Di jaman sekarang, kegiatan mencari uang jadi semakin mudah dilakukan, apalagi pekerjaan freelance bagi anak muda. Nah, kira-kira bagaimana sih peluang dan perkembangan gig economy ini bagi Gen-Z?
FROYONION.COM - Gig economy menjadi semakin berkembang beberapa tahun belakangan ini terutama bagi Gen Z. Bahkan menurut The Deloitte Global Millennial Survey 2019 dalam Katadata (2019), generasi milenial maupun Gen Z lebih memilih sebagai pekerja lepas atau freelance dalam gig economy.
Gig economy menawarkan jadwal kerja yang fleksibel, kemandirian, dan kemampuan untuk mengejar proyek dan minat yang berbeda. Namun, juga menghadirkan serangkaian tantangannya tersendiri yang harus diperhatikan oleh pekerja Gen Z.
Sebagai data tambahan, dalam Business Insider menjelaskan bahwa minat "bekerja" Gen-Z dari 2018-2022 semakin menurun dibanding generasi sebelumnya. Dalam era gig economy ini, para "pekerja" atau freelancers ini bekerja secara sementara berdasarkan project yang ditangani.
Hasil dari gig economy adalah rendahnya cost of production dan hasil kerja yang efisien bagi perusahaan atau klien. Contoh dari para pekerja gig economy adalah digital marketer, data analyst, content writer bahkan driver ojek online pun termasuk.
Gig economy adalah kondisi pasar tenaga kerja yang sangat bergantung pada hubungan kerja sama sementara antara pemberi kerja dengan pekerja lepas daripada karyawan tetap penuh waktu.
Gig economy didasarkan pada pekerjaan yang fleksibel dan sementara berdasarkan hasil atau output. Sebenarnya, gig economy dapat menguntungkan pekerja maupun pemilik bisnis dengan membuat pekerjaan disesuaikan dengan kebutuhan saat ini dan tuntutan yang lebih fleksibel.
Seperti dua sisi mata uang, maka tentu akan ada kelebihan dan kekurangan dari gig economy.
Kelebihan gig economy
1. Fleksibilitas: Salah satu keuntungan terbesar bekerja dalam ekonomi pertunjukan adalah kemampuan untuk bekerja sesuai jadwal sendiri dan bisa memprioritaskan work-life balance.
2. Beragam: "Bekerja" dalam gig economy memungkinkan seseorang bisa mengerjakan berbagai proyek yang beragam pada berbagai klien. Hal ini bisa menjadi cara yang bagus untuk mendapatkan pengalaman, membangun portofolio ataupun mempelajari kemampuan baru.
3. Mengasah entrepreneurship: Menjadi freelancer atau pekerja gig economy secara tidak langsung mengasah kemampuan entrepreneurship karena harus mengatur jadwal, beban kerja dan hubungan klien.
Kekurangan gig economy
1. Ketidakstabilan finansial: Para pekerja gig economy sangat rentan terhadap ketidakstabilan ekonomi. Karena sangat bergantung pada orderan yang masuk dari klien. Akibatnya mereka tidak memiliki asuransi kesehatan dan tabungan pensiun.
2. Hidup terisolasi: Menjadi freelancer jelas membuat seseorang hidup terisolasi, karena tidak memiliki hubungan sosial yang sama seperti di lingkungan kantor pada umumnya. Sehingga dapat menimbulkan rasa kesepian dan depresi.
3. Sulit bertumbuh dalam karir: Bekerja pada sektor gig economy bisa menjadi cara yang bagus untuk mendapatkan pengalaman, tetapi sangat sulit bagi seseorang yang ingin menaiki tangga karir.
Nah, tips-tips ini penting bagi kalian yang tertarik dalam gig economy dan ingin mencari pendapatan tambahan.
1. Menemukan niche kemampuan
Dalam gig economy, seseorang perlu menemukan niche yang sesuai dengan keterampilan, minat, dan pengembangan skill. Identifikasi kemampuan dan nilai paling menonjol yang membedakan seseorang dengan orang lain. Menjadi seorang spesialis juga membantu menarik klien dengan bayaran lebih tinggi.
2. Persiapkan kondisi stabilitas keuangan
Menjadi freelancers dalam gig economy dapat memberikan jadwal kerja yang fleksibel, tetapi juga tidak dapat diprediksi. Sebaiknya sebelum terjun langsung menjadi "fulltime" freelancers, penting untuk mempersiapkan diri terhadap kondisi keuangan yang tidak stabil, dimulai dengan mempersiapkan dana darurat, pembagian anggaran dan melacak arus uang.
3. Bangun network dan integritas yang kuat
Dalam gig economy, membangun koneksi dan reputasi pada klien sangat penting untuk menjaga dan mendapatkan pekerjaan. Dengan sikap profesionalitas yang ditunjukkan bisa menerima job dari rekomendasi klien sebelumnya. Dimulai dengan aktif berbagi dalam forum hingga menyusun portofolio yang menarik.
4. Tetap update informasi dan kebutuhan klien
Gig economy memang dapat menawarkan berbagai pengalaman dan peluang, tetapi mungkin sulit untuk mengejar pertumbuhan karier. Untuk terus tumbuh dan berkembang sebagai seorang profesional, carilah informasi terkait pelatihan dan pendidikan, bangun keterampilan di bidang yang diminati, dan buatlah portofolio pekerjaan menjadi lebih stand-out di mata klien.
5. Prioritaskan kesehatan mental
Dalam gig economy, seringkali seseorang akan bertemu dengan berbagai tuntutan dan kepribadian klien yang beragam. Tapi freelancers memiliki keunggulan karena bisa memiliki work-life balance yang lebih baik. Beristirahat, berolahraga secara teratur dan tetap menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat.
Kesimpulannya, gig economy memang dapat memberikan peluang besar bagi para pekerja Gen Z untuk mendapatkan pengalaman dan meningkatkan kemampuan dengan cara tersendiri.
Namun, penting untuk menyadari tantangan dan risiko yang menyertai jenis pekerjaan ini. Semoga dengan mengikuti tips ini membuat para pekerja Gen Z dapat berhasil dalam gig economy dan menemukan kesuksesan dalam pekerjaan mereka. (*/)