Civs

LAWANG OMBO, RUMAH CANDU DI PESISIR JAWA UTARA PADA MASANYA

Ternyata opium atau candu pernah digandrungi masyarakat kita loh, Civs. Coba simak tulisan di bawah ini.

title

Berkunjung ke Lasem sebuah kecamatan di Rembang, Jawa Tengah tak lengkap rasanya jika tak menelusuri jejak sejarahnya yang menarik dalam perkembangan kota kecil yang lebih lekat dijuluki Tiongkok Kecil ini. Lasem merupakan salah satu titik berlabuh di jalur utama perdagangan internasional di masa lampau, hingga pada akhirnya di sekitar abad ke 17 dan 18 orang-orang dari Tiongkok berdatangan untuk berdagang sampai menetap di Lasem. 

Jika di dalam buku sejarah pada saat kita duduk di bangku sekolah belajar tentang perdagangan internasional di masa lalu selalu berkaitan dengan rempah-rempah, maka yang perlu Kita ketahui juga adalah di awal abad ke 19 perdagangan opium atau candu meledak di pesisir utara Jawa. Semua kalangan turut andil mengonsumsi candu, dari kalangan ningrat hingga masyarakat kelas bawah sama-sama menikmati candu ketika itu, dan Lasem adalah salah satu tempat dimana candu beredar dengan cepat, luas serta rahasia. Rahasia yang dimaksud di sini adalah aman dari pengawasan pemerintah Hindia Belanda yang ketika itu pemerintah Hindia Belanda berlaku sebagai pemeran utama dari monopoli perdagangan apa pun di Nusantara, terutama rempah dengan kongsi dagangnya bernama VOC.

Sebuah rumah bergaya arsitektur China di sebelah klenteng Cu An Kiong, klenteng tertua di Lasem bahkan ada beberapa sumber juga menyebutkan bahwa Cu An Kiong merupakan klenteng tertua di pulau Jawa. Tetapi, kali ini kita tidak akan membahas tentang klenteng tersebut, namun tentang rumah megah dengan arsitektur China di sebelahnya. Lawang Ombo, begitu masyarakat umum menyebutnya. Disebut dengan Lawang Ombo karena rumah tersebut memiliki kusen pintu utama yang sangat besar, tingginya hampir dua kali dari gawang sepak bola dan lebarnya sekitar tiga meter. Maka dari itu, orang-orang akrab memanggilnya dengan nama “Lawang Ombo” yang berarti pintu lebar atau pintu besar dalam bahasa Jawa.

Menarik kembali pembahasan di awal mengenai candu atau opium yang sempat menggurita penyebaran dan penggunaannya di sepanjang pesisir utara Jawa pada sekitar abad ke-19 dengan Lawang Ombo di Lasem, dua hal tersebut memiliki hubungan yang erat. Ketika candu benar-benar digandrungi berbagai kalangan masyarakat di pesisir pulau Jawa saat itu, pemilik rumah Lawang Ombo yaitu Lim Cui Sin seorang pejabat rendah asal China menjual dan mendistribusikan candu dari dalam rumah secara senyap bersama beberapa para pekerjanya. Ada sebuah lubang bawah tanah sebagai akses jalan penyelundupan candu dari pinggir sungai Lasem, dimana sungai Lasem pada saat itu merupakan salah satu jalur perdagangan internasional. 

Sebuah lubang yang hanya cukup dilalui oleh satu orang sebagai jalur penyelundupan candu dari sungai Lasem kini masih utuh di dalam rumah peninggalan Lim Cui Sin dan menjadi salah satu ikon Lawang Ombo. Sayangnya, lubang tembusan dari rumah yang berada di pinggiran sungai Lasem telah lama hilang karena perubahan geografis. 

Selain lubang penyelundupan di Lawang Ombo atau dikenal sebagai rumah candu ini masih ada beberapa peninggalan furniture rumah khas keturunan China, termasuk tempat sembahyang pribadi di dalam rumah. Sampai saat ini tempat sembahyang tersebut masih sering digunakan sesuai dengan fungsinya oleh keturunan ke empat dari Lim Cui Sin. Kemudian, di sebelah rumah juga ada makam dari keluarga Lim Cui Sin.

Rumah candu atau Lawang Ombo ini juga sering digunakan sebagai tempat uji nyali, produksi konten mistis serta sejarah di beberapa stasiun televisi nasional maupun channel youtube. Menguak apa saja yang telah terjadi di masa lampau di dalam maupun sekitaran rumah candu yang begitu luas dan besar.

Saat ini Lawang Ombo telah menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi bila bertandang ke Lasem, bahkan siapa saja yang ingin menginap pun dipersilakan. Meski banyak warga sekitar mengaku sering mendengar suara kuda atau kejadian mistis, tetapi penjaga rumah candu atau Lawang Ombo ini belum pernah mengalami kejadian-kejadian mistis seperti yang diceritakan warga sekitar. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Imam Luqman

Mahasiswa Sastra Indonesia tingkat akhir di salah satu kampus negeri di Surabaya, anggota masyarakat urban di Surabaya dan aktif di kesenian teater dan film pendek