Movies

PENANTIAN PANJANG KONSER MUSIK KALA PANDEMI, AKANKAH BERAKHIR?

Terkungkung pandemi selama 1,5 tahun, para penikmat konser musik sudah gerah ingin menikmati lagi asyiknya mendengarkan suara penyanyi kesukaan secara langsung. Emang pengalaman menikmati konser live masih nggak tergantikan. Senin lalu pemerintah menghembuskan kabar baik. Izin konser akan dibuka lagi. Tapi siapkah penyelenggara dan kita sendiri?

title

FROYONION.COM – Indonesia menjadi salah satu tujuan para penyanyi mancanegara untuk bisa ngadain konser dengan banyaknya penduduk serta penggemar musik. Hal ini terbukti sukses dengan terjualnya tiket musik yang laris laku hampir tak tersisa. Di kala pandemi yang menyebar cepat meletupkan berbagai sektor termasuk konser yang lu cintai.

Tidak salah dengan meredupnya ini menjadi salah satu kunci untuk menekan penyebaran virus COVID itu sendiri. Bak burung bebas yang susah terlepas dari kandang, membuat beberapa penggemar meringis tetap nonton walau hanya dalam virtual. Jazz Gunung Probolinggo contohnya, mengadakan konser musik jazz secara hibrida untuk tetap menggaet para penikmat jazz yang tidak hanya tiket offline ludes terjual.

Iseng iseng diajak temen, gue ikut konser musik gratisan yang diadain oleh perusahaan rokok di mall Tasikmalaya. Festival musik itu menyajikan beberapa jajanan khas dan kekinian yang bikin lu nagih untuk stay di tempat. Iringan musik yang dibawakannya pun mellow dan kekinian yang lu sering sebut musik indie. Pas banget acara itu gua ikut sebelum pandemi yang masuk ke Indonesia. Adem ayem telinga mendengar, bebas bergerak dan berkerumun bak itik yang terhipnotis oleh indahnya musik. Menjadi salah satu pengalaman konser musik gue yang nikmat dan bikin rindu, pandemi yang masuk ini boro boro ngadain festival maupun konser, mallnya pun ditutup saat itu.

Apakah Indonesia mampu memberanikan diri nih untuk ngadain konser kala pandemi? Melihat berbagai contoh konser musik yang diadain di berbagai negara yang bahkan nggak pake masker. Hal ini terbukti dengan berbagai upaya setiap negara dengan suksesnya pengaplikasian vaksin untuk setiap warganya. Sehingga feedback positif yang diberi pemerintah jadi normal kembali layaknya sebelum COVID 19. Konser yang diadakan diantaranya berada di negara Denmark, Amerika, Jerman, hingga China. Yakin Indonesia mau ngadain konser secara offline dan massive? Banyak komentar positif mengenai konser yang mau diadakan dan sekaligus diizinkan oleh pihak pemerintah itu sendiri. 

Di luar sana, udah banyak negara yang mulai mengizinkan konser musik untuk umum. Kita bisa liat di Amerika Serikat. Pemulihan dengan vaksinasi yang digencarkan oleh pemerintah USA sendiri untuk masyarakat tanpa adanya pemaksaan membuat acara konser musik punya potensi lebih dibanding pra-pandemi di tahun 2019. Hal ini diperkuat dengan prediksi pemimpin industri yang mengatakan keberhasilannya acara konser musik pasca-pandemi. Karena mereka tau, satu setengah tahun yang panjang ngabisin kegiatan di rumah yang itu itu aja berujung bosan, akan senang bukan kepalang untuk bisa menghadiri konser, acara olahraga, hiburan besar yang biasanya mereka lakukan pra-pandemi. Penebusan waktu yang telah hilang menjadi acuan sendiri untuk lakuin hal terbaik yang lu suka, bukan? 

Juni jadi titik balik Amerika menghasilkan lebih dari 1 miliar dolar sesuai dengan perkiraan yang dilakukan oleh PredictHQ. Bayangin aja, pengeluaran untuk perjalanan, makan, penginapan untuk 2500 acara terbesar termasuk konser, olahraga, dan pameran. Prediksi ini mampu meraup keuntungan mencapai $1,6 miliar dolar. Yang membuktikan pendapatan yang besar dari tahun sebelumnya.

