Film emang ga harus realistis, tapi setidaknya sebuah film harus masuk akal dan juga relevan dengan apa yang terjadi di dunia nyata.
FROYONION.COM - Sejak sinetron “Ikatan Cinta” hadir di saluran TV nasional, nyokap gua jadi sering nonton TV, lagi. Dan sebagai anak yang ingin berbakti terhadap orang tuanya, gua pun sesekali ikut nimbrung nyokap gua untuk ikut serta nonton sinetron tersebut.
Meskipun ga menonton sinetron tersebut secara keseluruhan, setidaknya gua tetap paham bagaimana jalan cerita yang ada di dalam sinetron tersebut.
Dan salah satu cara untuk menangkap jalan cerita pada sinetron tersebut adalah dengan memperhatikan “live commentary” yang dilakukan oleh nyokap gua.
Banyak hal yang diucapkan oleh nyokap gua ketika melakukan “live commentary” tersebut, tapi yang paling menyita perhatian gua adalah, ketika beliau mempertanyakan kesamaan atau relevansi antara scene yang ada dalam sinetron tersebut dengan apa yang terjadi di dunia nyata.
Nyokap gua sering banget nanya ke anggota keluarganya mengenai berbagai hal yang ada di sinetron dengan apa yang ada di dunia nyata. Misalnya ketika ada persoalan hukum yang diangkat oleh sinetron tersebut, mengenai hal-hal yang berhubungan dengan medis, atau mengenai referensi pop yang ga beliau pahami.
Dari “live commentary” dan pertanyaan-pertanyaan yang nyokap gua berikan mengenai kesamaan atau relevansi scene sinetron dengan realita di dunia nyata, gua pun jadi kepikiran, sepenting apakah kesamaan scene dalam sinetron dengan apa yang terjadi di dunia nyata?
Karena gini, nyatanya bukan nyokap gua aja yang seringkali mempertanyakan kesamaan suatu film dengan apa yang terjadi di realita. Kita pun anak muda seringkali mempertanyakan suatu film yang kita anggap ga sesuai dengan apa yang terjadi di dunia nyata.
Karena kalau gua ingat-ingat, nyatanya beberapa film yang diproduksi oleh Indonesia, baik sinetron maupun layar lebar, seringkali jauh dari kata sama atau relevan dengan keadaan di dunia nyata.
Sebagai pengingat, lo mungkin masih ingat sinetron azab yang lumayan menimbulkan perdebatan. Karena dalam salah satu scene di sinetron tersebut, ditunjukan jenazah yang masuk ke dalam mesin pengaduk semen yang mana ga pernah terjadi dalam dunia nyata. Atau di beberapa sinetron lain, ditunjukan ada seorang pasien yang boleh mengakses alat kejut jantung tanpa persetujuan sang dokter yang mana hal tersebut di luar nalar dan logika.
Dari sini, nyatanya kita seringkali menuntut kesamaan atau relevansi dari sebuah film dengan keadaan di dunia nyata. Tapi sebenarnya kenapa sih film seringkali dituntut relevan dengan keadaan sekitar?
Sejatinya film adalah media untuk berkomunikasi. Dalam sebuah film nggak mungkin nggak ada pesan yang ingin disampaikan oleh pembuatnya. Dan bagaimana sebuah pesan dapat tersampaikan dengan baik apabila pesan tersebut tidak relevan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan nyata?
Dari sini seharusnya para creator film setidaknya harus lebih peka dalam pembuatan skenario cerita. Karena gini, ketika akhirnya sebuah film nggak relevan dan juga cacat logika, orang cenderung menganggap film tersebut sebagai lelucon aja.
Beda hal dengan film yang emang relevan dan memiliki kesamaan dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Ketika masyarakat merasakan atau menjumpai hal yang sama dengan apa yang ada dalam film tersebut di kehidupan sehari-hari, pastinya pesan yang ingin disampaikan oleh film tersebut akan tersampaikan dengan baik.
Sederhananya gini, gimana orang bisa percaya akan siksa kubur apabila representasi azab kubur yang diperlihatkan dalam sinetron-sinetron Indonesia adalah jenazah yang terlempar dan masuk ke dalam mesin pengaduk semen? Bukannya takut akan siksa kubur, kita cenderung akan merasa aneh dan cenderung menganggap hal tersebut nggak akan terjadi terhadap kita.
Pesan yang ingin disampaikan oleh pembuat sinetron siksa kubur sebenarnya sudah baik, akan tetapi karena ga relevan dan ga terjadi di dunia nyata, ya masyarakat kita akan menganggap sinetron tersebut sebagai karangan aja.
Masih dalam hubungannya dengan film sebagai media komunikasi, banyak hal yang sejatinya ingin disampaikan oleh sebuah film. Dan salah satu pesan yang ingin disampaikan adalah mengenai refleksi dari kehidupan nyata itu sendiri.
Sebuah film sejatinya harus bisa menggambarkan apa yang terjadi terhadap suatu masyarakat. Mulai dari budaya, keadaan sosial, ekonomi, dan lain sebagainya. Dan ketika, mereka gagal merefleksikan hal tersebut, secara ga langsung film tersebut gagal menyampaikan pesan yang ingin disampaikan.
Mungkin beberapa dari lo akan bilang, kalau film harus relevan dan sesuai dengan keadaan dunia nyata. Terus, kenapa ada film kartun yang membuat hewan bisa berbicara atau berperilaku layaknya manusia, atau kenapa ada mainan yang tiba-tiba bisa hidup dan berkegetian seperti manusia? Kan hal-hal kaya gitu ga bakalan terjadi di dunia nyata?
Well, lo ga salah. Tapi, kalau lo liat dari perspektif yang lebih luas, nyatanya meskipun film-film kartun tersebut di luar nalar, bukan berarti mereka ga relevan dengan apa yang terjadi di dunia nyata.
Contoh sederhananya, film Toy Story. Yes, mainan hidup ga mungkin terjadi di kehidupan nyata, tapi isu yang diangkat dan perilaku yang dilakukan oleh mainan-mainan tersebut?
Nyatanya, apa yang dilakukan oleh Andy, Buzz Lightyear, dan tokoh lainnya adalah hal relevan yang terjadi di kehidupan nyata. Bagaimana perasaan manusia yang merasa dirinya udah nggak menjadi prioritas, bagaimana rasanya dibuang, dan bagaimana proses pendewasaan nyatanya adalah hal relevan yang kita alami di kehidupan nyata.
Beda dengan sinetron azab Indonesia, udah ga masuk akal, ga relevan pula dengan masyarakat Indonesia. Jadi pada akhirnya pesan yang sebenarnya bagus, justru jadi bahan tertawaan karena logika ngawur dari pembuatnya.
Sebuah film emang ga dituntut untuk realistis, tapi sebuah film dituntut untuk relevan dengan keadaan sekitar. Sesuatu yang sama yang gua bicarakan disini bukan sekadar benda mati bisa bicara, tapi isu yang diangkat. Apakah sesuai dengan keadaan sesungguhnya, atau ga terjadi sama sekali di kehidupan nyata.
Sehingga di sini, relevansi sebuah film menjadi sesuatu hal yang wajib untuk diterapkan. Entah apapun cara penyampaiannya, mau melalui hewan yang bisa bicara, mainan yang bisa bicara, atau lain sebagainya. Selama hal tersebut tetap relevan dan terjadi di kehidupan sehari-hari film tersebut berhasil menyampaikan pesan yang ingin mereka bawakan. (*/)