Esensi

KERJA DI E-COMMERCE CUMA BERTAHAN 3 BULAN: LEMAH ATAU BEBAN KERJA TERLALU BERAT?

Sebut saja beberapa e-commerce di Indonesia memang memberikan prestise tersendiri buat pemuda-pemudi yang kerja di sana. Tapi di balik itu, ada beban kerja yang nggak tanggung-tanggung yang bikin ketahanan para karyawan di sana juga setara sama masa probation-nya anak magang. Kenapa ya?

title

FROYONION.COM - Minggu kemaren lagi viral banget soal berita burung yang bilang kalo orang-orang yang kerja di TikTok itu cuma bisa bertahan 3 bulan. 

Pembicaraan soal endurance para karyawan yang kerja di salah satu sosial media terbesar ini langsung menyebar di kalangan anak muda Indonesia, khususnya yang udah bertujuan buat kerja di sana. 

Gue sendiri baru terekspos sama berita viral satu ini dari unggahan akun Instagram @ecommurz pada 19 Januari 2022 lalu. 

Lewat posting-an tersebut, kolom komentarnya langsung dipenuhi sama berbagai cerita dan keluh kesah dari para karyawan yang nge-klaim kalo kerja di sana. Ada juga yang membagikan kabar dari mulut ke mulut perihal alasan kenapa orang yang kerja di TikTok cuma bisa bertahan 3 bulan. 

“Hahaha, aku resign setelah 4 tahun sih. Sebenernya emang working culture-nya ngebut dan ambis(ius). Menurut gue cocok-cocokan aja. Ini cocok buat anak muda yang pengen explore di early days waktu cari pengalaman kerja. Emang kudu siap mental baja hahahaha. Setelah jadi ibu-ibu, memang kurang cocok,” komentar salah satu mantan pegawai TikTok di posting-an tersebut. 

Ada juga yang komentar kalo rata-rata orang-orang emang pada cabut setelah 2-3 bulan karena mereka merasa work life balance-nya hancur. Selain itu perbedaan bahasa yang digunakan juga jadi di perusahaan yang dinaungi ByteDance ini. 

Pasalnya, mereka kadang harus berkomunikasi dengan pihak-pihak yang fasih menggunakan Bahasa Mandarin. Tuntutan untuk bisa fasih menggunakan Bahasa Mandarin disamping Inggris dan Indonesia, tentunya bisa jadi beban lain bagi mereka. 

NGGAK CUMA DI STARTUP

Pas banget sama momen viralnya berita ini, salah satu mantan Community Manager di TikTok Indonesia yang kini menjadi content creator. 

Dalam Live TikTok-nya yang disiarkan pada Kamis, 20 Januari 2022, obrolan hangat seputar TikTok banyak dibahas olehnya. 

“Banyak yang nanya, kalau kerja di TikTok emang bener ya cuma bisa bertahan 3 bulan? Ini semua tergantung lo masuk divisi mana dan tergantung juga lo cocok sama work culture-nya. Gue akui memang kerja di TikTok tuh dikelilingi sama orang-orang ambisius. Di satu sisi gue bisa mencoba banyak hal, tapi setelah gue jadi seorang ibu, budaya kerja kayak gini udah nggak cocok lagi,” jelasnya. 

Seperti yang dibilang sama Natasha, ketahanan kerja seseorang tuh tergantung sama banyak hal. Bisa karena budaya kerjanya, beban kerja, jenjang karier yang ditawarkan, dan masih banyak lagi.

Usut punya usut, ternyata gosip cepetnya regenerasi karyawan ini nggak cuma ada di TikTok. Beberapa e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia, juga sempat disebut-sebut sebagai perusahaan yang punya beban kerja cukup berat. 

Kerja sampai jam 2 pagi, masih harus masuk di pagi hari, apalagi kalau target lagi membumbung tinggi. Buat yang pernah atau sedang kerja di e-commerce, mungkin relate sama hal ini waktu tanggal kembar. 

Sampai sini keliatannya kerja di e-commerce terlihat sangat berat ya? 

Tapi ternyata hal ini juga terjadi loh di beberapa korporat ternama bahkan Badan Usaha Milik Negara dan apa yang terjadi di beberapa tempat kerja ini bisa juga disebut hustle culture. 

