In Depth

FENOMENA 'FULL-TIME CHILDREN' DAN TANTANGAN GENERASI MUDA TIONGKOK

Full-time children lebih banyak menghabiskan waktu dengan orang tua mereka dan mengambil peran dalam pekerjaan rumah tangga sebagai balasan atas dukungan finansial yang mereka terima.

title

FROYONION.COMDalam beberapa tahun terakhir, tren unik telah muncul di kalangan pemuda Tiongkok, yang mencerminkan perubahan dinamika pasar kerja dan masyarakat secara keseluruhan. Dikenal sebagai "full-time children," individu-individu ini, sebagian besar berusia 20-an. 

Mereka memilih untuk tinggal dengan orang tua mereka, membantu dengan pekerjaan rumah tangga, dan memberikan kehadiran sebagai imbalan untuk dukungan finansial. Tren ini telah memicu perdebatan sengit dan menarik perhatian terhadap tantangan yang dihadapi oleh pemuda yang menganggur di Tiongkok.

Mereka memutuskan untuk tidak bersaing aktif dalam upaya mencari pekerjaan dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan santai atau malas gerak. Fenomena ini mulai mendapat popularitas di kalangan pemuda Tiongkok karena sulitnya menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi mereka.

BACA JUGA: MERAKI: MENEMUKAN MAKNA DAN KEBAHAGIAAN DALAM PEKERJAAN DAN KEHIDUPAN

Dikutip dari kompas.id, biro Statistik Nasional Tiongkok melaporkan bahwa satu dari lima orang berusia 16-24 tahun menganggur di Tiongkok, dengan tingkat pengangguran di daerah perkotaan mencapai rekor tertinggi 21,3 persen pada Juni 2023. Ini adalah tantangan serius yang dihadapi oleh generasi muda di Tiongkok.

Bruce Pang, yang menjabat sebagai Kepala Ekonomi untuk China Raya di Jones Lang LaSalle, mengindikasikan bahwa lambatnya pemulihan ekonomi China pasca pandemi Covid-19 serta kurangnya peluang pekerjaan baru adalah faktor utama yang menyebabkan tingginya angka pengangguran. Pengusaha juga kurang berminat untuk merekrut lulusan perguruan tinggi yang belum memiliki pengalaman kerja yang cukup.

MAU HIDUP LEBIH SANTAI

Pengalaman Litsky Li (21) adalah contoh dari tren ini. Setelah merasa lelah sebagai seorang fotografer, dia membuat keputusan drastis untuk mengakhiri pekerjaannya dan kembali ke pelukan orang tuanya. Dan dia bukan satu-satunya. Ada banyak cerita serupa di seluruh Tiongkok.

Nancy Chen (24), misalnya, kembali bekerja untuk orang tuanya setelah usahanya melamar pekerjaan di pemerintah provinsi gagal. Tiongkok menyaksikan ribuan pemuda bersaing untuk hanya beberapa lowongan pekerjaan.

Namun, sementara Li dan Chen menerima gaji dari orang tua mereka, ada juga kasus seperti Julie (29), yang menolak gaji. Julie, yang telah bekerja sebagai pengembang game selama 16 jam sehari, ingin beristirahat dan hidup nyaman bersama keluarganya. 

Fenomena  "full-time children" menjadi tren baru di kalangan generasi muda yang menganggur di Tiongkok. Mereka mengambil tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, mengurus keluarga, atau menemani orang tua mereka secara penuh waktu.

Bagi sebagian, menjadi "full-time children" seperti Litsky Li berarti menghabiskan waktu berbelanja untuk keluarganya dan merawat neneknya yang menderita demensia. Orang tua memberikannya gaji sekitar 6.000 yuan per bulan, yang merupakan jumlah yang cukup besar untuk standar kelas menengah di daerahnya.

"Saya memilih untuk bekerja di rumah karena saya tidak tahan dengan tekanan pergi ke sekolah atau mencari pekerjaan. Saya tidak ingin bersaing dengan orang lain. Lebih baik hidup lebih santai saja. Lagipula, saya tidak butuh pekerjaan bergaji tinggi atau hidup mewah," ungkap Li, seperti dilansir dari CNN, Rabu (26/7/2023).

