Keberadaan TikTok kini bukanlah hal yang baru lagi, tapi ternyata dibalik popularitas yang dimilikinya, TikTok juga menyimpan sisi gelap yang perlu kita ketahui dan waspadai.
FROYONION.COM - Dalam beberapa tahun belakangan kemunculan TikTok seakan mengubah wajah dunia sosial media. Dunia yang dulunya menjadi zona nyaman bagi Google dan Facebook, kini tidak lagi terasa aman bagi keduanya. Hal ini tak terlepas dari peningkatan penggunanya yang begitu pesatnya.
Bahkan kini pengguna TikTok telah mencapai lebih satu milyar pengguna hanya dalam 5 tahun semenjak peluncurannya. Pencapaian ini telah melampaui apa yang telah dicapai oleh facebook dan instagram yang memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai 1 miliar pengguna.
Di samping itu, saat ini keberadaan TikTok sudah seperti bagian integral dalam kehidupan kita yang tidak dapat dipisahkan, utamanya bagi para remaja. Bagaimana tidak, karena di setiap obrolan pasti akan ada saja momen yang berkaitan dengan konten-konten yang berada di TikTok.
Entah itu tentang fashion, film, atau mungkin saja gosip tentang artis idola pun tak luput dari sorotan FYP TikTok. Sebenarnya, kondisi ini bukanlah hal yang aneh mengingat sudah hampir pasti aplikasi TikTok terinstal di setiap ponsel kita.
TikTok selama ini dikenal sebagai sebuah platform yang menyajikan video berdurasi pendek yang diiringi dengan tarian dan musik-musik pop. Tetapi, sepertinya stigma tersebut sudah tidak berlaku lagi.
Pasalnya kini TikTok tidak hanya berperan sebagai sumber hiburan dan ajang beradu kreativitas, tetapi kini TikTok memiliki peranan yang lebih luas lagi, yaitu sebagai sumber referensi dalam mencari informasi layaknya google dan kawan-kawan sebagaimana dilansir dari New York Times.
Alasannya pun beragam, tetapi salah satu daya tarik yang diberikan oleh TikTok dalam menyajikan informasi adalah kemudahannya. Hal ini tak terlepas dari algoritma cerdas yang dimiliki oleh TikTok.
Saking cerdasnya, algoritma ini diklaim mampu memahami penggunanya lebih baik dibandingkan penggunanya sendiri. Maka tak ayal dengan algoritma tersebut memungkinkan pengguna untuk memperoleh informasi yang sesuai dengan preferensi mereka.
Akan tetapi, algoritma ini bukannya tanpa masalah. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh NewsGuard menunjukkan bahwasanya hampir 20% dari video yang muncul pada hasil pencarian TikTok berisi informasi yang salah, bahkan dari studi tersebut NewsGuard juga mengungkap bahwasanya yang menjadi permasalahan bukan hanya isi konten yang ditampilkan, tetapi juga bagaimana mereka menampilkan hasil pencarian tersebut.
NewsGuard mengungkapkan bahwasanya mesin pencari TikTok memiliki kecenderungan untuk menampilkan saran kata kunci yang lebih kontroversial, dibandingkan dengan kata kunci yang netral.
Tentunya kondisi ini menimbulkan potensi bahaya, utamanya terkait kerentanan terhadap potensi paparan hoax terhadap penggunanya, dan potensi ini semakin kentara lantaran keterbatasan kemampuan untuk mencari informasi yang lebih kredibel.
Karena memang mencari informasi di mesin pencari itu melelahkan, dan bagi mereka yang cenderung menginginkan hasil pencarian instan dan memiliki preferensi terhadap hasil pencarian berupa gambar atau video, maka TikTok adalah solusi cepatnya.
Sosial media, utamanya TikTok kerap kali hadir sebagai sarana hiburan yang cepat murah, dan praktis. Bagaimana tidak, untuk mengaksesnya kita hanya membutuhkan sebuah smartphone, dan voila! Dalam sekejap kita dapat menikmati konten-konten yang lucu, menarik, atau bahkan inspiratif.
Tetapi, dibalik kemudahan tersebut, TikTok juga memunculkan kekhawatirannya tersendiri, utamanya berkaitan dengan kesehatan mental. Algoritma TikTok telah didesain sedemikian rupa hingga dapat menampilkan konten-konten sesuai dengan preferensi penggunaannya yang mengakibatkan penggunanya tidak dapat memalingkan diri dari layar gawai mereka, sehingga hal ini dapat menimbulkan perilaku adiktif atau kecanduan.
Berbeda dengan algoritma yang dimiliki oleh Facebook, YouTube, Twitter, dan Instagram. Algoritma yang dimiliki oleh TikTok tidak hanya menampilkan konten-konten sesuai dengan preferensi mereka, tetapi TikTok juga menampilkan konten-konten yang bisa dikatakan kurang sesuai preferensi pengguna.
Tentunya dengan keberadaan variasi konten di beranda aplikasi, akan membuat penggunanya penasaran untuk melakukan eksplorasi terhadap konten-konten tersebut, sehingga pengguna akan menghabiskan waktu yang lebih lama di aplikasi tersebut.
Maka tak heran, dengan fakta tersebut keberadaan TikTok memunculkan potensi ancaman kesehatan mental terhadap para penggunanya.
Tak hanya ajang beradu kreativitas, tapi kadangkala TikTok juga menjadi sarana untuk memperoleh aktualisasi diri oleh pengguna. Tak jarang pengguna mengunggah pencapaian-pencapaian yang telah mereka raih.
Fenomena ini bak pedang bermata dua, di satu sisi dapat menjadi motivasi untuk dapat menjadi lebih baik dari hari ke hari, dapi di lain sisi juga dapat menimbulkan tekanan sosial pada pengguna lainnya. Akibat adanya komparasi sosial ini dapat menyebabkan adanya low self-esteem pada penggunanya
Melalui TikTok, pengguna dapat dengan begitu mudahnya mengekspresikan kreativitas dan juga opini mereka. Tapi dengan kemudahan ini juga berarti bahwa semakin mudah pula untuk melakukan tindakan bullying. Tindakan perundungan yang dilakukan pun bermacam-macam, baik itu berupa komentar maupun, melalui konten video dengan berbagai macam alasan.
Akan tetapi, penyebab dari cyberbullying ini bisa juga disebabkan oleh perasaan iri terhadap pencapaian korbannya, sehingga sebagai respons untuk mengatasi kelemahan yang ada di dalam dirinya adalah dengan menjatuhkan korbannya, dan dengan demikian pelaku seolah-olah memposisikan dirinya mendapatkan posisi yang lebih baik daripada korbannya.
Terlepas dari berbagai potensi negatif yang dapat ditimbulkan oleh TikTok, nyatanya TikTok juga menyimpan potensi untuk mengembangkan diri. Akan tetapi, hal yang perlu diingat adalah dalam penggunaannya kita perlu memperhatikan batasan-batasan yang ada sehingga keberadaannya tetap dapat memberikan manfaat bagi kita. (*/)