Froksi

.SINTAS (Part 7-20)

Dalam rangka Tantangan Menulis 30 Hari di bulan November 2021 yang diadakan Froyonion, seorang Civillion menuliskan novel pendek dengan tema 'apocalyptic pandemic'. Ikuti kisah El, sang tokoh utama, hanya di Froyonion.com.

title

CATATAN 7: MENUJU KOTA

    El menatap pria yang menariknya ke atas kereta. Perawakan pria itu cukup tegap untuk ukuran orang dewasa. Usianya mungkin sekitar 40 tahun ke atas, brewok dan kumis tipis, serta potongan rambut yang klimis. Tampilan fisik yang sempurna bagi sebagian besar wanita di muka bumi.

   Belum sempat basa-basi, El dan Tiara dipersilahkan masuk ke dalam gerbong oleh pak Haris. Disana sudah ada 3 orang lain yang menunggu kedatangan mereka. Seorang ibu-ibu, seorang pria seumuran El, dan satu lagi pria yang tadi menarik El.

“Selamat datang di kereta.” Pak Haris memberikan sambutan hangat untuk mereka sambil membentangkan kedua tangannya.

“Sebelumnya, mari saya perkenalkan kalian pada beberapa orang disini. Ada Bu Meylani, beliau yang mengurus urusan dapur, lalu ada Riko, mereka seumuran dengan kalian. Tugasnya mengkoordinasi para penyintas lainnya. Dan yang terakhir ada komandan kita, Eric. Beliau seorang veteran perang yang mukanya bahkan lebih muda daripada saya. Dan kalau kalian penasaran dengan tugas saya, saya bagian ngatur senjata. Jadi saya bagian DOR. Hahahahaha.”

Penjelasan pak Haris diakhir dengan tawanya yang lebar. Dari penjelasan pak Haris, bisa dibilang mereka lah anggota utama di kereta ini. Mereka yang memegang kendali penuh atas beberapa hal yang cukup krusial.

“Sebelumnya terima kasih sudah mau menampung kami meskipun kami berasal dari luar. Perkenalkan saya El, dan di sebelah saya ada Tiara, teman saya.” El mulai memperkenalkan diri. Sedangkan Tiara hanya mengangguk ketika namanya disebut.

“Halo nak El, nak Tiara. Saya Meylina, atau gampangnya panggil aja bu Mey. Menu malam ini kebetulan sup jamur. Semoga kalian suka.” Bu Mey memperkenalkan dirinya. Beliau tampak ramah dengan celemek warna putih yang warnanya sudah memudar.

   Lalu El dan Tiara menoleh ke arah Riko. Riko hanya mengangguk ke arah mereka dengan senyum tipis. Senyum yang kurang ikhlas.

Terakhir ada pak Eric yang menghampiri mereka lebih dekat.

“Salam kenal ya, El, Tiara. Saya Eric, saya yang memutuskan semua yang terjadi di kereta ini. Setelah ini, mari saya antar kalian ke beberapa penyintas lainnya.” Pak Eric memberikan senyumnya pada El dan Tiara.

“Hah? Ada yang lain?” Tiara tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Tentu ada. Kebetulan gerbong ini adalah gerbang 4 yang kosong. Setelah ini saya jelaskan tiap gerbongnya sambil kita perjalanan. Mari.” Pak Eric memandu mereka dengan berjalan terlebih dahulu.

   El dan Tiara mengikuti pak Eric dari belakang. Mereka meninggalkan gerbong 4 dan beralih ke gerbong 3. Disini mereka melihat pemandangan yang cukup unik. Disisi kanan terdapat kompor, gas, wajan serta berbagai macam peralatan masak lainnya. Tak ketinggalan pula macam-macam bahan mentah yang akan diolah oleh bu Meylina.

  Namun, disisi kirinya terdapat berbagai macam amunisi, senjata, bahkan beberapa bahan peledak. Di gerbong inilah tempat beroperasinya pak Haris dan Bu mey. Dapur dan gudang senjata. Kombinasi yang tak mungkin ditemukan kalau bukan di akhir dunia.

“Seperti kalian lihat, disini terdapat dapur dan gudang senjata yang dijadikan satu. Dan kalian pasti bertanya mengapa tidak di gerbong 4 saja. Jawabannya adalah, karena gerbong 4 adalah gerbong dadakan yang kami persiapkan ketika kalian dikejar gerombolan Mak Lampir.” Jelas pak Eric

“Itu sebagai bentuk antisipasi kalau kita tidak mampu melindungi gerbong paling belakang. Setidaknya bukan gerbong makanan yang dirusak terlebih dahulu. Kita tidak mau penyintas lain kelaparn kan?” Tambahnya . Jawabannya cukup diplomatis. Tak heran beliau merupakan pemimpin disini.

“Mari lanjut ke gerbong selanjutnya. Disini kalian akan bertemu dengan yang lainnya.”

   Mereka memasuki gerbong 2 dimana mereka bertemu dengan beberapa penyintas lainnya. Nampak disini gerbongnya belum dimodifikasi sedemikian rupa seperti gerbong 3. Disini kursi-kursi masih menghadap ke depan dengan tiap kursi berjumlah 2. Tiap pasang kursi berada di sisi kanan dan kiri gerbong.

“Nah, disini tempat kita semua beraktifitas. Tentunya jumlah kita tidak terlalu banyak. Terbilang hanya ada sekitar 45 orang. Tidak sampai 2 gerbong penuh karena tiap gerbong hanya berisi 40kursi.  Gerbong yang penuh hanya gerbong pertama. Kalau kalian berkenan silahkan berkenalan dengan yang lainnya.”

   El dan Tiara pun mulai berkenalan dengan satu per satu penyintas lainnya di gerbong 1. Mencoba berbagi cerita, luka, dan saling menguatkan diantara mereka. Berbagai kisah unik mereka bagi di gerbong yang sama.

“Jadi gimana kakak-kakak bisa selamat dari kejaran Mak Lampir itu?” Tanya seorang gadis pada Tiara.

“Kami ketemu sama pak Haris. Untung beliau datang tepat waktu. Kalau ngga, mungkin kami udah jadi santapan para Mak Lampir itu.”

“Kalian ngga ketemu si Buto?” Tanya seorang bapak.

“Buto? Maksud bapak Bondem?” El bertanay balik.

“Ya sama aja sebenarnya. Soalnya rombongan saya ketemu si Buto. Dari 5 orang, tinggal saya sendiri.” Bapak itu melanjutkan.

“Mereka ikut terinfeksi juga pak?” seorang ibu-ibu ikut nimbrung.

“Ngga dong. Ya dimakan.” Jawab bapak itu santai.

   Di tengah-tengah berbagi kengerian itu, Bu Mey datang sambil berteriak.

“MAKAN MALAM SIAAAP!”

   El memakan sup jamurnya dengan lahap. Sudah berhari-hari dia tidak makan seenak ini. Sehari-hari ia hanya makan roti, roti, dan roti. Pak Eric yang melihatnya tersenyum lebar.

“Hati-hati makannya! Nanti tersedak, hahaha. Saya duduk sini ya” Goda pak Eric.

   El diam saja sambil membalas senyuman pak Eric yang duduk disebelahnya.

“Kalau boleh tau, darimana bapak dapat pasokan senjata sebanyak itu pak?” El memberanikan diri bertanya disela-sela makan malam mereka.

“Oh, itu. Setelah saya pensiun sebagai tentara di usia yang bisa dibilang cukup muda, 50 tahunan pada saat itu, saya selalu berjaga-jaga dalam keadaan apapun. Lalu saya membangun sebuah gudang bawah tanah dan membeli berbagai macam senjata. Dari pasar gelap tentunya.” Jelas pak Eric.

“Disaat semua mulai kacau, saya mulai membekali diri dan pergi mencari beberapa penyintas lain. Salah satunya pak Haris dan Riko. Ketika tahu bahwa ada kabar baik di ibu kota, maka saya langusng memerintahkan sebagian besar dari penyintas pria yang tersisa untuk mengambil persediaan senjata itu ke rumah saya. Sebagian gugur, sebagian selamat. Tapi, bukan kah itu biaya dari sebuah peperangan?” Pungkas pak Eric seraya melahap jamur terakhir di piringnya.

“Keluarga bapak bagaimana?” El masih meneruskan rasa penasarannya.

“Saya tidak menikah. Saya lebih suka sendiri. Lebih baik saya diberi tanggung jawab untuk angkat senjata ketimbang tanggung jawab atas hati anak orang.”  Jawab pak Eric mantap.

“Hari ini aneh banget.” Tiara memecah keheningan.

“Kenapa?” El membalas penasaran meski El tahu sebagian besar jawabannya.

   Mereka kini berada di gerbong 2. Tempat mereka terpisah dengan para penyintas yang memenuhi gerbong 1. Mereka menempati kursi yang sejajar. El di sisi kiri, Tiara di sisi kanan.

“Iyalah aneh. Shubuh tadi kita baru keluar dari gubuk ayahku. Menjelang siang, kita dikejar gerombolan Mak Lampir. terus, kita harus bergelantungan dari mobil jeep ke kereta. Malamnya, kita sudah bisa tidur lagi, tapi di dalem kereta.” Pungkas Tiara.

“Oh, iya juga sih. Kaki lu gimana?” El teringat kaki Tiara yang terkilir.

“Tadi udah diobatin sama bu Mey. Orangnya baik banget tau. Gue aja dikasih sup tambahan, padhal gue udah makan.” Tiara meneruskan ocehannya.

“Syukurlah.”

“El, gue boleh tanya ngga?” Tiara tiba-tiba menoleh ke arah El.

“Apa?”

“Lu belum pernah cerita masa lalu lu.”

“Hmm, dimulai darimana ya? Ok gue tau. Jadi gue seorang anak yang sepertinya keberadaannya tidak diinginkan orang tua gue. Gue ditemuin di sebuah kotak dipinggir jalan oleh seorang yang bisa dibilang kaya raya. Kenapa nama gue ‘El’, itu karena waktu gue ditemuin, gua make kalung huruf ‘L’, dari situ nama gue diambil.”

“Dari kecil gue ngga pernah ngerasain namanya kasih sayang. Baik dari orang tua asli maupun angkat. Jaman sekolah gue juga gitu-gitu aja. Nakal ngga, baik juga ngga. Tapi disitu gue ketemu sama Zahwan, shabat karib gue sampe sekarang. Setidaknya sampai kekacauan itu terjadi. Itu sih.” Jelas El panjang lebar.

“Trus, yang kata lu buku itu membawa luka 5 tahunlalu apa?” Tiara semakin menunjukkan rasa penasarannya.

“Kalau itu gini-“

“Bentar. Tahan. Gue mau ke toilet bentar.” Tiara kembali memotong.

   Tiara pun bergi ke toilet yang terletak di bagian belakang gerbong 3 yang langsung terhubung dengan gerbong 4. Ketika hendak memasuki toilet, samar-samar Tiara mendengar percakapan antara 2 orang dari gerbong 4.

“Semua rencananya sudah jadi?”

“Sudah. Semua sudah siap.”

“Kapan kita ambil alih kereta ini?”

“Besok.”


CATATAN 8: PARA PEROMPAK

   Tiara yang mendengar hal itu langsung bergegas kembali ke El. Perasaannya bercampur aduk antara bingung dan panik  karena ia tak tahu siapa mereka. Ia terlalu takut untuk melihat lebih jauh.

“Cepet banget dari toiletnya.” El kebingungan melihat wajah Tiara yang panik.

“Gawat El, gawat.” Tiara tetap panik.

“Iya kenapa, jelasin dulu pelan-pelan. Ada apa?”

“Jadi gue kan ke toilet, terus gue kedengeran dari arah gerbong 4 ada dua orang lagi ngobrol. Tapi mereka ngobrolin tentang ngambil alih kereta ini El.” Tiara tak mampu menjelaskan banyak hal. Ia terlalu panik untuk mencerna percakapan yang ia dengar tadi.

“Lu ngantuk kali. Gausa ngadi-ngadi deh.” El masih tidak percaya.

“El, gue masih sadar banget. Gue ngga ngigau, gue ngga ngantuk. Itu dari arah gerbong 4, El. Sekarang lu bayangin, kita ada di atas kereta dengan orang yang bahkan kita belum ketemu 1 hari. Lu ngga ada curiga-curiganya apa? Gila lu.” Emosi Tiara tidak dapat terbendung lagi. Ia ketakutan.

   El sadar bahwa Tiara tidak main-main. Ekspresi wajah, tinggi nada, dan cara bicaranya menunjukkan dia tidak berbohong. El ikut yakin meskitidak pasti.

“Mending kita bahas besok pagi. Biar ngga nimbuin kecurigaan kalo ada yang lewat.”

Tiara mengangguk tanda setuju.

    Di pagi hari, ketika semua sedang menikmati sarapan, El sedikit menjauh dari kerumunan. Tentu saja untuk berdiskusi siapa dalang dibalik percakapan yang didengar Tiara semalam. Mereka mengidentifikasi setiap orang yang mereka temui. Terutama pak Haris, pak Eric, Riko, dan Bu mey.

“Aku menaruh curiga yang besar ke pak Eric. Jawaban dia manipulatif menurutku. Membuat dia terlihat kua.” Tiara mulai memberikan pendapatnya.

“Tapi kan dia ketua disini. Mana mungkin dia mengambil alih dari dirinya sendiri.” El menyanggah. Menurutnya, opini Tiara terlalu lemah.

“Mengambil alih disini bisa jadi sepenuhnya EL.” Tiara meyakinkan ucapannya sendiri.

“Malah menurutku Riko deh. Dia pendiem banget anaknya. Ngomong sepatah kata pun ngga.” Kini giliran El yang memberikan pendapatnya.

“kalau emang gitu, pak Haris dan bu Mey juga bisa jadi manipulatif dong. Mereka bisa aja saling berkhianat satu sama lain.” Tiara kembali berteori liar tanpa dasar pikiran yang jelas.

“Tetap tenang. Kita belum kenal sama semua penghuni disini. Semua bisa jadi tersangka.” El menenangkan Tiara lagi.

“Masalahnya, suarnya datang dari gerbong 3, yang mana, disana kita hanya bertemu 4 orang tersebut. Dugaan kuat kita hanya pada mereka El.”

   Kali ini El benar-benar setuju dengan pendapat Tiara. Yang mereka temui hanya pak Haris, pak Eric, Bu mey dan Riko. Tidak ada yang lain. Atau ada yang lain yang tidak mereka tau?

“Gue butuh menjernihkan pikiran gue. Kita ngga bisa gini terus. Gue mau cabut kedepan.” El berdiri setelah makanannya selesai. Meninggalkan Tiara dengan pikiran liarnya.

   El pergi menuju kereta utama. Kereta yang membawa sampai sejauh ini. El meberanikan diri pergi kesana demi mencari udara segar. Disana ia bertemu sang masinis yang mengemudikan kereta selama ini.

“Pagi pak.”

“Eh, pagi pagi. Tumben-tumbenan ada yang datang kemari.” Sang masinis sempat gelagapan dengan kedatangan El.

“Kenalin pak saya El. Baru dateng kemaren.” El memulai percakapan.

“Saya pak Mukhlis. Salam kenal ya.” 

   Mereka pun ngobrol ngalor ngidul mulai dari kehidupan sebelum kondisi sekarang, sampai bagaimana cara mengoperasikan kereta tersebut. Sampailah meeka di pembahasan bisa masuk ke kereta tersebut.

“Jadi saya waktu itu lagi sembunyi di stasiun. Lebih tepatnya di kereta. Tiba-tiba dari arah hutan ada pak Haris yang minta tolong tempat bersembunyi. Kebetulan, persembunyian paling aman pada saat itu kereta ini karena kosong pada saat itu.”

“Dari situlah kami mulai dekat. Meskipun saya sendiri jarang ada di gerbong belakang. Saya pribadi sangat berterimakasih pada  pak Haris.” Pungkas pak Mukhlis.

“Oh, jadi gitu.”

“Kalau El sendiri gimana?” Pak Mukhlis tanya balik.

   El pun menceritakan apa saja yang ia alami di hutan. Bagaimana ia berlarian dari Mak Lampir, Tiara yang terkilir, sampai akhirnya pak Haris datang menjemput mereka.

“Kalo gitu saya mau pamit dulu pak, ada urusan dibelakang.” El berpamitan pada pak Mukhlis.

“Iya silahkan.”

   El pergi kembali ke dalam gerbong dan menyadari bahwa ada tangga darurat di sebelah pintu menuju gerbong. Sebuah fakta menarik yang dilewatkan begitu saja oleh El.

   Ketika sampai di dalam, El langsung menemui Tiara dan berharap Tiara sudah kembali tenang. Tapi tiba-tiba...

BLAR!

Pintu dari arah gerbong 2 dibanting oleh seorang yang menggunakan masker gas. Sedetik kemudian ia melempar granat gas yang memenuhi seisi gerbong. Para penyintas lain mulai terbatuk-batuk dan sesak nafas. Tak lama kemudian, semuanya gelap.

El terbangun dengan posisi tangan dan kaki terikat. Begitu pula Tiara dan penyintas lainnya. Mulut mereka pun disumpal hingga tak bisa bicara apa-apa. Tak lama, orang yang memakai topeng gas itu pun muncul. Ternyata ia tak sendiri, ada orang lainnya yang ikut memakai topeng gas. Lalu keduanya melepaskan topeng mereka. Itu pak Haris dan Bu Mey.

“Selamat siang semuanya!” Sapa pak Haris dengan senyum sinis. 


CATATAN 9: UJUNG REL

“Saya mau minta maaf atas ketidak nyamanannya para penumpang sekalian. Sesuatu yang mendesak terjadi, dan kami berdua harus mengambil tindakan untuk itu. Seperti yang kita tau, di pusat kota terdapat tempat perlindungan dan obat penyembuhnya. Namun, tadi malam kami mendengar bahwa mererka tidak dapat menerima banyak penyintas. Jadi, saya dan bu Mey memutuskan untuk meninggalkan kalian di kereta ini. Setidaknya sampai kereta ini menemukan ujung dari rel ini.” Jelas pak Haris dengan wajah yang 180 derajat berbeda dengan apa yang dilihat El.

   El tidak percaya orang yang berada di balik topeng itu pak Haris dan bu Mey. Mereka menenteng senjata laras panjang jenis M4 dan rompi anti peluru. Lengkap dengan beberapa magazine.

“Sialan kalian! Tega-teganya kalian ngelakuin ini ke kami!” Tiara geram dengan mereka berdua. Tiara tak kalah sakit hatinya dengan El. Tiara sudah menganggap bu Mey sebagai ibu nya sendiri.

“Sayang, terkadang harus ada yang dikorbankan dalam hidup ini. Salah satunya kepercayaan. Jadi lain kali, jangan terlalu percaya dengan orang lain. Ok?” Ucap bu Mey sambil mengelus kepala Tiara.

“Kalian ngga mikirin Eric. Dia udah mbantu kalian. Ngasih kalian tempat disini, dan kalian seenaknya mengkhianatinya? Dasar bajingan!” Seorang bapak-bapak ikut angkat bicara.

“Eric? Orang tua bangka itu tau apa? Umurnya sudah cukup untuk dikuburkan. Harusnya ia tak pergi sejauh ini.” Pak Haris lagi-lagi membuat seisi gerbong geram.

“DASAR BRENGSEK NGGA TAHU BUDI!” El meneriaki mereka berdua.

BUG!

“BACOT! HARUSNYA LU BERSYUKUR GUA ANGKUT HARI ITU. MASIH MENDING NGGA GUA MATIIN LU!” Pak Haris mendaratkan sebuah pukulan keras ke wajah El. Membuat bagian pipi kanan El lebam seketika.

“Daripada banyak bicara, mari kami perkenalkan anggota lainnya. Rico, silahkan masuk!” Bu Mey memperkenalkan Rico sebagai anggota lainnya. Raut wajahnya masih sama. Diamnya pun juga.

“Lalu ada masinis kita tercinta, pak Mukhlis. Pak Mukhlis, silahkan masuk!” Giliran pa Haris yang mempersilahkan pak Mukhlis masuk. Pria kurus itu masuk dari arah kereta dengan raut wajah tak kalah menjengkelkannya.

“Mohon maaf penumpang sekalian, sepertinya saya tidak bisa menemani kalian sampai akhir perjalanan.” Pak Mukhlis tersenyum sambil memandangi satu per satu penyintas lainnya. Ia  memandangi setiap mata dari penumpang terakhir yang ia khianati. Sebuah akhir karir yang tak pernah ada yang menduga.

“Sebentar lagi kami akan berhenti di stasiun kota. Untuk itu, kalian jangan meninggalkan tempat duduk dan nikmati saat-saat terakhir kalian sebagai manusia. Setidaknya, kalian tidak berubah menjadi mayat hidup. Hahahaha.” Tawa diujung ucapannya membuat siapapun yang mendengarnya ingin mendaratkan pukulan di wajah pak Haris.

“Pak Mukhlis, silahkan perlambat keretanya, lalu percepat lagi ketika kita sudah turun.” Perintah pak Haris pada pak Mukhlis.

“Siap, komandan.” Pak Mukhlis memberi hormat pada Pak Haris seakan-akan ia komandan yang baru di kereta ini.

“Bu Mey, tolong cari pak tua itu. Aku ingin ia mati bersama para penyintasnya yang ia cinta ini. Aku yakin dia ada di gerbong belakang.” Kini giliran bu Mey yang mendapatkan perintah dari pak Haris.

   El masih tak percaya akan apa yang terjadi. Tatapannya terhadap pak Haris penuh amarah. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa orang yang berkhianat ialah orang yang menolongnya. Melihat tatapan El, pak Haris mendekati El dan berlutut seraya berbicara.

“Saya tau kamu kecewa sama saya, tapi perlu kamu tau bahwa kekecewaan saya lebih besar ke pak Eric. Kamu hanya ngga tahu ceritanya saja.” Pak Haris menjawab dengan tenang.

“Kalau pun aku tau ceritanya, aku tetap menganggap ini pengkhianatan.” Balas El ketus.

“Kamu mau cerita? Ok, akan saya ceritakan semua. 2 hari sebelum saya menemukan kamu, kami mendapatkan kabar dari kota bahwa ada penawar disana. Yang memberi tahu kami adalah pihak militer kenalan pak Eric. Ketika kabar itu datang, ia sangat berambisi untuk pergi ke kota dengan membawa banyak persenjataan. Akhirnya, ia memerintahkan para pria untuk pergi kerumahnya hanya untuk mengambil senjata yang tidak akan kita pakai semua.”

“Banyak dari kami gugur, tanpa upah, tanpa belas kasih, mati sia-sia. Kau bisa tanya beberapa penyintas lain. Ia merasa superior. Ia merasa pangkat yang ia miliki cukup untuk memerintah kita semua.” Pak Haris berhenti sejenak.

“Tadi malam, kami mendapat kabar bahwa lab yang menampung penawarnya telah hancur. Terjadi kekacauan besar. Kami berusaha meyakinkan pak Haris untuk berhenti di kota terdekat. Namun, ia terlanjur jatuh cinta dengan kekuasaan dan kalian. Ia tetap ingin ke kota. Agar ia tidak ada lagi yang tersiksa karena ulahnya, lebih baik ia mati bersama apa yang selama ini ia dambakan.” Pungkas pak Haris di akhir. Wajahnya, setiap kata yang keluar dari mulutnya, tatapan matanya, semua menggambarkan betapa kecewanya ia terhadap pak Eric.

“Ris, gawat!” Bu Mey kembali dengan wajah kebingungan.

“Kanapa?” 

“Pak tua itu ngga ada di setiap gerbong.”

“Sialan. Cari dia sampai ketemu.” Pak Haris berdiri dari berlututnya. Ia masih memburu pak tua itu.

   Tak lama mereka melewati stasiun kota. Tempat seharusnya mereka berhenti. Tapi mereka tidak melambat apalagi berhenti.

“Ini kenapa lagi kok ngga berhenti. PAK MUKHLIS!” belum selesai satu masalah, masalah lainnya muncul. Kereta yang harusnya sudah sampai tujuan tak kunjung berhenti. Semua rencannya kacau seketika.

   Tak berselang lama, pak Mukhlis masuk dari arah kereta. Kini ia bersama seseorang yang menodongkan pistol di belakang kepalanya. Siapa lagi kalau bukan pak Eric. Pak Mukhlis yang disandera oleh pak Eric hanya bisa pasrah.

“Sudahi semua sandiwara ini Haris.” Pak Eric menatap pak Haris penuh kekecewaan.

“Ngga. Semua sudah terlambat. Anda yang menciptakan ini semua.” Pak Haris membalas dengan menodongkan pistol ke arah pak Eric.

“Semua sia-sia. Belum ada kata terlambat.” Pak Eric kembali meyakinkan pak Haris.

“NGGA! HATIKU SUDAH CUKUP TERLUKA.” Pak Haris mulai kehilangan kendali.

   Dari arah berlawanan, Rico mencuri senjata dari bu Mey dan menodongkannya. Sontak hal itu mengejutkan pak Haris dan bu Mey.

“Kamu?” Bu Mey kebingungan senjatanya direbut dengan mudah oleh Rico.

“Ya, aku diperintahkan oleh pak Eric. Memang kenapa?” Rico menjawab santai dengan raut wajah yang masih datar.

    Pak Haris tertawa terbahak-bahak. Membuat suasana gerbong hening seketika. Menimbulkan berbagai kebingungan disetiap kepala yang ada disana.

“KALIAN SEMUA SAMPAH! SAMPAH! DUNIA INI HANYA AKAN JADI TEMPAT PEMBUANGAN. DAN KALIAN SAMPAHNYA!” kini Pak Haris berubah menjadi marah. Kondisi mentalnya nampak jelass tidak stabil.

“Aku berharap kalian bertahan di neraka ini. Selamat menikmati akhir dunia. Semoga beruntung.”

Pak haris mengarahkan pistolnya ke pelipisnya. Lalu...

DOR!

   Pak Haris bunuh diri. Didepan seluruh orang yang ada di dalam gerbong, ia menembak sendiri kepalanya. Semua terkesima. Diam tanpa kata, meninggalkan beribu tanda tanya. Apa yang barusan terjadi? Mengapa begitu cepat? Ada apa?

“Ngga ada waktu lagi. Pak Mukhlis, cepat berhentikan kereta ini.” Perintah pak Eric yangtidak mau membuang waktu.

“Mohon maaf pak. Saya tidak mau. Semua yang pak Haris katakan pada saya cukup benar. Lebih baik kita mati bersama sekarang. Lagi pula, menurut perhitungan saya, kita akan menabrak beberapa menit lagi. Jadi mari menanti kematian itu bersama-sama.” Pak Mukhlis kokoh dengan pendiriannya. Ucapannya sudah sama persisi seperti pak Haris. Ucapan seorang pengkhianat yang putus asa.

   Semuanya terjadi begitu cepat. Mereka tak tahu lagi selamat atau tidak. Keadaan menjadi begitu menegangkan ketika kau tau kematian ada di depan matamu. Sangat dekat, bahkan aliran darahmu sudah siap berhenti mengalir dan jantungmu sudah siap berhenti berdetak. Ketika kematian berjarak beberapa ratus meter lagi dan akan ada banyak nyawa yang dikorbankan, di situlah secercah harapan datang.

“Siapa bisa pak!” El memecah ketegangan di dalam gerbong.

   Semua mata menatap pada El, tak terkecuali pak Mukhlis yang baru sadar ia baru saja mengajari El bagaimana kereta ini beroperasi.

“Saya bisa berhentiin kereta ini. Cepat pak sebelum terlambat.” El kembali meyakinkan se isi gerbong.

“NGGA! NGGA ADA YANG BOLEH MENINGGALKAN KERETA!” Bu Mey menodongkan pistol dari pinggangnya ke El.

“Tembak. Ibu ngga bisa membiarkan pak Haris mati kan? Ibu jatuh cinta kan? Kalian jatuh cinta. Tatapan kalian tak seperti orang pada biasanya. Saya rasa pak Haris jatuh cinta pada wanita yang salah. Ia tak seharusnya jatuh cinta pada ibu-ibu dapur yang harusnya menjadi santapan nikmat para mayat diluar sana.” Dengan tenang El menanggapi todongan M4 di dahinya. Provokasinya membuat bu Mey diam saja.

“Cinta ibu ngga berbalas. Buktinya dia meninggalkan ibu dengan sepucuk pistol yang pelatuknya tak bisa kau tarik. Matinya sia-sia. Kasihan.” El meneruskan provokasinya.

“DIAM!” Bu Mey kehilangan kesabarannya.

   Mendengar itu, sontak bu Mey menyergap El dari belakang, mengunci leher El layaknya pertandingan gulat bebas. El dengan kaki dan tangan yang masih terikat tak bisa berbuat banyak. Ia kesulitan bernafas karena lehernya tercekik kuat oleh bu Mey.

   Semua yang melihat itu tak bisa berbuat apa-apa. Rico, yang memang berkomplotan dengan pak Eric berusaha melepaskan kuncian bu Mey, tapi tenaga bu Mey terlalu kuat untuk Rey seorang. Wajah El sudah nampak berubah, nafasnya semakin jarang. Ketika berada di ujung kematian, El menyikut dada bu Mey lalu menghantamnya dengan bogem keras tepat di hidungnya. Membuat bu Mey mundur beberapa langkah.

    El berdiri dengan nafas masih terengah-engah dengan memegang pisau di tangan kanannya. Tak ada yang menduga, ternyata El sengaja memprovokasi bu Mey untuk merebut pisau itu dari pinggang bu Mey. Meskipun ia tahu taruhannya adalah nyawa.

“Cepat El, ngga ada waktu lagi.” Tiara mengingatkan El akan tabrakan yang sebentar lagi terjadi.

   Bu Mey tak tinggal diam. Ia berusaha mengejar El, namun, kini giliran Rico yang menahannya sekuat tenaga. Melawan bu Mey yang berbadan lebih besar darinya.

“Cepat El.” Kata-kata pertama Rico kepada El.

El yang tidak punya banyak waktu segera memberikan pisau pada Tiara dan berlari ke arah depan. Sudah tidak ada lagi halangan. Pak Eric menahan pak Mukhlis, Rico menahan bu Mey, dan pak Haris sudah terkapar tak berdaya di lantai gerbong. Kini El berlomba dengan waktu.

   Ketika sudah sampai di ruang kendali utama, El melihat ke arah depan beberapa saat. Terlihat ujung dari rel yang siap ditabrak oleh kereta yang sedang mereka tumpangi. Disaat itu El langsung menarik penuh tuas rem tersebut, membuat siapa saja yang berada di dalam kereta terpental ke arah depan. Kereta itu pun tak langsung berhenti. Terjadi gesekan hebat antara rel dan roda kereta.

CIIIITT!

Akhirnya kereta itu berhenti setelah berdecit cukup kencang. El memeriksa ke arah depan. Jarak kereta dengan pembatas rel hanya berkisar 5 meter. El Nyaris mati. Nyaris mati lagi.


CATATAN 10: “AKU MASIH HIDUP!

