Kreatif

KENAPA INDONESIA BUTUH LEBIH BANYAK PERGURUAN TINGGI PROGRAM STUDI ‘KREATIF’

Tidak hanya jurusan kedokteran, hukum, dan manajemen, jurusan di bidang ‘kreatif’ juga menjadi pilihan menarik bagi generasi muda di Indonesia.

title

FROYONION.COM - Pada tanggal 31 Juli 2021 kemarin, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim meresmikan pembukaan Politeknik Tempo Jakarta.

Politeknik Tempo akan meluluskan sarjana terapan, dan ke depannya juga akan ada program studi untuk S2 dan S3 terapan. Untuk program studi sarjana terapan, ada 3 jurusan, yaitu Desain Media, Produksi Media, dan Manajemen Pemasaran Internasional.

Dengan peresmian ini, Nadiem berharap Politeknik Tempo menciptakan lulusan-lulusan yang siap kerja dan mampu berkontribusi besar terhadap ekonomi kreatif, juga keahliannya mampu digunakan di berbagai emerging start-up di Indonesia.

Direktur Politeknik Tempo, Shalfi Andri, melalui wawancara dengan Froyonion mengatakan bahwa Tempo bercita-cita mendirikan perguruan tinggi demi membagikan ilmu ke masyarakat luas.

“Politeknik yang merupakan Perguruan Tinggi Vokasi yang kami pilih agar ilmu yang diterima mahasiswa dapat langsung diterapkan di dunia kerja, serta kampus yang  terintegrasi dengan industri media dan komunitas startup,” ujar Shalfi.

Selain sektor media, ekonomi kreatif sendiri punya banyak subsektor di dalamnya, Civs. Menurut Kemenparekraf, ada 17 sub sektor ekonomi kreatif di Indonesia. Salah satu di antaranya adalah sektor ‘Pengembang Permainan’. Subsektor ini berkontribusi terhadap PDB Indonesia sebesar 1,93% pada tahun 2017.

Di tahun yang sama, ada sekitar 44.733 tenaga kerja sektor pengembang permainan di Indonesia. Diprediksi, ke depannya akan semakin banyak generasi muda yang terjun ke subsektor ini.

Selain Politeknik Tempo, ada juga perguruan tinggi lainnya yang punya jurusan ‘kreatif’’. Contohnya, ada Institut Teknologi Bandung (ITB) yang punya program studi Magister Berorientasi Terapan untuk Teknik Elektro Teknologi Media Digital dan Game. Sama halnya juga dengan Binus University yang punya program studi Game Application and Technology untuk jenjang S1.

Terciptanya jurusan-jurusan ‘kreatif’ dari Universitas atau Politeknik dalam negeri ini tentunya diharapkan dapat mencetak talenta-talenta muda lokal yang bisa berkontribusi positif di sektor ekonomi kreatif.

Menurut data Global Startup Ecosystem Report (GSER) yang dipublikasikan oleh ‘Startup Gnome’, Jakarta berada pada ranking ke-2 dari 100 kota di berbagai negara lainnya perihal ‘perkembangan ekosistem start-up’ dengan total valuasi sebesar 26,3 miliar dollar atau sekitar Rp375 triliun.

Meskipun saat ini perkembangan start-up secara mayoritas masih berkutat di kota besar seperti Jakarta, tapi angka ini menunjukkan betapa besarnya peluang penyerapan tenaga kerja yang memiliki spesialisasi di bidang kreatif, seperti media, pengembang game, fesyen, dan berbagai sub-sektor lainnya.

Pemerintah juga memiliki peran penting dalam kemajuan ekonomi kreatif. Tidak hanya bergerak sebagai ‘regulator’ saja, pemerintah juga menunjukkan dukungan demi kemajuan ekonomi kreatif dengan menjadi akselerator dengan program-program yang pernah diusung.

Contohnya seperti ‘Gerakan Nasional 1000 Startup Digital’ yang pernah diusung oleh Kemkominfo pada tahun 2016, juga ‘Nexticorn’ pada tahun 2017. Presiden Jokowi mengatakan bahwa beragam gerakan ini dilakukan guna menghubungkan start-up yang lagi berkembang dengan institusi pembiayaan dan investor dari negara lain.

Kembali ke sisi akademik. Perguruan tinggi juga dituntut untuk selalu berinovasi dan menciptakan sistem pembelajaran yang lebih efektif, terutama demi mempersiapkan lulusan yang siap kerja. 

Seiring dengan perkembangan teknologi yang terjadi, metode perkuliahan seharusnya dapat dibuat lebih interaktif dan berfokus pada ‘pemecahan masalah atas suatu kasus’ ketimbang memperbanyak teori.

“Kami melihat masa depan ekonomi kreatif di Indonesia akan berkembang pesat sehingga para mahasiswa kami sudah dibekali dengan ilmu dan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan jaman,” lanjut Shalfi.

Terkadang, apa yang terjadi di lapangan membutuhkan mental yang tangguh dan soft-skill yang mumpuni, tidak jarang berbagai hal ini baru dipelajari oleh para fresh graduates ketika mereka memasuki dunia kerja untuk pertama kalinya. Pembekalan mahasiswa dengan memperbanyak case study dan juga menitikberatkan untuk mengasah soft-skills sama pentingnya dengan mempelajari hal-hal teknis dan kurikulum ‘lama’ yang sudah ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi.

“Karena kami bentuknya Politeknik sehingga komposisi penyampaian Teori yang 40% dan  praktek yang 60% akan memberikan waktu lebih banyak kepada para mahasiswa untuk lebih banyak belajar di industri yang sesuai dengan minatnya.  Dengan diterjunkan langsung ke industri akan menambah wawasan dan pengalaman dari para mahasiswanya,” terang Shalfi.

‘Berpikir kritis’ juga menjadi salah satu kriteria yang dibutuhkan banyak perusahaan saat membuka lowongan kerja untuk fresh graduate. Mahasiswa perlu dihadapkan kepada suatu permasalahan yang membutuhkan analisa mendalam tetapi tetap dalam pengarahan dan bimbingan dari tenaga pendidik.

Diharapkan, dengan semakin banyaknya perguruan tinggi dengan penjurusan yang lebih spesifik, metode pengajaran yang interaktif, dan dekat dunia kerja, akan membawa talenta muda Indonesia jadi lulusan yang lebih bermanfaat dan berguna.

Perguruan tinggi juga dapat berkolaborasi dengan emerging start-up yang membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian tertentu. Industri dapat menciptakan demand (permintaan) tenaga kerja dengan keahlian khusus, sedangkan tugas perguruan tinggi yaitu mencetak lulusan-lulusan yang memiliki soft-skill dan hard-skill yang dibutuhkan industri. 

Perkuliahan umum dengan mengundang perwakilan dari emerging start-up juga menjadi metode pembelajaran yang menarik dan tentunya mampu memberikan banyak insights bagi mahasiswa tentang ‘how the world really works’.

Shalfi juga mengatakan bahwa Politeknik Tempo akan melihat perkembangan dalam 2 sampai 3 tahun ke depan, dan akan mempersiapkan program studi lain yang memang dibutuhkan oleh industri-industri penggerak ekonomi kreatif di Indonesia. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Garry

Content writer Froyonion, suka belajar hal-hal baru, gaming, dunia kreatif lah pokoknya.