Siapa sih yang nggak suka sama game, tapi tahu ngga sih kenapa banyak banget orang yang suka sama game yang berbau kekerasan ya?
FROYONION.COM - Hi Civs, gimana kabarnya nih? Pasti kalian semua udah nggak asing lagi kan dengan game-game seperti PUBG, COD, GTA, Genshin, dan lain-lain atau mungkin kalian juga main salah satu dari beberapa game yang udah gue sebutin tadi.
Tapi kalian notice ngga sih kalau sebenarnya game-game itu tadi itu mengandung aroma kekerasan, dan kita tahu lah ya itu ngga bagus, karena bisa aja dari games tersebut malah ditiru oleh para pemainnya.
Anehnya, games yang bergenre tersebut justru malah lebih disukai oleh para gamers. Kira-kira lo tahu nggak alasannya? Mari kita coba bahas satu persatu ya Civs.
Lo inget nggak sih waktu pertama kali main game? Nah mungkin ketika pertama kali lo main game otak lo masih butuh adaptasi dengan suasana dan karakteristiknya, akibatnya mungkin aja lo masih merasa agak kesusahan dalam ngalahin musuh dan ngejalanin misi yang ada dan bisa aja lo kalah.
Tapi apakah lo berhenti? Tentu tidak bung, justru kita akan semakin tertantang untuk menyelesaikan misi tersebut dan begitu berhasil menyelesaikan misi tentu kita akan dapat reward dong.
Akibat dari adanya reward dan keberhasilan mengalahkan musuh yang ada tadi akan menciptakan perasaan senang dan puas. Nah, itu semua berkat adanya hormon dopamin, dan hormon inilah yang menyebabkan terciptanya perasaan senang dan bahagia.
Lho kok bisa gitu?
Jadi ketika lo lagi main game akan menyebabkan beberapa bagian otak lo jadi aktif, termasuk bagian yang ada kaitannya dengan proses visual, pengelolaan perhatian, motorik dan integrasi sensomotorik. Nggak cuma itu, sirkuit otak yang turut mengaktifkan rasa senang juga ikutan terangsang ketika lo main game, termasuk juga nucleus accumbens yaitu bagian otak lo yang bertugas memproses respon emosional.
Dan efek yang ditimbulkan ini nggak cuma dialamin sama cowok aja tapi juga dialamin oleh cewek, tapi efek yang ditimbulin lebih signifikan buat cowok.
Tapi, lo ngerasa nggak sih civs, semakin lama bermain game, semakin susah juga untuk berhenti mainin itu game. Meskipun pada saat itu lo harus mengerjakan tugas kuliah atau lainnya, tapi tetap aja lo kepingin mainin itu game. Nah ini masih ada kaitannya dengan si dopamin tadi, berkat adanya dopamin yang dihasilkan oleh otak tadi saat bermain games akan menyebabkan lo menjadi ketagihan dan pingin terus merasakan sensasinya.
Di samping diakibatkan oleh adanya hormon dopamin tadi, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. John Sherry (2018) dalam penelitiannya yang bertajuk “The Psychological Effects of Video Game Violence”, kecanduan dalam bermain video game kekerasan dapat terjadi dikarenakan ketika kita sedang memainkan game akan membantu kita untuk melepaskan emosi negatif yang belum tentu dilampiaskan di kehidupan nyata.
Singkatnya bermain video game dijadikan sebagai media pelampiasan emosi negatif pemainnya. Dan ini juga yang menyebabkan mengapa para pemainnya bisa merasakan kecanduan ketika bermain video game kekerasan. Tapi perlu diingat dari kecanduan ini dapat menyebabkan lo mengurangi aktivitas lainnya dan berpotensi mengalami masalah dalam hubungan sosial dan juga pekerjaan.
Di samping faktor biologis, ternyata faktor sosial juga turut berkontribusi lhoo Civs. Nah, menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Jane Brown (2020), dengan kemajuan teknologi dan media sosial, game kekerasan jadi lebih mudah diakses dan dibagikan ke orang lain, maka game yang dimainkan oleh seseorang dapat dengan mudah disebarluaskan ke khalayak umum dengan perantara internet.
Dengan adanya media sosial pula kita dapat dengan mudah melihat banyak orang yang memainkan game kekerasan dan mereka juga bisa membagikan pengalamannya. Dan kondisi ini dapat mempengaruhi emosional seseorang, dimana seseorang akan merasa kurang dihargai jika tidak memainkan game tersebut
Selain itu, juga terdapat tekanan sosial yang membuat kita harus menyukai game kekerasan dan menganggap itu sebagai hal yang normal.
Bayangin aja, ketika lo lagi nongkrong bareng temen-temen lo dan mereka semua sedang memainkan game kekerasan yang sedang populer, entah itu Valorant, Genshin atau apalah.
Tentu lo merasa tertekan untuk ikut memainkannya, karena lo ingin terlihat keren dan up-to-date di depan teman-teman lo, meskipun sebenarnya pada awalnya lo nggak suka sama game itu. Tanpa sadar, lo pun menjadi terobsesi dengan game tersebut dan mulai menghabiskan waktu yang banyak untuk memainkannya.
Dengan demikian, maka game dapat dijadikan salah satu parameter penerimaan sosial oleh seseorang. Maka dengan mengikuti game tersebut, maka individu tersebut mampu diterima oleh lingkungan sosialnya
Selanjutnya, faktor budaya juga memainkan peran penting dalam meningkatkan popularitas game kekerasan. Dalam beberapa budaya, permainan yang menampilkan aksi kekerasan dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan dan menantang. Ini dapat dilihat dari popularitas game kekerasan di negara-negara tertentu yang memiliki budaya yang menyukai aksi kekerasan, seperti halnya Amerika Serikat dan Jepang. Call of Duty dan Grand Theft Auto yang menjadi salah dua game terlaris di Amerika Serikat, dan game Yakuza dan Ninja Gaiden yang terbilang cukup populer di negara Jepang.
Selain itu, dalam beberapa budaya, game kekerasan juga dianggap sebagai cara untuk mengejar prestasi dan menunjukkan keberhasilan. Dalam studi yang dilakukan oleh Dr. Susan Green (2021), ditemukan bahwa pemain yang berasal dari budaya yang menganggap prestasi sebagai sesuatu yang penting, cenderung lebih suka bermain game kekerasan yang menantang dan memungkinkan mereka untuk menunjukkan kemampuan dan keberhasilan mereka. Studi ini juga menemukan bahwa pemain dari negara yang memiliki budaya yang menganggap prestasi sebagai sesuatu yang amat penting, seperti Jepang dan Korea Selatan, cenderung lebih menyukai game kekerasan dibandingkan pemain dari negara-negara lain.
Well, itu dia Civs! Sekarang lo sudah tahu kan kenapa banyak orang menyukai game kekerasan. Dari faktor biologi, sosial, hingga budaya, semua mempengaruhi popularitas game ini. Tapi ingat, pemilihan game harus didasarkan pada minat pribadi dan harus dimainkan dengan bijak. Jangan sampai terpengaruh oleh tekanan sosial atau budaya yang tidak sehat.
Dan jangan lupa, selalu atur waktu bermain kamu dengan baik dan jangan lupa untuk tetap menjaga keseimbangan dalam hidup. Jangan terlalu terpaku pada game kekerasan, jangan lupa untuk mengerjakan hobi atau aktivitas lain yang lo sukai. Ingat, kesehatan mental dan keseimbangan dalam hidup sangat penting untuk kebahagiaan lo.
Happy Gaming and keep it balance, Civs! (*/)