   El disambut tepuk tangan dan sorakan dari seisi gerbong ketika kembali ke gerbong. Semua menyorakinya bagai pahlawan, kecuali bu Mey dan pak Mukhlis tentunya. Tiara yang sedang melepaskan beberapa ikatan penumpang lain ikut larut dalm uforia tersebut. Tiara pun tak sungkan memberikan pelukan hangat pada El  ketika menghampirinya.

“Harusnya aku ngga ngajari anak sialan ini gimana caranya narik rem kereta.” Gerutu pak Mukhlis.

“Bukan. Seharusnya anda ngga ikut memberontak. Tapi syukurlah, kalau kala itu bapak tidak mengajari saya cara menarik rem, mungkin beberapa menit yang lalu kita sudah tewas.” Balas El ketika mendengar gerututan pak Mukhlis.

   Kini giliran pak Mukhlis dan bu Mey yang diikat. Nasib mereka berdua masih bisa ditentukan nanti karena masih ada nasib lainnya yang harus diperjuangkan.

   Mereka kini berada di pinggiran ibu kota. Sedikit terlalu jauh dari stasiun ibu kota. Kini mereka punya 2 pilihan. Tetap tinggal, atau meneruskan perjalanan. Diskusi besar pun dilakukan guna mencapai keputusan bagi mereka semua.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini? Ada pendapat?” Pak Eric memulai pembicaraan.

“Kita bisa tinggal disini saja. Tempat berlindung kita aman dari mayat-mayat itu. Lagi pula masih ada persediaan makanan dan persenjataan disini.” Seorang pria separuh baya memberikan sarannya.

“Tinggal? Kita sudah terlalu jauh pak untuk tetap tinggal. Sedangkan penawar dan tempat yang lebih aman sudah berada di depan sana.” Tiara menyanggah pendapat tersebut.

“Kamu ngga ingat apa yang dikatakan Haris tadi? Tempat itu sudah hancur. Sedangkan kita tidak tau pasti ada apa disana. Lebih baik tidak mengorbankan lebih banyak nyawa lagi.” Seorang ibu-ibu membela argumen pria tersebut.

“Tapi kalau kita tinggal disini, kita tidak tau akan apa yang terjadi. Kita berada di tengah-tengah ketidak pastian. Kita juga ngga tahu bisa bertahan berapa lama.” Kini giliran El yang membela Tiara.

   Di tengah-tengah keriuhan, di saat semua saling berpendapat dan memberikan solusi terbaik bagi mereka semua, pak Eric mulai membeberkan fakta.

“Apa yang dikatakan Haris benar. Lab yang akan kita tuju telah hancur.” Pak Eric memulai pembicaraan dengan tertunduk lesu. Seketika hening. Semua mata tertuju pada pak Eric. Ia tak kuasa melihat setiap mata para penyintas lainnya.

“Pada mulanya semua ini tidak akan terjadi jika aku tak menerima pesan itu.” Pak Eric sperti menimang-nimang kata yang akan ia lontarkan.

“Pada mulanya, semua memang sebuah harapan. Seorang kawan lama yang kini menjadi jendral meminta bantuan pada ku hari itu, karena pasokan senjata terdekat ada di rumahku. Ia berembel-embel keselamatan untuk kita semua. Oleh karena itu aku berani mengerahkan semuanya. Kalau kalian berfikir aku tidak merasa bersalah, ketahuilah, mungkin seharusnya yang mati sekarang aku, bukan Haris.” Jelasnya sambil melihat mayat pak Haris.

“Kemudian datang sebuah kabar di radio kami. Mereka bukan meminta pasokan senjata. Lebih tepatnya mereka membutuhkan bala bantuan untuk bisa keluar dari lab itu. Lab itu sudah hampir hancur dari awal mereka menghubungiku.” Lanjut pak Eric.

“Tunggu sebentar, anda dapat dari mana kabar tersebut?” potong El.

“Dari kabar yang aku terima di radio. Kebetulan aku merekamnya. Oh iya, dia juga menyebut namamu.” Pak Eric menyerahkan sebuah radio berisi rekaman yang siap diputar.

   El kebingungan sejenak. Ia masih tak penasaran dengan isi rekaman itu. Ia hanya penasaran mengapa seseorang menyebut namanya.

“Pada saat kekacauan terjadi, kondisi di kota masih belum separah kota kita. Namun, pihak militer sudah menyadari akan hal itu. Oleh karena itu mereka menculik beberapa orang dari kalangan dokter dan ilmuwan untuk menyelidiki kasus ini di lab yang mereka jamin aman. Tapi faktanya di lapangan, penyakit itu bocor dan membuat sebagian besar dari mereka terinfeksi. Sebagian keluar menyerang kota, sebagian tertahan di dalam dan bermain petak umpet dengan yang hidup. Setidaknya kabar itu yang aku dapat.” Penjelasan pak Eric berakhir. Kini semuanya jelas. Dan mereka terlanjur sampai disini dengan kebingungan.

“Untuk malam ini, sebaiknya kita tetap tinggal. Terlalu petang untuk mencari tempat berlindung di daerah yang kita sendiri tidak hafal.” Rico yang diam dari tadi ikut menyuarakan pendapatnya. 

   El menyendiri di kereta utama, tempat pertama kali ia bertemu pak Mukhlis. Ia merenungkan semua yang terjadi beberapa hari terakhir. Kejadian-kejadian tak terduga yang terjadi di hidup El terjadi begitu saja. Tanpa peringatan, tanpa aba-aba. Ia menatap langit malam yang cerah. Bintang-bintang bertaburan, bulan pun ikut menampakkan diri. Tiba-tiba El teringat rekaman yang tadi pak Eric berikan. Ia pun menekan tombol play.

Untuk siapapun yang mendapatkan kabar ini. Tolong kami! Kami ilmuwan dan petugas medis yang tersisa di lab L. Semua orang telah terinfeksi. Kami tertahan di lantai 4 ruang 5. Kami masih punya persediaan makanan. Untuk siapapun yang bertemu bocah bernama El, katakan padanya aku masih hidup.”

   Rekaman selesai. Menyisakan El yang ternganga tak percaya. Ia tak percaya suara yang ia dengar. Itu suara Zahwan. Suara yang ia kira sudah lama mati. Suara yang masih hidup. El tak pernah sesenang ini dalam hidupnya. Ia segera kembali dan memberi tahu Tiara.

“Ra, gue harus berangkat.” El tak berkata banyak. Singkat sambil mengemasi barang-barangnya.

“Ha? Kemana?” Tiara yang akan bersiap tidur terjaga kembali.

“Ke lab L. Zahwan masih hidup.” El sudah sangat siap dengan barang bawaannya.

“El, sekarang jam 11 malam.”

“Ngga, aku ngga mau terlambat.”

“Kalau begitu aku ikut.”

   Tiara ikut mempersiapkan barang-barangnya. Pak Eric yang melihatnya tak melarang mereka. Ia tahu bahwa seseorang yang ada direkaman itu sangat berarti bagi El.

“Kalau kalian pergi, kami masih ada disini.” Pesan pak Eric.

“Kami akan kembali pak. Kami tau harus kemana.” El berpamitan dengan pak Eric.

“Aku ikut.” Rico, ternyata juga sudah siap dengan barang bawaannya. Mereka bertiga sudah siap berangkat menuju lab L. Awal dari ini semua mulai.


 


CATATAN 11: TARZAN KOTA

“Saya sarankan jangan berangkat sekarang. Kita masih belum tau medan yang akan kita hadapi.” Pak Eric memberi saran pada 3 anak muda yang sudah siap berangkat.

   Mereka bertiga terdiam. Mereka tau kalau perjalanan itu merupakan perjalanan yang berbahaya. Mengabaikan sesuatu sekecil apapun bisa berakibat fatal. Tapi Zahwan, berapa lama lagi ia bisa bertahan?

“Lebih baik kalian istirahat sambil memikirkan berbagai hal yang lain. Cek kembali perlengkapan kalian. Jangan terburu-buru.” Pak Eric pun berlalu meninggalkan mereka bertiga.

“Yang dikatakan pak Eric ada benarnya El. Lebih baik kita berangkat setelah fajar terbit.” Rico menambahkan pesan dari pak Eric.

    El dan Tiara tak bisa berbuat banyak. Yang dikatakan pak Eric ada benarnya. Mereka tidak mau mati di pertengahan jalan. Tapi disisi lain, mereka tidak mau perjalanan tersebut sia-sia karena terlambat berangkat.

   Jam tangan El menunjukkan pukul 2 pagi. Ia kembali menyendiri. Kini ia memanjat tangga di samping gerbong dan menyendiri di atas gerbong kereta. Menatap langit malam seperti yang ia lakukan ketika menemukan bahwa Zahwan masih hidup. Rekaman yang berada di tangannya ia ulang berkali-kali. Mendengarkan suara Zahwan membuat El ingin segera bertemunya. Dan seperti biasa, El menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Dear death,

Tiara bilang ini hari yang aneh. Setelah kupikir-pikir, apa yang dikatakan Tiara ada benarnya. Dalam sehari aku melihat pengkhianatan, aku melihat seorang bunuh diri, aku tercekik hingga kesulitan bernafas demi sebilah pisau, menarik rem kereta, hingga menemukan bahwa sahabat lamaku masih hidup. Aneh.

Kira-kira keanehan apalagi yang akan ku temui besok?

Mari kita lihat saja


 

El.”

   El, Tiara, dan Rico kembali memeriksa barang bawaan mereka. Memastikan kembali tidak ada keperluan yang tertinggal. Tak lupa barang bawaan dan senjata mereka bawa. Rico membawa senjata jenis SMG yang tidak terlalu berat. El membawa dual pistols yang memudahkannya ketika bergerak. Tak lupa Tiara dengan senapannya yang sudah diberi peredam dan teropong yang berjarak lebih jauh.

Kabar tentang Zahwan juga sudah tersebar ke seluruh penghuni kereta. Mereka pun tak menghalangi ketiga anak muda itu untuk menjemput teman mereka. Mereka semua bersama-sama keluar kereta untuk berpamitan dengan ketiga anak muda ini.

“Kamu sudah sejauh ini El. Sudah saatnya kamu punya tujuan baru. Bawa temanmu kembali dengan selamat kemari. Kami akan tetap berada disini.” Pak Eric memberikan pesan terakhirnya sambil memegang bahu El.

“Saya janji pak membawa Zahwan kemari.” El membalasnya dengan sebuah janji.

    Seorang anak kecil yang juga penyintas di kereta tersebut mendekati Tiara. Tiara yang menyadarinya membungkuk agar sejajar dengan anak tersebut.

“Kak Tiara mau kemana?” Kata anak itu polos sambil menggenggam boneka Teddy bear warna pink pudar.

“Kakak mau njemput temen kakak. Ngga lama kok. Kalau udah ketemu kakak pasti kembali. Ok?” Tiara menjelaskan seadanya sambil tersenyum.

“Janji ya?” Anak itu mengulurkan jari kelingkingnya tanda meminta perjanjian pada Tiara. Tiara pun membalas dengan jari kelingkingnya.

   Mereka bertiga mulai berjalan. Rico bertugas sebagai pemandu jalan, Tiara berda di tengah sebagai pengawas, dan El di belakang sebagi pelindung daerah belakang. Berlahan, mereka meninggalkan para penyintas lainnya. Meninggalkan mereka dengan koloni kereta mereka. Tapi mereka berjanji untuk kembali. Berjanji untuk berkumpul lagi.

   Kini mereka memasuki daerah perumahan cluster menengah kebawah. Perumahan itu diisi rumah-rumah yang berbentuk sama dengan hiasan-hiasan ala perumahan pada umumnya. Mobil-mobil diparkirkan di depan tiap rumah oleh pemiliknya. Yang sama adalah kondisi dan suasananya. Sepi, hening, dan mencekam.

“Gue ngga mau lari-larian lagi. Gue capek El kejar-kejaran terus.” Keluh Tiara.

“Tenang, kita ngga akan ketemu mereka. Lebih tepatnya kita ngga akan kejar-kejaran dengan mereka.” Jawab Rico dengan tenang.

“Kok bisa?” El dan Tiara bertanya berbarengan.

   Rico menunjuk ke arah kanan mereka. Terlihat gedung yang tampak terbengkalai dengan warna putih yang memudar. Terlihat logo “LAB-L” berada di puncak gedung. Sebuah gedung yang menjadi tujuan mereka.

“Kita akan lewat taman kota dibelakang perumahan ini. Jalannya berada di ujung jalan di depan sana. Harusnya kita sudah bisa sampai sebelum petang.”  Rico menjelaskan.

“Kalau begitu, kita percepat perjalanan kita. Kita ngga tahu berapa lama kita di Lab L.” Pungkas Tiara pada kedua temannya.

   Mereka terus berjalan menuju pertigaan di ujung jalan yang mereka lalui. Kejanggalan mulai mereka temukan ketika beberapa rumah didekat ujung jalan tersebut rusak parah. Beberapa mobil juga tampak seperti tertimpa benda berat, padahal tidak ada apa-apa diatasnya. Dan puncaknya ialah ketika mereka menemukan tembok kosong bertuliskan “KEMBALI”. Tulisan itu dibuat dengan cat kaleng berwarna merah menyala.

“Perasaan gue ngga enak.” Ucap El.

   Rico dan Tiara diam saja sambil memperhatikan sekeliling. Semua semakin tampak tidak normal. Ketakutan mulai menyeruak kesekujur tubuh mereka. Ini sebuah pertanda yang buruk. Lebih buruk lagi karena mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi.

“Ngga ada pilihan lagi El. Maju atau kembali.” Rico menegaskan kembali inti utama perjalanan mereka.

   Tanpa sepatah kata pun, El memasuki area taman kota yang terhalang tembok tadi, disusul Tiara dan Rico. Suasana taman kota tampak mirip dengan hutan. Pohon-pohon tinggi menjulang, lampu-lampu taman yang mati, beberapa bangkai yang bergeletakan, dan tanaman-tanaman hias yang nampak rusak. Sebuah pemandangan yang normal nan mengerikan. Bayangkan saja, bulu kuduk kalian berdiri di kala belum sampai waktu tengah hari. Masih terlalu dini untuk ketakutan.

   Mereka terus berjalan masuk. Tujuan mereka masih sekitar 2 KM lagi. Itupun kalau tidak ada halangan apapun. Belum lagi mereka belum beristirahat dan  mengisi perut. Tiba-tiba El menoleh pada dua temannya sambil berkata.

Guys, gue pingin kencing nih.” El tersenyum kecil.

“Ngga habis pikir gue, cepetan! Agak jauhan sana!” Tiara kesal dengan senyuman El. Terpaksa mereka berhenti dan berpisah dengan El yang mencari pohon agak jauh.

   El pun berlarian kecil mencari pohon yang cukup jauh. Sedangkan Tiara dan Rico berhenti sejenak sambil mengobrol santai.

“Lu belum pernah cerita lu siapa.” Tiara memulai percakapan mereka.

“Siapa juga yang peduli sama gue.”

“Gue.” Tiara menunjuk dirinya sendiri.

“Beneran.”

“Yaiyalah. Cepetan.”

“Ok, jadi gue pembantunya pak Eric. Gue ikut beliau semenjak gue masih bocah. Gue diangkat beliau pembantu di rumahnya bareng seorang asisten dan seorang sopir.” Ungkap Rico. Itulah mengapa ia tak ikut berkhianat, ia setia pada tuannya.

“Pada saat kekacauan itu terjadi, gue ada berlindung di basement rumah pak Eric bareng pak Eric dengan segala persenjataannya. Sialnya, pembantu masih belanja di pasar dianter pak sopir. Yaudah deh, kita bertahan disana selama beberapa hari. Tanpa tahu apa yang terjadi. Keluar-keluar, semua udah jadi begini.” Pungkas Rico.

“Terus, soal pemberontakan itu, gimana ceritanya loe bisa diajak mereka?” Tiara masih kepo dengan hal itu.

“Gini, pak Eric itu orang yang teramat terlatih dan strategis. Ketika beliau cek cok sama si Haris, ia ngasih tau ke gue kalau sampai gue diajak kerja sama, gue disuruh ikut sambil nyari informasi yang sekiranya dibutuhkan. Akhirnya gue dapet tuh info kalau mereka pake gas tidur, pak Mukhlis juga diajak dan berhenti di stasiun kota. Mulai dari situ, pak Eric yang nyusun rencana sampai jadi. Gitu.” Rico kembali menjelaskan semuanya. Kini semua jelas bagi Tiara.

   Di tempat yang berbeda, El sedang mencari pohon yang pas. Ketika sudah cukup jauh dari kedua temannya, ia mulai buang hajat dan menikmatinya.

“Aaaaahhh.....enak banget.” El menikmati buang hajatnya.

   Namun tak berselang lama, setelah selesai menunaikan keinginannya, El merasakan gempa kecil yang berasal dari arah belakang. Perlahan ia menoleh. Betapa terkejutnya ia melihat seorang Bondem berjalan menuju ke arahnya. Badannya tiga kali lebih besar ketimbang orang dewasa. El yang langsung pucat pasi berlari ketakutan kembali ke tempat Rico dan Tiara. Dari kejauhan ketika ia melihat kedua temannya, ia berteriak sekuat mungkin.

“BONDEEEMM!” El mencoba memperingati teman-temannya.

Tiara yang keheranan melihat El meneriakinya balik.

“APAA?”

“BONDEEMMM!” Sekali lagi El berteriak.

   Seketika Tiara dan Rico menyadari ada Bondem yang mengejar El dari belakang. Sontak mereka memasang ancang-ancang menembak. Rico dengan SMG-nya dan Tiara dengan senapannya. Mereka sangat siap.

“AAAAAUO....UO...UOOOO”

   Terdengar teriakan nyaring tak berasal. Beberapa phon bergoyang, dan terlihat sekelebat bayangan melompat-lompat dari pohon ke pohon. Mereka semua yang terkesima pun mencari sumber suara tersebut. Bondem yang dikiranya hanya peduli dengan daging segar pun ikut terdiam.

   Tiba-tiba, dari atas pohon, sebuah tendangan mendarat di kepala Bondem tersebut. Tak langsung tersungkur, pria yang menendang wajahnya langsung menebas leher sang Bondem dengan parang yang ia selipkan dipunggungnya. Menyebabkan Bondem itu tumbang seketika.

   Pria itu pun menoleh ke mereka bertiga. Ia menatap satu persatu dari mereka. Ia pun bertanya.

“Mau coklat?” sambil tersenyum ramah.



 

CATATAN 7: MENUJU KOTA

    El menatap pria yang menariknya ke atas kereta. Perawakan pria itu cukup tegap untuk ukuran orang dewasa. Usianya mungkin sekitar 40 tahun ke atas, brewok dan kumis tipis, serta potongan rambut yang klimis. Tampilan fisik yang sempurna bagi sebagian besar wanita di muka bumi.

   Belum sempat basa-basi, El dan Tiara dipersilahkan masuk ke dalam gerbong oleh pak Haris. Disana sudah ada 3 orang lain yang menunggu kedatangan mereka. Seorang ibu-ibu, seorang pria seumuran El, dan satu lagi pria yang tadi menarik El.

“Selamat datang di kereta.” Pak Haris memberikan sambutan hangat untuk mereka sambil membentangkan kedua tangannya.

“Sebelumnya, mari saya perkenalkan kalian pada beberapa orang disini. Ada Bu Meylani, beliau yang mengurus urusan dapur, lalu ada Riko, mereka seumuran dengan kalian. Tugasnya mengkoordinasi para penyintas lainnya. Dan yang terakhir ada komandan kita, Eric. Beliau seorang veteran perang yang mukanya bahkan lebih muda daripada saya. Dan kalau kalian penasaran dengan tugas saya, saya bagian ngatur senjata. Jadi saya bagian DOR. Hahahahaha.”

Penjelasan pak Haris diakhir dengan tawanya yang lebar. Dari penjelasan pak Haris, bisa dibilang mereka lah anggota utama di kereta ini. Mereka yang memegang kendali penuh atas beberapa hal yang cukup krusial.

“Sebelumnya terima kasih sudah mau menampung kami meskipun kami berasal dari luar. Perkenalkan saya El, dan di sebelah saya ada Tiara, teman saya.” El mulai memperkenalkan diri. Sedangkan Tiara hanya mengangguk ketika namanya disebut.

“Halo nak El, nak Tiara. Saya Meylina, atau gampangnya panggil aja bu Mey. Menu malam ini kebetulan sup jamur. Semoga kalian suka.” Bu Mey memperkenalkan dirinya. Beliau tampak ramah dengan celemek warna putih yang warnanya sudah memudar.

   Lalu El dan Tiara menoleh ke arah Riko. Riko hanya mengangguk ke arah mereka dengan senyum tipis. Senyum yang kurang ikhlas.

Terakhir ada pak Eric yang menghampiri mereka lebih dekat.

“Salam kenal ya, El, Tiara. Saya Eric, saya yang memutuskan semua yang terjadi di kereta ini. Setelah ini, mari saya antar kalian ke beberapa penyintas lainnya.” Pak Eric memberikan senyumnya pada El dan Tiara.

“Hah? Ada yang lain?” Tiara tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Tentu ada. Kebetulan gerbong ini adalah gerbang 4 yang kosong. Setelah ini saya jelaskan tiap gerbongnya sambil kita perjalanan. Mari.” Pak Eric memandu mereka dengan berjalan terlebih dahulu.

   El dan Tiara mengikuti pak Eric dari belakang. Mereka meninggalkan gerbong 4 dan beralih ke gerbong 3. Disini mereka melihat pemandangan yang cukup unik. Disisi kanan terdapat kompor, gas, wajan serta berbagai macam peralatan masak lainnya. Tak ketinggalan pula macam-macam bahan mentah yang akan diolah oleh bu Meylina.

  Namun, disisi kirinya terdapat berbagai macam amunisi, senjata, bahkan beberapa bahan peledak. Di gerbong inilah tempat beroperasinya pak Haris dan Bu mey. Dapur dan gudang senjata. Kombinasi yang tak mungkin ditemukan kalau bukan di akhir dunia.

“Seperti kalian lihat, disini terdapat dapur dan gudang senjata yang dijadikan satu. Dan kalian pasti bertanya mengapa tidak di gerbong 4 saja. Jawabannya adalah, karena gerbong 4 adalah gerbong dadakan yang kami persiapkan ketika kalian dikejar gerombolan Mak Lampir.” Jelas pak Eric

“Itu sebagai bentuk antisipasi kalau kita tidak mampu melindungi gerbong paling belakang. Setidaknya bukan gerbong makanan yang dirusak terlebih dahulu. Kita tidak mau penyintas lain kelaparn kan?” Tambahnya . Jawabannya cukup diplomatis. Tak heran beliau merupakan pemimpin disini.

“Mari lanjut ke gerbong selanjutnya. Disini kalian akan bertemu dengan yang lainnya.”

   Mereka memasuki gerbong 2 dimana mereka bertemu dengan beberapa penyintas lainnya. Nampak disini gerbongnya belum dimodifikasi sedemikian rupa seperti gerbong 3. Disini kursi-kursi masih menghadap ke depan dengan tiap kursi berjumlah 2. Tiap pasang kursi berada di sisi kanan dan kiri gerbong.

“Nah, disini tempat kita semua beraktifitas. Tentunya jumlah kita tidak terlalu banyak. Terbilang hanya ada sekitar 45 orang. Tidak sampai 2 gerbong penuh karena tiap gerbong hanya berisi 40kursi.  Gerbong yang penuh hanya gerbong pertama. Kalau kalian berkenan silahkan berkenalan dengan yang lainnya.”

   El dan Tiara pun mulai berkenalan dengan satu per satu penyintas lainnya di gerbong 1. Mencoba berbagi cerita, luka, dan saling menguatkan diantara mereka. Berbagai kisah unik mereka bagi di gerbong yang sama.

“Jadi gimana kakak-kakak bisa selamat dari kejaran Mak Lampir itu?” Tanya seorang gadis pada Tiara.

“Kami ketemu sama pak Haris. Untung beliau datang tepat waktu. Kalau ngga, mungkin kami udah jadi santapan para Mak Lampir itu.”

“Kalian ngga ketemu si Buto?” Tanya seorang bapak.

“Buto? Maksud bapak Bondem?” El bertanay balik.

“Ya sama aja sebenarnya. Soalnya rombongan saya ketemu si Buto. Dari 5 orang, tinggal saya sendiri.” Bapak itu melanjutkan.

“Mereka ikut terinfeksi juga pak?” seorang ibu-ibu ikut nimbrung.

“Ngga dong. Ya dimakan.” Jawab bapak itu santai.

   Di tengah-tengah berbagi kengerian itu, Bu Mey datang sambil berteriak.

“MAKAN MALAM SIAAAP!”

   El memakan sup jamurnya dengan lahap. Sudah berhari-hari dia tidak makan seenak ini. Sehari-hari ia hanya makan roti, roti, dan roti. Pak Eric yang melihatnya tersenyum lebar.

“Hati-hati makannya! Nanti tersedak, hahaha. Saya duduk sini ya” Goda pak Eric.

   El diam saja sambil membalas senyuman pak Eric yang duduk disebelahnya.

“Kalau boleh tau, darimana bapak dapat pasokan senjata sebanyak itu pak?” El memberanikan diri bertanya disela-sela makan malam mereka.

“Oh, itu. Setelah saya pensiun sebagai tentara di usia yang bisa dibilang cukup muda, 50 tahunan pada saat itu, saya selalu berjaga-jaga dalam keadaan apapun. Lalu saya membangun sebuah gudang bawah tanah dan membeli berbagai macam senjata. Dari pasar gelap tentunya.” Jelas pak Eric.

“Disaat semua mulai kacau, saya mulai membekali diri dan pergi mencari beberapa penyintas lain. Salah satunya pak Haris dan Riko. Ketika tahu bahwa ada kabar baik di ibu kota, maka saya langusng memerintahkan sebagian besar dari penyintas pria yang tersisa untuk mengambil persediaan senjata itu ke rumah saya. Sebagian gugur, sebagian selamat. Tapi, bukan kah itu biaya dari sebuah peperangan?” Pungkas pak Eric seraya melahap jamur terakhir di piringnya.

“Keluarga bapak bagaimana?” El masih meneruskan rasa penasarannya.

“Saya tidak menikah. Saya lebih suka sendiri. Lebih baik saya diberi tanggung jawab untuk angkat senjata ketimbang tanggung jawab atas hati anak orang.”  Jawab pak Eric mantap.

“Hari ini aneh banget.” Tiara memecah keheningan.

“Kenapa?” El membalas penasaran meski El tahu sebagian besar jawabannya.

   Mereka kini berada di gerbong 2. Tempat mereka terpisah dengan para penyintas yang memenuhi gerbong 1. Mereka menempati kursi yang sejajar. El di sisi kiri, Tiara di sisi kanan.

“Iyalah aneh. Shubuh tadi kita baru keluar dari gubuk ayahku. Menjelang siang, kita dikejar gerombolan Mak Lampir. terus, kita harus bergelantungan dari mobil jeep ke kereta. Malamnya, kita sudah bisa tidur lagi, tapi di dalem kereta.” Pungkas Tiara.

“Oh, iya juga sih. Kaki lu gimana?” El teringat kaki Tiara yang terkilir.

“Tadi udah diobatin sama bu Mey. Orangnya baik banget tau. Gue aja dikasih sup tambahan, padhal gue udah makan.” Tiara meneruskan ocehannya.

“Syukurlah.”

“El, gue boleh tanya ngga?” Tiara tiba-tiba menoleh ke arah El.

“Apa?”

“Lu belum pernah cerita masa lalu lu.”

“Hmm, dimulai darimana ya? Ok gue tau. Jadi gue seorang anak yang sepertinya keberadaannya tidak diinginkan orang tua gue. Gue ditemuin di sebuah kotak dipinggir jalan oleh seorang yang bisa dibilang kaya raya. Kenapa nama gue ‘El’, itu karena waktu gue ditemuin, gua make kalung huruf ‘L’, dari situ nama gue diambil.”

“Dari kecil gue ngga pernah ngerasain namanya kasih sayang. Baik dari orang tua asli maupun angkat. Jaman sekolah gue juga gitu-gitu aja. Nakal ngga, baik juga ngga. Tapi disitu gue ketemu sama Zahwan, shabat karib gue sampe sekarang. Setidaknya sampai kekacauan itu terjadi. Itu sih.” Jelas El panjang lebar.

“Trus, yang kata lu buku itu membawa luka 5 tahunlalu apa?” Tiara semakin menunjukkan rasa penasarannya.

“Kalau itu gini-“

“Bentar. Tahan. Gue mau ke toilet bentar.” Tiara kembali memotong.

   Tiara pun bergi ke toilet yang terletak di bagian belakang gerbong 3 yang langsung terhubung dengan gerbong 4. Ketika hendak memasuki toilet, samar-samar Tiara mendengar percakapan antara 2 orang dari gerbong 4.

“Semua rencananya sudah jadi?”

“Sudah. Semua sudah siap.”

“Kapan kita ambil alih kereta ini?”

“Besok.”


CATATAN 8: PARA PEROMPAK

   Tiara yang mendengar hal itu langsung bergegas kembali ke El. Perasaannya bercampur aduk antara bingung dan panik  karena ia tak tahu siapa mereka. Ia terlalu takut untuk melihat lebih jauh.

“Cepet banget dari toiletnya.” El kebingungan melihat wajah Tiara yang panik.

“Gawat El, gawat.” Tiara tetap panik.

“Iya kenapa, jelasin dulu pelan-pelan. Ada apa?”

“Jadi gue kan ke toilet, terus gue kedengeran dari arah gerbong 4 ada dua orang lagi ngobrol. Tapi mereka ngobrolin tentang ngambil alih kereta ini El.” Tiara tak mampu menjelaskan banyak hal. Ia terlalu panik untuk mencerna percakapan yang ia dengar tadi.

“Lu ngantuk kali. Gausa ngadi-ngadi deh.” El masih tidak percaya.

“El, gue masih sadar banget. Gue ngga ngigau, gue ngga ngantuk. Itu dari arah gerbong 4, El. Sekarang lu bayangin, kita ada di atas kereta dengan orang yang bahkan kita belum ketemu 1 hari. Lu ngga ada curiga-curiganya apa? Gila lu.” Emosi Tiara tidak dapat terbendung lagi. Ia ketakutan.

   El sadar bahwa Tiara tidak main-main. Ekspresi wajah, tinggi nada, dan cara bicaranya menunjukkan dia tidak berbohong. El ikut yakin meskitidak pasti.

“Mending kita bahas besok pagi. Biar ngga nimbuin kecurigaan kalo ada yang lewat.”

Tiara mengangguk tanda setuju.

    Di pagi hari, ketika semua sedang menikmati sarapan, El sedikit menjauh dari kerumunan. Tentu saja untuk berdiskusi siapa dalang dibalik percakapan yang didengar Tiara semalam. Mereka mengidentifikasi setiap orang yang mereka temui. Terutama pak Haris, pak Eric, Riko, dan Bu mey.

“Aku menaruh curiga yang besar ke pak Eric. Jawaban dia manipulatif menurutku. Membuat dia terlihat kua.” Tiara mulai memberikan pendapatnya.

“Tapi kan dia ketua disini. Mana mungkin dia mengambil alih dari dirinya sendiri.” El menyanggah. Menurutnya, opini Tiara terlalu lemah.

