Viral

BPOM LARANG JUAL ROKOK ECERAN, EMANGNYA EFEKTIF?

BPOM bikin wacana untuk melarang penjualan rokok secara eceran. Tujuannya untuk menekan penjualan rokok. Apakah efektif?

title

FROYONION.COM - Suatu malam sewaktu saya berkunjung ke warkop (warung kopi), kawan saya yang menjaga warkop itu bilang, bahwa ada wacana dari BPOM yang melarang penjualan rokok secara eceran. Mendengar itu saya tidak terkejut. Di negeri yang memuja gimmick, wacana semacam itu bukanlah hal baru.

Rokok adalah produk yang saya rasa paling banyak mendapat tekanan belakangan ini. Mulai dari disematkannya gambar-gambar mengerikan di bungkusnya hingga harga cukainya yang terus-menerus mengalami kenaikan. Semua itu dilakukan demi menekan angka penjualan rokok.

Ya, rokok dianggap sebagai penyebab pelbagai penyakit. Tapi di zaman sekarang, penyakit tak hanya datang dari rokok, bukan? Penyakit diabetes, misal, yang tak kalah mematikannya dengan kanker, datang dari kelewat banyaknya kandungan gula dalam darah. Lalu kenapa tak ada yang melarang penjualan makanan manis atau apa pun yang bisa menyebabkan diabetes?

Bahkan kalau kita mau bicara soal sesuatu yang mematikan, bukankah angka kecelakaan juga tinggi? Lalu kenapa sampai sekarang tak ada yang melarang penjualan kendaraan bermotor? Dari sini tampaklah, logika antirokok bikin gagal paham. Ya tho?

Kembali ke wacana BPOM tadi. Jika tujuan pelarangan penjualan rokok secara eceran, demi menekan angka penjualan rokok; sejujurnya, bukanlah cara yang efektif. Percayalah, itu bukan ide yang bagus.

Justru sebaliknya pelarangan itu bakal menaikkan angka penjualan. Serius. Dan ini menunjukkan, BPOM tak mengerti mindset para konsumen rokok. Apa mereka tak melakukan riset lebih dulu sebelum bikin wacana?

Kenapa malah bikin penjualan rokok naik?

Begini, ide BPOM dengan mengharuskan beli rokok perbungkus adalah untuk mengurangi daya beli masyarakat pada rokok. Rokok eceran jauh lebih mudah dijangkau oleh kantong-kantong masyarakat bawah. Dengan semakin tak terjangkaunya harga rokok, diharapkan masyarakat berpikir jutaan kali untuk merokok atau bahkan berhenti sama sekali. Cara ini sebetulnya sudah ditempuh dengan menaikkan cukai rokok, dan nyatanya gagal. Para konsumen rokok jumlahnya tak kunjung merosot.

Jika wacana itu jadi disahkan, misalnya, saya rasa cara itu pun bakal gagal. Semua itu karena BPOM melupakan sebuah fakta. Kenyataannya, ketika seseorang membeli rokok secara eceran, selain untuk memenuhi kebutuhannya akan rokok secara rutin, di lain sisi ia juga sedang membatasi konsumsi rokok tiap harinya.

Cara kerjanya begini. Ia baru bisa beli rokok ketika ia mampir di warkop atau toko kelontong. Untuk pergi ke warkop tentunya ia butuh effort lebih. Dan ketika ia hanya beli tiga batang rokok, misal, ia tentu bakal menghematnya agar tak cepat habis sebelum kunjungan berikutnya ke warkop yang entah kapan.

Hal ini bakal berubah ketika ia diharuskan membeli rokok perbungkus. Ia yang biasa merokok secara terbatas, bisa tanpa sadar terus-menerus merokok. Lah wong tinggal comot saja dari bungkusnya, tak perlu repot ke warung kan ya? Ia yang biasanya hanya habis tiga-empat batang rokok perhari, bisa habis selusin (jumlah minimal rokok perbungkus).

Jangan harap para perokok itu mau berhemat ketika ada sebungkus rokok di kantong. Godaan untuk terus merokok itu besar, sulit dipukul telak. Ini sudah sifat alami kebanyakan manusia. Ketika mereka punya sesuatu yang melimpah, mereka lebih tertarik untuk menghambur-hamburkannya, ketimbang menghematnya. Bukan, begitu?

Wacana itu juga sebetulnya dimaksudkan agar anak-anak di bawah umur tidak mengakses rokok. Lagi-lagi mereka gagal membaca situasi. Mereka tak tahu betapa militannya para remaja. Mereka bakal melakukan apa pun, saya ulangi, apa pun untuk menghapus rasa penasaran mereka, salah satunya pada rokok. 

Mereka bisa saja patungan untuk membeli sebungkus rokok dan membaginya. Lagipula, remaja tak suka dilarang. Semakin dilarang, semakin menjadi-jadi pula rasa penasaran mereka.

"Ngawur," respon saya terhadap info kawan saya tadi, "emang gimana cara mereka ngasih sanksi ke warung-warung yang jualan rokok eceran? Dikira jumlah warung di Indonesia ini nggak jutaan apa."

Oleh karenanya, wacana ini sebaiknya tak perlu dianggap kelewat serius. Percaya deh. (*/)

BACA JUGA: DARI ROKOK PINDAH KE VAPE, SAMA SAJA ATAU SEBUAH SOLUSI?

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Shofyan Kurniawan

Shofyan Kurniawan. Arek Suroboyo. Penggemar filmnya Quentin Tarantino. Bisa dihubungi di IG: @shofyankurniawan