Civs

‘UNDISPUTED POETRY’: WADAH EKSPLORASI SISI MAGIS DAN EMOSIONAL PUISI

Sebuah komunitas di Surabaya mewadahi anak-anak muda yang ingin belajar 'spoken word poetry', sebuah seni yang membuat mereka lebih leluasa mengekspresikan suara hati. Seorang Civillion mengabarkannya untuk kita langsung dari kota pahlawan.

title

FROYONION.COM - Membaca puisi bagi kebanyakan orang adalah hal yang cringe dan juga terkesan menye-menye. Namun, di Undisputed Poetry aku belajar banyak hal termasuk mengekspresikan diri.

Siapa yang tidak pernah baca puisi, sih? Pas pelajaran Bahasa Indonesia pasti kita pernah diberi tugas baca puisi di depan kelas. Memang sih, puisi selalu dikaitkan dengan hal-hal yang menye-menye atau sendu, makanya kebanyakan orang malu untuk membaca puisi di depan umum. Padahal nggak seperti itu sih.

Bukan puisi konvensional yang dibacakan seperti penekanan khusus, ternyata ada juga seni membacakan puisi yang populer yaitu spoken word poetry. Memang bedanya ya dengan puisi yang dibacakan waktu di sekolah dulu?

Belajar Mengekspresikan Diri

Mundur ke belakang ke tahun 2019, saat aku masih jadi mahasiswa akhir dan bingung soal skripsi. Rasanya pengin banget menumpahkan pikiranku tetapi tidak hanya berakhir jadi sumpah serapah, suatu ketika aku dapat undangan buat hadir ke Spoken Word Poetry. Wah, menarik nih, karena ini semacam angin segar apalagi di kota Surabaya, belum pernah kutemui acara pembacaan ini.

Diadakan di C2O Library, Undisputed Poetry menggelar open mic mereka. Ruangan C2O Library yang tanggung itu dipenuhi oleh orang, aku semakin yakin kalau Undisputed Poetry memang menyuguh jenis puisi yang tak pada umumnya dan dugaanku benar.

Aku masih ingat betul, Steffi membacakan puisi soal tragedi pemboman di Surabaya 2018 lalu, puisinya berjudul “Shalom”. Tidak seperti puisi konvensional, Steffie membacanya seperti sedang membawakan sebuah pentas drama tapi diam di tempat. Mungkin, lebih mirip monolog, tetapi ini berbeda.

Sebenarnya apa itu spoken word poetry? Well, Civs, spoken word poetry adalah seni berpuisi, akting, dan juga membangun emosi lewat sebuah pertunjukan. Pertunjukan ini biasanya disebut dengan open mic poetry. Puisi ini bukan hanya dibacakan, tetapi membayangkan seperti sedang berdialog, coba deh tengok YouTube channel “Button Poetry” kalau penasaran apa itu spoken word poetry.

Biasanya, puisi ini juga bisa dalam bentuk atau saut-menyaut. Phil Kaye dan Sarah Kay, mereka berdua adalah pasangan penyair salah satu karyanya yang ciamik adalah “When Love Arises” yang kukagumi adalah cara mereka membawakan puisinya, hidup dan juga lancar.

Kembali ke Undisputed Poetry, jujur saja aku merasakan suatu yang magis saat teman-teman yang lain membacakan puisi mereka. Emosional dan juga pertunjukan yang tak biasa. Gila, mereka ini keren-keren banget. Sementara saat aku membaca puisiku kadang jempolku bergetar dengan sendirinya.

Aku ingat persis saat itu Mei 2019, pertama kali aku membacakan puisiku atau yang lebih mirip dengan prosa yang berjudul “Semoga Saja, Semoga Kau Bangkit” yang merupakan refleksi soal kekhawatiran skripsi. Antara aku tak sabar dan juga takut membacakan cerita personalku di depan orang asing.

Namun setelah aku membacakan prosaku, aku mendengar tepuk tangan sorak sorai. Ini ya namanya karyanya dihargai di hadapan orang asing? Itulah pengalamanku membacakan prosa, sebuah hal yang tak bisa ditukar dengan uang.

