Esensi

PUNYA START-UP DI USIA 20-AN LEBIH BERISIKO UNTUK GAGAL, FAKTA ATAU MITOS?

“Hebat ya dia masih muda tapi udah punya perusahaan sendiri,” adalah kalimat yang sering kita dengar dan ditujukan ke anak muda yang punya start-up. Tapi, menurut penelitian ternyata start-up yang berhasil kebanyakan didirikan sama om-om dan tante-tante lho. Kenapa ya?

title

FROYONION.COM - Kalo kita ngikutin kisah suksesnya Bill Gates, Mark Zuckerberg, dan Steve Jobs, emang mereka punya satu kesamaan selain sama-sama orang sukses dan masuk ke daftar orang terkaya di dunia, yaitu bahwa mereka punya perusahaan di umur 20-an yang sekarang, sangat mempengaruhi perkembangan industri teknologi dunia. 

Nggak heran kalo kita juga jadi pengen mengikuti jejak mereka. Menjadikan impian untuk sukses di usia muda bukan kemustahilan semata, tapi punya potensi yang nyata. 

Lalu kemudian muncul tren untuk anak muda Indonesia ‘berlomba-lomba’ punya atau mengelola bisnis di usia muda. Kita lihat aja contoh paling mudah yang kita temui setiap hari, bisnis cafe atau kedai kopi.

Sejak tahun 2018, usaha cafe maupun kedai kopi di Indonesia meningkat drastis. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Toffin, jumlah kopi di Indonesia pada tahun 2019 mencapai lebih dari 2.950 gerai. Sangat drastis dibandingkan tahun 2016 yang hanya 1.000 gerai. 

Usaha cafe atau kedai kopi jadi terkesan ‘seksi’ banget di kalangan anak muda. Apalagi kopi sudah semacam merasuk ke budaya anak muda Indonesia sampai sekarang. Nggak heran, kalau banyak yang berencana untuk buka bisnis ini selepas kuliah, apalagi kalo bisa kongsian sama temen. 

Tapi menurut data penelitian Harvard Business Reviewmayoritas orang yang mendirikan bisnis dan bisa sukses ada di usia 42-45 tahun. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan, emang kalo berbisnis di usia muda peluang suksesnya lebih kecil? Faktor apa yang jadi penentunya? 

BEDA UMUR, BEDA BENTUK BISNIS

Nyatanya, perlu digarisbawahi kalo pebisnis sukses yang berusia 42-45 tahun ini kebanyakan punya bisnis yang nggak berintensi untuk punya growth atau pertumbuhan yang besar. Harvard Business Review juga bilang kalo mayoritas usaha yang mereka bangun adalah laundry dan restoran

Sedangkan, pengusaha muda lebih tertarik untuk ‘bereksperimen’ di ranah bisnis yang lebih berisiko dan penuh tantangan. Seperti teknologi, software start-up, dan sebagainya. 

BACA JUGA: GOTO GO PUBLIC, BERIKAN KESEMPATAN BAGI DRIVER OJOL UNTUK JADI PEMEGANG SAHAM

Kalo lo pernah nonton drama Korea Start-Upjarang kan liat peserta yang ikut hackathon yang udah jadi om-om, tante-tante, atau bahkan seumuran nenek dan kakek kalian? Mayoritas ada di usia 29 ke bawah, usia saat manusia masih bisa lebih baik mentoleransi risiko finansial karena peluang untuk cari kerja masih lebih besar dibanding yang udah 40-an ke atas. 

Di tengah stigma masyarakat bahwa semakin muda punya bisnis maka semakin keren, Harvard Business Review menyuguhkan data bahwa faktanya, orang yang berusia 40-49 tahun punya peluang sukses yang lebih besar dalam mengelola start-up. Fakta ini kemudian berlaku tidak hanya di industri teknologi, tapi juga industri kreatif yang ada di Indonesia.
Data pebisnis start-up berdasarkan usia. Menunjukkan bahwa usia 40-49 memiliki persentase kesuksesan dalam mengelola start-up dengan sukses yang paling tinggi. (Grafik: Harvard Business Review)

Daru data empiris tersebut, dapat dilihat bahwa usia 40-49 punya success rate yang lebih tinggi dalam mengelola start-up. Data ini kemudian menjadi bukti ilmiah akan fenomena kenapa jajaran direksi dan komisaris perusahaan start-up seumuran ibu-bapak kita. 

Menurut Harvard Business Review, usia 40-49 tahun atau biasa disebut middle-age cenderung lebih matang dan bisa ngambil keputusan lebih baik dalam hal berbisnis, termasuk penanaman modal, ngatur pembagian saham, kongsian, sampe membuat perusahaannya bisa Initial Public Offering (IPO). 

Dari data tersebut juga, bisa dibilang mitos pebisnis muda yang sukses terpatahkan, lho. Persentasi orang berusia 29 tahun ke bawah untuk punya start-up yang sukses hanya 10%, sedangkan usia 40-49 tahun lebih dari 30%. 

Lalu, apakah ini artinya lebih baik anak muda Indonesia nggak perlu bermimpi lagi untuk jadi CEO dari perusahaan mereka sendiri? 

SELAGI MUDA, GAGAL SEBANYAK-BANYAKNYA

Kalau kita punya perusahaan sendiri, tanggung jawab yang kita embang nggak cuma diri sendiri lagi, tapi karyawan yang kita punya, keluarga para karyawan, mitra bisnis, sampai nama baik keluarga. 

Sebelum menginjak usia 30 tahun tuh sebenernya ideal banget untuk mengalami banyak kegagalan. Gagal dalam cinta, pertemanan, bahkan berbisnis sekalipun. Banyak hal baru yang bisa dipelajari di usia muda. 

Contoh aja Franky, pemilik bisnis Lapo Rampak yang sekarang baru umur 26 tahun. Dia bilang waktu pertama kali mau berbisnis, ada banyak hal baru dan asing yang dia tahu. Kayak ngatur uang tuh gimana, cara nentuin harga jual gimana, sampe akhirnya sekarang bisnisnya bisa sustain. 

BACA JUGA: LAPO RAMPAK: KENALKAN PRODUK KULINER KHAS BATAK DENGAN SEMANGAT KEBERSAMAAN

Lo juga mungkin lagi mengalami hal yang sama. Dan berbisnis di usia muda bukan berarti punya peluang sukses yang lebih rendah. Hanya saja, berbisnis di usia yang lebih mateng punya peluang menghasilkan bisnis yang lebih mateng juga. 

Memang umur bukan penentu pasti, melainkan pengalaman dan kebijaksanaan untuk ngambil keputusan cerdas yang dibutuhkan oleh lo yang mau punya start-up. (*/) 

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Grace Angel

Content writer Froyonion, tukang nulisnya Bang Roy dan supplier permen kantor