri. Pernah juga Edu berjalan kaki dari lokasi sanggarnya di  di Jalan Kebon Pala I, Tanah Abang, Jakarta Pusat ke Pasar Tanah Abang (yang mencapai 5 km) tanpa alas kaki demi observasi kehidupan yang dijalani masyarakat sebenarnya. Dari observasi itu, lahirlah empati dan akan lahirlah “memory of emotion” (ingatan emosi) dalam diri seorang aktor.

“Nantinya jika seorang aktor mendapatkan peran yang karakternya mirip dengan apa yang sudah diobservasi, emosi itu ia bisa ‘panggil’ lagi,” jelasnya. Ingatan emosi inilah yang nantinya membuatnya bisa seketika menangis jika memang karakter yang diperankan harus menitikkan air mata. Tak perlu pakai alat tetes mata.

 

MENGHAYATI ‘LAPISAN’ EMOSI

Meski berakting terkesan lebih pada kegiatan fisik, metode latihan akting yang diajarkan oleh Slamet Rahardjo pada dirinya bukan cuma itu. Sebagai anak didik, ia juga harus bangun pagi, kemudian mengasah aspek intelektual dengan banyak membaca, menulis, menjelaskan hal-hal yang dilihat atau dialami. Jadi tidak sekadar melihat, menonton tapi benar-benar menyerap rangsangan dari semua panca indra kita dan meresapi serta memikirkannya.

Slamet Rahardjo memang salah satu produk dari kawah candradimuka yang dibuat Teguh Karya. Metode latihan akting Teguh sendiri memang dikenal kental dengan disiplin, latihan dengan jam-jam tertentu dari pagi sampai sore saban hari meski itu hari libur atau akhir pekan. Tak heran nama-nama besar seperti Nano Riantiarno, Christine Hakim, Dewi Matindas, dan sebagainya muncul dari tangan Teguh Karya ini.  

Proses bertahun-tahun yang mematangkan kemampuannya dalam berakting ini menurutnya membuatnya berbeda dari mereka yang muncul secara instan dalam dunia seni peran. 

Perbedaan antara akting aktor yang ditempa pelatihan yang bertahun-tahun dan mereka yang instan sebetulnya bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya.

“Biasanya orang-orang yang kerja di industri itu sendiri sih yang nge-cap gitu,’Jangan akting yang sinetron atau receh’,” ucapnya. 

Edu sendiri mencontohkan saat sebuah emosi diekspresikan di depan kamera, ada begitu banyak lapisan (layers) yang begitu halus. Tangisan orang yang kehilangan sandal di masjid pastinya berbeda dengan orang yang kehilangan dompet saat akan membeli susu untuk bayinya yang sedang lapar, sebagai contoh. Keduanya sama-sama emosi sedih, ada air mata yang mengalir,  tapi berbeda sekali.

Tahun 2006, Edu mendapatkan kesempatan untuk tampil di depan publik pertama kali sebagai seorang aktor di Gedung Kesenian Jakarta. Kala itu ia terlibat sebagai pemeran salah seorang pengawal Raja Creon dalam kisah mitologi Yunani Kuno, “Antigone”.

Momen itu menjadi pengalaman berharga karena ia bisa debut dalam arahan sutradara ulung Slamet Rahardjo. Ia mengaku tidak mendapatkan kompensasi apapun tapi memperoleh banyak pelajaran mengenai seni peran dari sana.

Kerja kerasnya berlatih seni peran dalam gemblengan Slamet Rahardjo selama bertahun-tahun membuahkan hasil karena makin lama reputasinya sebagai aktor makin terbangun. Kadang ia mengaku diamanati untuk menjadi pemeran tanpa harus melalui proses casting karena produser dan sutradara yang bersangkutan sudah meyakini kemampuan dan bakatnya dalam akting.