Safest Place

Tertarik dengan dunia spoken word poetry aku memutuskan untuk bergabung dengan Undisputed Poetry, di dalamnya ada Steffi, Maul, Rissa, Hayu, dan Yuri mereka adalah pentolan yang menginisiasi open mic poetry. Tanpa budget yang banyak, bermodalkan open donation, dan standing mic sewa kami membuka open mic.

Jujur saja, ini pengalaman yang menyenangkan, apalagi saat itu aku masih menyandang status fresh graduate bagiku ini bukan hanya sebatas kegiatan volunteer, melainkan menjadi event organizer. Secara personal, memang aku gemar menulis puisi jadi ketika menjadi panitia dan bertemu dengan orang-orang yang menyukai puisi itu suatu hal yang begitu berharga.

Selama menjadi organizer, aku mengamati banyak gerak-gerik poet (sapaan bagi mereka yang membacakan puisinya), ini perasaan yang menggembirakan saat mendengar puisi mereka. Mulai soal kritik sosial, kegalauan, keluarga, atau persoalan pelik lainnya.

Sesuai dengan motto yang dipegang oleh Undisputed Poetry “the safest place” ini benar-benar tecermin dari reaksi penonton dan juga poet lainnya, no judgement atau nyinyiran setelah poet membacakan puisi mereka. They feel free to read!

Bukan soal itu aja sih, di sini benar-benar tidak memandang memandang soal gender, ras, agama, suku, dan lain lain karena di sini kami semua setara. Itulah yang membuatku nyaman saat berada di Undisputed Poetry.

Oh iya, apa hanya itu saja yang membedakan Undisputed Poetry dengan komunitas lainnya? Ini terlalu cepat untuk mengatakan kalau itu yang terbaik, tetapi ada beberapa rules yang mesti diperhatikan saat sedang berlangsungnya open mic.

Pertama, semua poet harus membaca puisi mereka sendiri, yang mana artinya ya original. Biasanya, ada juga beberapa komunitas atau event yang memperbolehkan membaca puisi orang lain tapi Undisputed Poetry memberikan ruang kepada poets untuk menunjukkan karya terbaik mereka.

Kedua, di sini tidak boleh “tepuk tangan” atau bersorak saat poets membacakan puisi mereka. Kalau ada punchline yang mengena di hati, biasanya disarankan untuk snapping finger, jadi nggak akan mengganggu kekhusyukan saat membaca puisi.

Dokumentasi: Instagram @undisputedpoetry

Ketiga, boleh membacakan puisi bareng orang lain? Ya tentu boleh dong, boleh group poet atau duo juga sah-sah aja. Tidak ada pakemnya untuk membaca puisi mau sendiri, bareng, dan bersama partner, di Undisputed Poetry semuanya boleh banget!

Keempat, mereka lebih dari sebatas kumpulan orang yang gemar membaca puisi. Sepengalamanku saat mengadakan open mic mulai dari seorang yang malu-malu, strangers, sampai mereka menjadi bagian dari ekosistem itu. 

Undisputed Poetry lahir sejak akhir 2018 dan kini sudah memiliki lebih 1000 followers. Namun sejak pandemi COVID-19 menyerang, Undisputed Poetry juga masih aktif untuk menghidupkan ekosistem, mulai dari writing prompt sampai virtual open mic.

Bagiku, puisi bukan hanya soal media ekspresi diri tetapi adanya juga ekosistem dari poet satu dengan poet lainnya. Aku seharusnya berterima kasih kepada ekosistem ini, karena lewat itu semua aku jadi tahu bahwa masih ada yang menikmati puisi di dunia yang modern ini. Puisi nggak jadi ketinggalan jaman dan juga masih bernapas.

Puisi tidak sebatas hal yang monoton, melainkan belajar juga mengekspresikan diri lewat gerak tubuh dan juga semangat. Kalian bisa mampir ke Instagram @undisputedpoetry dan juga channel YouTube mereka kalau masih penasaran seperti apa itu spoken word poetry.

Gimana Civs, tertarik untuk membacakan puisi sekarang? (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Yosua Pirera

Copywriter, content writer, poet