In Depth

STUDI BUKTIKAN DAMPAK LUAS KEYAKINAN TERHADAP AKHIRAT PADA KEHIDUPAN KITA

Percaya dengan adanya kehidupan setelah mati menentukan bagaimana seseorang memandang dan menjalani hidupnya. Begini penjelasannya.

title

FROYONION.COM - Konon, orang yang memiliki keyakinan terhadap akhirat biasanya memiliki mentalitas yang berbeda. Umumnya, mereka tidak takut akan kematian. Tak jarang, mereka begitu tabah bahkan terlihat biasa saja ketika kerabat dekat meninggal dunia. 

Mungkin kamu pernah melihat sosok seperti ini sebelumnya atau mungkin kamu adalah bagian dari mereka yang percaya pada akhirat. 

Tak peduli bagaimana agama atau kepercayaan seseorang, keyakinan terhadap akhirat telah banyak dipercayai orang dewasa. Hal tersebut mengaca pada survei yang menyatakan bahwa 81 persen orang dewasa di Amerika Serikat percaya terhadap akhirat, termasuk mereka yang tidak mengidentifikasikan agama dan kepercayaannya.

Belum ada data pasti terkait seberapa banyak orang yang mempercayai akhirat di Indonesia – yang dikenal sebagai negara beragama ini.  

Namun, anggapan kepercayaan kepada akhirat berpengaruh pada mentalitas seseorang ternyata bukanlah sebuah asumsi belaka. Studi terkait telah dilakukan sejak dahulu kala. Temuan terbaru mengungkapkan, keyakinan terhadap akhirat dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis seseorang. 

Hal tersebut dikarenakan keyakinan terhadap akhirat telah mengurangi kecemasan seseorang akan ketidakpastian di masa depan. Sementara itu, menurut Evolutionary Threat Assessment Systems Theory, struktur di dalam otak yang disebut amigdala, merespons ketidakpastian dengan rasa takut. Ketika ketidakpastian seseorang berkurang, implikasinya adalah ketakutannya pun akan ikut berkurang, terutama dalam hal ini salah satunya adalah ketakutan akan kematian.

Lalu, apakah keyakinan terhadap akhirat hanya memengaruhi kesejahteraan psikologis kita saja? Hebatnya, kondisi psikologis seseorang juga memengaruhi pandangannya terhadap dunia. Alhasil, tindakan dan komitmen yang dilakukan seseorang pun akan berbeda.

Berdasar pada studi dan penelitian yang telah dilakukan, berikut lima contoh bahwa keyakinan terhadap akhirat dapat memengaruhi seseorang dalam berbagai aspek kehidupannya.

ORANG YANG PERCAYA PADA AKHIRAT NGGAK EGOIS, JIWA ALTRUISMENYA TINGGI

Sebuah studi yang dilakukan oleh Daniel J. Kruger, dkk mengungkapkan bahwa orang yang memiliki keyakinan kepada akhirat memiliki naluri “menolong orang lain” yang tinggi. 

Serangkaian uji dan pertanyaan diajukan untuk menganalisis partisipan penelitian menggunakan inclusive fitness theory dan age-based reproductive value. Hasilnya, ditemukan bahwa partisipan yang memiliki keyakinan terhadap akhirat memiliki jiwa altruisme yang tinggi. Mereka cenderung untuk menolong kerabat terdekat atau orang termuda dibandingkan kerabat jauh atau orang yang sudah berusia.

KEYAKINAN PADA AKHIRAT MEMBUAT ORANG CUEK PADA LINGKUNGAN

Studi selanjutnya memiliki keunikan tersendiri sebab dikorelasikan dengan agama atau kepercayaan partisipannya. Johnson, K. A dkk menyatakan bahwa partisipan yang beragama abrahamik memiliki tingkat kepedulian yang rendah terhadap lingkungan, sedangkan mereka yang beragama dharmik seperti Hindu, Buddha, Sikh, dan lain-lain memiliki kepedulian lingkungan yang tinggi.