Selama kariernya dari 2006 hingga sekarang, Edu telah terlibat dalam 4 pementasan teater. Di luar teater, ia juga tampil dalam 5 pementasan. Hampir tiap tahun ia bisa tampil.

Di tahun awal kariernya itu, dunia teater masih cukup bergairah. Sejumlah tempat pertunjukan dikunjungi banyak penonton seperti Bulungan, Jakarta Timur, Graha Bhakti Budaya, dan sebagainya.

Tahun 2017 ia tampil dalam pertunjukan “Amangkurat” yang digagas Gunawan Muhamad di Teater Salihara. Di tahun yang sama pada bulan Desember 2017 ia dan kru diundang menampilkan pertunjukan yang sama di sebuah pusat seni budaya di Malaysia.

Akhir-akhir ini Edu mengaku dirinya mulai beralih tampil di platform digital. Bagi orang awam, berakting di depan kamera dan di depan penonton (di teater/ gedung pertunjukan) terasa sama saja. Tapi tidak demikian buat Edu.

Ia menyebut perjuangan aktor untuk “menyambung rasa” saat harus pindah bekerja di dunia film. Di teater dulu, ia menganut prinsip “satu rasa” saat tampil. 

“Maksudnya ‘satu rasa’ itu dari awal sampai akhir pertunjukan ya tidak ada pemotongan (cutting). Tapi di film, ada pemotongan. Saat pindah angle, rasa yang sama masih harus dijaga, disambung. Inilah maksudnya ‘sambung rasa’,” tutur pemeran Kumis dalam film “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas” yang baru-baru ini memenangi Piala Golden Leopard dalam Locarno Film Festival baru-baru ini.

Satu fenomena yang ia rindukan dari dunia teater yang sulit ia temukan di dunia film ialah solidaritas yang erat dalam menjaga rasa. Saat seorang aktor bermain di panggung, teman-temannya yang sedang tidak di panggung berusaha untuk menjaga rasa atau emosi yang berusaha diselami si aktor. Tapi di dunia film, ia belum banyak menemukan itu. Sebagian orang di lokasi syuting kadang cuek atau malah melakukan aktivitas yang berpotensi menjadi distraksi bagi rekan lain yang sedang bekerja keras menyelami karakter yang dimainkan.

 

AKTING DI TENGAH PANDEMI

Pemerintah melalui Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang terus diperpanjang berulang kali mengharuskan orang-orang lebih banyak beraktivitas di rumah. Situasi ini akhirnya mendorong masyarakat penikmat film beralih ke platform digital.

Para pegiat seni peran juga mesti segera menyesuaikan diri jika tidak ingin tergilas roda perubahan. Edu mengatakan rumah-rumah produksi (PH) yang dahulu berkonsentrasi memproduksi konten untuk dijual ke stasiun-stasiun televisi dan bioskop misalnya kini lebih giat bekerja menghasilkan konten digital. Para produser yang memiliki modal harus berpikir keras untuk tetap bertahan dan bisa menjalankan proses produksi di tengah pandemi. Mereka harus memutar otak bekerja dengan batasan-batasan seperti aturan PPKM untuk bioskop yang masih mengharuskan kapasitas ruangan cuma diisi 50% agar protokol kesehatan terjaga, kewajiban memberikan tes PCR bagi semua anggota kru produksi, dan sebagainya.

Situasi pandemi membuat biaya produksi film melonjak karena para produser harus memasukkan biaya tes PCR bagi para kru tanpa kecuali lalu begitu proses syuting berjalan kewajiban karantina juga diterapkan. Maka dari itu, para produser dan para pekerja seni di masa PPKM sekarang ini sedang dalam sikap ‘wait and see’. Dan para aktor cuma bisa menunggu kondisi penanganan pandemi di Indonesia membaik.