“Mengambil alih disini bisa jadi sepenuhnya EL.” Tiara meyakinkan ucapannya sendiri.

“Malah menurutku Riko deh. Dia pendiem banget anaknya. Ngomong sepatah kata pun ngga.” Kini giliran El yang memberikan pendapatnya.

“kalau emang gitu, pak Haris dan bu Mey juga bisa jadi manipulatif dong. Mereka bisa aja saling berkhianat satu sama lain.” Tiara kembali berteori liar tanpa dasar pikiran yang jelas.

“Tetap tenang. Kita belum kenal sama semua penghuni disini. Semua bisa jadi tersangka.” El menenangkan Tiara lagi.

“Masalahnya, suarnya datang dari gerbong 3, yang mana, disana kita hanya bertemu 4 orang tersebut. Dugaan kuat kita hanya pada mereka El.”

   Kali ini El benar-benar setuju dengan pendapat Tiara. Yang mereka temui hanya pak Haris, pak Eric, Bu mey dan Riko. Tidak ada yang lain. Atau ada yang lain yang tidak mereka tau?

“Gue butuh menjernihkan pikiran gue. Kita ngga bisa gini terus. Gue mau cabut kedepan.” El berdiri setelah makanannya selesai. Meninggalkan Tiara dengan pikiran liarnya.

   El pergi menuju kereta utama. Kereta yang membawa sampai sejauh ini. El meberanikan diri pergi kesana demi mencari udara segar. Disana ia bertemu sang masinis yang mengemudikan kereta selama ini.

“Pagi pak.”

“Eh, pagi pagi. Tumben-tumbenan ada yang datang kemari.” Sang masinis sempat gelagapan dengan kedatangan El.

“Kenalin pak saya El. Baru dateng kemaren.” El memulai percakapan.

“Saya pak Mukhlis. Salam kenal ya.” 

   Mereka pun ngobrol ngalor ngidul mulai dari kehidupan sebelum kondisi sekarang, sampai bagaimana cara mengoperasikan kereta tersebut. Sampailah meeka di pembahasan bisa masuk ke kereta tersebut.

“Jadi saya waktu itu lagi sembunyi di stasiun. Lebih tepatnya di kereta. Tiba-tiba dari arah hutan ada pak Haris yang minta tolong tempat bersembunyi. Kebetulan, persembunyian paling aman pada saat itu kereta ini karena kosong pada saat itu.”

“Dari situlah kami mulai dekat. Meskipun saya sendiri jarang ada di gerbong belakang. Saya pribadi sangat berterimakasih pada  pak Haris.” Pungkas pak Mukhlis.

“Oh, jadi gitu.”

“Kalau El sendiri gimana?” Pak Mukhlis tanya balik.

   El pun menceritakan apa saja yang ia alami di hutan. Bagaimana ia berlarian dari Mak Lampir, Tiara yang terkilir, sampai akhirnya pak Haris datang menjemput mereka.

“Kalo gitu saya mau pamit dulu pak, ada urusan dibelakang.” El berpamitan pada pak Mukhlis.

“Iya silahkan.”

   El pergi kembali ke dalam gerbong dan menyadari bahwa ada tangga darurat di sebelah pintu menuju gerbong. Sebuah fakta menarik yang dilewatkan begitu saja oleh El.

   Ketika sampai di dalam, El langsung menemui Tiara dan berharap Tiara sudah kembali tenang. Tapi tiba-tiba...

BLAR!

Pintu dari arah gerbong 2 dibanting oleh seorang yang menggunakan masker gas. Sedetik kemudian ia melempar granat gas yang memenuhi seisi gerbong. Para penyintas lain mulai terbatuk-batuk dan sesak nafas. Tak lama kemudian, semuanya gelap.

El terbangun dengan posisi tangan dan kaki terikat. Begitu pula Tiara dan penyintas lainnya. Mulut mereka pun disumpal hingga tak bisa bicara apa-apa. Tak lama, orang yang memakai topeng gas itu pun muncul. Ternyata ia tak sendiri, ada orang lainnya yang ikut memakai topeng gas. Lalu keduanya melepaskan topeng mereka. Itu pak Haris dan Bu Mey.

“Selamat siang semuanya!” Sapa pak Haris dengan senyum sinis. 


CATATAN 9: UJUNG REL

“Saya mau minta maaf atas ketidak nyamanannya para penumpang sekalian. Sesuatu yang mendesak terjadi, dan kami berdua harus mengambil tindakan untuk itu. Seperti yang kita tau, di pusat kota terdapat tempat perlindungan dan obat penyembuhnya. Namun, tadi malam kami mendengar bahwa mererka tidak dapat menerima banyak penyintas. Jadi, saya dan bu Mey memutuskan untuk meninggalkan kalian di kereta ini. Setidaknya sampai kereta ini menemukan ujung dari rel ini.” Jelas pak Haris dengan wajah yang 180 derajat berbeda dengan apa yang dilihat El.

   El tidak percaya orang yang berada di balik topeng itu pak Haris dan bu Mey. Mereka menenteng senjata laras panjang jenis M4 dan rompi anti peluru. Lengkap dengan beberapa magazine.

“Sialan kalian! Tega-teganya kalian ngelakuin ini ke kami!” Tiara geram dengan mereka berdua. Tiara tak kalah sakit hatinya dengan El. Tiara sudah menganggap bu Mey sebagai ibu nya sendiri.

“Sayang, terkadang harus ada yang dikorbankan dalam hidup ini. Salah satunya kepercayaan. Jadi lain kali, jangan terlalu percaya dengan orang lain. Ok?” Ucap bu Mey sambil mengelus kepala Tiara.

“Kalian ngga mikirin Eric. Dia udah mbantu kalian. Ngasih kalian tempat disini, dan kalian seenaknya mengkhianatinya? Dasar bajingan!” Seorang bapak-bapak ikut angkat bicara.

“Eric? Orang tua bangka itu tau apa? Umurnya sudah cukup untuk dikuburkan. Harusnya ia tak pergi sejauh ini.” Pak Haris lagi-lagi membuat seisi gerbong geram.

“DASAR BRENGSEK NGGA TAHU BUDI!” El meneriaki mereka berdua.

BUG!

“BACOT! HARUSNYA LU BERSYUKUR GUA ANGKUT HARI ITU. MASIH MENDING NGGA GUA MATIIN LU!” Pak Haris mendaratkan sebuah pukulan keras ke wajah El. Membuat bagian pipi kanan El lebam seketika.

“Daripada banyak bicara, mari kami perkenalkan anggota lainnya. Rico, silahkan masuk!” Bu Mey memperkenalkan Rico sebagai anggota lainnya. Raut wajahnya masih sama. Diamnya pun juga.

“Lalu ada masinis kita tercinta, pak Mukhlis. Pak Mukhlis, silahkan masuk!” Giliran pa Haris yang mempersilahkan pak Mukhlis masuk. Pria kurus itu masuk dari arah kereta dengan raut wajah tak kalah menjengkelkannya.

“Mohon maaf penumpang sekalian, sepertinya saya tidak bisa menemani kalian sampai akhir perjalanan.” Pak Mukhlis tersenyum sambil memandangi satu per satu penyintas lainnya. Ia  memandangi setiap mata dari penumpang terakhir yang ia khianati. Sebuah akhir karir yang tak pernah ada yang menduga.

“Sebentar lagi kami akan berhenti di stasiun kota. Untuk itu, kalian jangan meninggalkan tempat duduk dan nikmati saat-saat terakhir kalian sebagai manusia. Setidaknya, kalian tidak berubah menjadi mayat hidup. Hahahaha.” Tawa diujung ucapannya membuat siapapun yang mendengarnya ingin mendaratkan pukulan di wajah pak Haris.

“Pak Mukhlis, silahkan perlambat keretanya, lalu percepat lagi ketika kita sudah turun.” Perintah pak Haris pada pak Mukhlis.

“Siap, komandan.” Pak Mukhlis memberi hormat pada Pak Haris seakan-akan ia komandan yang baru di kereta ini.

“Bu Mey, tolong cari pak tua itu. Aku ingin ia mati bersama para penyintasnya yang ia cinta ini. Aku yakin dia ada di gerbong belakang.” Kini giliran bu Mey yang mendapatkan perintah dari pak Haris.

   El masih tak percaya akan apa yang terjadi. Tatapannya terhadap pak Haris penuh amarah. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa orang yang berkhianat ialah orang yang menolongnya. Melihat tatapan El, pak Haris mendekati El dan berlutut seraya berbicara.

“Saya tau kamu kecewa sama saya, tapi perlu kamu tau bahwa kekecewaan saya lebih besar ke pak Eric. Kamu hanya ngga tahu ceritanya saja.” Pak Haris menjawab dengan tenang.

“Kalau pun aku tau ceritanya, aku tetap menganggap ini pengkhianatan.” Balas El ketus.

“Kamu mau cerita? Ok, akan saya ceritakan semua. 2 hari sebelum saya menemukan kamu, kami mendapatkan kabar dari kota bahwa ada penawar disana. Yang memberi tahu kami adalah pihak militer kenalan pak Eric. Ketika kabar itu datang, ia sangat berambisi untuk pergi ke kota dengan membawa banyak persenjataan. Akhirnya, ia memerintahkan para pria untuk pergi kerumahnya hanya untuk mengambil senjata yang tidak akan kita pakai semua.”

“Banyak dari kami gugur, tanpa upah, tanpa belas kasih, mati sia-sia. Kau bisa tanya beberapa penyintas lain. Ia merasa superior. Ia merasa pangkat yang ia miliki cukup untuk memerintah kita semua.” Pak Haris berhenti sejenak.

“Tadi malam, kami mendapat kabar bahwa lab yang menampung penawarnya telah hancur. Terjadi kekacauan besar. Kami berusaha meyakinkan pak Haris untuk berhenti di kota terdekat. Namun, ia terlanjur jatuh cinta dengan kekuasaan dan kalian. Ia tetap ingin ke kota. Agar ia tidak ada lagi yang tersiksa karena ulahnya, lebih baik ia mati bersama apa yang selama ini ia dambakan.” Pungkas pak Haris di akhir. Wajahnya, setiap kata yang keluar dari mulutnya, tatapan matanya, semua menggambarkan betapa kecewanya ia terhadap pak Eric.

“Ris, gawat!” Bu Mey kembali dengan wajah kebingungan.

“Kanapa?” 

“Pak tua itu ngga ada di setiap gerbong.”

“Sialan. Cari dia sampai ketemu.” Pak Haris berdiri dari berlututnya. Ia masih memburu pak tua itu.

   Tak lama mereka melewati stasiun kota. Tempat seharusnya mereka berhenti. Tapi mereka tidak melambat apalagi berhenti.

“Ini kenapa lagi kok ngga berhenti. PAK MUKHLIS!” belum selesai satu masalah, masalah lainnya muncul. Kereta yang harusnya sudah sampai tujuan tak kunjung berhenti. Semua rencannya kacau seketika.

   Tak berselang lama, pak Mukhlis masuk dari arah kereta. Kini ia bersama seseorang yang menodongkan pistol di belakang kepalanya. Siapa lagi kalau bukan pak Eric. Pak Mukhlis yang disandera oleh pak Eric hanya bisa pasrah.

“Sudahi semua sandiwara ini Haris.” Pak Eric menatap pak Haris penuh kekecewaan.

“Ngga. Semua sudah terlambat. Anda yang menciptakan ini semua.” Pak Haris membalas dengan menodongkan pistol ke arah pak Eric.

“Semua sia-sia. Belum ada kata terlambat.” Pak Eric kembali meyakinkan pak Haris.

“NGGA! HATIKU SUDAH CUKUP TERLUKA.” Pak Haris mulai kehilangan kendali.

   Dari arah berlawanan, Rico mencuri senjata dari bu Mey dan menodongkannya. Sontak hal itu mengejutkan pak Haris dan bu Mey.

“Kamu?” Bu Mey kebingungan senjatanya direbut dengan mudah oleh Rico.

“Ya, aku diperintahkan oleh pak Eric. Memang kenapa?” Rico menjawab santai dengan raut wajah yang masih datar.

    Pak Haris tertawa terbahak-bahak. Membuat suasana gerbong hening seketika. Menimbulkan berbagai kebingungan disetiap kepala yang ada disana.

“KALIAN SEMUA SAMPAH! SAMPAH! DUNIA INI HANYA AKAN JADI TEMPAT PEMBUANGAN. DAN KALIAN SAMPAHNYA!” kini Pak Haris berubah menjadi marah. Kondisi mentalnya nampak jelass tidak stabil.

“Aku berharap kalian bertahan di neraka ini. Selamat menikmati akhir dunia. Semoga beruntung.”

Pak haris mengarahkan pistolnya ke pelipisnya. Lalu...

DOR!

   Pak Haris bunuh diri. Didepan seluruh orang yang ada di dalam gerbong, ia menembak sendiri kepalanya. Semua terkesima. Diam tanpa kata, meninggalkan beribu tanda tanya. Apa yang barusan terjadi? Mengapa begitu cepat? Ada apa?

“Ngga ada waktu lagi. Pak Mukhlis, cepat berhentikan kereta ini.” Perintah pak Eric yangtidak mau membuang waktu.

“Mohon maaf pak. Saya tidak mau. Semua yang pak Haris katakan pada saya cukup benar. Lebih baik kita mati bersama sekarang. Lagi pula, menurut perhitungan saya, kita akan menabrak beberapa menit lagi. Jadi mari menanti kematian itu bersama-sama.” Pak Mukhlis kokoh dengan pendiriannya. Ucapannya sudah sama persisi seperti pak Haris. Ucapan seorang pengkhianat yang putus asa.

   Semuanya terjadi begitu cepat. Mereka tak tahu lagi selamat atau tidak. Keadaan menjadi begitu menegangkan ketika kau tau kematian ada di depan matamu. Sangat dekat, bahkan aliran darahmu sudah siap berhenti mengalir dan jantungmu sudah siap berhenti berdetak. Ketika kematian berjarak beberapa ratus meter lagi dan akan ada banyak nyawa yang dikorbankan, di situlah secercah harapan datang.

“Siapa bisa pak!” El memecah ketegangan di dalam gerbong.

   Semua mata menatap pada El, tak terkecuali pak Mukhlis yang baru sadar ia baru saja mengajari El bagaimana kereta ini beroperasi.

“Saya bisa berhentiin kereta ini. Cepat pak sebelum terlambat.” El kembali meyakinkan se isi gerbong.

“NGGA! NGGA ADA YANG BOLEH MENINGGALKAN KERETA!” Bu Mey menodongkan pistol dari pinggangnya ke El.

“Tembak. Ibu ngga bisa membiarkan pak Haris mati kan? Ibu jatuh cinta kan? Kalian jatuh cinta. Tatapan kalian tak seperti orang pada biasanya. Saya rasa pak Haris jatuh cinta pada wanita yang salah. Ia tak seharusnya jatuh cinta pada ibu-ibu dapur yang harusnya menjadi santapan nikmat para mayat diluar sana.” Dengan tenang El menanggapi todongan M4 di dahinya. Provokasinya membuat bu Mey diam saja.

“Cinta ibu ngga berbalas. Buktinya dia meninggalkan ibu dengan sepucuk pistol yang pelatuknya tak bisa kau tarik. Matinya sia-sia. Kasihan.” El meneruskan provokasinya.

“DIAM!” Bu Mey kehilangan kesabarannya.

   Mendengar itu, sontak bu Mey menyergap El dari belakang, mengunci leher El layaknya pertandingan gulat bebas. El dengan kaki dan tangan yang masih terikat tak bisa berbuat banyak. Ia kesulitan bernafas karena lehernya tercekik kuat oleh bu Mey.

   Semua yang melihat itu tak bisa berbuat apa-apa. Rico, yang memang berkomplotan dengan pak Eric berusaha melepaskan kuncian bu Mey, tapi tenaga bu Mey terlalu kuat untuk Rey seorang. Wajah El sudah nampak berubah, nafasnya semakin jarang. Ketika berada di ujung kematian, El menyikut dada bu Mey lalu menghantamnya dengan bogem keras tepat di hidungnya. Membuat bu Mey mundur beberapa langkah.

    El berdiri dengan nafas masih terengah-engah dengan memegang pisau di tangan kanannya. Tak ada yang menduga, ternyata El sengaja memprovokasi bu Mey untuk merebut pisau itu dari pinggang bu Mey. Meskipun ia tahu taruhannya adalah nyawa.

“Cepat El, ngga ada waktu lagi.” Tiara mengingatkan El akan tabrakan yang sebentar lagi terjadi.

   Bu Mey tak tinggal diam. Ia berusaha mengejar El, namun, kini giliran Rico yang menahannya sekuat tenaga. Melawan bu Mey yang berbadan lebih besar darinya.

“Cepat El.” Kata-kata pertama Rico kepada El.

El yang tidak punya banyak waktu segera memberikan pisau pada Tiara dan berlari ke arah depan. Sudah tidak ada lagi halangan. Pak Eric menahan pak Mukhlis, Rico menahan bu Mey, dan pak Haris sudah terkapar tak berdaya di lantai gerbong. Kini El berlomba dengan waktu.

   Ketika sudah sampai di ruang kendali utama, El melihat ke arah depan beberapa saat. Terlihat ujung dari rel yang siap ditabrak oleh kereta yang sedang mereka tumpangi. Disaat itu El langsung menarik penuh tuas rem tersebut, membuat siapa saja yang berada di dalam kereta terpental ke arah depan. Kereta itu pun tak langsung berhenti. Terjadi gesekan hebat antara rel dan roda kereta.

CIIIITT!

Akhirnya kereta itu berhenti setelah berdecit cukup kencang. El memeriksa ke arah depan. Jarak kereta dengan pembatas rel hanya berkisar 5 meter. El Nyaris mati. Nyaris mati lagi.


CATATAN 10: “AKU MASIH HIDUP!

   El disambut tepuk tangan dan sorakan dari seisi gerbong ketika kembali ke gerbong. Semua menyorakinya bagai pahlawan, kecuali bu Mey dan pak Mukhlis tentunya. Tiara yang sedang melepaskan beberapa ikatan penumpang lain ikut larut dalm uforia tersebut. Tiara pun tak sungkan memberikan pelukan hangat pada El  ketika menghampirinya.

“Harusnya aku ngga ngajari anak sialan ini gimana caranya narik rem kereta.” Gerutu pak Mukhlis.

“Bukan. Seharusnya anda ngga ikut memberontak. Tapi syukurlah, kalau kala itu bapak tidak mengajari saya cara menarik rem, mungkin beberapa menit yang lalu kita sudah tewas.” Balas El ketika mendengar gerututan pak Mukhlis.

   Kini giliran pak Mukhlis dan bu Mey yang diikat. Nasib mereka berdua masih bisa ditentukan nanti karena masih ada nasib lainnya yang harus diperjuangkan.

   Mereka kini berada di pinggiran ibu kota. Sedikit terlalu jauh dari stasiun ibu kota. Kini mereka punya 2 pilihan. Tetap tinggal, atau meneruskan perjalanan. Diskusi besar pun dilakukan guna mencapai keputusan bagi mereka semua.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini? Ada pendapat?” Pak Eric memulai pembicaraan.

“Kita bisa tinggal disini saja. Tempat berlindung kita aman dari mayat-mayat itu. Lagi pula masih ada persediaan makanan dan persenjataan disini.” Seorang pria separuh baya memberikan sarannya.

“Tinggal? Kita sudah terlalu jauh pak untuk tetap tinggal. Sedangkan penawar dan tempat yang lebih aman sudah berada di depan sana.” Tiara menyanggah pendapat tersebut.

“Kamu ngga ingat apa yang dikatakan Haris tadi? Tempat itu sudah hancur. Sedangkan kita tidak tau pasti ada apa disana. Lebih baik tidak mengorbankan lebih banyak nyawa lagi.” Seorang ibu-ibu membela argumen pria tersebut.

“Tapi kalau kita tinggal disini, kita tidak tau akan apa yang terjadi. Kita berada di tengah-tengah ketidak pastian. Kita juga ngga tahu bisa bertahan berapa lama.” Kini giliran El yang membela Tiara.

   Di tengah-tengah keriuhan, di saat semua saling berpendapat dan memberikan solusi terbaik bagi mereka semua, pak Eric mulai membeberkan fakta.

“Apa yang dikatakan Haris benar. Lab yang akan kita tuju telah hancur.” Pak Eric memulai pembicaraan dengan tertunduk lesu. Seketika hening. Semua mata tertuju pada pak Eric. Ia tak kuasa melihat setiap mata para penyintas lainnya.

“Pada mulanya semua ini tidak akan terjadi jika aku tak menerima pesan itu.” Pak Eric sperti menimang-nimang kata yang akan ia lontarkan.

“Pada mulanya, semua memang sebuah harapan. Seorang kawan lama yang kini menjadi jendral meminta bantuan pada ku hari itu, karena pasokan senjata terdekat ada di rumahku. Ia berembel-embel keselamatan untuk kita semua. Oleh karena itu aku berani mengerahkan semuanya. Kalau kalian berfikir aku tidak merasa bersalah, ketahuilah, mungkin seharusnya yang mati sekarang aku, bukan Haris.” Jelasnya sambil melihat mayat pak Haris.

“Kemudian datang sebuah kabar di radio kami. Mereka bukan meminta pasokan senjata. Lebih tepatnya mereka membutuhkan bala bantuan untuk bisa keluar dari lab itu. Lab itu sudah hampir hancur dari awal mereka menghubungiku.” Lanjut pak Eric.

“Tunggu sebentar, anda dapat dari mana kabar tersebut?” potong El.

“Dari kabar yang aku terima di radio. Kebetulan aku merekamnya. Oh iya, dia juga menyebut namamu.” Pak Eric menyerahkan sebuah radio berisi rekaman yang siap diputar.

   El kebingungan sejenak. Ia masih tak penasaran dengan isi rekaman itu. Ia hanya penasaran mengapa seseorang menyebut namanya.

“Pada saat kekacauan terjadi, kondisi di kota masih belum separah kota kita. Namun, pihak militer sudah menyadari akan hal itu. Oleh karena itu mereka menculik beberapa orang dari kalangan dokter dan ilmuwan untuk menyelidiki kasus ini di lab yang mereka jamin aman. Tapi faktanya di lapangan, penyakit itu bocor dan membuat sebagian besar dari mereka terinfeksi. Sebagian keluar menyerang kota, sebagian tertahan di dalam dan bermain petak umpet dengan yang hidup. Setidaknya kabar itu yang aku dapat.” Penjelasan pak Eric berakhir. Kini semuanya jelas. Dan mereka terlanjur sampai disini dengan kebingungan.

“Untuk malam ini, sebaiknya kita tetap tinggal. Terlalu petang untuk mencari tempat berlindung di daerah yang kita sendiri tidak hafal.” Rico yang diam dari tadi ikut menyuarakan pendapatnya. 

   El menyendiri di kereta utama, tempat pertama kali ia bertemu pak Mukhlis. Ia merenungkan semua yang terjadi beberapa hari terakhir. Kejadian-kejadian tak terduga yang terjadi di hidup El terjadi begitu saja. Tanpa peringatan, tanpa aba-aba. Ia menatap langit malam yang cerah. Bintang-bintang bertaburan, bulan pun ikut menampakkan diri. Tiba-tiba El teringat rekaman yang tadi pak Eric berikan. Ia pun menekan tombol play.

Untuk siapapun yang mendapatkan kabar ini. Tolong kami! Kami ilmuwan dan petugas medis yang tersisa di lab L. Semua orang telah terinfeksi. Kami tertahan di lantai 4 ruang 5. Kami masih punya persediaan makanan. Untuk siapapun yang bertemu bocah bernama El, katakan padanya aku masih hidup.”

   Rekaman selesai. Menyisakan El yang ternganga tak percaya. Ia tak percaya suara yang ia dengar. Itu suara Zahwan. Suara yang ia kira sudah lama mati. Suara yang masih hidup. El tak pernah sesenang ini dalam hidupnya. Ia segera kembali dan memberi tahu Tiara.

“Ra, gue harus berangkat.” El tak berkata banyak. Singkat sambil mengemasi barang-barangnya.

“Ha? Kemana?” Tiara yang akan bersiap tidur terjaga kembali.

“Ke lab L. Zahwan masih hidup.” El sudah sangat siap dengan barang bawaannya.

“El, sekarang jam 11 malam.”

“Ngga, aku ngga mau terlambat.”

“Kalau begitu aku ikut.”

   Tiara ikut mempersiapkan barang-barangnya. Pak Eric yang melihatnya tak melarang mereka. Ia tahu bahwa seseorang yang ada direkaman itu sangat berarti bagi El.

“Kalau kalian pergi, kami masih ada disini.” Pesan pak Eric.

“Kami akan kembali pak. Kami tau harus kemana.” El berpamitan dengan pak Eric.

“Aku ikut.” Rico, ternyata juga sudah siap dengan barang bawaannya. Mereka bertiga sudah siap berangkat menuju lab L. Awal dari ini semua mulai.


 


CATATAN 11: TARZAN KOTA

“Saya sarankan jangan berangkat sekarang. Kita masih belum tau medan yang akan kita hadapi.” Pak Eric memberi saran pada 3 anak muda yang sudah siap berangkat.

   Mereka bertiga terdiam. Mereka tau kalau perjalanan itu merupakan perjalanan yang berbahaya. Mengabaikan sesuatu sekecil apapun bisa berakibat fatal. Tapi Zahwan, berapa lama lagi ia bisa bertahan?

“Lebih baik kalian istirahat sambil memikirkan berbagai hal yang lain. Cek kembali perlengkapan kalian. Jangan terburu-buru.” Pak Eric pun berlalu meninggalkan mereka bertiga.

“Yang dikatakan pak Eric ada benarnya El. Lebih baik kita berangkat setelah fajar terbit.” Rico menambahkan pesan dari pak Eric.

    El dan Tiara tak bisa berbuat banyak. Yang dikatakan pak Eric ada benarnya. Mereka tidak mau mati di pertengahan jalan. Tapi disisi lain, mereka tidak mau perjalanan tersebut sia-sia karena terlambat berangkat.

   Jam tangan El menunjukkan pukul 2 pagi. Ia kembali menyendiri. Kini ia memanjat tangga di samping gerbong dan menyendiri di atas gerbong kereta. Menatap langit malam seperti yang ia lakukan ketika menemukan bahwa Zahwan masih hidup. Rekaman yang berada di tangannya ia ulang berkali-kali. Mendengarkan suara Zahwan membuat El ingin segera bertemunya. Dan seperti biasa, El menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Dear death,

Tiara bilang ini hari yang aneh. Setelah kupikir-pikir, apa yang dikatakan Tiara ada benarnya. Dalam sehari aku melihat pengkhianatan, aku melihat seorang bunuh diri, aku tercekik hingga kesulitan bernafas demi sebilah pisau, menarik rem kereta, hingga menemukan bahwa sahabat lamaku masih hidup. Aneh.

Kira-kira keanehan apalagi yang akan ku temui besok?

Mari kita lihat saja


 

El.”

   El, Tiara, dan Rico kembali memeriksa barang bawaan mereka. Memastikan kembali tidak ada keperluan yang tertinggal. Tak lupa barang bawaan dan senjata mereka bawa. Rico membawa senjata jenis SMG yang tidak terlalu berat. El membawa dual pistols yang memudahkannya ketika bergerak. Tak lupa Tiara dengan senapannya yang sudah diberi peredam dan teropong yang berjarak lebih jauh.

Kabar tentang Zahwan juga sudah tersebar ke seluruh penghuni kereta. Mereka pun tak menghalangi ketiga anak muda itu untuk menjemput teman mereka. Mereka semua bersama-sama keluar kereta untuk berpamitan dengan ketiga anak muda ini.

“Kamu sudah sejauh ini El. Sudah saatnya kamu punya tujuan baru. Bawa temanmu kembali dengan selamat kemari. Kami akan tetap berada disini.” Pak Eric memberikan pesan terakhirnya sambil memegang bahu El.

“Saya janji pak membawa Zahwan kemari.” El membalasnya dengan sebuah janji.

    Seorang anak kecil yang juga penyintas di kereta tersebut mendekati Tiara. Tiara yang menyadarinya membungkuk agar sejajar dengan anak tersebut.

“Kak Tiara mau kemana?” Kata anak itu polos sambil menggenggam boneka Teddy bear warna pink pudar.

“Kakak mau njemput temen kakak. Ngga lama kok. Kalau udah ketemu kakak pasti kembali. Ok?” Tiara menjelaskan seadanya sambil tersenyum.

“Janji ya?” Anak itu mengulurkan jari kelingkingnya tanda meminta perjanjian pada Tiara. Tiara pun membalas dengan jari kelingkingnya.

   Mereka bertiga mulai berjalan. Rico bertugas sebagai pemandu jalan, Tiara berda di tengah sebagai pengawas, dan El di belakang sebagi pelindung daerah belakang. Berlahan, mereka meninggalkan para penyintas lainnya. Meninggalkan mereka dengan koloni kereta mereka. Tapi mereka berjanji untuk kembali. Berjanji untuk berkumpul lagi.

   Kini mereka memasuki daerah perumahan cluster menengah kebawah. Perumahan itu diisi rumah-rumah yang berbentuk sama dengan hiasan-hiasan ala perumahan pada umumnya. Mobil-mobil diparkirkan di depan tiap rumah oleh pemiliknya. Yang sama adalah kondisi dan suasananya. Sepi, hening, dan mencekam.

“Gue ngga mau lari-larian lagi. Gue capek El kejar-kejaran terus.” Keluh Tiara.

“Tenang, kita ngga akan ketemu mereka. Lebih tepatnya kita ngga akan kejar-kejaran dengan mereka.” Jawab Rico dengan tenang.

“Kok bisa?” El dan Tiara bertanya berbarengan.

   Rico menunjuk ke arah kanan mereka. Terlihat gedung yang tampak terbengkalai dengan warna putih yang memudar. Terlihat logo “LAB-L” berada di puncak gedung. Sebuah gedung yang menjadi tujuan mereka.

“Kita akan lewat taman kota dibelakang perumahan ini. Jalannya berada di ujung jalan di depan sana. Harusnya kita sudah bisa sampai sebelum petang.”  Rico menjelaskan.

“Kalau begitu, kita percepat perjalanan kita. Kita ngga tahu berapa lama kita di Lab L.” Pungkas Tiara pada kedua temannya.

   Mereka terus berjalan menuju pertigaan di ujung jalan yang mereka lalui. Kejanggalan mulai mereka temukan ketika beberapa rumah didekat ujung jalan tersebut rusak parah. Beberapa mobil juga tampak seperti tertimpa benda berat, padahal tidak ada apa-apa diatasnya. Dan puncaknya ialah ketika mereka menemukan tembok kosong bertuliskan “KEMBALI”. Tulisan itu dibuat dengan cat kaleng berwarna merah menyala.

“Perasaan gue ngga enak.” Ucap El.

   Rico dan Tiara diam saja sambil memperhatikan sekeliling. Semua semakin tampak tidak normal. Ketakutan mulai menyeruak kesekujur tubuh mereka. Ini sebuah pertanda yang buruk. Lebih buruk lagi karena mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi.

