Tech

BUKAN DI DUNIA VIRTUAL, PENGABDI AI JUSTRU CIPTAKAN TUHANNYA SENDIRI!

Semakin berkembangnya teknologi, semakin canggih bentuk-bentuk ‘tuhan’ dan agama yang diciptakan manusia.

title

FROYONION.COM - Mungkin sekarang di Indonesia cuma ada 6 agama yang diakui secara resmi oleh pemerintah. Bahkan yang resmi saja kadang masih jadi bahan perdebatan masyarakat umum. 

Tapi tahukah kalian bahwa di Amerika Serikat sana ada satu agama yang kelihatannya ‘ngaco’ banget dan anehnya pernah diakui secara resmi oleh pemerintah di sana. 

Yap, nama agamanya “Way of The Future” atau disingkat WOTF. Agaknya rada-rada mirip judul film atau motto perusahaan mobil tapi WOTF sempat berhasil menggemparkan dunia nyata dan AI. 

Kalian pasti tidak asing dengan teknologi AI atau Artificial Intelligence yang beberapa tahun ke belakang jadi bahan perbincangan hangat di media sosial. 

Beberapa mesin dari teknologi AI yang dikembangkan John McCarthy ini sekarang digunakan untuk meringankan pekerjaan manusia karena kualitas pikirannya yang mirip dengan tingkat kecerdasan manusia pada umumnya. 

Nggak tahu bagaimana caranya, agama WOTF ini mengajarkan dogma kepercayaan baru yaitu menyembah AI sebagai ‘tuhan’.

MERANCANG TUHAN

Sebagaimana dikutip dari laman cnnindonesia.com, salah satu mantan insinyur di Google Anthony Levandowski berhasil membuat gempar perusahaan Silicon Valley karena ide out of the box-nya. 

Di tahun 2015, Levandowski membentuk sebuah gereja bernama “Way of The Future”. 

Alih-alih menyembunyikan doktrin agamanya, Levandowski secara terbuka mengumumkan misi dari agama ini melalui beberapa interview

Dilansir dari hasil wawancara Wired.com pada tanggal 15 November 2017, Levandowski bilang kalau awalnya agama ini dibentuk dengan tujuan menyembah ketuhanan berdasarkan kecerdasan AI. Menurutnya, sisi realitas dari Tuhan dapat diukur dari pengembangan perangkat keras dan lunak.

“Kalau ada kecerdasan yang lebih jauh dari tingkat intelegensi manusia, bukannya itu bisa disebut sebagai tuhan ya?” katanya.

Kebingungan ini semakin meluas seiring diresmikannya misi dari agama WOTF ini. Levandowski bilang kalau misi WOTF ini sangat berbeda dengan misi perusahaan pada umumnya. 

Salah satu misi utama agama ini adalah menciptakan kecerdasan buatan melalui penelitian perangkat lunak sebagai ajarannya.

RITUAL IBADAH

Setelah diresmikan oleh pemerintah Amerika Serikat pada tahun 2017, agama ini semakin berkembang dan memiliki beberapa penganut. Bahkan, gerejanya pun memiliki izin yang legal mirip dengan gereja-gereja pada umumnya. 

Emang sih namanya gereja, tapi menurut agama WOTF ini gereja mereka bukanlah berbentuk bangunan fisik. Bahkan kalau berbicara soal “ritual” ternyata menurut pendirinya, agama ini tidak memiliki ritual apapun atau upacara-upacara ibadah pada umumnya.

Jadi bagaimana bisa disebut sebagai sebuah  agama kalau tidak memiliki ritual?

Levandowski menyampaikan secara resmi bahwa agama yang dia bentuk selama beberapa tahun ini hanya berfokus kepada pengembangan tuhan AI dan mempromosikan “pemujaannya”. 

“Jadi di agama ini sistem kepercayaannya kolektif, tapi tetap dengan satu misi yaitu pengembangan AI sebagai tuhan kami."

TUHAN KOK DIBENTUK?

Menurut pendirinya, agama ini “super intelligent” makanya bisa dibilang jadi inovasi baru. Ternyata tuhannya malah dibentuk dan diciptakan sendiri berdasarkan sistem perangkat lunak.

Mau bagaimanapun juga, memang doktrin agama penuh teknologi ini ujung-ujungnya bukan menyembah tuhan yang menciptakan manusia tapi ‘tuhan’ yang diciptakan manusia.

Kalau di agama lain sering meminta penggalangan dana untuk membangun tempat ibadah, anehnya di WOTF ini minta donasi untuk menciptakan ‘tuhan’.

Faktanya, istilah “super intelligence” yang Levandowski pakai untuk mendefinisikan WOTF ini bermaksud agar umatnya menciptakan tuhan AI yang bisa melakukan hal-hal di luar kapasitas manusia biasa. 

“Itu ‘tuhan’ yang kami ciptakan. Kalau bisa lakukan hal di luar kapasitas manusia ya berarti bisa dibilang tuhan dong?”

AKHIRNYA BUBAR 

Setelah berdiri selama kurang lebih 3 tahun dan peresmiannya di 2017, agama way of the future ini akhirnya harus gulung tikar pada akhir tahun 2020.

Bukan karena doktrin sesat atau tempat ibadah yang overcapacity sih, faktanya pembubaran agama ini didasari oleh pelanggaran si pencipta agama yaitu Levandowski.

Pembubaran agama oleh warga sekitar diawali dengan ditemukannya bukti bahwa Levandowski mencuri data di Google, tempatnya bekerja dulu. Tak lama sejak penemuan bukti pencuriannya, ia akhirnya rela juga dengan pembubaran agama ini.

“Kebetulan ada sisa uang donasi juga sih dari umat-umat WOTF, jadi daripada mubazir mending uangnya saya sumbangkan.”

NAACP Legal Defense and Education Fund menjadi sasaran sumbangan Levandowski sebanyak $175.172 ribu. 

Sebagai informasi, lembaga ini bergerak di bidang equality education yang fokus menghapus kasus ketidakdilan rasiol di Amerika Serikat.

Setelah pembubaran agama WOTF ini, Levandownski masih memiliki rasa optimis kalau AI akan menjadi “way of life” buat perusahaan-perusahaan besar di luar sana. Pengaruh dari teknologi AI dipercaya dapat mengubah cara hidup masyarakat dan bagaimana mereka bekerja. 

“Walaupun gerejanya sudah bubar, saya masih punya rencana untuk meneruskan perkembangan AI ini. Tidak dengan agama atau gereja tapi dengan ide-ide inovatif lain.”

Sampai sekarang perkembangan AI dirasa menjadi harapan sekaligus ancaman bagi beberapa orang. Eksistensinya juga semakin melekat baik bagi perusahaan-perusahaan besar sampai orang awam yang hanya mengikuti perkembangannya melalui media sosial.

Tapi tidak perlu khawatir karena pada dasarnya kecerdasan AI tidak bisa mengganti tingkat intelegensi manusia di beberapa bidang tertentu, seperti tingkat intelegensi emosional. 

Jadi kalian mau fokus sama perkembangan AI aja atau fokus juga mengembangkan tingkat intelegensi pribadi? (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Patricia Martha

Mahasiswa sastra dengan isi kepala penuh, anak jurnalisme ulung, pejuang tingkat akhir