“Akhirnya ‘larinya’ ke OTT (Over The Top: layanan berupa konten multimedia, data, dan informasi). Tapi ada produser juga yang keberatan saat karyanya harus dipindahkan ke platform OTT karena ia tak mau karyanya dinikmati layaknya sinetron yang ditonton di rumah dengan makan gorengan, tiduran, ditonton sambil WhatsApp-an,” terang Edu mengenai rumitnya kondisi industri perfilman Indonesia semasa pandemi ini.

Bagi Edu sendiri, menjaga idealisme dalam berkarya setelah berhijrah dari dunia teater ke platform digital (OTT) tentu penting. Tapi ia paham bahwa tidak selamanya ia bisa 100% menjunjung tinggi idealisme karena pada kenyataannya ia harus bekerja untuk mencari nafkah melalui industri konten digital ini. Untuk itu, ia berusaha sebaik mungkin agar apapun yang ia kerjakan masih dalam standar idealisme yang wajar dan realistis. 

Di tengah suasana tak pasti ini, Edu sendiri mengaku masih beruntung karena sang istri bekerja dan ia sendiri memiliki usaha sampingan toko roti (bakery) yang setidaknya masih bisa menopang kebutuhan keluarga. “Yang penting sehat dan bisa bertahan selama pandemi ini,” harapnya tak muluk-muluk.

Ia sendiri berharap agar semua pelaku industri film Indonesia juga bersatu padu untuk mensukseskan vaksinasi yang dicanangkan pemerintah agar pandemi ini segera berlalu dan semua proses produksi film bisa berjalan normal lagi.

“Masih ada pelaku-pelaku industri film yang takut divaksin dengan berbagai alasan. Menurutku ini malah bisa menghambat pekerjaan mereka sendiri, apalagi saat ini sudah dimulai penggalakkan vaksinasi sebagai syarat dalam melakukan berbagai aktivitas/ pekerjaan. Karena produser-produser juga bakal keberatan kalau harus terus-terusan membiayai tes PCR semua anggota kru tiap syuting. Dengan vaksinasi, semua lebih terjamin dan anggaran syuting bisa dihemat,” ucapnya.

 

KADO KEMERDEKAAN RI

Satu film yang baru-baru ini menampilkan akting Eduwart ialah “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” yang diangkat dari novel yang berjudul sama karangan Eka Kurniawan. 

Di film tersebut, bagian yang paling menantang baginya ialah adegan memperkosa Rona Merah, seorang wanita yang hidup dengan gangguan jiwa di sebuah rumah yang tak terawat. 

“Dalam proses casting, saya benar-benar harus memeragakan adegan pemerkosaan yang ada di novel dan skenario. Proses syuting pun dilakukan di sebuah rumah kosong yang benar-benar jauh dari perumahan penduduk sekitar dan dekat hutan. Semua pemain dan kru menciptakan suasana itu menjadi semirip mungkin di buku sehingga kami mainnya ngalir aja.”

Eduwart sendiri menemukan kemiripan dengan karakter Kumis ini karena dirinya sendiri sejak kelas 5 SD sudah dikenal di antara teman-teman sekolahnya dengan kumisnya pula.

“Sampai sekarang pun teman-teman sekolah dulu masih manggil Kumis. Jadi kayaknya ini peran yang mujur, jodoh banget buat aku.”

Pencapaian film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” ini memang sangat membanggakan karena Festival Film Locarna ini reputasinya hampir mendekati Oscar di Amerika Serikat dan Festival Cannes di Perancis. Dan yang lebih membuat prestasi ini istimewa ialah selama 74 tahun festival film itu diselenggarakan, film ini menjadi film Indonesia pertama yang meraih penghargaan. 

“Keterlibatanku di dalam film ini juga menjadi sebuah kebanggaan tentunya. Yang paling membanggakan ialah Indonesia memiliki wakil di festival film itu dan bisa memenangi penghargaan. Kemenangan film ini semoga menjadi kado atas kemerdekaan RI ke-76. Semoga tetap jaya perfilman Indonesia!” (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Akhlis

Pimred Froyonion