“Ngga ada pilihan lagi El. Maju atau kembali.” Rico menegaskan kembali inti utama perjalanan mereka.

   Tanpa sepatah kata pun, El memasuki area taman kota yang terhalang tembok tadi, disusul Tiara dan Rico. Suasana taman kota tampak mirip dengan hutan. Pohon-pohon tinggi menjulang, lampu-lampu taman yang mati, beberapa bangkai yang bergeletakan, dan tanaman-tanaman hias yang nampak rusak. Sebuah pemandangan yang normal nan mengerikan. Bayangkan saja, bulu kuduk kalian berdiri di kala belum sampai waktu tengah hari. Masih terlalu dini untuk ketakutan.

   Mereka terus berjalan masuk. Tujuan mereka masih sekitar 2 KM lagi. Itupun kalau tidak ada halangan apapun. Belum lagi mereka belum beristirahat dan  mengisi perut. Tiba-tiba El menoleh pada dua temannya sambil berkata.

Guys, gue pingin kencing nih.” El tersenyum kecil.

“Ngga habis pikir gue, cepetan! Agak jauhan sana!” Tiara kesal dengan senyuman El. Terpaksa mereka berhenti dan berpisah dengan El yang mencari pohon agak jauh.

   El pun berlarian kecil mencari pohon yang cukup jauh. Sedangkan Tiara dan Rico berhenti sejenak sambil mengobrol santai.

“Lu belum pernah cerita lu siapa.” Tiara memulai percakapan mereka.

“Siapa juga yang peduli sama gue.”

“Gue.” Tiara menunjuk dirinya sendiri.

“Beneran.”

“Yaiyalah. Cepetan.”

“Ok, jadi gue pembantunya pak Eric. Gue ikut beliau semenjak gue masih bocah. Gue diangkat beliau pembantu di rumahnya bareng seorang asisten dan seorang sopir.” Ungkap Rico. Itulah mengapa ia tak ikut berkhianat, ia setia pada tuannya.

“Pada saat kekacauan itu terjadi, gue ada berlindung di basement rumah pak Eric bareng pak Eric dengan segala persenjataannya. Sialnya, pembantu masih belanja di pasar dianter pak sopir. Yaudah deh, kita bertahan disana selama beberapa hari. Tanpa tahu apa yang terjadi. Keluar-keluar, semua udah jadi begini.” Pungkas Rico.

“Terus, soal pemberontakan itu, gimana ceritanya loe bisa diajak mereka?” Tiara masih kepo dengan hal itu.

“Gini, pak Eric itu orang yang teramat terlatih dan strategis. Ketika beliau cek cok sama si Haris, ia ngasih tau ke gue kalau sampai gue diajak kerja sama, gue disuruh ikut sambil nyari informasi yang sekiranya dibutuhkan. Akhirnya gue dapet tuh info kalau mereka pake gas tidur, pak Mukhlis juga diajak dan berhenti di stasiun kota. Mulai dari situ, pak Eric yang nyusun rencana sampai jadi. Gitu.” Rico kembali menjelaskan semuanya. Kini semua jelas bagi Tiara.

   Di tempat yang berbeda, El sedang mencari pohon yang pas. Ketika sudah cukup jauh dari kedua temannya, ia mulai buang hajat dan menikmatinya.

“Aaaaahhh.....enak banget.” El menikmati buang hajatnya.

   Namun tak berselang lama, setelah selesai menunaikan keinginannya, El merasakan gempa kecil yang berasal dari arah belakang. Perlahan ia menoleh. Betapa terkejutnya ia melihat seorang Bondem berjalan menuju ke arahnya. Badannya tiga kali lebih besar ketimbang orang dewasa. El yang langsung pucat pasi berlari ketakutan kembali ke tempat Rico dan Tiara. Dari kejauhan ketika ia melihat kedua temannya, ia berteriak sekuat mungkin.

“BONDEEEMM!” El mencoba memperingati teman-temannya.

Tiara yang keheranan melihat El meneriakinya balik.

“APAA?”

“BONDEEMMM!” Sekali lagi El berteriak.

   Seketika Tiara dan Rico menyadari ada Bondem yang mengejar El dari belakang. Sontak mereka memasang ancang-ancang menembak. Rico dengan SMG-nya dan Tiara dengan senapannya. Mereka sangat siap.

“AAAAAUO....UO...UOOOO”

   Terdengar teriakan nyaring tak berasal. Beberapa phon bergoyang, dan terlihat sekelebat bayangan melompat-lompat dari pohon ke pohon. Mereka semua yang terkesima pun mencari sumber suara tersebut. Bondem yang dikiranya hanya peduli dengan daging segar pun ikut terdiam.

   Tiba-tiba, dari atas pohon, sebuah tendangan mendarat di kepala Bondem tersebut. Tak langsung tersungkur, pria yang menendang wajahnya langsung menebas leher sang Bondem dengan parang yang ia selipkan dipunggungnya. Menyebabkan Bondem itu tumbang seketika.

   Pria itu pun menoleh ke mereka bertiga. Ia menatap satu persatu dari mereka. Ia pun bertanya.

“Mau coklat?” sambil tersenyum ramah.





 


CATATAN 12: ORANG MATI TIDAK MENDENGARKAN PIRINGAN HITAM

   Mereka mengikuti “Tarzan” tersebut dari belakang. Mereka bertiga tidak berani bertanya sepatah kata pun, masih terlalu canggung. Lagipula, mana ada orang yang hidup sendiri di tengah taman kota ini. Sebuah tempat persembunyian yang sangat tidak lazim. Apalagi terdapat bondem yang baru saja ia bunuh.

   Mereka terus berjalan menuju ke tengah taman yang mana terdapat pohon beringin tua berukuran  besar menjulang. Apa mungkin Tarzan ini tinggal disitu? Apa dia makhluk jadi-jadian? Tapi mana ada makhluk jadi-jadian menawarkan coklat di siang menjelang sore ini. Pertanyaan-pertanyaan absurd terlintas dipikiran mereka bertiga.

“Kalau kalian mau pakai kamar mandi, kamar mandinya bisa pakai ponten yang ada di belakang sana. Tapi kalau rumah, silahkan naik.” Tarzan itu memperkenalkan tempatnya.

   Mereka bertiga pun menoleh keatas. Betapa terkejutnya mereka terdapat rumah pohon yang cukup besar diatas sana. Batang pohonnya dipasangi tangga yang membantu mereka mencapai puncak.

“Ayo, tak perlu malu-malu.”

    Satu per satu dari mereka pun naik keatas. Mereka kembali dikejutkan dengan interior di rumah pohon tersebut. Semua tampak tertata rapi, bersih, dan terlebih lagi tempat itu luas. jika mereka berempat tinggal disitu pun, masih ada tempat sisa untuk orang lain. Sebuah keanehan yang terjadi di saat seperti ini.

“Kalian mau coklat panas atau teh hangat saja?” Tarzan itu menawarkan pada mereka.

“Teh hangat saja.” El mewakili teman-temannya.

“Ok.” Balas si Tarzan sambil mengacungkan jari jempolnya.

   Mereka bertiga duduk di tengah ruangan yang berisi beberapa bantal dan kursi kayu buatan Tarzan sendiri. Mereka berbisik-bisik ketika sang Tarzan menyiapkan mereka teh.

“El, lu yakin kita mau disini lama-lama? Gue ngga mau kejadian pak Haris terulang.” Tiara memperingatkan El terlebih dahulu.

“Iya, gue tahu, masalahnya, ni orang kayaknya tau medan daerah sini. Salah satu ide bagus kalo kita ngajak orang ini.” El sedikit tidak sependapat dengan Tiara.

“El ada benernya. Gue cuman tau beberapa tempat disini. Gue ngga tahu ada apa aja diluar sana.” Rico malah setuju dengan El.

“Sakit lo berdua ye.” Tiara yang kalah suara terpaksa mengikuti keinginan mereka.

   Tak berselang lama, Tarzan itu kembali dengan membawa 3 buah gelas berisi coklat panas. Mereka bertiga hanya mampu menatap gelas-gelas berisi coklat itu.

“Maaf ya, adanya coklat, silahkan diminum.” Sang Tarzan mempersilahkan.

   Dengan setengah hati, mereka mengambil gelas masing-masing dan meminumnya.

“Jadi, kalian mau kabur kemana?” Sang Tarzan memulai pembicaraan.

“Oh ngga kok, kita cuman mau nyari teman kita aja.”  El menjawab.

“Dimana?”

“Dia kerja di lab L. Seberang jalan sana.” El menunjuk ke arah lab L.

“Boleh ikut ngga saya? Soalnya saya juga penasaran di dalam sana ada apa.” Tarzan ini tampak bersemangat.

   El melirik Tiara yang menggelengkan kepalanya perlahan tanda tak setuju.

“Eh, sebelumnya nama bapak siapa ya?” El emngalihkan pembicaraan.

“Oh iya, belum perkenalan ya. Saya Suep.” Akhirnya Tarzan ini memberi tahu namanya.

“Saya El pak. Ini Tiara dan Rico.” El memperkenalkan kedua temannya.

“Oh gitu. Saya kira kalian penghuni perumahan belakang mau kabur lewat sini. Soalnya sebagian besar dari mereka gagal.”

“Gagal gimana?” Tiara bertanya.

“Ya dimakan Buto itu.” Ujar Tarzan yang menyebut Bondem sebagai Buto.

   Mereka bertiga yang ngeri langsung terdiam. Tak salah juga jika daerah belakang perumahan begitu berantakan. Bondem mungkin memaksa masuk sampai sana. Namun, hal itu tidak membuat mereka mengurungkan niat mereka.

“Mungkin kami cukup disini pak. Kami mau meneruskan perjalanan.” El mencoba berpamitan pada pak Suep.

“Mau malam begini kamu yakin mau meneruskan perjalanan? Saya sudah membunuh 3 Buto minggu ini. Kita ngga tahu ada berapa lagi di luar sana.” Pak Suep masih menaham mereka.

“Kita punya senjata kok pak, tenang aja.” Rico berusaha meyakinkan pak Suep kalau mereka bisa menjaga diri.

“Kamu kira kenapa saya pakai parang buat membunuh si Buto? Badannya terlalu tebal untuk ditembus peluru. Hanya menggunakan benda tajam dan menggorok lehernya untuk mengalahkannya.” Raut wajah pak Suep kini berubah serius. Tak ada lagi senyuman.

“Saya masih trauma sebenarnya. Karena Buto itu yang merengut nyawa anak-istri ku. Di depan mataku.” Pak Suep mulai bercerita.

“Kalian kira aku tinggal disini untuk apa, selain membantai mereka di habitat mereka langsung. Saya juga ingin menghancurkan lab L sialan itu atas kesedihan dan kesengsaraan kita semua. Dendam saya mungkin ngga akan pernah padam.” Pak Suep menatap kelangit-langit rumah pohonnya. Tatapannya kosong tanpa harapan. Berisi kenangan bersama istri dan anaknya.

   El, Tiara dan Rico yang sebelumnya menaruh curiga pada pa Suep, kini merasa iba dan bersalah. Mereka tak seharusnya berperasangka buruk pada pak Suep.

   Mereka pun berbincang panjang lebar tentang kehidupan mereka sebelum kekacauan terjadi, hingga peristiwa-peristiwa di kereta. Semua sangat bersemangat menceritakannya pada pak Suep. Mereka tak ingin pak Suep merasa sendirian. Pak Suep sendiri pun bersemangat mendengarnya. Tak terasa waktu berlalu. Kini hari sudah malam dan mereka berada di titik hening. Mereka kehabisan topik pembicaraan.

“Sekarang, daripada ngga ngapa-ngapain, siapa yang mau ndengerin piringan hitam?” Pak Suep kini berubah kembali dan menawari mereka memutar vynil koleksi beliau yang berada di sudut ruangan.

“Biar saya yang pilih pak.” Tiara ingin membalas rasa bersalahnya.

“Oke, kalau gitu saya mau ke teras dulu ya, saya mau minum dikit. Hehehe.” Pak Suep menunjukkan sebuah botol terbungkus kain.

“Saya boleh ikut pak?” Rico menawarkan dirinya untuk bergabung.

“Boleh dong. Mari.”

   Pak Suep dan Rico pun keluar menuju teras dan menikmati sisa malam. Sedangkan didalam tinggal El dan Tiara. Suasanan canggung tiba-tiba memenuhi seisi ruangan. Mereka berdua saling menatap tanpa sepatah kata keluar. Tiara yang tak mau berlama-lama pun segera memilih piringan hitam.

   Ia mendekati keranjang yang berisi beberapa vynil. Ia timang-timang mana pilihan yang bagus. Pilihan itu jatuh pada album “Everything You’ve Come To Expect” karya The Last Shadow Puppets. Tiara kemudian memasangnya pada pemutar piringan. Suaranya cukup terdengar nyaring. El yang takut hal itu akan mengundang para mayat datang memperingatkan Tiara.

“Ra, jangan kenceng-kenceng.”

“Ngga papa kok, orang mati ngga ndengerin piringan hitam.” Balas Tiara yang mendekati El seraya menjulurkan tangannya mengajak El berdansa.

   El yang terkejut hanya bisa berdiri dan mengikuti gerakan dari Tiara.

"Tell him what you want and baby he can find you

anything you need

Tell him what you're needing, hey, oh

Come on miracle aligner

Go and get 'em tiger

Get down on your knee

 Get down on your knees again oh”

Mereka berdua berdansa hingga kantuk datang dan terlelap dalam mimpi indah.


 

CATATAN 7: MENUJU KOTA

    El menatap pria yang menariknya ke atas kereta. Perawakan pria itu cukup tegap untuk ukuran orang dewasa. Usianya mungkin sekitar 40 tahun ke atas, brewok dan kumis tipis, serta potongan rambut yang klimis. Tampilan fisik yang sempurna bagi sebagian besar wanita di muka bumi.

   Belum sempat basa-basi, El dan Tiara dipersilahkan masuk ke dalam gerbong oleh pak Haris. Disana sudah ada 3 orang lain yang menunggu kedatangan mereka. Seorang ibu-ibu, seorang pria seumuran El, dan satu lagi pria yang tadi menarik El.

“Selamat datang di kereta.” Pak Haris memberikan sambutan hangat untuk mereka sambil membentangkan kedua tangannya.

“Sebelumnya, mari saya perkenalkan kalian pada beberapa orang disini. Ada Bu Meylani, beliau yang mengurus urusan dapur, lalu ada Riko, mereka seumuran dengan kalian. Tugasnya mengkoordinasi para penyintas lainnya. Dan yang terakhir ada komandan kita, Eric. Beliau seorang veteran perang yang mukanya bahkan lebih muda daripada saya. Dan kalau kalian penasaran dengan tugas saya, saya bagian ngatur senjata. Jadi saya bagian DOR. Hahahahaha.”

Penjelasan pak Haris diakhir dengan tawanya yang lebar. Dari penjelasan pak Haris, bisa dibilang mereka lah anggota utama di kereta ini. Mereka yang memegang kendali penuh atas beberapa hal yang cukup krusial.

“Sebelumnya terima kasih sudah mau menampung kami meskipun kami berasal dari luar. Perkenalkan saya El, dan di sebelah saya ada Tiara, teman saya.” El mulai memperkenalkan diri. Sedangkan Tiara hanya mengangguk ketika namanya disebut.

“Halo nak El, nak Tiara. Saya Meylina, atau gampangnya panggil aja bu Mey. Menu malam ini kebetulan sup jamur. Semoga kalian suka.” Bu Mey memperkenalkan dirinya. Beliau tampak ramah dengan celemek warna putih yang warnanya sudah memudar.

   Lalu El dan Tiara menoleh ke arah Riko. Riko hanya mengangguk ke arah mereka dengan senyum tipis. Senyum yang kurang ikhlas.

Terakhir ada pak Eric yang menghampiri mereka lebih dekat.

“Salam kenal ya, El, Tiara. Saya Eric, saya yang memutuskan semua yang terjadi di kereta ini. Setelah ini, mari saya antar kalian ke beberapa penyintas lainnya.” Pak Eric memberikan senyumnya pada El dan Tiara.

“Hah? Ada yang lain?” Tiara tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Tentu ada. Kebetulan gerbong ini adalah gerbang 4 yang kosong. Setelah ini saya jelaskan tiap gerbongnya sambil kita perjalanan. Mari.” Pak Eric memandu mereka dengan berjalan terlebih dahulu.

   El dan Tiara mengikuti pak Eric dari belakang. Mereka meninggalkan gerbong 4 dan beralih ke gerbong 3. Disini mereka melihat pemandangan yang cukup unik. Disisi kanan terdapat kompor, gas, wajan serta berbagai macam peralatan masak lainnya. Tak ketinggalan pula macam-macam bahan mentah yang akan diolah oleh bu Meylina.

  Namun, disisi kirinya terdapat berbagai macam amunisi, senjata, bahkan beberapa bahan peledak. Di gerbong inilah tempat beroperasinya pak Haris dan Bu mey. Dapur dan gudang senjata. Kombinasi yang tak mungkin ditemukan kalau bukan di akhir dunia.

“Seperti kalian lihat, disini terdapat dapur dan gudang senjata yang dijadikan satu. Dan kalian pasti bertanya mengapa tidak di gerbong 4 saja. Jawabannya adalah, karena gerbong 4 adalah gerbong dadakan yang kami persiapkan ketika kalian dikejar gerombolan Mak Lampir.” Jelas pak Eric

“Itu sebagai bentuk antisipasi kalau kita tidak mampu melindungi gerbong paling belakang. Setidaknya bukan gerbong makanan yang dirusak terlebih dahulu. Kita tidak mau penyintas lain kelaparn kan?” Tambahnya . Jawabannya cukup diplomatis. Tak heran beliau merupakan pemimpin disini.

“Mari lanjut ke gerbong selanjutnya. Disini kalian akan bertemu dengan yang lainnya.”

   Mereka memasuki gerbong 2 dimana mereka bertemu dengan beberapa penyintas lainnya. Nampak disini gerbongnya belum dimodifikasi sedemikian rupa seperti gerbong 3. Disini kursi-kursi masih menghadap ke depan dengan tiap kursi berjumlah 2. Tiap pasang kursi berada di sisi kanan dan kiri gerbong.

“Nah, disini tempat kita semua beraktifitas. Tentunya jumlah kita tidak terlalu banyak. Terbilang hanya ada sekitar 45 orang. Tidak sampai 2 gerbong penuh karena tiap gerbong hanya berisi 40kursi.  Gerbong yang penuh hanya gerbong pertama. Kalau kalian berkenan silahkan berkenalan dengan yang lainnya.”

   El dan Tiara pun mulai berkenalan dengan satu per satu penyintas lainnya di gerbong 1. Mencoba berbagi cerita, luka, dan saling menguatkan diantara mereka. Berbagai kisah unik mereka bagi di gerbong yang sama.

“Jadi gimana kakak-kakak bisa selamat dari kejaran Mak Lampir itu?” Tanya seorang gadis pada Tiara.

“Kami ketemu sama pak Haris. Untung beliau datang tepat waktu. Kalau ngga, mungkin kami udah jadi santapan para Mak Lampir itu.”

“Kalian ngga ketemu si Buto?” Tanya seorang bapak.

“Buto? Maksud bapak Bondem?” El bertanay balik.

“Ya sama aja sebenarnya. Soalnya rombongan saya ketemu si Buto. Dari 5 orang, tinggal saya sendiri.” Bapak itu melanjutkan.

“Mereka ikut terinfeksi juga pak?” seorang ibu-ibu ikut nimbrung.

“Ngga dong. Ya dimakan.” Jawab bapak itu santai.

   Di tengah-tengah berbagi kengerian itu, Bu Mey datang sambil berteriak.

“MAKAN MALAM SIAAAP!”

   El memakan sup jamurnya dengan lahap. Sudah berhari-hari dia tidak makan seenak ini. Sehari-hari ia hanya makan roti, roti, dan roti. Pak Eric yang melihatnya tersenyum lebar.

“Hati-hati makannya! Nanti tersedak, hahaha. Saya duduk sini ya” Goda pak Eric.

   El diam saja sambil membalas senyuman pak Eric yang duduk disebelahnya.

“Kalau boleh tau, darimana bapak dapat pasokan senjata sebanyak itu pak?” El memberanikan diri bertanya disela-sela makan malam mereka.

“Oh, itu. Setelah saya pensiun sebagai tentara di usia yang bisa dibilang cukup muda, 50 tahunan pada saat itu, saya selalu berjaga-jaga dalam keadaan apapun. Lalu saya membangun sebuah gudang bawah tanah dan membeli berbagai macam senjata. Dari pasar gelap tentunya.” Jelas pak Eric.

“Disaat semua mulai kacau, saya mulai membekali diri dan pergi mencari beberapa penyintas lain. Salah satunya pak Haris dan Riko. Ketika tahu bahwa ada kabar baik di ibu kota, maka saya langusng memerintahkan sebagian besar dari penyintas pria yang tersisa untuk mengambil persediaan senjata itu ke rumah saya. Sebagian gugur, sebagian selamat. Tapi, bukan kah itu biaya dari sebuah peperangan?” Pungkas pak Eric seraya melahap jamur terakhir di piringnya.

“Keluarga bapak bagaimana?” El masih meneruskan rasa penasarannya.

“Saya tidak menikah. Saya lebih suka sendiri. Lebih baik saya diberi tanggung jawab untuk angkat senjata ketimbang tanggung jawab atas hati anak orang.”  Jawab pak Eric mantap.

“Hari ini aneh banget.” Tiara memecah keheningan.

“Kenapa?” El membalas penasaran meski El tahu sebagian besar jawabannya.

   Mereka kini berada di gerbong 2. Tempat mereka terpisah dengan para penyintas yang memenuhi gerbong 1. Mereka menempati kursi yang sejajar. El di sisi kiri, Tiara di sisi kanan.

“Iyalah aneh. Shubuh tadi kita baru keluar dari gubuk ayahku. Menjelang siang, kita dikejar gerombolan Mak Lampir. terus, kita harus bergelantungan dari mobil jeep ke kereta. Malamnya, kita sudah bisa tidur lagi, tapi di dalem kereta.” Pungkas Tiara.

“Oh, iya juga sih. Kaki lu gimana?” El teringat kaki Tiara yang terkilir.

“Tadi udah diobatin sama bu Mey. Orangnya baik banget tau. Gue aja dikasih sup tambahan, padhal gue udah makan.” Tiara meneruskan ocehannya.

“Syukurlah.”

“El, gue boleh tanya ngga?” Tiara tiba-tiba menoleh ke arah El.

“Apa?”

“Lu belum pernah cerita masa lalu lu.”

“Hmm, dimulai darimana ya? Ok gue tau. Jadi gue seorang anak yang sepertinya keberadaannya tidak diinginkan orang tua gue. Gue ditemuin di sebuah kotak dipinggir jalan oleh seorang yang bisa dibilang kaya raya. Kenapa nama gue ‘El’, itu karena waktu gue ditemuin, gua make kalung huruf ‘L’, dari situ nama gue diambil.”

“Dari kecil gue ngga pernah ngerasain namanya kasih sayang. Baik dari orang tua asli maupun angkat. Jaman sekolah gue juga gitu-gitu aja. Nakal ngga, baik juga ngga. Tapi disitu gue ketemu sama Zahwan, shabat karib gue sampe sekarang. Setidaknya sampai kekacauan itu terjadi. Itu sih.” Jelas El panjang lebar.

“Trus, yang kata lu buku itu membawa luka 5 tahunlalu apa?” Tiara semakin menunjukkan rasa penasarannya.

“Kalau itu gini-“

“Bentar. Tahan. Gue mau ke toilet bentar.” Tiara kembali memotong.

   Tiara pun bergi ke toilet yang terletak di bagian belakang gerbong 3 yang langsung terhubung dengan gerbong 4. Ketika hendak memasuki toilet, samar-samar Tiara mendengar percakapan antara 2 orang dari gerbong 4.

“Semua rencananya sudah jadi?”

“Sudah. Semua sudah siap.”

“Kapan kita ambil alih kereta ini?”

“Besok.”


CATATAN 8: PARA PEROMPAK

   Tiara yang mendengar hal itu langsung bergegas kembali ke El. Perasaannya bercampur aduk antara bingung dan panik  karena ia tak tahu siapa mereka. Ia terlalu takut untuk melihat lebih jauh.

“Cepet banget dari toiletnya.” El kebingungan melihat wajah Tiara yang panik.

“Gawat El, gawat.” Tiara tetap panik.

“Iya kenapa, jelasin dulu pelan-pelan. Ada apa?”

“Jadi gue kan ke toilet, terus gue kedengeran dari arah gerbong 4 ada dua orang lagi ngobrol. Tapi mereka ngobrolin tentang ngambil alih kereta ini El.” Tiara tak mampu menjelaskan banyak hal. Ia terlalu panik untuk mencerna percakapan yang ia dengar tadi.

“Lu ngantuk kali. Gausa ngadi-ngadi deh.” El masih tidak percaya.

“El, gue masih sadar banget. Gue ngga ngigau, gue ngga ngantuk. Itu dari arah gerbong 4, El. Sekarang lu bayangin, kita ada di atas kereta dengan orang yang bahkan kita belum ketemu 1 hari. Lu ngga ada curiga-curiganya apa? Gila lu.” Emosi Tiara tidak dapat terbendung lagi. Ia ketakutan.

   El sadar bahwa Tiara tidak main-main. Ekspresi wajah, tinggi nada, dan cara bicaranya menunjukkan dia tidak berbohong. El ikut yakin meskitidak pasti.

“Mending kita bahas besok pagi. Biar ngga nimbuin kecurigaan kalo ada yang lewat.”

Tiara mengangguk tanda setuju.

    Di pagi hari, ketika semua sedang menikmati sarapan, El sedikit menjauh dari kerumunan. Tentu saja untuk berdiskusi siapa dalang dibalik percakapan yang didengar Tiara semalam. Mereka mengidentifikasi setiap orang yang mereka temui. Terutama pak Haris, pak Eric, Riko, dan Bu mey.

“Aku menaruh curiga yang besar ke pak Eric. Jawaban dia manipulatif menurutku. Membuat dia terlihat kua.” Tiara mulai memberikan pendapatnya.

“Tapi kan dia ketua disini. Mana mungkin dia mengambil alih dari dirinya sendiri.” El menyanggah. Menurutnya, opini Tiara terlalu lemah.

“Mengambil alih disini bisa jadi sepenuhnya EL.” Tiara meyakinkan ucapannya sendiri.

“Malah menurutku Riko deh. Dia pendiem banget anaknya. Ngomong sepatah kata pun ngga.” Kini giliran El yang memberikan pendapatnya.

“kalau emang gitu, pak Haris dan bu Mey juga bisa jadi manipulatif dong. Mereka bisa aja saling berkhianat satu sama lain.” Tiara kembali berteori liar tanpa dasar pikiran yang jelas.

“Tetap tenang. Kita belum kenal sama semua penghuni disini. Semua bisa jadi tersangka.” El menenangkan Tiara lagi.

“Masalahnya, suarnya datang dari gerbong 3, yang mana, disana kita hanya bertemu 4 orang tersebut. Dugaan kuat kita hanya pada mereka El.”

   Kali ini El benar-benar setuju dengan pendapat Tiara. Yang mereka temui hanya pak Haris, pak Eric, Bu mey dan Riko. Tidak ada yang lain. Atau ada yang lain yang tidak mereka tau?

“Gue butuh menjernihkan pikiran gue. Kita ngga bisa gini terus. Gue mau cabut kedepan.” El berdiri setelah makanannya selesai. Meninggalkan Tiara dengan pikiran liarnya.

   El pergi menuju kereta utama. Kereta yang membawa sampai sejauh ini. El meberanikan diri pergi kesana demi mencari udara segar. Disana ia bertemu sang masinis yang mengemudikan kereta selama ini.

“Pagi pak.”

“Eh, pagi pagi. Tumben-tumbenan ada yang datang kemari.” Sang masinis sempat gelagapan dengan kedatangan El.

“Kenalin pak saya El. Baru dateng kemaren.” El memulai percakapan.

“Saya pak Mukhlis. Salam kenal ya.” 

   Mereka pun ngobrol ngalor ngidul mulai dari kehidupan sebelum kondisi sekarang, sampai bagaimana cara mengoperasikan kereta tersebut. Sampailah meeka di pembahasan bisa masuk ke kereta tersebut.

“Jadi saya waktu itu lagi sembunyi di stasiun. Lebih tepatnya di kereta. Tiba-tiba dari arah hutan ada pak Haris yang minta tolong tempat bersembunyi. Kebetulan, persembunyian paling aman pada saat itu kereta ini karena kosong pada saat itu.”

“Dari situlah kami mulai dekat. Meskipun saya sendiri jarang ada di gerbong belakang. Saya pribadi sangat berterimakasih pada  pak Haris.” Pungkas pak Mukhlis.

“Oh, jadi gitu.”

“Kalau El sendiri gimana?” Pak Mukhlis tanya balik.

   El pun menceritakan apa saja yang ia alami di hutan. Bagaimana ia berlarian dari Mak Lampir, Tiara yang terkilir, sampai akhirnya pak Haris datang menjemput mereka.

“Kalo gitu saya mau pamit dulu pak, ada urusan dibelakang.” El berpamitan pada pak Mukhlis.

“Iya silahkan.”

   El pergi kembali ke dalam gerbong dan menyadari bahwa ada tangga darurat di sebelah pintu menuju gerbong. Sebuah fakta menarik yang dilewatkan begitu saja oleh El.

   Ketika sampai di dalam, El langsung menemui Tiara dan berharap Tiara sudah kembali tenang. Tapi tiba-tiba...

BLAR!

Pintu dari arah gerbong 2 dibanting oleh seorang yang menggunakan masker gas. Sedetik kemudian ia melempar granat gas yang memenuhi seisi gerbong. Para penyintas lain mulai terbatuk-batuk dan sesak nafas. Tak lama kemudian, semuanya gelap.

El terbangun dengan posisi tangan dan kaki terikat. Begitu pula Tiara dan penyintas lainnya. Mulut mereka pun disumpal hingga tak bisa bicara apa-apa. Tak lama, orang yang memakai topeng gas itu pun muncul. Ternyata ia tak sendiri, ada orang lainnya yang ikut memakai topeng gas. Lalu keduanya melepaskan topeng mereka. Itu pak Haris dan Bu Mey.

“Selamat siang semuanya!” Sapa pak Haris dengan senyum sinis. 


CATATAN 9: UJUNG REL

“Saya mau minta maaf atas ketidak nyamanannya para penumpang sekalian. Sesuatu yang mendesak terjadi, dan kami berdua harus mengambil tindakan untuk itu. Seperti yang kita tau, di pusat kota terdapat tempat perlindungan dan obat penyembuhnya. Namun, tadi malam kami mendengar bahwa mererka tidak dapat menerima banyak penyintas. Jadi, saya dan bu Mey memutuskan untuk meninggalkan kalian di kereta ini. Setidaknya sampai kereta ini menemukan ujung dari rel ini.” Jelas pak Haris dengan wajah yang 180 derajat berbeda dengan apa yang dilihat El.