KALO NGGAK SIBUK, NGGAK KEREN? 

Kalau istilah overwork mungkin lo udah sering denger. Hustle culture juga sebenernya mirip-mirip sama overwork. 

Cuman, orang yang overwork itu pasti sadar kalo dia udah terlalu banyak bekerja. Efeknya, dia bakal nggak betah dan memutuskan untuk pindah, atau minta kenaikan gaji.

Sedangkan orang yang menjalani hustle culture malah seneng kalo kerja terus. Dikutip dari laman Good Housekeeping, orang yang hustle culture cenderung bangga kalau kerja berlebihan. Justru, kalo nggak keliatan kerja keras dan sibuk, dia akan merasa bersalah dan nggak produktif. 

Beberapa ciri-ciri yang menandakan kalau seseorang penganut hustle culture adalah: 

  • Selalu bilang iya ke atasan kalo dikasi tugas, padahal dia tahu workload-nya udah full banget.
  • Ragu-ragu buat izin sakit, ngambil cuti, bahkan istirahat makan siang.
  • Selalu sigap kalo ada notifikasi WhatsApp, email, telepon, apapun yang berhubungan soal kerjaan.
  • Kalo lagi galau, sedih, stress, dan sebagainya, selalu berusaha mengesampingkan perasaan-perasaan itu karena menganggap bisa menghambat pekerjaan.

Hustle culture ini bisa ada dan langgeng salah satunya karena ngeliat gaya hidup temen-temen kerja kita. Coba deh, lo liat ke sekeliling lo. Banyak nggak temen-temen kerja lo yang kayak gini juga? Kalo iya, mungkin karena lo ngeliat cara kerja mereka yang kayak gitu, lo juga jadi mengadaptasi hustle culture ini. 

Hustle culture juga cenderung banyak dialami sama para pekerja di perkotaan. Gaya hidup yang seba cepat, mendorong mereka untuk bekerja lebih cepat dan keras juga. Belum lagi tekanan dari sana-sini yang bikin mereka mikir kalo hidup itu untuk bekerja. 

Dampak buruknyahustle culture bisa bikin kita lupa sama keluarga, lupa istirahat, lupa liburan, sampai lupa cari kebahagiaan lain selain uang. Semuanya memang butuh duit, tapi inget petuah emak kalo duit bukan segalanya. Jangan sampai kita jadi mengejar-ngejar duit dengan hustle culture ini. 

Kalau dampak baiknya, sampai detik ini belum ada penelitian yang bilang hustle culture ini membawa dampak baik. Penelitian yang dilakukan secara ilmiah pun bilang kalau hustle culture itu toxic dan jangan sampai dilanggengkan.

Makanya, sekarang lagi banyak social campaign tentang slow living alias lawan katanya hustle culture. Dilansir dari Voi.id, gaya hidup yang lebih lambat akan membuat kita bisa menikmati hidup dengan cara yang lebih damai. 

Konsep slow living sendiri mengajarkan kita untuk bisa menyeimbangkan antara bekerja, bermain, bersosialisasi, dan beristirahat. Beda dengan hustle culture yang mendorong kita untuk terus bekerja. Kalau kata iklan Ramayana, kerja lembur bagai kuda, sampai lupa orang tua. 

Balik lagi ke budaya kerja yang kelihatannya serba berat, mungkin hustle culture bisa jadi salah satu penyebabnya. Hustle culture mungkin akan selalu lo temui di mana pun lo bekerja. Tapi, lo nggak perlu kok menganut hustle culture untuk dibilang bekerja keras. 

Karena, dengan lo berhasil bangun pagi, mandi, berangkat ke kantor, dan nyelesain tugas-tugas lo hari ini, itu tanda kalo lo udah kerja keras kok. Coba untuk mensyukuri hal-hal kecil yang lo lakukan dan apresiasi diri lo sendiri. Ini bisa jadi salah satu langkah kecil untuk menahan lo nggak berlebihan dalam bekerja. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Grace Angel

Content writer Froyonion, tukang nulisnya Bang Roy dan supplier permen kantor