Figur

BANG JAMAL: MENGIDAP HIV SELAMA 8 TAHUN NGGAK BERARTI NGGAK PUNYA MASA DEPAN

Pada hari HIV sedunia ini, kita akan menilik cerita Bang Jamal. Seorang pengidap HIV yang udah survive selama 8 tahun and still counting! Di saat banyak orang yang tak acuh dengan penyakit ini, di situlah Bang Jamal mengambil peran aktif sebagai penjangkau.

title

FROYONION.COM - November 2014 menjadi titik pembalikan keadaan bagi Ujang Jamaludin. 

Ujang yang sehari-hari dipanggil Bang Jamal positif HIV sejak 8 tahun lalu. Awalnya ia sakit tifus, tapi setelah 2 bulan berlalu ia tak kunjung membaik. 

Kecurigaannya bermula saat pasangannya mengalami sakit yang lumayan parah. Setelah memberanikan diri untuk tes, pasangan Jamal dinyatakan positif HIV. Jamal pun mulai was-was dengan kondisi tubuhnya yang kian melemah. Akhirnya ia memberanikan diri untuk tes HIV sembari melapangkan dada untuk menerima segala kemungkinan. 

Ternyata benar, hasil tes Jamal juga ‘positif’. Kaget, sedih, cemas, dan ribuan perasaan lain yang nggak bisa dijelaskan membuat Jamal kalang kabut. Air mata Jamal membasahi pipinya dengan sangat deras. Muncul ketakutan luar biasa kalau-kalau dia akan meninggal dengan cepat. 

Jamal mencoba untuk menghubungi keluarganya. Datang sebagai kakak, adik, dan anak yang membawa kabar mengejutkan. Rupanya nggak semua anggota keluarga Jamal dapat menerima keadaan Jamal apa adanya. 

Perubahan yang sungguh signifikan pun Jamal rasakan. Tubuhnya melemah, teman-teman menjauhinya, tapi yang paling menyakitkan, keluarganya mengucilkannya. 

Nggak ada lagi kumpul lebaran. Nggak ada lagi canda dan tawa sama keponakan-keponakan kesayangannya. Kehangatan dari keluarga tempat Jamal tumbuh telah pergi. Ia dijauhi, bahkan dikucilkan.

Nggak hanya itu. Kondisi Jamal yang sering dianggap aib oleh masyarakat disebarkan ke para tetangga hingga teman-temannya oleh keluarganya sendiri. Alhasil Jamal tak punya lagi tempat berpulang, tak ada lagi telinga untuk mendengar kisahnya. 

“Saya merasa minder. Istilahnya orang lain nggak kayak gini, kenapa saya harus kayak gini? Mau ngapa-ngapain saya takut. Apalagi kaau tetangga tahu, atau temen. Pikiran saya langsung panas dingin. Bahkan dari saudara dan keluarga yang paling bikin saya down,” ucapnya. 

Status positif HIV merenggut hal-hal penting dalam hidup Jamal. 

Namun, di tengah kegelapan yang makin menyelimutinya, hadir secercah sinar yang memberikan semangat untuk melanjutkan hidup. Begitu Jamal dinyatakan positif HIV, orang-orang dengan nasib serupa yang tergabung dalam Kelompok Dukungan Sebaya datang untuk merangkulnya. 

Kisah-kisah mereka yang Jamal dengar menyadarkannya bahwa ia tidak sendiri–dan yang terpenting–bahwa ia masih punya peluang untuk hidup lebih panjang. 

Perlahan-lahan Jamal bangkit. Tubuhnya kini kian membaik–nyaris seperti orang normal–berkat pengobatan yang diberikan kepadanya. Walaupun tidak menyembuhkan, Antiretroviral (ARV) yang ia konsumsi sukses menurunkan jumlah virus HIV dalam tubuhnya, membuat kualitas dan peluang hidup Jamal nyaris seperti orang normal. 

Jamal pun kini sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Tak ada lagi raut kesedihan yang ia tunjukkan saat Jamal ditemui tim Froyonion di Puskesmas Tanah Tinggi, Tangerang. Bahkan dengan bangga ia memperkenalkan dirinya sebagai penjangkau–orang yang menyuluhkan informasi dan bantuan kepada pengidap HIV– di Wahana Cinta Indonesia (WCI). 

Khusus menangani kasus-kasus men-sex-men (MSM), Jamal menghampiri mereka yang dinyatakan positif HIV untuk memberikan dukungan mental, tes, hingga obat. Nggak jarang Jamal dipandang sebelah mata hingga dikira sales obat. Namun, pandangan orang yang nggak tahu kisahnya udah nggak menurunkan semangat Jamal. 

“Bantuan yang kami kasih biasanya berupa dukungan mental dulu, support system. Karena kalau penyembuhan mental bisa jauh lebih lama dibanding fisik. Saya aja butuh 2 tahun untuk bangkit lagi. Jadi setidaknya kalau nggak bisa ngasih bantuan materi, minimal bisa mendukung,” katanya. 

Walaupun ia positif HIV, Jamal membuktikkan pada keluarga, teman-teman, dan orang-orang disekitarnya bahwa ia masih bisa menjalani hidup seperti sedia kala. 

Semangat Jamal untuk bertahan hidup ini pada akhirnya juga disadari oleh keluarganya. Kini kehangatan dari anggota keluarga yang dulu menjauhinya sudah kembali. Keponakan-keponakan kesayangannya sudah mau ngobrol lagi sama dia. Sambil tersenyum dia pun berkata kalau kini keluarganya sangat perhatian dengan kodisi tubuhnya. 

“Saya berharap teman-teman yang sudah dinyatakan positif HIV bisa terus melanjutkan hidup. Kalian masih bisa mengejar cita-cita kalian kok. Jangan menyerah,”pesannya.

Positif HIV ternyata nggak merenggut segala hal dari Jamal. 

Stigma masyarakat Indonesia mengenai HIV masih banyak yang bernada negatif. Ada yang bilang kalau deket-deket sama orang positif HIV nanti bisa ketularan, salaman sama orang positif HIV itu berbahaya, dan banyak stigma buruk lainnya. 

Lewat cerita Jamal–dan video Tapi Boleh Dicoba di YouTube Froyonion–kita bisa tahu kenyataan perihal HIV yang bisa mematahkan stigma-stigma buruk tersebut. Untuk mencapai itu, kami juga perlu peran kalian, Civs. 

Teruskan cerita Jamal ke orang-orang terdekat kalian. Sampaikan pesan dan harapan ini kepada mereka yang membutuhkan. Tak perlu aksi besar untuk bisa berdampak, hanya butuh kemauan. 

Selamat memperingati Hari HIV Internasional. Jauhi penyakitnya, bukan orangnya. (*/) 

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Grace Angel

Sehari-hari menulis dan mengajukan pertanyaan random ke orang-orang. Di akhir pekan sibuk menyelami seni tarik suara dan keliling Jakarta.