   El tidak percaya orang yang berada di balik topeng itu pak Haris dan bu Mey. Mereka menenteng senjata laras panjang jenis M4 dan rompi anti peluru. Lengkap dengan beberapa magazine.

“Sialan kalian! Tega-teganya kalian ngelakuin ini ke kami!” Tiara geram dengan mereka berdua. Tiara tak kalah sakit hatinya dengan El. Tiara sudah menganggap bu Mey sebagai ibu nya sendiri.

“Sayang, terkadang harus ada yang dikorbankan dalam hidup ini. Salah satunya kepercayaan. Jadi lain kali, jangan terlalu percaya dengan orang lain. Ok?” Ucap bu Mey sambil mengelus kepala Tiara.

“Kalian ngga mikirin Eric. Dia udah mbantu kalian. Ngasih kalian tempat disini, dan kalian seenaknya mengkhianatinya? Dasar bajingan!” Seorang bapak-bapak ikut angkat bicara.

“Eric? Orang tua bangka itu tau apa? Umurnya sudah cukup untuk dikuburkan. Harusnya ia tak pergi sejauh ini.” Pak Haris lagi-lagi membuat seisi gerbong geram.

“DASAR BRENGSEK NGGA TAHU BUDI!” El meneriaki mereka berdua.

BUG!

“BACOT! HARUSNYA LU BERSYUKUR GUA ANGKUT HARI ITU. MASIH MENDING NGGA GUA MATIIN LU!” Pak Haris mendaratkan sebuah pukulan keras ke wajah El. Membuat bagian pipi kanan El lebam seketika.

“Daripada banyak bicara, mari kami perkenalkan anggota lainnya. Rico, silahkan masuk!” Bu Mey memperkenalkan Rico sebagai anggota lainnya. Raut wajahnya masih sama. Diamnya pun juga.

“Lalu ada masinis kita tercinta, pak Mukhlis. Pak Mukhlis, silahkan masuk!” Giliran pa Haris yang mempersilahkan pak Mukhlis masuk. Pria kurus itu masuk dari arah kereta dengan raut wajah tak kalah menjengkelkannya.

“Mohon maaf penumpang sekalian, sepertinya saya tidak bisa menemani kalian sampai akhir perjalanan.” Pak Mukhlis tersenyum sambil memandangi satu per satu penyintas lainnya. Ia  memandangi setiap mata dari penumpang terakhir yang ia khianati. Sebuah akhir karir yang tak pernah ada yang menduga.

“Sebentar lagi kami akan berhenti di stasiun kota. Untuk itu, kalian jangan meninggalkan tempat duduk dan nikmati saat-saat terakhir kalian sebagai manusia. Setidaknya, kalian tidak berubah menjadi mayat hidup. Hahahaha.” Tawa diujung ucapannya membuat siapapun yang mendengarnya ingin mendaratkan pukulan di wajah pak Haris.

“Pak Mukhlis, silahkan perlambat keretanya, lalu percepat lagi ketika kita sudah turun.” Perintah pak Haris pada pak Mukhlis.

“Siap, komandan.” Pak Mukhlis memberi hormat pada Pak Haris seakan-akan ia komandan yang baru di kereta ini.

“Bu Mey, tolong cari pak tua itu. Aku ingin ia mati bersama para penyintasnya yang ia cinta ini. Aku yakin dia ada di gerbong belakang.” Kini giliran bu Mey yang mendapatkan perintah dari pak Haris.

   El masih tak percaya akan apa yang terjadi. Tatapannya terhadap pak Haris penuh amarah. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa orang yang berkhianat ialah orang yang menolongnya. Melihat tatapan El, pak Haris mendekati El dan berlutut seraya berbicara.

“Saya tau kamu kecewa sama saya, tapi perlu kamu tau bahwa kekecewaan saya lebih besar ke pak Eric. Kamu hanya ngga tahu ceritanya saja.” Pak Haris menjawab dengan tenang.

“Kalau pun aku tau ceritanya, aku tetap menganggap ini pengkhianatan.” Balas El ketus.

“Kamu mau cerita? Ok, akan saya ceritakan semua. 2 hari sebelum saya menemukan kamu, kami mendapatkan kabar dari kota bahwa ada penawar disana. Yang memberi tahu kami adalah pihak militer kenalan pak Eric. Ketika kabar itu datang, ia sangat berambisi untuk pergi ke kota dengan membawa banyak persenjataan. Akhirnya, ia memerintahkan para pria untuk pergi kerumahnya hanya untuk mengambil senjata yang tidak akan kita pakai semua.”

“Banyak dari kami gugur, tanpa upah, tanpa belas kasih, mati sia-sia. Kau bisa tanya beberapa penyintas lain. Ia merasa superior. Ia merasa pangkat yang ia miliki cukup untuk memerintah kita semua.” Pak Haris berhenti sejenak.

“Tadi malam, kami mendapat kabar bahwa lab yang menampung penawarnya telah hancur. Terjadi kekacauan besar. Kami berusaha meyakinkan pak Haris untuk berhenti di kota terdekat. Namun, ia terlanjur jatuh cinta dengan kekuasaan dan kalian. Ia tetap ingin ke kota. Agar ia tidak ada lagi yang tersiksa karena ulahnya, lebih baik ia mati bersama apa yang selama ini ia dambakan.” Pungkas pak Haris di akhir. Wajahnya, setiap kata yang keluar dari mulutnya, tatapan matanya, semua menggambarkan betapa kecewanya ia terhadap pak Eric.

“Ris, gawat!” Bu Mey kembali dengan wajah kebingungan.

“Kanapa?” 

“Pak tua itu ngga ada di setiap gerbong.”

“Sialan. Cari dia sampai ketemu.” Pak Haris berdiri dari berlututnya. Ia masih memburu pak tua itu.

   Tak lama mereka melewati stasiun kota. Tempat seharusnya mereka berhenti. Tapi mereka tidak melambat apalagi berhenti.

“Ini kenapa lagi kok ngga berhenti. PAK MUKHLIS!” belum selesai satu masalah, masalah lainnya muncul. Kereta yang harusnya sudah sampai tujuan tak kunjung berhenti. Semua rencannya kacau seketika.

   Tak berselang lama, pak Mukhlis masuk dari arah kereta. Kini ia bersama seseorang yang menodongkan pistol di belakang kepalanya. Siapa lagi kalau bukan pak Eric. Pak Mukhlis yang disandera oleh pak Eric hanya bisa pasrah.

“Sudahi semua sandiwara ini Haris.” Pak Eric menatap pak Haris penuh kekecewaan.

“Ngga. Semua sudah terlambat. Anda yang menciptakan ini semua.” Pak Haris membalas dengan menodongkan pistol ke arah pak Eric.

“Semua sia-sia. Belum ada kata terlambat.” Pak Eric kembali meyakinkan pak Haris.

“NGGA! HATIKU SUDAH CUKUP TERLUKA.” Pak Haris mulai kehilangan kendali.

   Dari arah berlawanan, Rico mencuri senjata dari bu Mey dan menodongkannya. Sontak hal itu mengejutkan pak Haris dan bu Mey.

“Kamu?” Bu Mey kebingungan senjatanya direbut dengan mudah oleh Rico.

“Ya, aku diperintahkan oleh pak Eric. Memang kenapa?” Rico menjawab santai dengan raut wajah yang masih datar.

    Pak Haris tertawa terbahak-bahak. Membuat suasana gerbong hening seketika. Menimbulkan berbagai kebingungan disetiap kepala yang ada disana.

“KALIAN SEMUA SAMPAH! SAMPAH! DUNIA INI HANYA AKAN JADI TEMPAT PEMBUANGAN. DAN KALIAN SAMPAHNYA!” kini Pak Haris berubah menjadi marah. Kondisi mentalnya nampak jelass tidak stabil.

“Aku berharap kalian bertahan di neraka ini. Selamat menikmati akhir dunia. Semoga beruntung.”

Pak haris mengarahkan pistolnya ke pelipisnya. Lalu...

DOR!

   Pak Haris bunuh diri. Didepan seluruh orang yang ada di dalam gerbong, ia menembak sendiri kepalanya. Semua terkesima. Diam tanpa kata, meninggalkan beribu tanda tanya. Apa yang barusan terjadi? Mengapa begitu cepat? Ada apa?

“Ngga ada waktu lagi. Pak Mukhlis, cepat berhentikan kereta ini.” Perintah pak Eric yangtidak mau membuang waktu.

“Mohon maaf pak. Saya tidak mau. Semua yang pak Haris katakan pada saya cukup benar. Lebih baik kita mati bersama sekarang. Lagi pula, menurut perhitungan saya, kita akan menabrak beberapa menit lagi. Jadi mari menanti kematian itu bersama-sama.” Pak Mukhlis kokoh dengan pendiriannya. Ucapannya sudah sama persisi seperti pak Haris. Ucapan seorang pengkhianat yang putus asa.

   Semuanya terjadi begitu cepat. Mereka tak tahu lagi selamat atau tidak. Keadaan menjadi begitu menegangkan ketika kau tau kematian ada di depan matamu. Sangat dekat, bahkan aliran darahmu sudah siap berhenti mengalir dan jantungmu sudah siap berhenti berdetak. Ketika kematian berjarak beberapa ratus meter lagi dan akan ada banyak nyawa yang dikorbankan, di situlah secercah harapan datang.

“Siapa bisa pak!” El memecah ketegangan di dalam gerbong.

   Semua mata menatap pada El, tak terkecuali pak Mukhlis yang baru sadar ia baru saja mengajari El bagaimana kereta ini beroperasi.

“Saya bisa berhentiin kereta ini. Cepat pak sebelum terlambat.” El kembali meyakinkan se isi gerbong.

“NGGA! NGGA ADA YANG BOLEH MENINGGALKAN KERETA!” Bu Mey menodongkan pistol dari pinggangnya ke El.

“Tembak. Ibu ngga bisa membiarkan pak Haris mati kan? Ibu jatuh cinta kan? Kalian jatuh cinta. Tatapan kalian tak seperti orang pada biasanya. Saya rasa pak Haris jatuh cinta pada wanita yang salah. Ia tak seharusnya jatuh cinta pada ibu-ibu dapur yang harusnya menjadi santapan nikmat para mayat diluar sana.” Dengan tenang El menanggapi todongan M4 di dahinya. Provokasinya membuat bu Mey diam saja.

“Cinta ibu ngga berbalas. Buktinya dia meninggalkan ibu dengan sepucuk pistol yang pelatuknya tak bisa kau tarik. Matinya sia-sia. Kasihan.” El meneruskan provokasinya.

“DIAM!” Bu Mey kehilangan kesabarannya.

   Mendengar itu, sontak bu Mey menyergap El dari belakang, mengunci leher El layaknya pertandingan gulat bebas. El dengan kaki dan tangan yang masih terikat tak bisa berbuat banyak. Ia kesulitan bernafas karena lehernya tercekik kuat oleh bu Mey.

   Semua yang melihat itu tak bisa berbuat apa-apa. Rico, yang memang berkomplotan dengan pak Eric berusaha melepaskan kuncian bu Mey, tapi tenaga bu Mey terlalu kuat untuk Rey seorang. Wajah El sudah nampak berubah, nafasnya semakin jarang. Ketika berada di ujung kematian, El menyikut dada bu Mey lalu menghantamnya dengan bogem keras tepat di hidungnya. Membuat bu Mey mundur beberapa langkah.

    El berdiri dengan nafas masih terengah-engah dengan memegang pisau di tangan kanannya. Tak ada yang menduga, ternyata El sengaja memprovokasi bu Mey untuk merebut pisau itu dari pinggang bu Mey. Meskipun ia tahu taruhannya adalah nyawa.

“Cepat El, ngga ada waktu lagi.” Tiara mengingatkan El akan tabrakan yang sebentar lagi terjadi.

   Bu Mey tak tinggal diam. Ia berusaha mengejar El, namun, kini giliran Rico yang menahannya sekuat tenaga. Melawan bu Mey yang berbadan lebih besar darinya.

“Cepat El.” Kata-kata pertama Rico kepada El.

El yang tidak punya banyak waktu segera memberikan pisau pada Tiara dan berlari ke arah depan. Sudah tidak ada lagi halangan. Pak Eric menahan pak Mukhlis, Rico menahan bu Mey, dan pak Haris sudah terkapar tak berdaya di lantai gerbong. Kini El berlomba dengan waktu.

   Ketika sudah sampai di ruang kendali utama, El melihat ke arah depan beberapa saat. Terlihat ujung dari rel yang siap ditabrak oleh kereta yang sedang mereka tumpangi. Disaat itu El langsung menarik penuh tuas rem tersebut, membuat siapa saja yang berada di dalam kereta terpental ke arah depan. Kereta itu pun tak langsung berhenti. Terjadi gesekan hebat antara rel dan roda kereta.

CIIIITT!

Akhirnya kereta itu berhenti setelah berdecit cukup kencang. El memeriksa ke arah depan. Jarak kereta dengan pembatas rel hanya berkisar 5 meter. El Nyaris mati. Nyaris mati lagi.


CATATAN 10: “AKU MASIH HIDUP!

   El disambut tepuk tangan dan sorakan dari seisi gerbong ketika kembali ke gerbong. Semua menyorakinya bagai pahlawan, kecuali bu Mey dan pak Mukhlis tentunya. Tiara yang sedang melepaskan beberapa ikatan penumpang lain ikut larut dalm uforia tersebut. Tiara pun tak sungkan memberikan pelukan hangat pada El  ketika menghampirinya.

“Harusnya aku ngga ngajari anak sialan ini gimana caranya narik rem kereta.” Gerutu pak Mukhlis.

“Bukan. Seharusnya anda ngga ikut memberontak. Tapi syukurlah, kalau kala itu bapak tidak mengajari saya cara menarik rem, mungkin beberapa menit yang lalu kita sudah tewas.” Balas El ketika mendengar gerututan pak Mukhlis.

   Kini giliran pak Mukhlis dan bu Mey yang diikat. Nasib mereka berdua masih bisa ditentukan nanti karena masih ada nasib lainnya yang harus diperjuangkan.

   Mereka kini berada di pinggiran ibu kota. Sedikit terlalu jauh dari stasiun ibu kota. Kini mereka punya 2 pilihan. Tetap tinggal, atau meneruskan perjalanan. Diskusi besar pun dilakukan guna mencapai keputusan bagi mereka semua.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini? Ada pendapat?” Pak Eric memulai pembicaraan.

“Kita bisa tinggal disini saja. Tempat berlindung kita aman dari mayat-mayat itu. Lagi pula masih ada persediaan makanan dan persenjataan disini.” Seorang pria separuh baya memberikan sarannya.

“Tinggal? Kita sudah terlalu jauh pak untuk tetap tinggal. Sedangkan penawar dan tempat yang lebih aman sudah berada di depan sana.” Tiara menyanggah pendapat tersebut.

“Kamu ngga ingat apa yang dikatakan Haris tadi? Tempat itu sudah hancur. Sedangkan kita tidak tau pasti ada apa disana. Lebih baik tidak mengorbankan lebih banyak nyawa lagi.” Seorang ibu-ibu membela argumen pria tersebut.

“Tapi kalau kita tinggal disini, kita tidak tau akan apa yang terjadi. Kita berada di tengah-tengah ketidak pastian. Kita juga ngga tahu bisa bertahan berapa lama.” Kini giliran El yang membela Tiara.

   Di tengah-tengah keriuhan, di saat semua saling berpendapat dan memberikan solusi terbaik bagi mereka semua, pak Eric mulai membeberkan fakta.

“Apa yang dikatakan Haris benar. Lab yang akan kita tuju telah hancur.” Pak Eric memulai pembicaraan dengan tertunduk lesu. Seketika hening. Semua mata tertuju pada pak Eric. Ia tak kuasa melihat setiap mata para penyintas lainnya.

“Pada mulanya semua ini tidak akan terjadi jika aku tak menerima pesan itu.” Pak Eric sperti menimang-nimang kata yang akan ia lontarkan.

“Pada mulanya, semua memang sebuah harapan. Seorang kawan lama yang kini menjadi jendral meminta bantuan pada ku hari itu, karena pasokan senjata terdekat ada di rumahku. Ia berembel-embel keselamatan untuk kita semua. Oleh karena itu aku berani mengerahkan semuanya. Kalau kalian berfikir aku tidak merasa bersalah, ketahuilah, mungkin seharusnya yang mati sekarang aku, bukan Haris.” Jelasnya sambil melihat mayat pak Haris.

“Kemudian datang sebuah kabar di radio kami. Mereka bukan meminta pasokan senjata. Lebih tepatnya mereka membutuhkan bala bantuan untuk bisa keluar dari lab itu. Lab itu sudah hampir hancur dari awal mereka menghubungiku.” Lanjut pak Eric.

“Tunggu sebentar, anda dapat dari mana kabar tersebut?” potong El.

“Dari kabar yang aku terima di radio. Kebetulan aku merekamnya. Oh iya, dia juga menyebut namamu.” Pak Eric menyerahkan sebuah radio berisi rekaman yang siap diputar.

   El kebingungan sejenak. Ia masih tak penasaran dengan isi rekaman itu. Ia hanya penasaran mengapa seseorang menyebut namanya.

“Pada saat kekacauan terjadi, kondisi di kota masih belum separah kota kita. Namun, pihak militer sudah menyadari akan hal itu. Oleh karena itu mereka menculik beberapa orang dari kalangan dokter dan ilmuwan untuk menyelidiki kasus ini di lab yang mereka jamin aman. Tapi faktanya di lapangan, penyakit itu bocor dan membuat sebagian besar dari mereka terinfeksi. Sebagian keluar menyerang kota, sebagian tertahan di dalam dan bermain petak umpet dengan yang hidup. Setidaknya kabar itu yang aku dapat.” Penjelasan pak Eric berakhir. Kini semuanya jelas. Dan mereka terlanjur sampai disini dengan kebingungan.

“Untuk malam ini, sebaiknya kita tetap tinggal. Terlalu petang untuk mencari tempat berlindung di daerah yang kita sendiri tidak hafal.” Rico yang diam dari tadi ikut menyuarakan pendapatnya. 

   El menyendiri di kereta utama, tempat pertama kali ia bertemu pak Mukhlis. Ia merenungkan semua yang terjadi beberapa hari terakhir. Kejadian-kejadian tak terduga yang terjadi di hidup El terjadi begitu saja. Tanpa peringatan, tanpa aba-aba. Ia menatap langit malam yang cerah. Bintang-bintang bertaburan, bulan pun ikut menampakkan diri. Tiba-tiba El teringat rekaman yang tadi pak Eric berikan. Ia pun menekan tombol play.

Untuk siapapun yang mendapatkan kabar ini. Tolong kami! Kami ilmuwan dan petugas medis yang tersisa di lab L. Semua orang telah terinfeksi. Kami tertahan di lantai 4 ruang 5. Kami masih punya persediaan makanan. Untuk siapapun yang bertemu bocah bernama El, katakan padanya aku masih hidup.”

   Rekaman selesai. Menyisakan El yang ternganga tak percaya. Ia tak percaya suara yang ia dengar. Itu suara Zahwan. Suara yang ia kira sudah lama mati. Suara yang masih hidup. El tak pernah sesenang ini dalam hidupnya. Ia segera kembali dan memberi tahu Tiara.

“Ra, gue harus berangkat.” El tak berkata banyak. Singkat sambil mengemasi barang-barangnya.

“Ha? Kemana?” Tiara yang akan bersiap tidur terjaga kembali.

“Ke lab L. Zahwan masih hidup.” El sudah sangat siap dengan barang bawaannya.

“El, sekarang jam 11 malam.”

“Ngga, aku ngga mau terlambat.”

“Kalau begitu aku ikut.”

   Tiara ikut mempersiapkan barang-barangnya. Pak Eric yang melihatnya tak melarang mereka. Ia tahu bahwa seseorang yang ada direkaman itu sangat berarti bagi El.

“Kalau kalian pergi, kami masih ada disini.” Pesan pak Eric.

“Kami akan kembali pak. Kami tau harus kemana.” El berpamitan dengan pak Eric.

“Aku ikut.” Rico, ternyata juga sudah siap dengan barang bawaannya. Mereka bertiga sudah siap berangkat menuju lab L. Awal dari ini semua mulai.


 


CATATAN 11: TARZAN KOTA

“Saya sarankan jangan berangkat sekarang. Kita masih belum tau medan yang akan kita hadapi.” Pak Eric memberi saran pada 3 anak muda yang sudah siap berangkat.

   Mereka bertiga terdiam. Mereka tau kalau perjalanan itu merupakan perjalanan yang berbahaya. Mengabaikan sesuatu sekecil apapun bisa berakibat fatal. Tapi Zahwan, berapa lama lagi ia bisa bertahan?

“Lebih baik kalian istirahat sambil memikirkan berbagai hal yang lain. Cek kembali perlengkapan kalian. Jangan terburu-buru.” Pak Eric pun berlalu meninggalkan mereka bertiga.

“Yang dikatakan pak Eric ada benarnya El. Lebih baik kita berangkat setelah fajar terbit.” Rico menambahkan pesan dari pak Eric.

    El dan Tiara tak bisa berbuat banyak. Yang dikatakan pak Eric ada benarnya. Mereka tidak mau mati di pertengahan jalan. Tapi disisi lain, mereka tidak mau perjalanan tersebut sia-sia karena terlambat berangkat.

   Jam tangan El menunjukkan pukul 2 pagi. Ia kembali menyendiri. Kini ia memanjat tangga di samping gerbong dan menyendiri di atas gerbong kereta. Menatap langit malam seperti yang ia lakukan ketika menemukan bahwa Zahwan masih hidup. Rekaman yang berada di tangannya ia ulang berkali-kali. Mendengarkan suara Zahwan membuat El ingin segera bertemunya. Dan seperti biasa, El menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Dear death,

Tiara bilang ini hari yang aneh. Setelah kupikir-pikir, apa yang dikatakan Tiara ada benarnya. Dalam sehari aku melihat pengkhianatan, aku melihat seorang bunuh diri, aku tercekik hingga kesulitan bernafas demi sebilah pisau, menarik rem kereta, hingga menemukan bahwa sahabat lamaku masih hidup. Aneh.

Kira-kira keanehan apalagi yang akan ku temui besok?

Mari kita lihat saja


 

El.”

   El, Tiara, dan Rico kembali memeriksa barang bawaan mereka. Memastikan kembali tidak ada keperluan yang tertinggal. Tak lupa barang bawaan dan senjata mereka bawa. Rico membawa senjata jenis SMG yang tidak terlalu berat. El membawa dual pistols yang memudahkannya ketika bergerak. Tak lupa Tiara dengan senapannya yang sudah diberi peredam dan teropong yang berjarak lebih jauh.

Kabar tentang Zahwan juga sudah tersebar ke seluruh penghuni kereta. Mereka pun tak menghalangi ketiga anak muda itu untuk menjemput teman mereka. Mereka semua bersama-sama keluar kereta untuk berpamitan dengan ketiga anak muda ini.

“Kamu sudah sejauh ini El. Sudah saatnya kamu punya tujuan baru. Bawa temanmu kembali dengan selamat kemari. Kami akan tetap berada disini.” Pak Eric memberikan pesan terakhirnya sambil memegang bahu El.

“Saya janji pak membawa Zahwan kemari.” El membalasnya dengan sebuah janji.

    Seorang anak kecil yang juga penyintas di kereta tersebut mendekati Tiara. Tiara yang menyadarinya membungkuk agar sejajar dengan anak tersebut.

“Kak Tiara mau kemana?” Kata anak itu polos sambil menggenggam boneka Teddy bear warna pink pudar.

“Kakak mau njemput temen kakak. Ngga lama kok. Kalau udah ketemu kakak pasti kembali. Ok?” Tiara menjelaskan seadanya sambil tersenyum.

“Janji ya?” Anak itu mengulurkan jari kelingkingnya tanda meminta perjanjian pada Tiara. Tiara pun membalas dengan jari kelingkingnya.

   Mereka bertiga mulai berjalan. Rico bertugas sebagai pemandu jalan, Tiara berda di tengah sebagai pengawas, dan El di belakang sebagi pelindung daerah belakang. Berlahan, mereka meninggalkan para penyintas lainnya. Meninggalkan mereka dengan koloni kereta mereka. Tapi mereka berjanji untuk kembali. Berjanji untuk berkumpul lagi.

   Kini mereka memasuki daerah perumahan cluster menengah kebawah. Perumahan itu diisi rumah-rumah yang berbentuk sama dengan hiasan-hiasan ala perumahan pada umumnya. Mobil-mobil diparkirkan di depan tiap rumah oleh pemiliknya. Yang sama adalah kondisi dan suasananya. Sepi, hening, dan mencekam.

“Gue ngga mau lari-larian lagi. Gue capek El kejar-kejaran terus.” Keluh Tiara.

“Tenang, kita ngga akan ketemu mereka. Lebih tepatnya kita ngga akan kejar-kejaran dengan mereka.” Jawab Rico dengan tenang.

“Kok bisa?” El dan Tiara bertanya berbarengan.

   Rico menunjuk ke arah kanan mereka. Terlihat gedung yang tampak terbengkalai dengan warna putih yang memudar. Terlihat logo “LAB-L” berada di puncak gedung. Sebuah gedung yang menjadi tujuan mereka.

“Kita akan lewat taman kota dibelakang perumahan ini. Jalannya berada di ujung jalan di depan sana. Harusnya kita sudah bisa sampai sebelum petang.”  Rico menjelaskan.

“Kalau begitu, kita percepat perjalanan kita. Kita ngga tahu berapa lama kita di Lab L.” Pungkas Tiara pada kedua temannya.

   Mereka terus berjalan menuju pertigaan di ujung jalan yang mereka lalui. Kejanggalan mulai mereka temukan ketika beberapa rumah didekat ujung jalan tersebut rusak parah. Beberapa mobil juga tampak seperti tertimpa benda berat, padahal tidak ada apa-apa diatasnya. Dan puncaknya ialah ketika mereka menemukan tembok kosong bertuliskan “KEMBALI”. Tulisan itu dibuat dengan cat kaleng berwarna merah menyala.

“Perasaan gue ngga enak.” Ucap El.

   Rico dan Tiara diam saja sambil memperhatikan sekeliling. Semua semakin tampak tidak normal. Ketakutan mulai menyeruak kesekujur tubuh mereka. Ini sebuah pertanda yang buruk. Lebih buruk lagi karena mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi.

“Ngga ada pilihan lagi El. Maju atau kembali.” Rico menegaskan kembali inti utama perjalanan mereka.

   Tanpa sepatah kata pun, El memasuki area taman kota yang terhalang tembok tadi, disusul Tiara dan Rico. Suasana taman kota tampak mirip dengan hutan. Pohon-pohon tinggi menjulang, lampu-lampu taman yang mati, beberapa bangkai yang bergeletakan, dan tanaman-tanaman hias yang nampak rusak. Sebuah pemandangan yang normal nan mengerikan. Bayangkan saja, bulu kuduk kalian berdiri di kala belum sampai waktu tengah hari. Masih terlalu dini untuk ketakutan.

   Mereka terus berjalan masuk. Tujuan mereka masih sekitar 2 KM lagi. Itupun kalau tidak ada halangan apapun. Belum lagi mereka belum beristirahat dan  mengisi perut. Tiba-tiba El menoleh pada dua temannya sambil berkata.

Guys, gue pingin kencing nih.” El tersenyum kecil.

“Ngga habis pikir gue, cepetan! Agak jauhan sana!” Tiara kesal dengan senyuman El. Terpaksa mereka berhenti dan berpisah dengan El yang mencari pohon agak jauh.

   El pun berlarian kecil mencari pohon yang cukup jauh. Sedangkan Tiara dan Rico berhenti sejenak sambil mengobrol santai.

“Lu belum pernah cerita lu siapa.” Tiara memulai percakapan mereka.

“Siapa juga yang peduli sama gue.”

“Gue.” Tiara menunjuk dirinya sendiri.

“Beneran.”

“Yaiyalah. Cepetan.”

“Ok, jadi gue pembantunya pak Eric. Gue ikut beliau semenjak gue masih bocah. Gue diangkat beliau pembantu di rumahnya bareng seorang asisten dan seorang sopir.” Ungkap Rico. Itulah mengapa ia tak ikut berkhianat, ia setia pada tuannya.

“Pada saat kekacauan itu terjadi, gue ada berlindung di basement rumah pak Eric bareng pak Eric dengan segala persenjataannya. Sialnya, pembantu masih belanja di pasar dianter pak sopir. Yaudah deh, kita bertahan disana selama beberapa hari. Tanpa tahu apa yang terjadi. Keluar-keluar, semua udah jadi begini.” Pungkas Rico.

“Terus, soal pemberontakan itu, gimana ceritanya loe bisa diajak mereka?” Tiara masih kepo dengan hal itu.

“Gini, pak Eric itu orang yang teramat terlatih dan strategis. Ketika beliau cek cok sama si Haris, ia ngasih tau ke gue kalau sampai gue diajak kerja sama, gue disuruh ikut sambil nyari informasi yang sekiranya dibutuhkan. Akhirnya gue dapet tuh info kalau mereka pake gas tidur, pak Mukhlis juga diajak dan berhenti di stasiun kota. Mulai dari situ, pak Eric yang nyusun rencana sampai jadi. Gitu.” Rico kembali menjelaskan semuanya. Kini semua jelas bagi Tiara.

   Di tempat yang berbeda, El sedang mencari pohon yang pas. Ketika sudah cukup jauh dari kedua temannya, ia mulai buang hajat dan menikmatinya.

“Aaaaahhh.....enak banget.” El menikmati buang hajatnya.

   Namun tak berselang lama, setelah selesai menunaikan keinginannya, El merasakan gempa kecil yang berasal dari arah belakang. Perlahan ia menoleh. Betapa terkejutnya ia melihat seorang Bondem berjalan menuju ke arahnya. Badannya tiga kali lebih besar ketimbang orang dewasa. El yang langsung pucat pasi berlari ketakutan kembali ke tempat Rico dan Tiara. Dari kejauhan ketika ia melihat kedua temannya, ia berteriak sekuat mungkin.

“BONDEEEMM!” El mencoba memperingati teman-temannya.

Tiara yang keheranan melihat El meneriakinya balik.

“APAA?”

“BONDEEMMM!” Sekali lagi El berteriak.

   Seketika Tiara dan Rico menyadari ada Bondem yang mengejar El dari belakang. Sontak mereka memasang ancang-ancang menembak. Rico dengan SMG-nya dan Tiara dengan senapannya. Mereka sangat siap.

“AAAAAUO....UO...UOOOO”

   Terdengar teriakan nyaring tak berasal. Beberapa phon bergoyang, dan terlihat sekelebat bayangan melompat-lompat dari pohon ke pohon. Mereka semua yang terkesima pun mencari sumber suara tersebut. Bondem yang dikiranya hanya peduli dengan daging segar pun ikut terdiam.

   Tiba-tiba, dari atas pohon, sebuah tendangan mendarat di kepala Bondem tersebut. Tak langsung tersungkur, pria yang menendang wajahnya langsung menebas leher sang Bondem dengan parang yang ia selipkan dipunggungnya. Menyebabkan Bondem itu tumbang seketika.