Ini sejalan dengan konsep "Tangping," yang mengacu pada hidup lebih santai, sederhana, dan tanpa ekspektasi yang terlalu tinggi, telah muncul di Tiongkok. Sebagian besar anak muda yang menghadapi tantangan dalam mencari pekerjaan mengaku bahwa mereka kembali ke rumah orang tua mereka karena kurangnya opsi pekerjaan.

Di media sosial, seperti Douban dan Xiaohongshu, ribuan anak muda berdiskusi tentang pengalaman mereka sebagai "full-time children" Tagar #FullTimeChildren pun menjadi populer, mencerminkan kompleksitas tren ini.

Generasi muda saat ini menunjukkan perbedaan dengan generasi yang lebih tua yang lahir pada tahun 1980-an. Mereka belajar dan bekerja keras dalam karir mereka, sementara masih membantu keluarga mereka dengan membayar sewa, cicilan mobil, dan kebutuhan sehari-hari.

Disisi lain, "full-time children" lebih banyak menghabiskan waktu dengan orang tua mereka dan mengambil peran dalam pekerjaan rumah tangga sebagai balasan atas dukungan finansial yang mereka terima. Meskipun mereka tidak memiliki pekerjaan konvensional, mereka menunjukkan bahwa kontribusi mereka dalam keluarga memiliki nilai yang signifikan.

AKIBAT BUDAYA '996'

Kelelahan yang mendorong tren pemuda tiongkok untuk menjadi "full-time children" tidak sepenuhnya mengejutkan mengingat keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi di Tiongkok yang terkenal memiliki budaya yang tidak ideal, istilah di negara ini sering disebut sebagai "996" di mana orang menganggap bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, enam hari dalam seminggu adalah hal yang biasa.

Dikutip dari Inet.detik.com sebagian besar generasi muda dari Gen Z menyuarakan ketidakpuasan terhadap sistem kerja yang disebut '996,' yang dianggap ekstrim. Menurut mereka, bekerja dari jam 9 pagi hingga 9 malam selama 6 hari seminggu dianggap sebagai beban yang berat, sementara kompensasi yang ditawarkan dianggap tidak memadai. 

Budaya kerja '996' telah meresap dalam berbagai perusahaan China, termasuk startup dan perusahaan teknologi. Menurut Rebecca Fannin, seorang pemodal ventura di Silicon Dragon Ventures, sistem kerja '996' dianggap sebagai salah satu langkah China dalam upayanya untuk mengejar perkembangan ekonomi yang mirip dengan negara-negara Barat.

Ada pandangan yang menyatakan bahwa bekerja terlalu keras dapat berdampak negatif pada kreativitas dan kesejahteraan individu. Selain itu, ada pemahaman bahwa memiliki tubuh yang sehat dapat meningkatkan produktivitas. Terlebih lagi, generasi milenial di China mulai menerapkan gaya hidup yang lebih sehat, menunjukkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan.

Sistem kerja '996' tidak selalu menjamin kesuksesan perusahaan, bahkan dalam beberapa kasus bisa berdampak negatif pada produktivitas. Budaya kerja yang memaksa orang untuk bekerja panjang, seperti dari jam 9 pagi hingga 9 malam selama 6 hari seminggu, mungkin merugikan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Tantangan nyata pun muncul terutama bagi generasi muda yang mulai menyadari hak-hak mereka dan tidak ingin lagi terjebak dalam pola kerja yang tidak seimbang.

Dalam konteks ini, fenomena "full-time children" menggambarkan respons pemuda yang memilih untuk lebih fokus pada kehidupan pribadi, membantu keluarga, dan menikmati gaya hidup yang lebih santai daripada bersaing keras dalam mencari pekerjaan. 

Meskipun mereka mungkin tidak memiliki pekerjaan konvensional, mereka menunjukkan bahwa kontribusi mereka dalam keluarga memiliki nilai yang signifikan. Dalam situasi pengangguran yang tinggi, fenomena ini mencerminkan perubahan dalam harapan dan nilai generasi muda di Tiongkok, yang mengutamakan kesejahteraan dan keseimbangan dalam hidup mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa perubahan budaya kerja di China mungkin menghadapi hambatan dalam mengubah norma yang telah ada. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Abdillah Qomaru Zaman

Lulusan Ilmu Politik, freelance penulis dan pelatih silat.