Dijelaskan bahwa, sederhananya mereka yang beragama Kristen merasa tidak akan berhubungan lagi dengan bumi setelah kematiannya. Alhasil, mereka cenderung cuek pada lingkungan. Sementara itu, para penganut Hindu memiliki kepercayaan terkait reinkarnasi atau kelahiran kembali di Bumi setelah kematian. Tak heran, mereka memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap bumi dan lingkungannya karena merasa bahwa bumi akan menjadi tempat tinggalnya kembali. 

JADI WARGA NEGARA YANG NASIONALIS? NGGAK DULU

Nah, studi ketiga juga tak kalah menarik. Disebutkan bahwa mereka yang mempercayai akhirat tidak mencari “national immortality” di bumi karena merasa akan menghabiskan hidupnya di akhirat. 

Sementara itu, bagi mereka yang tidak mempercayai akhirat, mereka akan lebih nasionalis. Ketika dihadapkan dengan kematian, kepercayaannya terhadap budaya mereka akan meningkat bahkan sampai ribuan tahun. Hal tersebut kemudian akan mengurangi kecemasan mereka akan kematian. Mereka percaya bahwa keterikatannya dengan negaranya akan memperpanjang umur mereka secara simbolis.

PERCAYA PADA AKHIRAT MEMBUATMU TERHINDAR DARI BERPRASANGKA BURUK ATAU SUUDZON

Gwyneth A.Reece, dkk merasa bahwa keyakinan atas akhirat akan menimbulkan bias dan diskriminasi antar agama yang berbeda. Mereka akan menganggap rendah satu sama lainnya karena pandangan atas akhirat yang berbeda. 

Meski begitu, dalam penelitiannya, Gwyneth A.Reece, dkk juga menemukan bahwa kepercayaan terhadap akhirat mampu meningkatkan ketenangan dan menurunkan kecemasan seseorang, yang pada akhirnya berpengaruh pada berkurangnya prasangka. Ketika kecemasan akan kematian berkurang, manusia tak lagi mempunyai alasan yang cukup untuk menolak pandangan dunia yang bertentangan dengannya.

KEPERCAYAAN PADA AKHIRAT BERPENGARUH PADA PERTUMBUHAN EKONOMI

Pengertian akhirat bagi setiap orang tentu berbeda-beda, ada yang lebih percaya terhadap surga, ada yang juga lebih percaya terhadap neraka, atau keduanya. Realitas ini kemudian membangkitkan rasa curiosity Nicholas Cornell untuk menganalisisnya lebih jauh. Apalagi, temuannya mengatakan bahwa setiap 1 persen peningkatan orang yang hanya mempercayai surga berhubungan dengan 0,66% penurunan proporsi etos kerja sebagai sebuah budaya yang penting. Sementara itu, setiap 1 persen peningkatan orang yang mempercayai adanya neraka berhubungan dengan 0,19% penurunan proporsi etos kerja. Selanjutnya, setiap peningkatan 1 persen  proporsi etos kerja berpengaruh pada peningkatan PDB riil 0,099% per kapita. 

Implikasinya, keyakinan terhadap akhirat memengaruhi budaya etos kerja seseorang yang pada akhirnya akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Nah, itulah beberapa contoh dari bagaimana efek keyakinan pada akhirat terhadap tindakan dan komitmen seseorang. 

Mengutip Tara Denneny, seorang clinic social worker dalam psychologytoday.com keyakinan pada akhirat mungkin memancing refleksi diri, memberontak pemikiran tradisional, hingga menawarkan hiburan pribadi. Kepercayaan ini membentuk perspektif baru tentang hal yang mungkin baru saja kita ketahui. Namun, apakah pengaruhnya hanya akan berhenti pada mentalitas individu saja? (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Lugina Nurul Ihsan

Mahasiswa paruh waktu, menulis untuk menemukan jawaban.