   Pria itu pun menoleh ke mereka bertiga. Ia menatap satu persatu dari mereka. Ia pun bertanya.

“Mau coklat?” sambil tersenyum ramah.



 

CATATAN 7: MENUJU KOTA

    El menatap pria yang menariknya ke atas kereta. Perawakan pria itu cukup tegap untuk ukuran orang dewasa. Usianya mungkin sekitar 40 tahun ke atas, brewok dan kumis tipis, serta potongan rambut yang klimis. Tampilan fisik yang sempurna bagi sebagian besar wanita di muka bumi.

   Belum sempat basa-basi, El dan Tiara dipersilahkan masuk ke dalam gerbong oleh pak Haris. Disana sudah ada 3 orang lain yang menunggu kedatangan mereka. Seorang ibu-ibu, seorang pria seumuran El, dan satu lagi pria yang tadi menarik El.

“Selamat datang di kereta.” Pak Haris memberikan sambutan hangat untuk mereka sambil membentangkan kedua tangannya.

“Sebelumnya, mari saya perkenalkan kalian pada beberapa orang disini. Ada Bu Meylani, beliau yang mengurus urusan dapur, lalu ada Riko, mereka seumuran dengan kalian. Tugasnya mengkoordinasi para penyintas lainnya. Dan yang terakhir ada komandan kita, Eric. Beliau seorang veteran perang yang mukanya bahkan lebih muda daripada saya. Dan kalau kalian penasaran dengan tugas saya, saya bagian ngatur senjata. Jadi saya bagian DOR. Hahahahaha.”

Penjelasan pak Haris diakhir dengan tawanya yang lebar. Dari penjelasan pak Haris, bisa dibilang mereka lah anggota utama di kereta ini. Mereka yang memegang kendali penuh atas beberapa hal yang cukup krusial.

“Sebelumnya terima kasih sudah mau menampung kami meskipun kami berasal dari luar. Perkenalkan saya El, dan di sebelah saya ada Tiara, teman saya.” El mulai memperkenalkan diri. Sedangkan Tiara hanya mengangguk ketika namanya disebut.

“Halo nak El, nak Tiara. Saya Meylina, atau gampangnya panggil aja bu Mey. Menu malam ini kebetulan sup jamur. Semoga kalian suka.” Bu Mey memperkenalkan dirinya. Beliau tampak ramah dengan celemek warna putih yang warnanya sudah memudar.

   Lalu El dan Tiara menoleh ke arah Riko. Riko hanya mengangguk ke arah mereka dengan senyum tipis. Senyum yang kurang ikhlas.

Terakhir ada pak Eric yang menghampiri mereka lebih dekat.

“Salam kenal ya, El, Tiara. Saya Eric, saya yang memutuskan semua yang terjadi di kereta ini. Setelah ini, mari saya antar kalian ke beberapa penyintas lainnya.” Pak Eric memberikan senyumnya pada El dan Tiara.

“Hah? Ada yang lain?” Tiara tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Tentu ada. Kebetulan gerbong ini adalah gerbang 4 yang kosong. Setelah ini saya jelaskan tiap gerbongnya sambil kita perjalanan. Mari.” Pak Eric memandu mereka dengan berjalan terlebih dahulu.

   El dan Tiara mengikuti pak Eric dari belakang. Mereka meninggalkan gerbong 4 dan beralih ke gerbong 3. Disini mereka melihat pemandangan yang cukup unik. Disisi kanan terdapat kompor, gas, wajan serta berbagai macam peralatan masak lainnya. Tak ketinggalan pula macam-macam bahan mentah yang akan diolah oleh bu Meylina.

  Namun, disisi kirinya terdapat berbagai macam amunisi, senjata, bahkan beberapa bahan peledak. Di gerbong inilah tempat beroperasinya pak Haris dan Bu mey. Dapur dan gudang senjata. Kombinasi yang tak mungkin ditemukan kalau bukan di akhir dunia.

“Seperti kalian lihat, disini terdapat dapur dan gudang senjata yang dijadikan satu. Dan kalian pasti bertanya mengapa tidak di gerbong 4 saja. Jawabannya adalah, karena gerbong 4 adalah gerbong dadakan yang kami persiapkan ketika kalian dikejar gerombolan Mak Lampir.” Jelas pak Eric

“Itu sebagai bentuk antisipasi kalau kita tidak mampu melindungi gerbong paling belakang. Setidaknya bukan gerbong makanan yang dirusak terlebih dahulu. Kita tidak mau penyintas lain kelaparn kan?” Tambahnya . Jawabannya cukup diplomatis. Tak heran beliau merupakan pemimpin disini.

“Mari lanjut ke gerbong selanjutnya. Disini kalian akan bertemu dengan yang lainnya.”

   Mereka memasuki gerbong 2 dimana mereka bertemu dengan beberapa penyintas lainnya. Nampak disini gerbongnya belum dimodifikasi sedemikian rupa seperti gerbong 3. Disini kursi-kursi masih menghadap ke depan dengan tiap kursi berjumlah 2. Tiap pasang kursi berada di sisi kanan dan kiri gerbong.

“Nah, disini tempat kita semua beraktifitas. Tentunya jumlah kita tidak terlalu banyak. Terbilang hanya ada sekitar 45 orang. Tidak sampai 2 gerbong penuh karena tiap gerbong hanya berisi 40kursi.  Gerbong yang penuh hanya gerbong pertama. Kalau kalian berkenan silahkan berkenalan dengan yang lainnya.”

   El dan Tiara pun mulai berkenalan dengan satu per satu penyintas lainnya di gerbong 1. Mencoba berbagi cerita, luka, dan saling menguatkan diantara mereka. Berbagai kisah unik mereka bagi di gerbong yang sama.

“Jadi gimana kakak-kakak bisa selamat dari kejaran Mak Lampir itu?” Tanya seorang gadis pada Tiara.

“Kami ketemu sama pak Haris. Untung beliau datang tepat waktu. Kalau ngga, mungkin kami udah jadi santapan para Mak Lampir itu.”

“Kalian ngga ketemu si Buto?” Tanya seorang bapak.

“Buto? Maksud bapak Bondem?” El bertanay balik.

“Ya sama aja sebenarnya. Soalnya rombongan saya ketemu si Buto. Dari 5 orang, tinggal saya sendiri.” Bapak itu melanjutkan.

“Mereka ikut terinfeksi juga pak?” seorang ibu-ibu ikut nimbrung.

“Ngga dong. Ya dimakan.” Jawab bapak itu santai.

   Di tengah-tengah berbagi kengerian itu, Bu Mey datang sambil berteriak.

“MAKAN MALAM SIAAAP!”

   El memakan sup jamurnya dengan lahap. Sudah berhari-hari dia tidak makan seenak ini. Sehari-hari ia hanya makan roti, roti, dan roti. Pak Eric yang melihatnya tersenyum lebar.

“Hati-hati makannya! Nanti tersedak, hahaha. Saya duduk sini ya” Goda pak Eric.

   El diam saja sambil membalas senyuman pak Eric yang duduk disebelahnya.

“Kalau boleh tau, darimana bapak dapat pasokan senjata sebanyak itu pak?” El memberanikan diri bertanya disela-sela makan malam mereka.

“Oh, itu. Setelah saya pensiun sebagai tentara di usia yang bisa dibilang cukup muda, 50 tahunan pada saat itu, saya selalu berjaga-jaga dalam keadaan apapun. Lalu saya membangun sebuah gudang bawah tanah dan membeli berbagai macam senjata. Dari pasar gelap tentunya.” Jelas pak Eric.

“Disaat semua mulai kacau, saya mulai membekali diri dan pergi mencari beberapa penyintas lain. Salah satunya pak Haris dan Riko. Ketika tahu bahwa ada kabar baik di ibu kota, maka saya langusng memerintahkan sebagian besar dari penyintas pria yang tersisa untuk mengambil persediaan senjata itu ke rumah saya. Sebagian gugur, sebagian selamat. Tapi, bukan kah itu biaya dari sebuah peperangan?” Pungkas pak Eric seraya melahap jamur terakhir di piringnya.

“Keluarga bapak bagaimana?” El masih meneruskan rasa penasarannya.

“Saya tidak menikah. Saya lebih suka sendiri. Lebih baik saya diberi tanggung jawab untuk angkat senjata ketimbang tanggung jawab atas hati anak orang.”  Jawab pak Eric mantap.

“Hari ini aneh banget.” Tiara memecah keheningan.

“Kenapa?” El membalas penasaran meski El tahu sebagian besar jawabannya.

   Mereka kini berada di gerbong 2. Tempat mereka terpisah dengan para penyintas yang memenuhi gerbong 1. Mereka menempati kursi yang sejajar. El di sisi kiri, Tiara di sisi kanan.

“Iyalah aneh. Shubuh tadi kita baru keluar dari gubuk ayahku. Menjelang siang, kita dikejar gerombolan Mak Lampir. terus, kita harus bergelantungan dari mobil jeep ke kereta. Malamnya, kita sudah bisa tidur lagi, tapi di dalem kereta.” Pungkas Tiara.

“Oh, iya juga sih. Kaki lu gimana?” El teringat kaki Tiara yang terkilir.

“Tadi udah diobatin sama bu Mey. Orangnya baik banget tau. Gue aja dikasih sup tambahan, padhal gue udah makan.” Tiara meneruskan ocehannya.

“Syukurlah.”

“El, gue boleh tanya ngga?” Tiara tiba-tiba menoleh ke arah El.

“Apa?”

“Lu belum pernah cerita masa lalu lu.”

“Hmm, dimulai darimana ya? Ok gue tau. Jadi gue seorang anak yang sepertinya keberadaannya tidak diinginkan orang tua gue. Gue ditemuin di sebuah kotak dipinggir jalan oleh seorang yang bisa dibilang kaya raya. Kenapa nama gue ‘El’, itu karena waktu gue ditemuin, gua make kalung huruf ‘L’, dari situ nama gue diambil.”

“Dari kecil gue ngga pernah ngerasain namanya kasih sayang. Baik dari orang tua asli maupun angkat. Jaman sekolah gue juga gitu-gitu aja. Nakal ngga, baik juga ngga. Tapi disitu gue ketemu sama Zahwan, shabat karib gue sampe sekarang. Setidaknya sampai kekacauan itu terjadi. Itu sih.” Jelas El panjang lebar.

“Trus, yang kata lu buku itu membawa luka 5 tahunlalu apa?” Tiara semakin menunjukkan rasa penasarannya.

“Kalau itu gini-“

“Bentar. Tahan. Gue mau ke toilet bentar.” Tiara kembali memotong.

   Tiara pun bergi ke toilet yang terletak di bagian belakang gerbong 3 yang langsung terhubung dengan gerbong 4. Ketika hendak memasuki toilet, samar-samar Tiara mendengar percakapan antara 2 orang dari gerbong 4.

“Semua rencananya sudah jadi?”

“Sudah. Semua sudah siap.”

“Kapan kita ambil alih kereta ini?”

“Besok.”


CATATAN 8: PARA PEROMPAK

   Tiara yang mendengar hal itu langsung bergegas kembali ke El. Perasaannya bercampur aduk antara bingung dan panik  karena ia tak tahu siapa mereka. Ia terlalu takut untuk melihat lebih jauh.

“Cepet banget dari toiletnya.” El kebingungan melihat wajah Tiara yang panik.

“Gawat El, gawat.” Tiara tetap panik.

“Iya kenapa, jelasin dulu pelan-pelan. Ada apa?”

“Jadi gue kan ke toilet, terus gue kedengeran dari arah gerbong 4 ada dua orang lagi ngobrol. Tapi mereka ngobrolin tentang ngambil alih kereta ini El.” Tiara tak mampu menjelaskan banyak hal. Ia terlalu panik untuk mencerna percakapan yang ia dengar tadi.

“Lu ngantuk kali. Gausa ngadi-ngadi deh.” El masih tidak percaya.

“El, gue masih sadar banget. Gue ngga ngigau, gue ngga ngantuk. Itu dari arah gerbong 4, El. Sekarang lu bayangin, kita ada di atas kereta dengan orang yang bahkan kita belum ketemu 1 hari. Lu ngga ada curiga-curiganya apa? Gila lu.” Emosi Tiara tidak dapat terbendung lagi. Ia ketakutan.

   El sadar bahwa Tiara tidak main-main. Ekspresi wajah, tinggi nada, dan cara bicaranya menunjukkan dia tidak berbohong. El ikut yakin meskitidak pasti.

“Mending kita bahas besok pagi. Biar ngga nimbuin kecurigaan kalo ada yang lewat.”

Tiara mengangguk tanda setuju.

    Di pagi hari, ketika semua sedang menikmati sarapan, El sedikit menjauh dari kerumunan. Tentu saja untuk berdiskusi siapa dalang dibalik percakapan yang didengar Tiara semalam. Mereka mengidentifikasi setiap orang yang mereka temui. Terutama pak Haris, pak Eric, Riko, dan Bu mey.

“Aku menaruh curiga yang besar ke pak Eric. Jawaban dia manipulatif menurutku. Membuat dia terlihat kua.” Tiara mulai memberikan pendapatnya.

“Tapi kan dia ketua disini. Mana mungkin dia mengambil alih dari dirinya sendiri.” El menyanggah. Menurutnya, opini Tiara terlalu lemah.

“Mengambil alih disini bisa jadi sepenuhnya EL.” Tiara meyakinkan ucapannya sendiri.

“Malah menurutku Riko deh. Dia pendiem banget anaknya. Ngomong sepatah kata pun ngga.” Kini giliran El yang memberikan pendapatnya.

“kalau emang gitu, pak Haris dan bu Mey juga bisa jadi manipulatif dong. Mereka bisa aja saling berkhianat satu sama lain.” Tiara kembali berteori liar tanpa dasar pikiran yang jelas.

“Tetap tenang. Kita belum kenal sama semua penghuni disini. Semua bisa jadi tersangka.” El menenangkan Tiara lagi.

“Masalahnya, suarnya datang dari gerbong 3, yang mana, disana kita hanya bertemu 4 orang tersebut. Dugaan kuat kita hanya pada mereka El.”

   Kali ini El benar-benar setuju dengan pendapat Tiara. Yang mereka temui hanya pak Haris, pak Eric, Bu mey dan Riko. Tidak ada yang lain. Atau ada yang lain yang tidak mereka tau?

“Gue butuh menjernihkan pikiran gue. Kita ngga bisa gini terus. Gue mau cabut kedepan.” El berdiri setelah makanannya selesai. Meninggalkan Tiara dengan pikiran liarnya.

   El pergi menuju kereta utama. Kereta yang membawa sampai sejauh ini. El meberanikan diri pergi kesana demi mencari udara segar. Disana ia bertemu sang masinis yang mengemudikan kereta selama ini.

“Pagi pak.”

“Eh, pagi pagi. Tumben-tumbenan ada yang datang kemari.” Sang masinis sempat gelagapan dengan kedatangan El.

“Kenalin pak saya El. Baru dateng kemaren.” El memulai percakapan.

“Saya pak Mukhlis. Salam kenal ya.” 

   Mereka pun ngobrol ngalor ngidul mulai dari kehidupan sebelum kondisi sekarang, sampai bagaimana cara mengoperasikan kereta tersebut. Sampailah meeka di pembahasan bisa masuk ke kereta tersebut.

“Jadi saya waktu itu lagi sembunyi di stasiun. Lebih tepatnya di kereta. Tiba-tiba dari arah hutan ada pak Haris yang minta tolong tempat bersembunyi. Kebetulan, persembunyian paling aman pada saat itu kereta ini karena kosong pada saat itu.”

“Dari situlah kami mulai dekat. Meskipun saya sendiri jarang ada di gerbong belakang. Saya pribadi sangat berterimakasih pada  pak Haris.” Pungkas pak Mukhlis.

“Oh, jadi gitu.”

“Kalau El sendiri gimana?” Pak Mukhlis tanya balik.

   El pun menceritakan apa saja yang ia alami di hutan. Bagaimana ia berlarian dari Mak Lampir, Tiara yang terkilir, sampai akhirnya pak Haris datang menjemput mereka.

“Kalo gitu saya mau pamit dulu pak, ada urusan dibelakang.” El berpamitan pada pak Mukhlis.

“Iya silahkan.”

   El pergi kembali ke dalam gerbong dan menyadari bahwa ada tangga darurat di sebelah pintu menuju gerbong. Sebuah fakta menarik yang dilewatkan begitu saja oleh El.

   Ketika sampai di dalam, El langsung menemui Tiara dan berharap Tiara sudah kembali tenang. Tapi tiba-tiba...

BLAR!

Pintu dari arah gerbong 2 dibanting oleh seorang yang menggunakan masker gas. Sedetik kemudian ia melempar granat gas yang memenuhi seisi gerbong. Para penyintas lain mulai terbatuk-batuk dan sesak nafas. Tak lama kemudian, semuanya gelap.

El terbangun dengan posisi tangan dan kaki terikat. Begitu pula Tiara dan penyintas lainnya. Mulut mereka pun disumpal hingga tak bisa bicara apa-apa. Tak lama, orang yang memakai topeng gas itu pun muncul. Ternyata ia tak sendiri, ada orang lainnya yang ikut memakai topeng gas. Lalu keduanya melepaskan topeng mereka. Itu pak Haris dan Bu Mey.

“Selamat siang semuanya!” Sapa pak Haris dengan senyum sinis. 


CATATAN 9: UJUNG REL

“Saya mau minta maaf atas ketidak nyamanannya para penumpang sekalian. Sesuatu yang mendesak terjadi, dan kami berdua harus mengambil tindakan untuk itu. Seperti yang kita tau, di pusat kota terdapat tempat perlindungan dan obat penyembuhnya. Namun, tadi malam kami mendengar bahwa mererka tidak dapat menerima banyak penyintas. Jadi, saya dan bu Mey memutuskan untuk meninggalkan kalian di kereta ini. Setidaknya sampai kereta ini menemukan ujung dari rel ini.” Jelas pak Haris dengan wajah yang 180 derajat berbeda dengan apa yang dilihat El.

   El tidak percaya orang yang berada di balik topeng itu pak Haris dan bu Mey. Mereka menenteng senjata laras panjang jenis M4 dan rompi anti peluru. Lengkap dengan beberapa magazine.

“Sialan kalian! Tega-teganya kalian ngelakuin ini ke kami!” Tiara geram dengan mereka berdua. Tiara tak kalah sakit hatinya dengan El. Tiara sudah menganggap bu Mey sebagai ibu nya sendiri.

“Sayang, terkadang harus ada yang dikorbankan dalam hidup ini. Salah satunya kepercayaan. Jadi lain kali, jangan terlalu percaya dengan orang lain. Ok?” Ucap bu Mey sambil mengelus kepala Tiara.

“Kalian ngga mikirin Eric. Dia udah mbantu kalian. Ngasih kalian tempat disini, dan kalian seenaknya mengkhianatinya? Dasar bajingan!” Seorang bapak-bapak ikut angkat bicara.

“Eric? Orang tua bangka itu tau apa? Umurnya sudah cukup untuk dikuburkan. Harusnya ia tak pergi sejauh ini.” Pak Haris lagi-lagi membuat seisi gerbong geram.

“DASAR BRENGSEK NGGA TAHU BUDI!” El meneriaki mereka berdua.

BUG!

“BACOT! HARUSNYA LU BERSYUKUR GUA ANGKUT HARI ITU. MASIH MENDING NGGA GUA MATIIN LU!” Pak Haris mendaratkan sebuah pukulan keras ke wajah El. Membuat bagian pipi kanan El lebam seketika.

“Daripada banyak bicara, mari kami perkenalkan anggota lainnya. Rico, silahkan masuk!” Bu Mey memperkenalkan Rico sebagai anggota lainnya. Raut wajahnya masih sama. Diamnya pun juga.

“Lalu ada masinis kita tercinta, pak Mukhlis. Pak Mukhlis, silahkan masuk!” Giliran pa Haris yang mempersilahkan pak Mukhlis masuk. Pria kurus itu masuk dari arah kereta dengan raut wajah tak kalah menjengkelkannya.

“Mohon maaf penumpang sekalian, sepertinya saya tidak bisa menemani kalian sampai akhir perjalanan.” Pak Mukhlis tersenyum sambil memandangi satu per satu penyintas lainnya. Ia  memandangi setiap mata dari penumpang terakhir yang ia khianati. Sebuah akhir karir yang tak pernah ada yang menduga.

“Sebentar lagi kami akan berhenti di stasiun kota. Untuk itu, kalian jangan meninggalkan tempat duduk dan nikmati saat-saat terakhir kalian sebagai manusia. Setidaknya, kalian tidak berubah menjadi mayat hidup. Hahahaha.” Tawa diujung ucapannya membuat siapapun yang mendengarnya ingin mendaratkan pukulan di wajah pak Haris.

“Pak Mukhlis, silahkan perlambat keretanya, lalu percepat lagi ketika kita sudah turun.” Perintah pak Haris pada pak Mukhlis.

“Siap, komandan.” Pak Mukhlis memberi hormat pada Pak Haris seakan-akan ia komandan yang baru di kereta ini.

“Bu Mey, tolong cari pak tua itu. Aku ingin ia mati bersama para penyintasnya yang ia cinta ini. Aku yakin dia ada di gerbong belakang.” Kini giliran bu Mey yang mendapatkan perintah dari pak Haris.

   El masih tak percaya akan apa yang terjadi. Tatapannya terhadap pak Haris penuh amarah. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa orang yang berkhianat ialah orang yang menolongnya. Melihat tatapan El, pak Haris mendekati El dan berlutut seraya berbicara.

“Saya tau kamu kecewa sama saya, tapi perlu kamu tau bahwa kekecewaan saya lebih besar ke pak Eric. Kamu hanya ngga tahu ceritanya saja.” Pak Haris menjawab dengan tenang.

“Kalau pun aku tau ceritanya, aku tetap menganggap ini pengkhianatan.” Balas El ketus.

“Kamu mau cerita? Ok, akan saya ceritakan semua. 2 hari sebelum saya menemukan kamu, kami mendapatkan kabar dari kota bahwa ada penawar disana. Yang memberi tahu kami adalah pihak militer kenalan pak Eric. Ketika kabar itu datang, ia sangat berambisi untuk pergi ke kota dengan membawa banyak persenjataan. Akhirnya, ia memerintahkan para pria untuk pergi kerumahnya hanya untuk mengambil senjata yang tidak akan kita pakai semua.”

“Banyak dari kami gugur, tanpa upah, tanpa belas kasih, mati sia-sia. Kau bisa tanya beberapa penyintas lain. Ia merasa superior. Ia merasa pangkat yang ia miliki cukup untuk memerintah kita semua.” Pak Haris berhenti sejenak.

“Tadi malam, kami mendapat kabar bahwa lab yang menampung penawarnya telah hancur. Terjadi kekacauan besar. Kami berusaha meyakinkan pak Haris untuk berhenti di kota terdekat. Namun, ia terlanjur jatuh cinta dengan kekuasaan dan kalian. Ia tetap ingin ke kota. Agar ia tidak ada lagi yang tersiksa karena ulahnya, lebih baik ia mati bersama apa yang selama ini ia dambakan.” Pungkas pak Haris di akhir. Wajahnya, setiap kata yang keluar dari mulutnya, tatapan matanya, semua menggambarkan betapa kecewanya ia terhadap pak Eric.

“Ris, gawat!” Bu Mey kembali dengan wajah kebingungan.

“Kanapa?” 

“Pak tua itu ngga ada di setiap gerbong.”

“Sialan. Cari dia sampai ketemu.” Pak Haris berdiri dari berlututnya. Ia masih memburu pak tua itu.

   Tak lama mereka melewati stasiun kota. Tempat seharusnya mereka berhenti. Tapi mereka tidak melambat apalagi berhenti.

“Ini kenapa lagi kok ngga berhenti. PAK MUKHLIS!” belum selesai satu masalah, masalah lainnya muncul. Kereta yang harusnya sudah sampai tujuan tak kunjung berhenti. Semua rencannya kacau seketika.

   Tak berselang lama, pak Mukhlis masuk dari arah kereta. Kini ia bersama seseorang yang menodongkan pistol di belakang kepalanya. Siapa lagi kalau bukan pak Eric. Pak Mukhlis yang disandera oleh pak Eric hanya bisa pasrah.

“Sudahi semua sandiwara ini Haris.” Pak Eric menatap pak Haris penuh kekecewaan.

“Ngga. Semua sudah terlambat. Anda yang menciptakan ini semua.” Pak Haris membalas dengan menodongkan pistol ke arah pak Eric.

“Semua sia-sia. Belum ada kata terlambat.” Pak Eric kembali meyakinkan pak Haris.

“NGGA! HATIKU SUDAH CUKUP TERLUKA.” Pak Haris mulai kehilangan kendali.

   Dari arah berlawanan, Rico mencuri senjata dari bu Mey dan menodongkannya. Sontak hal itu mengejutkan pak Haris dan bu Mey.

“Kamu?” Bu Mey kebingungan senjatanya direbut dengan mudah oleh Rico.

“Ya, aku diperintahkan oleh pak Eric. Memang kenapa?” Rico menjawab santai dengan raut wajah yang masih datar.

    Pak Haris tertawa terbahak-bahak. Membuat suasana gerbong hening seketika. Menimbulkan berbagai kebingungan disetiap kepala yang ada disana.

“KALIAN SEMUA SAMPAH! SAMPAH! DUNIA INI HANYA AKAN JADI TEMPAT PEMBUANGAN. DAN KALIAN SAMPAHNYA!” kini Pak Haris berubah menjadi marah. Kondisi mentalnya nampak jelass tidak stabil.

“Aku berharap kalian bertahan di neraka ini. Selamat menikmati akhir dunia. Semoga beruntung.”

Pak haris mengarahkan pistolnya ke pelipisnya. Lalu...

DOR!

   Pak Haris bunuh diri. Didepan seluruh orang yang ada di dalam gerbong, ia menembak sendiri kepalanya. Semua terkesima. Diam tanpa kata, meninggalkan beribu tanda tanya. Apa yang barusan terjadi? Mengapa begitu cepat? Ada apa?

“Ngga ada waktu lagi. Pak Mukhlis, cepat berhentikan kereta ini.” Perintah pak Eric yangtidak mau membuang waktu.

“Mohon maaf pak. Saya tidak mau. Semua yang pak Haris katakan pada saya cukup benar. Lebih baik kita mati bersama sekarang. Lagi pula, menurut perhitungan saya, kita akan menabrak beberapa menit lagi. Jadi mari menanti kematian itu bersama-sama.” Pak Mukhlis kokoh dengan pendiriannya. Ucapannya sudah sama persisi seperti pak Haris. Ucapan seorang pengkhianat yang putus asa.

   Semuanya terjadi begitu cepat. Mereka tak tahu lagi selamat atau tidak. Keadaan menjadi begitu menegangkan ketika kau tau kematian ada di depan matamu. Sangat dekat, bahkan aliran darahmu sudah siap berhenti mengalir dan jantungmu sudah siap berhenti berdetak. Ketika kematian berjarak beberapa ratus meter lagi dan akan ada banyak nyawa yang dikorbankan, di situlah secercah harapan datang.

“Siapa bisa pak!” El memecah ketegangan di dalam gerbong.

   Semua mata menatap pada El, tak terkecuali pak Mukhlis yang baru sadar ia baru saja mengajari El bagaimana kereta ini beroperasi.

“Saya bisa berhentiin kereta ini. Cepat pak sebelum terlambat.” El kembali meyakinkan se isi gerbong.

“NGGA! NGGA ADA YANG BOLEH MENINGGALKAN KERETA!” Bu Mey menodongkan pistol dari pinggangnya ke El.

“Tembak. Ibu ngga bisa membiarkan pak Haris mati kan? Ibu jatuh cinta kan? Kalian jatuh cinta. Tatapan kalian tak seperti orang pada biasanya. Saya rasa pak Haris jatuh cinta pada wanita yang salah. Ia tak seharusnya jatuh cinta pada ibu-ibu dapur yang harusnya menjadi santapan nikmat para mayat diluar sana.” Dengan tenang El menanggapi todongan M4 di dahinya. Provokasinya membuat bu Mey diam saja.

“Cinta ibu ngga berbalas. Buktinya dia meninggalkan ibu dengan sepucuk pistol yang pelatuknya tak bisa kau tarik. Matinya sia-sia. Kasihan.” El meneruskan provokasinya.

“DIAM!” Bu Mey kehilangan kesabarannya.

   Mendengar itu, sontak bu Mey menyergap El dari belakang, mengunci leher El layaknya pertandingan gulat bebas. El dengan kaki dan tangan yang masih terikat tak bisa berbuat banyak. Ia kesulitan bernafas karena lehernya tercekik kuat oleh bu Mey.

   Semua yang melihat itu tak bisa berbuat apa-apa. Rico, yang memang berkomplotan dengan pak Eric berusaha melepaskan kuncian bu Mey, tapi tenaga bu Mey terlalu kuat untuk Rey seorang. Wajah El sudah nampak berubah, nafasnya semakin jarang. Ketika berada di ujung kematian, El menyikut dada bu Mey lalu menghantamnya dengan bogem keras tepat di hidungnya. Membuat bu Mey mundur beberapa langkah.

    El berdiri dengan nafas masih terengah-engah dengan memegang pisau di tangan kanannya. Tak ada yang menduga, ternyata El sengaja memprovokasi bu Mey untuk merebut pisau itu dari pinggang bu Mey. Meskipun ia tahu taruhannya adalah nyawa.

“Cepat El, ngga ada waktu lagi.” Tiara mengingatkan El akan tabrakan yang sebentar lagi terjadi.

   Bu Mey tak tinggal diam. Ia berusaha mengejar El, namun, kini giliran Rico yang menahannya sekuat tenaga. Melawan bu Mey yang berbadan lebih besar darinya.

“Cepat El.” Kata-kata pertama Rico kepada El.

El yang tidak punya banyak waktu segera memberikan pisau pada Tiara dan berlari ke arah depan. Sudah tidak ada lagi halangan. Pak Eric menahan pak Mukhlis, Rico menahan bu Mey, dan pak Haris sudah terkapar tak berdaya di lantai gerbong. Kini El berlomba dengan waktu.

   Ketika sudah sampai di ruang kendali utama, El melihat ke arah depan beberapa saat. Terlihat ujung dari rel yang siap ditabrak oleh kereta yang sedang mereka tumpangi. Disaat itu El langsung menarik penuh tuas rem tersebut, membuat siapa saja yang berada di dalam kereta terpental ke arah depan. Kereta itu pun tak langsung berhenti. Terjadi gesekan hebat antara rel dan roda kereta.

CIIIITT!

Akhirnya kereta itu berhenti setelah berdecit cukup kencang. El memeriksa ke arah depan. Jarak kereta dengan pembatas rel hanya berkisar 5 meter. El Nyaris mati. Nyaris mati lagi.


CATATAN 10: “AKU MASIH HIDUP!

   El disambut tepuk tangan dan sorakan dari seisi gerbong ketika kembali ke gerbong. Semua menyorakinya bagai pahlawan, kecuali bu Mey dan pak Mukhlis tentunya. Tiara yang sedang melepaskan beberapa ikatan penumpang lain ikut larut dalm uforia tersebut. Tiara pun tak sungkan memberikan pelukan hangat pada El  ketika menghampirinya.

