In Depth

SISI MANIS GENERASI ROTI LAPIS

Kalau dipikir lagi, sebetulnya ada hal-hal yang bisa disyukuri sebagai bagian dari sandwich generation.

title

FROYONION.COM - Istilah sandwich generation atau generasi roti lapis ini memang santer terdengar akhir-akhir ini. Awalnya istilah ini dipakai untuk menggambarkan seseorang yang “terhimpit” untuk mendukung orang tua dan anaknya sekaligus. Dapat dikatakan beban tanggungan orang tersebut menjadi dua kali lipat lebih berat. Kondisi “terhimpit” ini pulalah yang menjadi alasan kenapa seseorang yang berada dalam situasi tersebut.

Tak jarang kondisi ini menimbulkan permasalahan lain mulai dari pertengkaran, terlilit utang, kondisi finansial yang tidak stabil bahkan masalah psikologis pada seorang sandwich generation. 

BACA JUGA: SANDWICH GENERATION: SAAT KELUARGA JADI TANGGUNGAN SAMPE NGGAK ADA JATAH ‘ME TIME’

SISI POSITIF

Seringkali muncul pertanyaan apakah hanya ada dampak buruk dan masalah yang terjadi bila menjadi sandwich generation? Tentu tidak. 

Kabar baiknya ternyata ada beberapa hal yang perlu kamu syukuri sebagai sandwich generation. Beberapa hal itu antara lain sebagai berikut:

Menjadikanmu Pribadi yang Lebih Bertanggung Jawab Secara Finansial dan Emosional

Menjadi sandwich generation membuatmu harus berpikir untuk membagi penghasilan dengan bijak. Sadar ataupun tidak sadar, kamu akan lebih bertanggung jawab dalam membelanjakan uang yang kamu miliki saat ini. Kamu mulai mencari berbagai tips mengelola keuangan yang paling tepat untukmu. 

Kamu menyadari bahwa kurangnya kesadaran finansial di usia produktif dapat membuat generasi selanjutnya terjerat ke dalam jeratan sandwich generation. 

Dari pengalaman tersebut kamu dapat menjadi pribadi yang memiliki kesadaran finansial sejak dini untuk memutus rantai sandwich generation di keluargamu. Pelajaran penting ini adalah salah satu yang harus kamu syukuri. 

Dapat Berbagi Kebahagiaan

Poin kedua adalah seorang anak memang sepantasnya tidak dijadikan sebagai investasi dari orang tua. Namun, tentu setiap anak memiliki cita-cita membahagiakan orang tua dan orang-orang yang dikasihinya. Tidak dapat dipungkiri orang tua memiliki peran cukup besar pada apa yang kita capai hari ini. Entah itu pendidikan, pelajaran maupun doa yang mengantarkan kita pada kesuksesan. 

Muncullah sebuah pertanyaan: “Jika sudah memiliki uang lalu selanjutnya apa?”. Sebagian mungkin akan menjawab membeli handphone type paling baru, membeli perhiasan yang berkilau, atau membeli kendaraan limited edition. Namun, seiring waktu kebahagiaan dari sebuah benda itu akan tergantikan dengan benda yang baru, begitu seterusnya setelah benda baru itu berhasil didapat.

Di sisi lain ada orang orang yang menginginkan benda-benda yang menurut kita sudah tergantikan tersebut. Sayangnya tidak semua orang memiliki kemampuan finansial yang sama bahkan sulit untuk sekadar memenuhi kebutuhan pokoknya, mungkin salah satunya ada di antara anggota keluargamu.

Menjadi seorang sandwich generation membuatmu memiliki banyak kesempatan untuk dapat memberi kebahagiaan kecil pada keluarga yang kamu sayangi. Memberikan waktu istirahat kepada orang tuamu di masa senja dan mencukupi kebutuhannya sebagaimana mereka mencukupi kebutuhanmu sewaktu kecil. 

Lalu apa balasannya untuk kamu? Sejumlah penelitian menyebutkan memberi dapat membuat seseorang lebih bahagia. Psikolog klinis Tara de Thouars, BA, M.Psi, Psi. mengatakan saat membantu seseorang kita merasa berguna untuk orang lain. Secara ilmiah hal ini mengaktivasi mesolimbic dopamine system pada otak yang membuat orang tersebut mendapatkan penghargaan kembali setelah mendapat respon bahagia dari orang yang dibantunya. 

Bernilai Pahala dalam Agama

Semua agama tentu mengajarkan kebaikan contohnya dengan memuliakan orang tua dan membantu saudara. Banyak orang yang merasa terbebani akibat harus membagi penghasilan dengan anggota keluarga yang belum atau sudah tidak produktif lagi. 

Dalam ajaran Islam contohnya, memberi atau bersedekah kepada kerabat termasuk sedekah paling utama. Kemudian menjadi kewajiban seorang anak yang memiliki kondisi berkecukupan dan mampu mencukupi keluarganya sendiri untuk memberi nafkah pada orang tua yang tidak mampu dan tidak dapat bekerja.

Dari poin-poin di atas banyak yang dapat kita garis bawahi untuk tidak mentah-mentah memberikan cap buruk pada suatu situasi. Bila keadaan mengharuskanmu menjadi seorang sandwich generation bisa jadi kamu adalah orang yang “terpilih”. 

Untuk menjadi sandwich generation yang baik kamu bisa mulai lakukan beberapa cara ini. Mulai ubah mindset-mu dan berikan afirmasi positif pada dirimu untuk membantu dan bermanfaat bagi keluarga. Tidak menjadikan beban yang dapat memicu kamu mengalami stres berlebih. Belajar mengenai skala prioritas dalam memenuhi setiap kebutuhan dan keinginan mu. Mulai sekarang bertekadlah untuk lebih paham pada kesadaran finansial dan menghindari perilaku konsumtif yang impulsif. Kamu dapat mengalokasikan sebagian penghasilanmu untuk tabungan dan investasi. 

Penting juga untuk jujur mengenai kondisi finansialmu kepada keluarga agar tercipta perasaan saling mengerti di antara kalian. Menjadi seorang sandwich generation bukan berarti kamu harus mengesampingkan kebutuhanmu dan keluarga kecilmu. Jika kamu memiliki saudara yang juga dalam kondisi produktif maka komunikasikanlah dan berbagi peran untuk saling membantu.

Itulah beberapa sisi positif yang dapat kamu ambil dan syukuri sebagai sandwich generation. Banyak pelajaran dan hikmah yang dapat direnungkan sebagai sandwich generation bukan? Jadi menurut kamu menjadi sandwich generation adalah musibah atau berkah? (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Tiara Nabilah Islami

Calon orang kaya raya baik hati