Lalu ada Denmark, yang 4 September 2021 lalu menjadi tuan rumah bagi ajang Live Nation Festival musik di kota Kopenhagen dengan tagline judul “Back to Live” tembus 50.000 penonton. Negara Denmark dalam acara konser tersebut menjadi tuan rumah konser pertama di Eropa. Dengan 73% peserta dan panitia yang sudah divaksin.

Menyusul kemudian Jerman yang juga menghelat Live Nation Germany pada tanggal 4 September 2021. Merku Arena Dusseldorf jadi tempat untuk menampung 13.000 penonton pecinta musik yang menjadi stadion terbesar ketiga di Jerman. Tentunya penertiban dilakukan sesuai protokol kesehatan dengan merancang jarak fisik 1,5 meter di depan, belakang, samping tempat duduk dan mewajibkan untuk tetap menggunakan masker saat konser berlangsung.

Gak tanggung tanggung Jerman melakukan penelitian demi kesuksesan konser musiknya. Sebanyak 4000 relawan yang lengkap menggunakan alat pelacak, detector gerakan, dan botol disinfektan fluoresen untuk tau gimana sih penyebaran virus corona sendiri. Model matematika dari para peneliti sebagai acuan untuk menghitung risiko wabah Coronavirus yang terjadi dalam acara besar di ruangan tertutup.

Lalu gimana dengan China? Negara yang menjadi asal usul virus Corona ini sudah sering jadi perbincangan banyak orang. Pemerintah Wuhan bahkan sudah berani mengizinkan pelaksanaan konser di Taman Air Pantai Maya di bulan Juni tahun ini dan membuat banyak negara di dunia yang masih memerangi Covid jadi iri setengah mati. Ribuan penonton ikut memeriahkan acara konser EDM. Berdasarkan kutipan AFP, video konser musik yang booming di kota Wuhan hanya mengizinkan setengahnya dari tempat yang disediakan walau tidak memakai masker and without social distancing.

Negara-negara yang berani mengadakan konser di kala pandemi memiliki aturan dan regulasi yang jelas disertai dukungan dari berbagai pihak terkait. 

Lalu bagaimana dengan aturan regulasi di Indonesia sendiri?

Johnny G. Plate sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika mengungkapkan bahwa pemerintah sudah memberi izin untuk penyelenggaraan kegiatan luring (luar jaringan) skala besar dengan tetap mengikuti pedoman protokol kesehatan yang berlaku. Hal ini ditambah dengan dukungan dari menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pak Sandiaga Uno yang disambut baik oleh para promotor acara musik Anis dan Hamid. Mereka ingin menindak lanjuti perkara regulasi yang konkret dan jelas.

Anis Alimi selaku CEO Rajawali Indonesia terus menunggu kepastian aturan dan regulasi mengenai acara konser musik yang dilakukan di kala pandemi ini. Pihaknya masih menunggu kepastian dari POLRI dan Satgas COVID-19 Nasional yang tak kunjung datang. Ia berkomentar, “Kami siap sebagai promotor, bahkan sudah sangat siap. Kami hanya ingin kepastian regulasi saja”. Setidaknya ini sudah menjadi angin segar bagi para penikmat musik.

Cerdiknya Anis Alimi dan Dino Hamid dalam membayangkan aturan skema yang akan dilakukan saat acara konser berlangsung. Dengan menyebutkan penonton yang hadir di acara harus sudah disuntik vaksin ditambah tes swab PCR. Tetap pula ditambah pengetatan protokol kesehatan saat acara konser musik.

Penantian panjang yang mengharuskan di rumah aja selama setahun lebih menjadi angin segar ketika mendengar pengadaan konser musik kembali hadir. Akankah pemerintah akan konsisten untuk tetap bisa mengadakannya? (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Nico

Asli urang Tasik yang bikin artikel menarik