“Harusnya aku ngga ngajari anak sialan ini gimana caranya narik rem kereta.” Gerutu pak Mukhlis.

“Bukan. Seharusnya anda ngga ikut memberontak. Tapi syukurlah, kalau kala itu bapak tidak mengajari saya cara menarik rem, mungkin beberapa menit yang lalu kita sudah tewas.” Balas El ketika mendengar gerututan pak Mukhlis.

   Kini giliran pak Mukhlis dan bu Mey yang diikat. Nasib mereka berdua masih bisa ditentukan nanti karena masih ada nasib lainnya yang harus diperjuangkan.

   Mereka kini berada di pinggiran ibu kota. Sedikit terlalu jauh dari stasiun ibu kota. Kini mereka punya 2 pilihan. Tetap tinggal, atau meneruskan perjalanan. Diskusi besar pun dilakukan guna mencapai keputusan bagi mereka semua.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini? Ada pendapat?” Pak Eric memulai pembicaraan.

“Kita bisa tinggal disini saja. Tempat berlindung kita aman dari mayat-mayat itu. Lagi pula masih ada persediaan makanan dan persenjataan disini.” Seorang pria separuh baya memberikan sarannya.

“Tinggal? Kita sudah terlalu jauh pak untuk tetap tinggal. Sedangkan penawar dan tempat yang lebih aman sudah berada di depan sana.” Tiara menyanggah pendapat tersebut.

“Kamu ngga ingat apa yang dikatakan Haris tadi? Tempat itu sudah hancur. Sedangkan kita tidak tau pasti ada apa disana. Lebih baik tidak mengorbankan lebih banyak nyawa lagi.” Seorang ibu-ibu membela argumen pria tersebut.

“Tapi kalau kita tinggal disini, kita tidak tau akan apa yang terjadi. Kita berada di tengah-tengah ketidak pastian. Kita juga ngga tahu bisa bertahan berapa lama.” Kini giliran El yang membela Tiara.

   Di tengah-tengah keriuhan, di saat semua saling berpendapat dan memberikan solusi terbaik bagi mereka semua, pak Eric mulai membeberkan fakta.

“Apa yang dikatakan Haris benar. Lab yang akan kita tuju telah hancur.” Pak Eric memulai pembicaraan dengan tertunduk lesu. Seketika hening. Semua mata tertuju pada pak Eric. Ia tak kuasa melihat setiap mata para penyintas lainnya.

“Pada mulanya semua ini tidak akan terjadi jika aku tak menerima pesan itu.” Pak Eric sperti menimang-nimang kata yang akan ia lontarkan.

“Pada mulanya, semua memang sebuah harapan. Seorang kawan lama yang kini menjadi jendral meminta bantuan pada ku hari itu, karena pasokan senjata terdekat ada di rumahku. Ia berembel-embel keselamatan untuk kita semua. Oleh karena itu aku berani mengerahkan semuanya. Kalau kalian berfikir aku tidak merasa bersalah, ketahuilah, mungkin seharusnya yang mati sekarang aku, bukan Haris.” Jelasnya sambil melihat mayat pak Haris.

“Kemudian datang sebuah kabar di radio kami. Mereka bukan meminta pasokan senjata. Lebih tepatnya mereka membutuhkan bala bantuan untuk bisa keluar dari lab itu. Lab itu sudah hampir hancur dari awal mereka menghubungiku.” Lanjut pak Eric.

“Tunggu sebentar, anda dapat dari mana kabar tersebut?” potong El.

“Dari kabar yang aku terima di radio. Kebetulan aku merekamnya. Oh iya, dia juga menyebut namamu.” Pak Eric menyerahkan sebuah radio berisi rekaman yang siap diputar.

   El kebingungan sejenak. Ia masih tak penasaran dengan isi rekaman itu. Ia hanya penasaran mengapa seseorang menyebut namanya.

“Pada saat kekacauan terjadi, kondisi di kota masih belum separah kota kita. Namun, pihak militer sudah menyadari akan hal itu. Oleh karena itu mereka menculik beberapa orang dari kalangan dokter dan ilmuwan untuk menyelidiki kasus ini di lab yang mereka jamin aman. Tapi faktanya di lapangan, penyakit itu bocor dan membuat sebagian besar dari mereka terinfeksi. Sebagian keluar menyerang kota, sebagian tertahan di dalam dan bermain petak umpet dengan yang hidup. Setidaknya kabar itu yang aku dapat.” Penjelasan pak Eric berakhir. Kini semuanya jelas. Dan mereka terlanjur sampai disini dengan kebingungan.

“Untuk malam ini, sebaiknya kita tetap tinggal. Terlalu petang untuk mencari tempat berlindung di daerah yang kita sendiri tidak hafal.” Rico yang diam dari tadi ikut menyuarakan pendapatnya. 

   El menyendiri di kereta utama, tempat pertama kali ia bertemu pak Mukhlis. Ia merenungkan semua yang terjadi beberapa hari terakhir. Kejadian-kejadian tak terduga yang terjadi di hidup El terjadi begitu saja. Tanpa peringatan, tanpa aba-aba. Ia menatap langit malam yang cerah. Bintang-bintang bertaburan, bulan pun ikut menampakkan diri. Tiba-tiba El teringat rekaman yang tadi pak Eric berikan. Ia pun menekan tombol play.

Untuk siapapun yang mendapatkan kabar ini. Tolong kami! Kami ilmuwan dan petugas medis yang tersisa di lab L. Semua orang telah terinfeksi. Kami tertahan di lantai 4 ruang 5. Kami masih punya persediaan makanan. Untuk siapapun yang bertemu bocah bernama El, katakan padanya aku masih hidup.”

   Rekaman selesai. Menyisakan El yang ternganga tak percaya. Ia tak percaya suara yang ia dengar. Itu suara Zahwan. Suara yang ia kira sudah lama mati. Suara yang masih hidup. El tak pernah sesenang ini dalam hidupnya. Ia segera kembali dan memberi tahu Tiara.

“Ra, gue harus berangkat.” El tak berkata banyak. Singkat sambil mengemasi barang-barangnya.

“Ha? Kemana?” Tiara yang akan bersiap tidur terjaga kembali.

“Ke lab L. Zahwan masih hidup.” El sudah sangat siap dengan barang bawaannya.

“El, sekarang jam 11 malam.”

“Ngga, aku ngga mau terlambat.”

“Kalau begitu aku ikut.”

   Tiara ikut mempersiapkan barang-barangnya. Pak Eric yang melihatnya tak melarang mereka. Ia tahu bahwa seseorang yang ada direkaman itu sangat berarti bagi El.

“Kalau kalian pergi, kami masih ada disini.” Pesan pak Eric.

“Kami akan kembali pak. Kami tau harus kemana.” El berpamitan dengan pak Eric.

“Aku ikut.” Rico, ternyata juga sudah siap dengan barang bawaannya. Mereka bertiga sudah siap berangkat menuju lab L. Awal dari ini semua mulai.


 


CATATAN 11: TARZAN KOTA

“Saya sarankan jangan berangkat sekarang. Kita masih belum tau medan yang akan kita hadapi.” Pak Eric memberi saran pada 3 anak muda yang sudah siap berangkat.

   Mereka bertiga terdiam. Mereka tau kalau perjalanan itu merupakan perjalanan yang berbahaya. Mengabaikan sesuatu sekecil apapun bisa berakibat fatal. Tapi Zahwan, berapa lama lagi ia bisa bertahan?

“Lebih baik kalian istirahat sambil memikirkan berbagai hal yang lain. Cek kembali perlengkapan kalian. Jangan terburu-buru.” Pak Eric pun berlalu meninggalkan mereka bertiga.

“Yang dikatakan pak Eric ada benarnya El. Lebih baik kita berangkat setelah fajar terbit.” Rico menambahkan pesan dari pak Eric.

    El dan Tiara tak bisa berbuat banyak. Yang dikatakan pak Eric ada benarnya. Mereka tidak mau mati di pertengahan jalan. Tapi disisi lain, mereka tidak mau perjalanan tersebut sia-sia karena terlambat berangkat.

   Jam tangan El menunjukkan pukul 2 pagi. Ia kembali menyendiri. Kini ia memanjat tangga di samping gerbong dan menyendiri di atas gerbong kereta. Menatap langit malam seperti yang ia lakukan ketika menemukan bahwa Zahwan masih hidup. Rekaman yang berada di tangannya ia ulang berkali-kali. Mendengarkan suara Zahwan membuat El ingin segera bertemunya. Dan seperti biasa, El menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Dear death,

Tiara bilang ini hari yang aneh. Setelah kupikir-pikir, apa yang dikatakan Tiara ada benarnya. Dalam sehari aku melihat pengkhianatan, aku melihat seorang bunuh diri, aku tercekik hingga kesulitan bernafas demi sebilah pisau, menarik rem kereta, hingga menemukan bahwa sahabat lamaku masih hidup. Aneh.

Kira-kira keanehan apalagi yang akan ku temui besok?

Mari kita lihat saja


 

El.”

   El, Tiara, dan Rico kembali memeriksa barang bawaan mereka. Memastikan kembali tidak ada keperluan yang tertinggal. Tak lupa barang bawaan dan senjata mereka bawa. Rico membawa senjata jenis SMG yang tidak terlalu berat. El membawa dual pistols yang memudahkannya ketika bergerak. Tak lupa Tiara dengan senapannya yang sudah diberi peredam dan teropong yang berjarak lebih jauh.

Kabar tentang Zahwan juga sudah tersebar ke seluruh penghuni kereta. Mereka pun tak menghalangi ketiga anak muda itu untuk menjemput teman mereka. Mereka semua bersama-sama keluar kereta untuk berpamitan dengan ketiga anak muda ini.

“Kamu sudah sejauh ini El. Sudah saatnya kamu punya tujuan baru. Bawa temanmu kembali dengan selamat kemari. Kami akan tetap berada disini.” Pak Eric memberikan pesan terakhirnya sambil memegang bahu El.

“Saya janji pak membawa Zahwan kemari.” El membalasnya dengan sebuah janji.

    Seorang anak kecil yang juga penyintas di kereta tersebut mendekati Tiara. Tiara yang menyadarinya membungkuk agar sejajar dengan anak tersebut.

“Kak Tiara mau kemana?” Kata anak itu polos sambil menggenggam boneka Teddy bear warna pink pudar.

“Kakak mau njemput temen kakak. Ngga lama kok. Kalau udah ketemu kakak pasti kembali. Ok?” Tiara menjelaskan seadanya sambil tersenyum.

“Janji ya?” Anak itu mengulurkan jari kelingkingnya tanda meminta perjanjian pada Tiara. Tiara pun membalas dengan jari kelingkingnya.

   Mereka bertiga mulai berjalan. Rico bertugas sebagai pemandu jalan, Tiara berda di tengah sebagai pengawas, dan El di belakang sebagi pelindung daerah belakang. Berlahan, mereka meninggalkan para penyintas lainnya. Meninggalkan mereka dengan koloni kereta mereka. Tapi mereka berjanji untuk kembali. Berjanji untuk berkumpul lagi.

   Kini mereka memasuki daerah perumahan cluster menengah kebawah. Perumahan itu diisi rumah-rumah yang berbentuk sama dengan hiasan-hiasan ala perumahan pada umumnya. Mobil-mobil diparkirkan di depan tiap rumah oleh pemiliknya. Yang sama adalah kondisi dan suasananya. Sepi, hening, dan mencekam.

“Gue ngga mau lari-larian lagi. Gue capek El kejar-kejaran terus.” Keluh Tiara.

“Tenang, kita ngga akan ketemu mereka. Lebih tepatnya kita ngga akan kejar-kejaran dengan mereka.” Jawab Rico dengan tenang.

“Kok bisa?” El dan Tiara bertanya berbarengan.

   Rico menunjuk ke arah kanan mereka. Terlihat gedung yang tampak terbengkalai dengan warna putih yang memudar. Terlihat logo “LAB-L” berada di puncak gedung. Sebuah gedung yang menjadi tujuan mereka.

“Kita akan lewat taman kota dibelakang perumahan ini. Jalannya berada di ujung jalan di depan sana. Harusnya kita sudah bisa sampai sebelum petang.”  Rico menjelaskan.

“Kalau begitu, kita percepat perjalanan kita. Kita ngga tahu berapa lama kita di Lab L.” Pungkas Tiara pada kedua temannya.

   Mereka terus berjalan menuju pertigaan di ujung jalan yang mereka lalui. Kejanggalan mulai mereka temukan ketika beberapa rumah didekat ujung jalan tersebut rusak parah. Beberapa mobil juga tampak seperti tertimpa benda berat, padahal tidak ada apa-apa diatasnya. Dan puncaknya ialah ketika mereka menemukan tembok kosong bertuliskan “KEMBALI”. Tulisan itu dibuat dengan cat kaleng berwarna merah menyala.

“Perasaan gue ngga enak.” Ucap El.

   Rico dan Tiara diam saja sambil memperhatikan sekeliling. Semua semakin tampak tidak normal. Ketakutan mulai menyeruak kesekujur tubuh mereka. Ini sebuah pertanda yang buruk. Lebih buruk lagi karena mereka tidak tahu apa yang mereka hadapi.

“Ngga ada pilihan lagi El. Maju atau kembali.” Rico menegaskan kembali inti utama perjalanan mereka.

   Tanpa sepatah kata pun, El memasuki area taman kota yang terhalang tembok tadi, disusul Tiara dan Rico. Suasana taman kota tampak mirip dengan hutan. Pohon-pohon tinggi menjulang, lampu-lampu taman yang mati, beberapa bangkai yang bergeletakan, dan tanaman-tanaman hias yang nampak rusak. Sebuah pemandangan yang normal nan mengerikan. Bayangkan saja, bulu kuduk kalian berdiri di kala belum sampai waktu tengah hari. Masih terlalu dini untuk ketakutan.

   Mereka terus berjalan masuk. Tujuan mereka masih sekitar 2 KM lagi. Itupun kalau tidak ada halangan apapun. Belum lagi mereka belum beristirahat dan  mengisi perut. Tiba-tiba El menoleh pada dua temannya sambil berkata.

Guys, gue pingin kencing nih.” El tersenyum kecil.

“Ngga habis pikir gue, cepetan! Agak jauhan sana!” Tiara kesal dengan senyuman El. Terpaksa mereka berhenti dan berpisah dengan El yang mencari pohon agak jauh.

   El pun berlarian kecil mencari pohon yang cukup jauh. Sedangkan Tiara dan Rico berhenti sejenak sambil mengobrol santai.

“Lu belum pernah cerita lu siapa.” Tiara memulai percakapan mereka.

“Siapa juga yang peduli sama gue.”

“Gue.” Tiara menunjuk dirinya sendiri.

“Beneran.”

“Yaiyalah. Cepetan.”

“Ok, jadi gue pembantunya pak Eric. Gue ikut beliau semenjak gue masih bocah. Gue diangkat beliau pembantu di rumahnya bareng seorang asisten dan seorang sopir.” Ungkap Rico. Itulah mengapa ia tak ikut berkhianat, ia setia pada tuannya.

“Pada saat kekacauan itu terjadi, gue ada berlindung di basement rumah pak Eric bareng pak Eric dengan segala persenjataannya. Sialnya, pembantu masih belanja di pasar dianter pak sopir. Yaudah deh, kita bertahan disana selama beberapa hari. Tanpa tahu apa yang terjadi. Keluar-keluar, semua udah jadi begini.” Pungkas Rico.

“Terus, soal pemberontakan itu, gimana ceritanya loe bisa diajak mereka?” Tiara masih kepo dengan hal itu.

“Gini, pak Eric itu orang yang teramat terlatih dan strategis. Ketika beliau cek cok sama si Haris, ia ngasih tau ke gue kalau sampai gue diajak kerja sama, gue disuruh ikut sambil nyari informasi yang sekiranya dibutuhkan. Akhirnya gue dapet tuh info kalau mereka pake gas tidur, pak Mukhlis juga diajak dan berhenti di stasiun kota. Mulai dari situ, pak Eric yang nyusun rencana sampai jadi. Gitu.” Rico kembali menjelaskan semuanya. Kini semua jelas bagi Tiara.

   Di tempat yang berbeda, El sedang mencari pohon yang pas. Ketika sudah cukup jauh dari kedua temannya, ia mulai buang hajat dan menikmatinya.

“Aaaaahhh.....enak banget.” El menikmati buang hajatnya.

   Namun tak berselang lama, setelah selesai menunaikan keinginannya, El merasakan gempa kecil yang berasal dari arah belakang. Perlahan ia menoleh. Betapa terkejutnya ia melihat seorang Bondem berjalan menuju ke arahnya. Badannya tiga kali lebih besar ketimbang orang dewasa. El yang langsung pucat pasi berlari ketakutan kembali ke tempat Rico dan Tiara. Dari kejauhan ketika ia melihat kedua temannya, ia berteriak sekuat mungkin.

“BONDEEEMM!” El mencoba memperingati teman-temannya.

Tiara yang keheranan melihat El meneriakinya balik.

“APAA?”

“BONDEEMMM!” Sekali lagi El berteriak.

   Seketika Tiara dan Rico menyadari ada Bondem yang mengejar El dari belakang. Sontak mereka memasang ancang-ancang menembak. Rico dengan SMG-nya dan Tiara dengan senapannya. Mereka sangat siap.

“AAAAAUO....UO...UOOOO”

   Terdengar teriakan nyaring tak berasal. Beberapa phon bergoyang, dan terlihat sekelebat bayangan melompat-lompat dari pohon ke pohon. Mereka semua yang terkesima pun mencari sumber suara tersebut. Bondem yang dikiranya hanya peduli dengan daging segar pun ikut terdiam.

   Tiba-tiba, dari atas pohon, sebuah tendangan mendarat di kepala Bondem tersebut. Tak langsung tersungkur, pria yang menendang wajahnya langsung menebas leher sang Bondem dengan parang yang ia selipkan dipunggungnya. Menyebabkan Bondem itu tumbang seketika.

   Pria itu pun menoleh ke mereka bertiga. Ia menatap satu persatu dari mereka. Ia pun bertanya.

“Mau coklat?” sambil tersenyum ramah.



 


CATATAN 12: ORANG MATI TIDAK MENDENGARKAN PIRINGAN HITAM

   Mereka mengikuti “Tarzan” tersebut dari belakang. Mereka bertiga tidak berani bertanya sepatah kata pun, masih terlalu canggung. Lagipula, mana ada orang yang hidup sendiri di tengah taman kota ini. Sebuah tempat persembunyian yang sangat tidak lazim. Apalagi terdapat bondem yang baru saja ia bunuh.

   Mereka terus berjalan menuju ke tengah taman yang mana terdapat pohon beringin tua berukuran  besar menjulang. Apa mungkin Tarzan ini tinggal disitu? Apa dia makhluk jadi-jadian? Tapi mana ada makhluk jadi-jadian menawarkan coklat di siang menjelang sore ini. Pertanyaan-pertanyaan absurd terlintas dipikiran mereka bertiga.

“Kalau kalian mau pakai kamar mandi, kamar mandinya bisa pakai ponten yang ada di belakang sana. Tapi kalau rumah, silahkan naik.” Tarzan itu memperkenalkan tempatnya.

   Mereka bertiga pun menoleh keatas. Betapa terkejutnya mereka terdapat rumah pohon yang cukup besar diatas sana. Batang pohonnya dipasangi tangga yang membantu mereka mencapai puncak.

“Ayo, tak perlu malu-malu.”

    Satu per satu dari mereka pun naik keatas. Mereka kembali dikejutkan dengan interior di rumah pohon tersebut. Semua tampak tertata rapi, bersih, dan terlebih lagi tempat itu luas. jika mereka berempat tinggal disitu pun, masih ada tempat sisa untuk orang lain. Sebuah keanehan yang terjadi di saat seperti ini.

“Kalian mau coklat panas atau teh hangat saja?” Tarzan itu menawarkan pada mereka.

“Teh hangat saja.” El mewakili teman-temannya.

“Ok.” Balas si Tarzan sambil mengacungkan jari jempolnya.

   Mereka bertiga duduk di tengah ruangan yang berisi beberapa bantal dan kursi kayu buatan Tarzan sendiri. Mereka berbisik-bisik ketika sang Tarzan menyiapkan mereka teh.

“El, lu yakin kita mau disini lama-lama? Gue ngga mau kejadian pak Haris terulang.” Tiara memperingatkan El terlebih dahulu.

“Iya, gue tahu, masalahnya, ni orang kayaknya tau medan daerah sini. Salah satu ide bagus kalo kita ngajak orang ini.” El sedikit tidak sependapat dengan Tiara.

“El ada benernya. Gue cuman tau beberapa tempat disini. Gue ngga tahu ada apa aja diluar sana.” Rico malah setuju dengan El.

“Sakit lo berdua ye.” Tiara yang kalah suara terpaksa mengikuti keinginan mereka.

   Tak berselang lama, Tarzan itu kembali dengan membawa 3 buah gelas berisi coklat panas. Mereka bertiga hanya mampu menatap gelas-gelas berisi coklat itu.

“Maaf ya, adanya coklat, silahkan diminum.” Sang Tarzan mempersilahkan.

   Dengan setengah hati, mereka mengambil gelas masing-masing dan meminumnya.

“Jadi, kalian mau kabur kemana?” Sang Tarzan memulai pembicaraan.

“Oh ngga kok, kita cuman mau nyari teman kita aja.”  El menjawab.

“Dimana?”

“Dia kerja di lab L. Seberang jalan sana.” El menunjuk ke arah lab L.

“Boleh ikut ngga saya? Soalnya saya juga penasaran di dalam sana ada apa.” Tarzan ini tampak bersemangat.

   El melirik Tiara yang menggelengkan kepalanya perlahan tanda tak setuju.

“Eh, sebelumnya nama bapak siapa ya?” El emngalihkan pembicaraan.

“Oh iya, belum perkenalan ya. Saya Suep.” Akhirnya Tarzan ini memberi tahu namanya.

“Saya El pak. Ini Tiara dan Rico.” El memperkenalkan kedua temannya.

“Oh gitu. Saya kira kalian penghuni perumahan belakang mau kabur lewat sini. Soalnya sebagian besar dari mereka gagal.”

“Gagal gimana?” Tiara bertanya.

“Ya dimakan Buto itu.” Ujar Tarzan yang menyebut Bondem sebagai Buto.

   Mereka bertiga yang ngeri langsung terdiam. Tak salah juga jika daerah belakang perumahan begitu berantakan. Bondem mungkin memaksa masuk sampai sana. Namun, hal itu tidak membuat mereka mengurungkan niat mereka.

“Mungkin kami cukup disini pak. Kami mau meneruskan perjalanan.” El mencoba berpamitan pada pak Suep.

“Mau malam begini kamu yakin mau meneruskan perjalanan? Saya sudah membunuh 3 Buto minggu ini. Kita ngga tahu ada berapa lagi di luar sana.” Pak Suep masih menaham mereka.

“Kita punya senjata kok pak, tenang aja.” Rico berusaha meyakinkan pak Suep kalau mereka bisa menjaga diri.

“Kamu kira kenapa saya pakai parang buat membunuh si Buto? Badannya terlalu tebal untuk ditembus peluru. Hanya menggunakan benda tajam dan menggorok lehernya untuk mengalahkannya.” Raut wajah pak Suep kini berubah serius. Tak ada lagi senyuman.

“Saya masih trauma sebenarnya. Karena Buto itu yang merengut nyawa anak-istri ku. Di depan mataku.” Pak Suep mulai bercerita.

“Kalian kira aku tinggal disini untuk apa, selain membantai mereka di habitat mereka langsung. Saya juga ingin menghancurkan lab L sialan itu atas kesedihan dan kesengsaraan kita semua. Dendam saya mungkin ngga akan pernah padam.” Pak Suep menatap kelangit-langit rumah pohonnya. Tatapannya kosong tanpa harapan. Berisi kenangan bersama istri dan anaknya.

   El, Tiara dan Rico yang sebelumnya menaruh curiga pada pa Suep, kini merasa iba dan bersalah. Mereka tak seharusnya berperasangka buruk pada pak Suep.

   Mereka pun berbincang panjang lebar tentang kehidupan mereka sebelum kekacauan terjadi, hingga peristiwa-peristiwa di kereta. Semua sangat bersemangat menceritakannya pada pak Suep. Mereka tak ingin pak Suep merasa sendirian. Pak Suep sendiri pun bersemangat mendengarnya. Tak terasa waktu berlalu. Kini hari sudah malam dan mereka berada di titik hening. Mereka kehabisan topik pembicaraan.

“Sekarang, daripada ngga ngapa-ngapain, siapa yang mau ndengerin piringan hitam?” Pak Suep kini berubah kembali dan menawari mereka memutar vynil koleksi beliau yang berada di sudut ruangan.

“Biar saya yang pilih pak.” Tiara ingin membalas rasa bersalahnya.

“Oke, kalau gitu saya mau ke teras dulu ya, saya mau minum dikit. Hehehe.” Pak Suep menunjukkan sebuah botol terbungkus kain.

“Saya boleh ikut pak?” Rico menawarkan dirinya untuk bergabung.

“Boleh dong. Mari.”

   Pak Suep dan Rico pun keluar menuju teras dan menikmati sisa malam. Sedangkan didalam tinggal El dan Tiara. Suasanan canggung tiba-tiba memenuhi seisi ruangan. Mereka berdua saling menatap tanpa sepatah kata keluar. Tiara yang tak mau berlama-lama pun segera memilih piringan hitam.

   Ia mendekati keranjang yang berisi beberapa vynil. Ia timang-timang mana pilihan yang bagus. Pilihan itu jatuh pada album “Everything You’ve Come To Expect” karya The Last Shadow Puppets. Tiara kemudian memasangnya pada pemutar piringan. Suaranya cukup terdengar nyaring. El yang takut hal itu akan mengundang para mayat datang memperingatkan Tiara.

“Ra, jangan kenceng-kenceng.”

“Ngga papa kok, orang mati ngga ndengerin piringan hitam.” Balas Tiara yang mendekati El seraya menjulurkan tangannya mengajak El berdansa.

   El yang terkejut hanya bisa berdiri dan mengikuti gerakan dari Tiara.

"Tell him what you want and baby he can find you

anything you need

Tell him what you're needing, hey, oh

Come on miracle aligner

Go and get 'em tiger

Get down on your knee

 Get down on your knees again oh”

Mereka berdua berdansa hingga kantuk datang dan terlelap dalam mimpi indah.



 


CATATAN 13: SELAMAT DATANG DI NERAKA

   Tengah malam, mereka selesai menyusun rencana agar perjalanana mereka mulus menuju lab L.

“Nah, begitu rencananya.” Pak Suep baru saja menjelaskan rencan mereka menuju lab L.

“Serius pak? Harus saya banget ya?” El merasa sedikit tidak terima dengan rencana tersebut.

“Bentar-bentar, biar gue ulang lagi. Rico sama pak Suep siap-siap diatas pohon. Gue siap-siap dengan senapan gue. Sedangkan El, lari lagi.” Tiara mengulangi rencana pak Suep.

“Biar larinya ngga sulit, kamu pake ini aja El.” Pak Suep memberikan ransel kecil yang berisi perbekalan pak Suep. Sedangkan pak Suep membawa barang bawaan El.

“Pak, dari awal saya keluar rumah, saya udah lari terus pak.” El mememlas pada pak Suep.

“Nah, itu. Karena dari awal sudah lari, kamu jadi udah ahli kan?” Pak Suep masih dengan ketidak warasannya.

“yaudah pak, daripada El sendiri, saya juga ikut lari aja.” Tiara menawarkan diri.

“Boleh.” Pak Suep mengacungkan jempolnya lagi.

   Keesokan paginya, mereka sudah siap di posisi masing-masing.  El dan Tiara sudah melihat seorang Bondem dari jauh. Mereka siap memancing sang Bondem. Sedangkan pak Suep dan Rico sudah siap bergelantungan  menjadi tarzan dengan parang masing-masing. Kali ini arah tujuan mereka menuju lab L yang berada di utara taman kota.

“Kita teriaki, atau kita lempar batu?” Tiara memberikan opsi untuk memancing sang Bondem.

“Kayaknya teriaki aja deh. Lebih aman.” El memilih pilihan pertama.

“Oke bentar. OOOOII!” Teriakan Tiara tak digubris oleh sang Bondem.

“Kurang kenceng kayaknya.” El berpendapat.

“Mata lo kurang kenceng. Ini tenggorakan gue udah sakit.”

“Okedeh kalau gitu. Kita lempar batu aja.” El kini menggunakan opsi kedua sebagai pilihan memancing sang Bondem.

“Lo yang lempar. Gantian dong!” Giliran Tiara yang memerintah El.

   Lantas, El mengambil batu kavling yang berada di sepanjang jalan taman kota. Dengan ancang-ancang layaknya pelempar bola baseball, El berlari sekuat tenaga dan melemparkan batu tersebut. Untungnya, batu itu mengenai kepala sang Bondem. Membuat sang Bondem menoleh. Dan diam menatap mereka berdua.

“Dia kok diem?” El keheranan dengan apa yang terjadi.

“Mana ku tahu.” Tiara sendiri tidak luput dari keheranan.

“AAAAARRGGHHHH!” Sang Bondem berteriak kesal setelah diam sesaat.

   Ketika tahu raksasa itu kesal pada mereka, EL dan Tiara mengambil langkah seribu menuju titik pertemuan dengan Rico dan Pak Suep. Mereka buru-buru menuju kesana karena tidak membawa senjata. Yang bisa mereka lakukan kini hanya berlari sambil berharap Bondem tidak dapat meyusul mereka.

   Titik pertemuan tinggal sedikit lagi. Pak Suep dan Rico sudah terlihat sudah siap. Ketika Bondem itu sudah dalam jangkauan, Rico bergelantung terlebih dahulu dan menendang wajah Bondem tersebut lalu menebas kaki Bondem ketika sudah mencapai tanah. Seketika itu pula Bondem tersebut kehilangan fokusnya pada Tiara dan El. Kemudian disusul oleh pak Suep yang datang dengan menebas leher sang Bondem. Satu lagi Bondem tumbang.

“Huh, untung semua berjalan sesuai rencana. Saya harap ini Buto terakhir yang kita bunuh.” Pak Suep tampak senang karena rencannya berjalan lancar.

“Kayaknya ngga begitu lancar deh pak.” Rico menoleh ke sekeliling. Datang beberapa mayat dari berbagai arah. Mereka pun siaga dengan senjata mereka masing-masing. Kebetulan pak Suep nenoubyai senjata SMG sendiri.

“Kalau begitu, kita pakai formasi mata angin. Tiap dari kita menghadap satu mata angin dan terus berjalan bersama-sama menuju arah utara. Gimana?” Usul El.

“Ide bagus. Ngga ada waktu buat debat. Sekarang, atur formasi. Ra, kamu selatan,saya  dan Rico barat dan timur, El utara.” Pak Suep kembali mengomandoi mereka bertiga.

