Figur

ADAM MERDEKA : MEMBANGUN START-UP EDUTECH UNTUK PENDIDIKAN ANAK MUDA AGAR LEBIH MERDEKA!

Nyatanya untuk berhasil membangun startup nggak semudah omongan motivator di kampus. Karena tantangan terbesar dalam membangun startup, lo harus bisa survive dalam gempuran persaingan. Biar bisa begitu, di sini Adam Merdeka sebagai Founder Ambivers menyajikan angin segar untuk lo yang ingin berkecimpung dalam dunia bisnis!

title

FROYONION.COM - Untuk bisa sukses dan berhasil menggapai impian masing-masing gak harus menunggu di usia tua. Mau lo masih umur sekolahan, atau di umur yang mengharuskan lo jadi bapak orang, kita semua tetap dapat kesempatan untuk bisa menjadi sukses kapanpun dan di manapun.

Apalagi jika lo hobi dalam bidang bisnis, kepengen bangun Start-Up dan bisa survive lalu akhirnya bisa berhasil tentu menjadi impian banyak orang. Namun gimana sih cara agar kita bisa ngebangun perusahaan Start-Up dan sekaligus bisa survive di tengah gempuran persaingan yang lagi kompetitifnya?

Tenang, pertanyaan semacam itu memang sering keluar dari para calon pebisnis yang ingin berkecimpung dalam bidangnya. Di sini gw bakal membagikan beberapa saran dan pengalaman Adam Merdeka yang berhasil dalam membangun Start-Up edutech di usia yang terbilang masih muda!

BERAWAL DARI PASSION DAN HOBI

Sebelum terjun dalam dunia startup edutech, Adam mengakui bahwa semenjak dari kecil doi udah hobi dan terjun dalam dunia bisnis hingga berprestasi dalam dunia pendidikan.

"Gw semenjak SD tu emang udah suka jualan, salah satunya pernah menjual buku pelajaran ke sekolah-sekolah yang ada di Bogor, dari situ gw lebih termotivasi lagi untuk menggeluti dunia bisnis," tutur Adam dalam sebuah wawancara via online Rabu, 29 Juni lalu.

Menempuh pendidikan sarjana di UPN Veteran Jakarta pada tahun 2019 untuk mendalami keahliannya. Adam berkata bahwa dirinya memang suka dalam dunia pendidikan. Mempunyai keinginan yang kuat untuk membantu pendidikan anak muda di Indonesia dan memiliki passion dalam berbisnis menjadi alasan yang mengantarkannya untuk membangun startup di bidang edutech

Potret Adam saat membangun Start-Up edutech Ambivers bersama tim. (Foto: Adam Merdeka)
Potret Adam saat membangun Start-Up edutech Ambivers bersama tim. (Foto: Adam Merdeka)

"Awal mula gw membangun startup di bidang edutech itu karena terinspirasi dari Sabda sebagai founder dari Zenius Education, melalui platformnya itu dia sampai bisa memberikan manfaat yang luas bagi pendidikan anak muda di Indonesia. Dari sana, ketika ada transisi kelas offline ke online gue jadi berpikir bagaimana caranya agar gw juga bisa berkontribusi dalam dunia pendidikan Indonesia lewat startup edutech", cerita anak muda yang hobi belajar ini.

KREATIVITAS MENJADI MODAL DALAM MEMBANGUN START-UP

Meskipun banyak startup edutech yang lagi kompetitif di Indonesia. Agar bisa tetap eksis dan survive, Adam memberikan insight terbaru serta angin segar yang tidak dimiliki oleh Start-Up manapun.

"Gw memurahkan harga produk dan  memaksimalkan kualitasnya, dan itu juga yang ngebikin banyak orang tertarik dan bekerja sama dengan Ambivers, jadi segala hal yang klien butuhkan untuk memasuki perguruan tinggi itu mereka dapatkan dengan harga yang murah sekaligus dengan produk yang berkualitas," ucap Adam yang menjadi CEO di usia muda.

Bagi Adam, sisi kreativitas dan inovativitas itu sangat penting agar Start-Up yang lo bangun itu bisa eksis dan selalu survive meskipun dengan gempuran para kompetitor yang semakin maju. 

"Jangan sampe, kita ngebikin produk itu sama ama Start-Up lain bahkan di bawah kualitas dari mereka. Produk yang kita miliki itu harus punya view namanya itu unique value proposition, misalnya marketing mereka sudah bagus nih, maka kita bikin formula lagi gimana caranya marketing kita juga semakin bagus, jadi itu yang gw terapkan di Ambivers," pesannya.

DAMPAK YANG DIBERIKAN PADA PENDIDIKAN ANAK MUDA INDONESIA

Bisa dikatakan negara kita masih belum memenuhi standar pendidikan yang baik. Ditambah dengan adanya transisi dari kelas offline menjadi online yang membuat para pengajar kita kurang kreatif  dan efektif dalam mengajar sehingga kelas terasa monoton dan hanya sekedar formalitas untuk mengisi absen dll.

Berangkat dari fenomena tersebut, Adam mengaku itu menjadi permasalahan yang sedang dipecahkan oleh Ambivers dengan membuat suasana dan cara baru dalam mengajar. 

"Kalau kita di Ambivers berusaha semaksimal mungkin untuk ngebikin video pembahasan yang seru namun efektif. Biasanya di dalam video pembahasan itu kami pakai formula rumus sendiri yang lebih efektif, mudah ditangkep dan gak bertele-tele," tutur pemuda jurusan teknik mesin ini.

Dengan cara yang kreatif itulah bisa ngebikin startupnya semakin berkembang dan bahkan bekerja sama dengan puluhan universitas maupun perusahaan hingga mempunyai banyak alumni yang berhasil kuliah di Universitas ternama dalam negeri hingga luar negeri.

"Buat users kami itu ada 15 ribu orang, kemudian kami juga punya 1500 alumni kebanyakan dari mereka lolos sampai di UI, UGM, ITB bahkan sampai keterima beasiswa di luar negeri," ceritanya.

Selain berorientasi kepada bisnis dan pendidikan, dalam hal sosial doi juga ngebantu anak-anak muda Indonesia yang berada di daerah terpencil melalui profit dari startup yang ia bangun. Karena baginya semua anak muda di Indonesia itu berhak memiliki kesempatan pendidikan yang sama.

SARAN BAGI LO YANG INGIN BANGUN START-UP DI USIA MUDA

Bagi Adam selain memiliki kreativitas, lo juga harus ngebangun mindset bisnis dalam diri lo. Karena lo harus memiliki banyak pengalaman dan kemampuan dalam hal bisnis, dan hal yang gak kalah penting ialah lo harus selalu berinovasi dalam mengikuti perkembangan zaman.

"Karena startup itu dinamis dengan perubahan pasar yang begitu cepat, jadi lo harus kreatif dan inovatif karena lo gak bisa mengandalkan sistem yang itu-itu aja, jadi berangkat dari sana lo mulai aja dulu untuk belajar bisnis, ikut lomba bisnis, tren pasar dan hal-hal yang berkaitan supaya mindset bisnis lu kebangun dari sana", tutupnya. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Bayu Dewantara

Mahasiswa UI(n) Jakarta, Content Writer, Civillion, Penulis buku antologi "Jangan Bandingkan Diriku" dan "Kumpulan Esai Tafsir Progresif"