Esensi

PENGGUNAAN BERLEBIHAN KATA ‘SUPPORT SYSTEM’ YANG SELALU DIKAITIN SAMA AYANG

“Kamu mending cari support system, deh” Pernah nggak sih, Civs dengar atau yang bilang kalimat itu sendiri kepada seorang teman? Atau bahkan menjumpai kalimat tersebut buat basa-basi saat PDKT sama crush? Ya intinya sih, Civs ini disuruh cari ayang. Hm, benarkah makna support system demikian?

title

FROYONION.COM - Belakangan ini kesadaran tentang kesehatan mental memang tinggi nih, Civs. Kata-kata yang berkaitan dengan topik tersebut, kayak healing, sudah bergeser makna karena overused. Generasi Z dan millennials pasti sering denger istilah support system. 

Istilah support system sering dipakai, terlebih ketika seseorang sedang berproses kerap disarankan untuk mencari support system. Kalau buat anak muda sih biasanya didefinisikan sebagai pacar.

Rupanya, support system ini nggak cuma dibutuhin sama yang muda-muda aja nih, Civs. Semua orang butuh support system juga, lho. Bahkan untuk yang lanjut usia butuh keberadaan support system seperti kita juga. Kok bisa, sih?

Apasih support system, itu? Seberapa penting perannya untuk kehidupan manusia?

Menurut Dr. Julia Hood, definisi dari support system adalah jaringan dengan orang-orang yang dapat memberi dukungan praktikal dan emosional. Support system ini terbukti dapat membantu seseorang meingkatkan kesehatan mentalnya dan dapat mengurangi stres serta anxiety. Melansir dari Highland Springs, ketika seseorang berada pada keadaan yang sulit, dia akan sangat rentan menghadapi fase isolasi diri. Di sinilah support system berperan penting dalam memberikan konfirmasi terhadap bias yang timbul dari insecurity yang dirasakan orang tersebut.

Dikutip dari Alodoktersupport system memiliki definisi sebagai sekumpulan orang terdekat, misalnya keluarga, sahabat, teman, atau kolega yang senantiasa memberikan dukungan, baik secara moril ataupun materil, kapan pun kita butuhkan. Mereka adalah orang-orang yang mampu memahami, memberi semangat, dan peduli terhadap setiap keadaan, baik itu keadaan yang menyenangkan maupun menyulitkan bagi seseorang [2]. Fase kesepian merupakan salah satu keadaan yang menyulitkan. Bukan hanya untuk kaum muda, tapi untuk kaum lansia juga rentan mengalami kesepian.

Kata support system seringkali digunakan dalam obrolan sehari-hari. Misalnya dalam basa-basi sebagai bentuk peduli terhadap keadaan seseorang yang dinilai sedang mengalami kesulitan. “Lo ngerjain skripsi begini mending sono gih, cari support system biar nggak kesepian”. Tentunya jika dialami oleh anak muda, maksud dari support system ini adalah pacar.

Setelah menelaah dari definisi di atas, memang tidak menyebutkan secara langsung pelaku support system adalah seorang pacar. Namun, masuk akal juga kalau pasangan itu salah satu orang yang terdekat. Artinya, orang yang benar-benar kenal dalam siapa diri kita.

Sangatlah jelas, dari obrolan yang sering didengar di lingkungan kita support system secara terang-terangan seperti berganti makna menjadi pacar. Ini bukan masalah tentang tuntunan menjadi seorang pacar. Kenapa nggak terang-terangan aja sebut pacar? Biar kesannya lebih sehat gitu? Atau gimana, sih?

Masalahnya, kalau overused kayak kata yang sebelumnya, healing, orang-orang jadi salah memaknai lagi. Padahal kita tahu bahwa orang lain juga punya perannya masing-masing dalam kehidupan seseorang. Selama ini peran orang tua sering banget dapet highlight sebagai toxic parents atau strict parents, kan nggak semuanya gitu. Apa kita nggak mau apresiasi bantuan dari orang-orang terdekat lainnya?

Ya, okelah kalau nggak semua orang punya privilese berada di lingkungan yang suportif. Hidup memang nggak ada yang ideal, kok. Tapi gini deh, manusia itu kan makhluk sosial. Kita butuh teman buat nampung keluh kesah kita di sekolah, teman kerja yang bisa bantuin ketika hectic, kita juga butuh feedback orang lain dalam meraih pencapaian kita. 

Pokoknya kita selalu butuh orang lain untuk meringankan beban yang dikerjakan sendiri supaya nggak burnout atau stres. Siapapun bisa jadi support system. Kita sendiri juga bisa jadi support system untuk orang lain, asalkan bisa dipercaya dan senantiasa memberi bantuan ketika dibutuhkan. 

Meromantisasi support system yang hanya bermakna ayang ini dapat menimbulkan misleading. Salah-salah kalau dijadiin bahan ceng-cengan tongkrongan, yang nggak kuat mau nggak mau harus cari ayang biar bisa diterima di tongkrongan yang paling punya support system ituBelum lagi buat yang suka glorifikasi support system dalam hubungan. Nanti bisa timbul demand yang nggak wajar. Your boy/girlfriend isn’t a therapist. 

Buat Civillions yang pengen jadi support system yang terbaik buat ayang, lo bisa menerapkan beberapa tips berikut untuk menjadi support system yang baik. Eits, tapi yang jomblo jangan sedih. Tips ini juga berlaku untuk siapapun [3].

Support system berperan penting dalam memberikan konfirmasi terhadap bias yang timbul dari insecurity yang dirasakan oleh seseorang.
Support system berperan penting dalam memberikan konfirmasi terhadap bias yang timbul dari insecurity yang dirasakan oleh seseorang. (Sumber: Jungle Danger)
  1. Pertama, dedikasikan waktu untuk seseorang yang mau kita bantu. Mendengar dengan baik dan menyingkirkan semua distraksi agar keluh kesah seseorang itu jadi prioritas. Tunjukkan kalau kita peduli dan ada untuk membantu.
  2. Jangan menekan dia. Nggak semua orang siap buat membuka diri. Biarkan dia bercerita dengan nyaman seiring dengan berjalannya waktu dan kepercayaan yang dia punya. 
  3. Beri pertanyaan yang tepat. Pertanyaan yang bersifat conversation opener lebih baik daripada yes/no question. Ini akan membantu dia yang ragu buat cerita. Kalau masih nggak mau cerita, jangan bebankan dia. “Nggak papa kok kalau nggak mau cerita dulu, aku siap dengerin kalau kamu udah siap”.
  4. Listen, listen, listen. Beberapa orang pasti ingin ngasih opini yang tepat, tapi utamakanlah untuk mendengar. Cobalah untuk mengerti perasaan si dia dulu. Hargai dan beri validasi tentang perasaan dia. Hindari judgementyang dapat membuat dia merasa malu atau bersalah tentang struggles yang dialami.
  5. Jangan mendiagnosa emosinya. Ingat bahwa peran kita adalah sebagai pendengar dan membantu seseorang itu jujur kepada perasaan dan emosinya bukan sebagai expert yang bisa mendiagnosa seseorang. 
  6. Menawarkan atau melbatkan diri dalam aktitivas positif. Hal ini dapat membantu dia agar tidak merasa sendiri. Selain meredeakan stres, aktivitas positif seperti jogging bareng, reaching out for a hobby, atau bantuan lainnya dapat menunjukkan bahwa dia berarti.
  7. Follow up. Apabila tidak memungkinkan buat ketemu atau ngobrol lagi, bisa banget Civs nanyain kabar dia setelah melewati masa struggle sebagai bentuk peduli.
  8. Tahu batasan. Sadari bahwa tidak semua masalah bisa kita atasi. Jika ada tanda-tanda masalah tersebut perlu dibantu oleh profesional, bantu dia untuk mengambil langkah tersebut. Kalau perlu temani dia.

Nah, sebagai orang yang bijak, Civs tentunya harus cerdas dan sadar. Tidak semua tren harus ditelan mentah-mentah. Artikel ini dibuat sebagai tujuan informasi, jika Civs butuh pertolongan baiknya speak up ke ahlinya. Tidak harus jadi ayang dulu supaya bisa jadi support system. Siapa aja bisa jadi support system, termasuk Civs sendiri. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Ulis

Nulis soalnya suka lupa