   Kini mereka sudah siap dengan senjata maisng-masing. Pak Suep dan Rico bertugas menjaga sisi samping, oleh karena itu mereka ditempatkan di sisi barat dan timur. Tiara dengan senapan laras panjangnya bertugas menjangkau mayat-mayat yang jauh berada di belakang karena posisi mereka berada di tengah-tengah taman. Sedangkan El yang hanay bersenjatakan pistol ganda berada paling depan untuk menuntun mereka bertiga.

   Perlahan tapi pasti mereka mulai bergerak. Suara senjata mereka semakin mengundang lebih banyak mayat lagi. Meskipun mereka belum kewalahan, mereka tetap takut ada gelombang yang lebih besar lagi.

   Tiara terus membidik mayat-mayat yang tak mampu di jangkau oleh SMG pak Suep dan Rico. Satu persatu kepal pecah karenannya. Kemampuan membidik Tiara sudah semakin meningkat.

   El yang berada di depan membersihkan beberapa mayat yang berjarak dekat. Maklum, senjatanya hanyalah psitol ganda, namun itu cukup efektif dalam menjaga pandangannya dan memperingatkan teman-temannya jika terjadi sesuatu.

   Pak Suep dan Rico juga melindungi kedua temannya jika mereka sedang fokus dengan tugas mereka. Senjata mereka cukup efektif membersihkan beberapa mayat sekaligus meskipun pandangan mereka jadi sedikit terbatas.

Tak mereka sadari, mayat-mayat yang hampir mengerubungi mereka kini habis. Dan mereka sudah berada di depan pagar taman kota. EL yang memang daritadi berada paling depan membuka pintu pagar taman kota yang menghubungkan keempatnya ke jalan raya. Ketika disamping jalan raya tersebut, di seberang mereka, terdapat bangunan tinggi menjulang yang menjadi tujuan mereka selama ini. Sebuah bangun yang konon menjadi awal dari ini semua. Dengan menoleh ke arah teman-temannya, El berlagak menjadi pemandu wisata dan mengucapkan, “Semuanya, selamat datang di neraka.”


 

CATATAN 14: PETAK UMPET

    Mereka berempat memasuki kawasan lab L. Terlihat banyak sekali kerusakan yang disebabkan para mayat. Ketika memasuki area depan pun mereka harus membunuh beberapa mayat yang berada disekitar sana. Namun entah mengapa, hawa dari awal mereka masuk pun sudah terasa berbeda. Seperti bukan hawa biasanya. Atau karena mereka sudah sampai di “neraka”?

   Mereka tidak saling bercakap dari awal. Ketegangan menyelimuti mereka semua. Tak ada lagi waktu untuk bergurau. Tujuan mereka jelas. Masuk kedalam sana, menjemput Zahwan, lalu kembali ke kereta secepat mungkin. Setidaknya jangan sampai malam hari. El yang berada paling depan melihat jam tangannya.

“Jam 1 siang. Prediksiku kita ada di dalam paling lama 1 jam. Lalu kita bisa kembali sebelum sore hari.” El yakin dengan prediksinya.

“jangan terllau cepat menyimpulkan El. Kita ngga tahu didalam sana ada apa.” Rico mengingatkan.

   El tak menjawab. Seakan-akan ia mengiyakan perkataan Rico.

“Kalau gitu, kita masuk sekarang.” Pak Suep langsung maju memimpin mereka semua.

   Memasuki pintu utama mereka disambut dengan lobby yang kacau balau. Meja reserfasi, meja tamu, papan pemberitahun, semuanya nampak berantakan. Tak ketinggalan beberapa mayat yang bergeletakan dimana-mana.pemandangan yang sudah biasa bagi mereka berempat.

“Zahwan ada di lantai 4, ruang 5. Berarti kita bisa pakai lift itu.” Tiara menunjuk lift disebelah reserfasi.

“Kayaknya mati deh. Meeka pasti udah nyalain tanda darurat. Ngga mungkin kalo lift itu bisa.” Rico menyanggah saran Tiara.

“Tapi listriknya nyala kan?” Tiara menunjuk lampu neon yang masih menyala disepanjang lobby.

“Daripada kelamaan, kita langsung naik ke lantai 4 aja.” El memberi keputusan secepat mungkin. Menghindari buang-buang waktu.

   Keempatnya menuju tangga darurat yang ada di sebelah lift. Membuka pintu darurat itu serasa seperti mencari mati. Hawa, bau, suasana, pencerahan, semuanya mendukung sekali untuk membuat siapa saja untuk kembali.

   Namun, ini semua demi Zahwan dan juga serum yang tersisa. Demi masa depan yang lebih baik lagi, mereka harus mempertaruhkan nyawa mereka. Perlahan tapi pasti, menaiki setiap anak tangga. Dihadang oleh satu dua mayat merupakan hal biasa. Pak Suep yang berada paling depan siap sedia dengan parangnya yang sudah berlumuran banyak darah. Menebas mayat setiap harinya.

   Tak terasa mereka sudah sampai di lantai 4. Ternyata lantai 4 cukup luas dari yang mereka duga. Banyak sekali ruangan-ruangan kaca yang harus mereka cek satu per satu. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus berpencar.

“Okeh, kita berpencar. Setiap orang membawa satu walkei talkie. Selalu beri kabar kalau ada sesuatu. Setengah jam lagi kita berkumpul disini. Clear?” Pak Suep mengomandoi mereka layaknya tim ekspedisi mencari korban selamat.

   Mereka bertiga menerima satu walkie talkie. Dan tentunya siap sedia dengan senjata mereka.

   Di lantai 4 ini ada beberapa lorong. Di hitung-hitung ada 4 lorong dengan 4 lorong bercabang lainnya.jadi setiap dari mereka harus menelusuri 4 lorong untuk menemukan ruang 5. Masalahnya, disetiap lorong ada ruangan 5. Di ruang 5 yang mana Zahwan berada?

   Rico bergerak menuju lorong pertama, dilanjut Tiara ke lorong kedua, Pak Suep lorong ketiga dan yang terakhir El. Mereka masih cukup santai dengan lantai ini. Bahkan mereka keheranan karena tidak ada satu pun mayat. Apakah hanya perasaan mereka saja yang tidak enak?

   Suasana tegang menyelimuti setiap dari mereka. Lampu yang ada di lantai 4 memang nyala terang benderang. Tapi mereka tidak tahu akan ada apa disini. Terlebih mereka sendirian. Yap, sendirian.

   El mengecek satu persatu pintu dengan harapan menemukan penyintas lain, atau bahkan serum penawar yang ada. Pintu pertama ia buka, kosong. Hanya ada ruang rapat yang berantakan. EL melanjutkan ke beberapa ruangan lainnya yang hasilnya sama. Nihil. Begitu pula dengan lorng kedua dan ketiga. Yang ada hanya ruangan yang berantakan dan benda-benda berserakan. Sesekali ada mayat-mayat yang bergeletakan. Tapi itu bukan masalah yang berarti.

   Memasuki ujung lorong ketiga, El menemukan kejanggalan. Sebuah bekas di dinding seperti bekas disiram asam. Di sekitar tembok dan lantai nampak seperti dibakar habis, tapi hanya bagian tertentu. Yang mengejutkan lagi ialah seorang mayat yang terduduk tak berbentuk. Wujudnya bagai manusia yang mandi air keras. Hanya kerangka dan bekas daging-dagingnya. Di titik itu El menyesal harus berpencar dengan teman-temannya. Sebuah keputusan yang salah jika ia mengetahui ini dari awal.

“El pada semua, apa kalain melihat sebuah noda seperti asam mengotori sekitar ruangan, ganti.” El menggunakan walkie talkie nya.

Tidak ada jawaban.

“El pada semua, apa kalian dengar? Ganti.” El mulai panik.

   Ditengah kepanikannya, lampu berkedip beberapa kali. El yang melihatnya mengumpat sejadi-jadinya.

“Anjing, jangan gini lagi dong.” Ucap El sambil menatap lampu.

Seketika lampu di seluruh lantai 4 padam. Menyisakan setiap dari mereka dalam kegelapan. Untuk El, kejadian ini terulang. Bedanya, dia tidak tahu harus menghadapi apa, harus bersembunyi diaman, dan pintu keluar tidak semudah biasanya.

“Bangsat.” Gumam El pelan sambil mencari lampunya di dalam tas.

   Tiba-tiba, dari dalam kegelapan, terdengar sebuah suara langkah kaki. Suara langkah kaki yang berat dan lambat. Seperti membawa beban yang teramat berat. El yang keburu panik langsung masuk menuju ruangan yang ada di sebelahnya. El tak peduli, yang ia tahu di depannya ada sesuatu yang menyeramkan meskipun hanya ada suara langkah kakinya.

   El buru-buru menuju pojok ruangan, bersembunyi dibalik meja. Dengan nafas yang ia tahn, jantung yang berdegup kencang, dan di dalam gelap, El bermain petak umpet. Petak umpet kematian.


 

CATATAN 15: TEMAN LAMA

   Keberuntungan belum memihak pada El. Makhluk tadi masuk kedalam ruangan yang mana ad El disana. Nafas El semakin ia tahan, detak jantungnya makin cepat, darah mengalir deras di tiap pembuluh darahnya. Ketakutan menguasai El. Apakah ada dewi fortuna lagi kali ini?

   Tak lama, makhluk itu membanting pintu dengan keras. Ia kini sudah berdiri di depan pintu ruangan. Dengan bantuan pantulan kaca, El melihat makhluk tersebut meskipun samar-samar. El tak mampu mendeskripsikan makhluk tersebut dengan kata-kata. Makhluk itu jelas seorang pegawai di lab tersebut yang berubah menjadi monster menegrikan. Perut yang membengkak seperti ingin meledak. Lehernya iku membengkak, begitu pula bagian tubuh lainnya. Berbeda dengan Bondem yang berbadan raksasa, makhluk satu ini tampak gendut dengan tinggi badan yang normal.

“Aaaaaa.........”

   Suara makhluk ini aneh. Ia tak mengerang layaknya mayat atau pun Bondem. Suara yang ia keluarkan dari mulutnya tak lebih ialah suara nafasnya sendiri. Dan bau nafasnya sangat menyengat. El menahan sekuat tenaga untuk tidak muntah. Bisa-bisa dia yang dimuntahi makhluk tersebut.

   Makhluk itu perlahan mulai berjalan meyusuri ruangan tersebut. Ia berjalan sangat pelan untuk makhluk seukurannya. El yang tahu posisinya dalam bahaya berusaha bergerak perlahan. Ia menyusuri pinggir ruangan sambil menunduk, pergerakannya ia samakan dengan pergerakan sang monster. Ketika makhluk itu diam, maka El juga akan diam. Jika bergerak sedikit, maka El pun mengikutinya.

   Setelah beberapa menit bermain petak umpet, El sudah berada sangat dengan pintu ruangan yang terbuka. El yang yakin makhluk itu belum berbalik badan, memebranikan berdiri dan mengambil beberapa langkah kecil. Lagi-lagi, kesialan menimpa El. Ketika ia satu langkah lagi menuju pintu keluar, tiba-tiba listrik kembali menyala dan menerangi seluruh lantai 4. El menoleh ke arah makhluk tersebut. Begitu pula sang makhluk yang menatap El.

“AAAAAAAAAHHH!” Makhluk itu tampak marah.

   EL tak berpikir panjang. Ia cepat-cepat belari menuju lorng. Makhluk itu pun mengejar El. Langkahnya lebih cepat sekarang. Entah kareana selera makannya yang meningkat atau karena geram santapan makan siangnya kabur.

   El berlari sekencang-kencangnya menuju titik kumpul pertama mereka bertemu. Disana sudah ada pak Suep, Tiara dan Rico.

“Dari mana aja loe?” Tiara nampak kesal dengan El.

“LARII!” El berlari sambil berteriak ketakutan.

“Apa?” Pak Suep kebingungan dengan kelakuan El.

“Lari dari apa?” Rico iku kebingungan.

   Belum sempat terjawab, dari belakang El muncul makhluk tadi. Tentu saja mereka bertiga reflek ikut lari. Anehnya mereka berlari ke lorong 4, bukan menuju tangga darurat. El yang juga tidak punya waktu bertanya hanya bisa mengikuti mereka bertiga. Setelah memasuki lorong 4, mereka lanjut ke lorong ketiga disana. El yang tiba paling terakhir hanya bisa masuk dan kebingungan.

“KALIAN MAU APA KESINI? MAU NYARI MATI LOE PADA?” El kesal dengan teman-temannya yang bukannya menyelamatkan diri malah mengurung mereka dengan makhluk aneh mengejar mereka.

   Tiara hanya menjawab dengan menunjuk ke suatu arah di sudut ruangan. El pun segera menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Tiara. Suasana hati El langsung berubah 180 derajat. Di ruangan itu, di sudut ruanagn itu, ia kembali melihat Zahwan. Teman lama yang ia cari-cari keberadaannya. Zahwan pun ikut menatap balik El. Ikut merasa bahagia melihat sahabatnya bisa bertahan hidup sejauh ini.

   Tanpa pikir panjang mereka saling berpelukan satu sama lain, saling melepas rindu. Rindu persahabatan di kiamat dunia. Sebuah reuni di kiamat dunia.

“Gue kira lo udah jadi mayat El.” Zahwan selesai memeluk El mengusap air mata di matanya.

“Sialan lo. Bukannya bahagia. Kata-kata yang bagusan dikit napa?”

“Hahahaha. Gimana keadaan kota kita?” Zahwan bertanya

“Ya mati, mau gima lagi?” El menjawab seadanya.

“Oke bukannya saya mau mengganggu reuni yang indah ini, tapi kita punya makhluk besar yang badannya kayak mau meledak diluar sana.” Pak Suep mengintrupsi El dan Zahwan.

“Itu Karakas pak. Makhluk paling tidak terpediksi bisa ada.” Zahwan menjawab pertanyaan pak Suep.

“Karakas?” Rico bingung.

“Iya. Kita menyebutnya Karakas karena ia bisa menyemburkan asam dari dalam perutnya. Asam itu bisa menghancurkan  apa saja. Bahkan manusia hanya akan menjadi bubur dihadapannya. Untungnya, ia punya kelemahan, yakni cahaya.” Zahwan menjelaskan singkat.

“Oh, pantes tadi lampu sempet mati.” El sekarang tau alasan lampu tadi sempat mati.

“Iya, gue biasa matiin lampu rutin buat mbikin dia bingung.” Ternyat Zahwan pelakunya.

“Oke, biar saya ulang, ada monster gendut diluar sana yang mau menjadikan kita bubur dengan semburan asam dari mulutnya. Betul?” Pak Suep masih tidak percaya ada monster selain Bondem.

“Yap. Dan dalam keadaan tertentu, ia bisa bunuh diri dengan cara meledakkan diri. Dengan kata lain menyipratkan asam dari perutnya menuju segala arah.” Tambah Zahwan.

“Ada cara yang aman ngga buat bunuh dia?” Rico bertanya.

“Ada satu cara. Hanya satu.” Zahwan menatap mereka berempat bergantian.




 

CATATAN 16: RUSSIAN ROULETTE

   Mereka bertiga kini sudah siap di posisi mereka masing-masing. Karakas kini menuju kearah ruangan dimana mereka berada. Setiap orang berada di tiap sudut ruangan. Sedangkan Tiara berada di tengah ruangan. Kini Tiara bertugas sebagai umpan. El bertugas mematikan listrik, Zahwan bertugas menyuntikkan serum yang akan membunuh Karakas, sedangkan pak Suep dan Rico bersiap dengan senjata mereka  jika rencana A tidak berjalan.

   Ketika memasuki ruangan, sang Karakas tampak tersenyum melihat Tiara yang hanya berdiri mematung seakan menyerahkan dirinya. Ketika jaraknya hanya tinggal beberapa inci dengan Tiiara, El buru-buru mematikan listrik, membuat fokus Karakas pecah. Listrik seketika padam, kini, giliran Zahwan yang menancapkan suntik berisi serum itu ke pangkal leher Karakas. Membuatnya ia tumbang tak berdaya.

“Wih, gitu doang nih?” Ucap El sumringah sambil kembali menyalakan listrik. Nampak jelas dimata mereka berempat makhluk gempal itu tergeletak begitu saja di tengah ruangan.

“Harusnya masih ada lagi.” Zahwan keheranan ada sesuatu yang janggal.

    Tiba-tiba perut Karakas bergunjang hebat. Mirip balon berisi air yang akan meledak.

“SEMUANYA KELUAR!” Zahwan memerintahkan mereka bertiga keluar. Dengan terburu-buru, mereka segera melompat keluar ruangan. Sedetik kemudian...

BLAAARR!

   Karakas mengeluarkan isi perutnya berupa asam yang teramat banyak, seluruh asam itu sampai memenuhi seisi ruangan. Pintu kayu ruangan pun ikut hancur karenanya.

“Gilak. Gue kira cuman segitu doang. Ini udah ni?” El lagi-lagi bertanya pada Zahwan.

“Harusnya belum.” Zahwan menjawab singkat dengan wajah cemas.

“Masih ada lagi?” mereka bertiga menjawab hampir berbarengan.

   Tak lama terdengar suara tangis bayi. Bukan hanya satu, suara itu terdengar seperti beberapa bayi. Beberapa detik kemudian dua bayi muncul dari dalam ruangan. Satu merambat dengan cepat, satu lagi melompat dan menempel ke dinding. Kemudian disusul oleh 4 bayi yang lainnya. Mereka tampak marah dan akan memburu kelima manusia itu.

“Jadi selama ini dia hamil?” Tiara bingung dengan pemandangan di depannya.

“Anjing. Gue kira cuman duar trus selesai.” El masih sempat-sempatnya ngelantur.

“Tembak cepat!” Zahwan menunjuk senjata masing-masing dari mereka. Dengan sigap mereka langsung menembak secara membabi buta ke arah bayi-bayi itu.

   Satu per satu bayi itu mati sia-sia sebelum bisa menyantap daging segar manusia. Beberapa lagi mampu menghindari. Gesit seperti Mak Lampir. Tak elak, itu membuat mereka semakin panik. Gerombolan bayi itu makin medekat. Satu bayi yang paling dekat pun melompat ke arah Rico. Rico pun reflek menangkapnya menggunakan tangannya. Pak Suep yang berada di samping Rico langsung menebas bayi itu menggunakan parangnya.

“AAAAAAHHHH!” El menjerit kesakitan.

   Fokus mereka berempat yang tertuju pada bayi yang ditebas pak Suep membuat mereka luput pada El. Seorang bayi Karakas berhasil menggigit leher samping El. Dengan sekuat tenaga, El melempar bayi itu. Ketika bayi itu terlempar jauh, buru-buru Tiara menginjak kepala bayi terssebut. Untungnya itu bayi terakhir yang harus mereka singkirkan.

“El, liat luka lu.” Zahwan berusaha tetap tenang dan menenangkan El.

   El tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia masih shock. Tubuhnya bergetar hebat. Lehernya mengeluarkan sedikit darah. Gigitan bayi itu tidak terlalu dalam, tapi, siapa yang tidak gemetaran ketika digigit oleh bayi mayat hidup. Terlebih El tidak tau efeknya pada tubuhnya. Apakah ia akan berubah menjadi mayat? Apakah dia akan dibunuh oleh teman-temannya demi kebaikan bersama?

“Wan, ngga ada obat disini? Katanya ada obat yang siap dipakai?” Rico mencoba mencari jawaban.

Zahwan hanya diam sambil menggelengkan kepala. Ia jelas menyimpan sebuah rahasia dari pertanyaan tersebut.

   Rico yang kesal dengan jawaban Zahwan menarik baju labnya dan menempel Zahwan ke tembok/

“Temen lo ini udah mempertaruhkan nyawanya hampir lima kali demi lo. LIMA KALI, DAN KETIKA DIA HAMPIR MATI LU CUMAN DIEM? SAKIT LO!” Rico yang biasanya hanya diam saja, kini marah besar pada Zahwan.

 Zahwan yang masih diam saja mencoba merangkai kata. Sesekali mulutnya terbuka, lalu kembali menutup. Ia belum yakin dengan jawabannya.

“Zahwan, bilang apapun itu meskipun menyakitkan.” Pak Suep dengan bijak mencoba membantu Zahwan dari tekanan Rico.

“Ada pak.” Zahwan mulai buka mulut.

“Tapi saya ngga tahu efek sampingnya. Tingkat keberhasilannya pun tidak besar. Hanya 10% tiap dosis. Ini kayak Russian roulette.” Zahwan menjelaskan sambil menatap mereka semua.

   Tiara yang memangku kepala El dan membantu menekan lukanya tak kuasa menahan air mata. Pria yang ia rampok di parkiran supermarket kala itu, kini harus pergi karena gigitan seorang bayi.

“Kalau itu satu-satunya kesempatan, maka harus kita coba. Dimana itu sekarang?” Pak Suep ingin ini semua segera berakhir agar El tak tersiksa terlalu lama.

Zahwan pun menuntun mereka menuju sebuah ruangan lab yang terdapat tanda bahaya di pintunya. Mereka pun masuk. El dibopong oleh pak Suep dan Rico dan Tiara membawakan senjata mereka. Dalam ruangan tersebut tampak terjaga kesterilannya. Seperti hampir tampak tak pernah terjamah oleh tangan manusia. Di tengah ruangan terdapat sebuah serum yang tampak tersegel rapat dalam sebuah tabung.

“El akan menjadi orang pertama yang disuntukkan obat ini.” Zahwan mengambil serum itu dengan suntik.

“Jadi ini obat yang seharusnya menyembuhkan wabah ini?”Tanya Tiara.

“Siapa bilang ini semua karena wabah?” Jawab Zahwan singkat.

   Dari jawabannya, Zahwan membuat bingung semua yang mendengarnya tak terkecuali El yang menahan sakit. Jadi selama ini mereka bertahan hidup dari apa? Kalau bukan wabah, mengapa dampaknya sangat luas? berbagai pertanyaan muncul di  dalam masing-masing kepala mereka.

    Zahwan sudah selesai menyuntikkan serum tersebut. Tampak wajah El yang sebelumnya pucat pasi, mulai kembali normal. Lukanya seketika menutup dengan cepat dan sembuh. El sudah kembali seperti semual. Sebuah gambling yang tidak sia-sia. El yang bahagia pun memeluk erat Zahwan, sahabatnya.

“Sekarang kita harus ceapt-cepat kembali sebelum malam. Saya ngga mau ketemu bayi-bayi itu lagi.” Pak Suep mengomandoi mereka.

“Wan, tadi kamu bilang kalau semua ini bukan berasal dari wabah. Lalu, dari apa?” Tiara bertanya pada Zahwan sambil menyantap roti yang mereka dapatkan ketika menjarah sebuah toko klontong sore tadi.

   Kini mereka berlima sudah kembali ke rumah pohon pak Suep untuk tempat berlindung sementara. Keesokan paginya baru mereka akan melanjutkan perjalanan mereka menuju kereta menemui pak Eric dan lainnya.

   Zahwan yang mendenagr pertanyaan dari Tiara tidak langsung menjawab. Seperti sebelumnya, ia berusaha merangkai kata-kata.

“Kalian yakin mau tau penyebab dari semua ini?” Zahwan bertanya untuk terakhir kalinya.

   Keempat mengangguk serempak.

Zahwan menyeruput kopi hangat di cingkirnya seraya berkata, “Pihak militer.”


 

CATATAN 17: PIHAK MILITER

   El, Tiara, Rico, dan pak Suep melongo melihat Zahwan yang kembali menyeruput kopi di cangkirnya. Zahwan seperti sudah memprediksi ekspresi keempat orang teersebut. Mereka nampak tak percaya dan perlu penjelasan segera dari semua ini. Mana mungkin pihak militer menciptakan kiamat bagi umat manusia.

“Bentar, jadi ini semua bukan karena wabah?” Rico meluapkan kebingungannya.

“Bukan, wabah hanya kedok. Kedok untuk mentutupi aib tersebut.” Zahwan memandang langit-langit rumah pohon pak Suep. Ia seperti mengingat kembali memori ketika ia ditangkap.

“Lu ingat ngga El, waktu gue tiba-tiba telepon gue putus? Itu gue lagi keluar dari rumah sakit dan mau balik ke kosan. Tiba-tiba gue dibekap dari belakang, lalu gue ditarik paksa masuk ke sebuah van. Di dalam sana udah ada beberapa orang lain dari rumah sakit yang pekerjaannya rata-rata di bidang radiologi dan tak ketinggalan beberapa orang yang gue duga kuat pihak berwajib. Orang yang duduk di sebelah supir bilang ‘kalian cukup diam. Akan kami jelaskan di ibu kota.’ Jadi di hari itu kita semua langsung di bawa ke lab L.”

“Ketika sudah sampai di lab L, para militer sudah mengamankan tempat tersebut. Beberapa orang sudah terjangkit, tapi tidak separah di kota kita. Sampai detik itu gue belum tau penyebab dari semua ini. Sampai pada akhirnya, kami semua diajak naik ke lantai 5. Disana sudah ada banyak jendral dan pimpinan lab. Mereka menyebutkan kekacauan yang terjadi harus segera menemukan obat. Kami semua diberi waktu 1 minggu karena suadah ada serum penawarnya.” Zahwan berhenti sejenak.

“Bentar, gimana ceritanya merek apunya penawarnya ketika penyakit itu baru terjadi beberapa jam sebelumnya? Kok aneh?” El memotong Zahwan sambil masih kebingungan.

“Sejujurnya gue sendiri ngga tahu El. Semua terjadi begitu cepat. Ketika kami datang, kami diberi tugas untuk meneliti serum dan beberapa mayat. Ada yang agresif, ada yang pasif, dan ada yang berevolusi. Salah satunya Karakas. Tidak ada satu pun dari kami tau maksud dari semua itu. Kami sendiri tidak tau apa yang terjadi di luar sana karena kami dilarang berkontak dengan siapapun. Yang kami tau semua yang diluar sudah pasti mati. Ngga ada lagi harapan.” Zahwan bercerita sambil sedikit berlinang air mata.

“Semua masih aman sampai minggu kedua. Kami para tenaga medis dan ilmuwan dilindungi, diberi makanan, diberi tempat tidur, semua aman. Sampai suatu ketika seorang tentara ambruk tanpa sebab. Ia tidak sakit, tidak terkena serangan dari mayat-mayat itu, hanya jatuh terkapar secara tiba-tiba.”

“Tentunya semua berinisiatif untuk menolongnya. Ia kami bawa ke lantai 3 dengan kondisi yang tidak tertolong. Denyut nadinya sudah benar-benar berhenti, begitu pula dengan jantungnya. Akhirnya ia kami pindahkan ke meja operasi yang mana akan kami lakukan visum. Disitulah mimpi buruk ini terjadi.”

“ketika kami mencoba membedahnya, tiba-tiba ia tersadar dan menyerang siapapun yang ada di depannya. Menyakar, menggigit, memukul, apapun cara ia lakukan untuk melukai siapa saja. Dan sisanya terjadi seperti di luar sini. Beberapa orang terjangkit, lalu ikut menyerang. Jadi jika kalian bertanya bagaimana lab L bisa tumbang, ya karena diserang dari dalam.” Zahwan mengakhiri kisah runtuhnya lab L.

“Tapi kenapa? Kok bisa?” Rico bingung dengan bagian dimana seorang tentara tiba-tiba tumbang dan jatuh. Rasanya sangat mengganjal.

   Zahwan yang tidak tahu pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Terus, lu bisa ngirim pesan itu gimana?” Tiara tak mau kalah bertanya.

“Jadi gue waktu itu di lantai 5, dimana semua petinggi lagi nelpon siapapun yang bisa nolong kita. Karena pada saat itu, kondisi lab bener-bener ngga ke tolong. Eh, ternyata 2 hari kita ngga bisa nahan. Kebetulan gue denger nama kota kita disebut, yaudah gue ikut ngirim pesan ke pak siapa namanya? Pak Eric ya? Pokoknya itulah, buat dateng kesini.”

   Terjawab sudah mengapa Zahwan bisa mengirim pesan ke pak Eric yang mana mereka belum pernah bertemu sekali pun.

“Kamu waktu kekacauan itu terjadi, bertahan dirinya gimana?” Pak Suep ikut nimbrung.

“Kebetulan setelah mengirim pesan, saya langsung turun pak. Saya langsung menuju lantai 4. Disana saya diajak beberapa tenaga medis dan 2 tentara untuk berlindung sementara. Di ruanagn tersebut sudah ada persediaan makanan dan minuman. Masalahnya adalah, ketika bantuan tak kunjung datang dan persediaan makanan mulai menipis. Diposisi itu kami memutuskan untuk bergantian patroli berpasangan. Setiap malam 2 orang keluar untuk mencari apapun yang berguna. Setiap malam itu pula mereka tidak pernah kembali. Hingga saya seorang sendiri yang masih bertahan.” Zahwan bercerita sambil mengenang beberapa teman-teman rekan medisnya yang tak pernah ada lagi. Entah menjadi mayat, atau dimakan mayat.

“Sekarang, mau gimana kita?” Rico bertanya pada semuanya.

“Sekarang kita istirahat. Tidak perlu memaksa pergi ke kereta. Toh, hari juga sudah mulai gelap. Kita rehat sejenak sampai besok fajar.” Pak Suep menyarankan dan disetujui oleh keempatnya.

   Seperti biasa, El sedng menulis di buku hariannya sebelum tidur. Dimana ia menuangkan isi kepalanya hari itu kedalam bentuk tulisan.

Dear death,

Ini gue lagi.

Guess what? Zahwan is alive. Dia masih hidup. Sebuah keajaiban ditengah-tengah kiamat dunia. Sesuatu yang ngga pernah gue duka, yakni nangis bahagia di kondisi kayak gini. Semoga besok ada kabar baik lainnya. Semoga.

El”

   Mereka berlima sudah hampir sampai di kereta. El, Rico dan Tiara tidak sabar menunjukkan kedua sahabat baru mereka pada para penghuni kereta lainnya.

“Harusnya kita makan gede habis ini.” Tiara tidak sabar.

“Iyalah, habis ini gue ya yang masak, gini-gini gue bisa masak lho.” Goda Rico.

“Oh ya? Keren dong?”

“Ngga juga kok ra” Rico tersipu malu.

   Ketika gerbong kereta sudah dapat mereka lihat, yang mereka lihat jauh dari apa yang mereka tinggalkan. Gerbong kereta tersebut telah terguling, entah bagaimana caranya. Banyak mayat-mayat berserakan, selongsong peluru ada dimana-mana, dan tanah bekas ledakan. Tempat ini sebelumnya menjadi medan peperangan.

“Apa-apain semua ini?” El meraasa menyesal telah meninggalkan kereta. Membuatnya bertekuk lutu dan menangis sejadi-jadinya.

   Tiara sendiri menemukan boneka beruang gadis yang ia janji kala itu untuk kembali. Kini, itu semua tinggal kenangan. Rico tak kalah sedihnya karena telah meninggalkan orang-orang yang sudah ia anggap sebagai keluarga baru. Pak Suep dan Zahwan yang tak tahu apa-apa hanya mampu turut berduka. Suasana hari itu persis dengan mendung yang menyertai mereka.

   Ditengah-tengah keheningan, muncul sebuah suara dari atas gerbong yang terguling. