Civs

PAMERAN TALI GOCI: CARA KREATIF KENALKAN LAYANGAN GAPANGAN KE MASYARAKAT

Apa yang ada di benak lo kalau mendengar kata layang-layang? Sekadar rumus matematika yang bikin pusing? Bukan itu Civs, kali ini melalui pameran Tali Goci oleh komunitas kolektif seni Nayanika mencoba memberi pengalaman baru menikmati permainan tradisional layang-layang jenis gapangan.

title

FROYONION.COM - Kalian Civillions anak muda kreatif zaman sekarang masih ada yang tau soal layang-layang? atau malah mengenal layang-layang hanya sebagai rumus matematika saja? Layang-layang yang bakalan gue bahas kali ini  adalah sebuah permainan tradisional dari lembaran bahan tipis, bisa dari kertas atau plastik berkerangka dari bambu yang membentuk layang-layang dan bisa diterbangkan ke udara, terhubung dengan tali atau benang nilon ke  pengendali layang-layangnya.

Biasanya layang-layang memang dimainkan dengan cara seperti itu saja hanya diterbangkan ke udara, tapi melalui komunitas kolektif seni Nayanika yang berasal dari Tulungagung, Jawa Timur. Mencoba memberikan pengalaman baru menikmati layang-layang jenis gapangan dengan cara yang berbeda melalui pameran bernama TALI GOCI yang berlangsung dimulai dari pembukaan pertama sejak hari sabtu 25/6 - 02/7 di Gragland Artspace desa Plosokandang, Kec. Kedungwaru Kab. Tulungagung Jawa Timur, pameran ini tidak dipungut biaya untuk masuknya, yang penting bisa mematuhi tata krama selama di ruang pameran.

Rabu, 29/6/22 Fatoni Purwitoaji penulis pameran dan juga yang berinisiatif untuk mengadakan pameran layangan gapangan ini menjelaskan kenapa namanya Pameran Tali Goci.

“Tali Goci sendiri adalah unsur penting dalam sebuah layangan, Tali Goci sendiri berfungsi untuk mengatur atau mensetting agar layangan gapangan enak diterbangkan, dan Tali Goci ini menjadi pengikat antara layangan gapangan dan juga si pelayang, tanpa ada Tali Goci si pelayang tidak bisa mensetting layangannya dan layangan juga tidak bisa terbang tanpa Tali Goci”.

Sedangkan awal mula bagaimana bisa muncul ide dari mas Fatoni Purwitoaji mengadakan pameran ini adalah ketika melihat layangan gapangan milik adik tingkat yang kuliah di ISI Yogyakarta bernama Labib, Labib ini bercerita bagaimana layangan gapangan ini bisa digambar dengan menunjukkan beberapa foto layangan gapangan miliknya, “ini misal dipamerkan gimana?” tanya mas Fatoni Purwitoaji, “bisa mas, boleh” jawab Labib.

Dari situlah kemudian mas Fatoni Purwitoaji langsung mencari beberapa komunitas layangan gapangan di Tulungagung selama kurang lebih 1 bulan, dan menawarkan  ide nya soal konsep pameran gapangan.    

Dan gue juga bertanya kepada mas Fatoni Purwitoaji apa tujuan dilaksanakannya pameran ini, beliau menjawab “Nayanika ingin memberikan pengalaman baru bagi pelayang,penikmat layang-layang dan juga orang awam yang mana awalnya layang-layang itu dinikmati hanya dengan diterbangkan, Nayanika mencoba menjadikan layangan gapangan ini menjadi hiasan rumah atau hiasan dinding layaknya karya lukis,sketsa,foto, dsb”.

Maka dari itu komunitas Nayanika ini juga melihat trend yang ada, bahwa kebanyakan anak muda zaman sekarang juga mulai sering datang ke pameran hanya untuk sekedar foto-foto atau bikin konten. 

Terdapat 11 layangan gapangan berukuran 2-3 meter yang dipamerkan dalam pameran ini, banyak dari karya mereka juga sudah sering menjuarai festival. Mereka yang menampilkan karyanya disini berasal dari pelayang lokal Tulungagung maupun dari luar Tulungagung.

(sumber foto : Dokumentasi penulis)

 “Alasan kenapa memilih layangan jenis gapangan di antara banyak jenis layangan yang lain untuk dipamerkan, karena layangan gapangan di era sekarang sudah mengalami evolusi bentuk dan juga visual, salah satu permainan tradisional yang masih bertahan hingga sekarang. Dan juga karena sebelumnya layangan gapangan hanya berwarna polos dan strip atau garis, ternyata layangan gapangan bisa menjadi media berkarya baru”.

Makanya dalam pameran ini juga ditekankan terhadap visualisasi yang ada pada setiap layangan gapangan yang ditampilkan. Mulai dari beragam corak bahkan gambar realis pun bisa di aplikasikan pada media gapangan. Dan yang menjadi keunikan dari pameran ini adalah proses pembuatannya bukan disablon atau digambar langsung, melainkan layangan gapangan disini dibuat dengan cara warna plastik dasar ditumpuk dengan warna plastik lain kemudian di solder untuk merekatkannya  dan menghasilkan gradasi warna. Komunitas Nayanika ini mencoba memperbesar kemungkinan pasar seni, karena menurut mas Fatoni Purwitoaji layangan gapangan ini juga bagian dari seni, mulai dari proses pembuatannya juga bagian dari kesenian meskipun dari teknik dan medianya berbeda dengan seni rupa.

“Jika ditanya kenapa kok menggunakan solder? tidak  menggunakan lem, karena kalau plastik dan plastik sudah pasti akan menempel jika kena panas solder dan hasilnya akan lebih kuat dibandingkan lem, meskipun menggunakan beberapa plastik yang dicampur untuk menghasilkan gradasi warna, layangan gapangan ini tetap bisa terbang dan sering juga dilombakan”.       

Ternyata Civs, layangan gapangan ini juga ada perlombaannya, baik secara regional,karesidenan bahkan sampai tingkat nasional. Layangan gapangan dari Tulungagung ini sering mendapat pesanan dari Sumatera,Bali,Kalimantan bahkan juga sampai ke luar negeri seperti di Malaysia,Hongkong, dan Taiwan.

“Yang menjadi daya tarik dari layangan gapangan khas Tulungagung ini adalah dari segi teknik dan visualnya, kebanyakan layangan gapangan khas tulungagung ini visualnya mengangkat tentang tradisi seperti kesenian reog kendang tulungagung,reog ponorogo,tari bali,tari remo,kuda lumping. Beberapa lagi juga ada yang mengangkat tokoh-tokoh nasional seperti soekarno,jokowi, dll”.

(sumber foto: instagram @Nayanikakinayan)
(sumber foto: instagram @Nayanikakinayan)

Menurut gue juga sebagai orang awam yang akhirnya tertarik datang untuk melihat pameran ini, yaitu komunitas kolektif seni Nayanika dalam mempublikasikan pamerannya di sosial media dengan memberikan sedikit jokes dalam setiap postingannya yang bagi gue cukup menggelitik dan menghibur.

Kalau kata mas Fatoni Purwitoaji “Kita dari Nayanika mencoba memberikan pameran seni yang tidak eksklusif, hanya untuk kalangan tertentu saja, tapi seni bisa dinikmati oleh semua orang dari berbagai kalangan dan juga tidak terbatas umur”.     

Kenapa tidak terbatas umur? karena ternyata banyak juga dari orang yang berusia 30 tahun ke atas suka dengan layangan gapangan ini, bahkan di pameran itu gue melihat ada yang berusia 40 tahun juga. Dan yang menjadi daya tarik lagi dari layangan gapangan ini, untuk bisa menerbangkan layangan gapangan ini yang berukuran 2-3 meter lo nggak bisa nerbangin sendirian, lo butuh tempat yang luas dan juga butuh bantuan dari orang lain. Dan itu menjadi daya tarik tersendiri ketika lo main layangan gapangan. 

Bisa berinteraksi langsung dengan orang-orang baru di lapangan. Contohnya ketika ada yang main layangan gapangan, orang akan berhenti sejenak untuk melihat bagaimana layangan gapangan diterbangkan, dan akan muncul kembali sikap gotong royong ketika ada yang butuh bantuan untuk menerbangkan layangan gapangan tadi. Dari hal yang mungkin dianggap remeh temeh ini ternyata bisa memunculkan kembali sikap berkomunikasi dan saling gotong royong, kalau istilah bahasa jawanya “srawung”

Gimana Civs kalau lo tertarik bisa langsung kepoin ig nya Nayanikakinayan daripada lo cuma berdiam diri dirumah terus, dengan main layangan gapangan ini bisa menjadi media buat lo berinteraksi dengan orang baru di sekitar lo, dan kembali ke sifat manusia yaitu bersosial dan membutuhkan orang lain. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Muhamad Irfan Kusbiantoro

Warga sipil biasa yang kebetulan menjadi mahasiswa sastra arab tapi selalu merasa salah jurusan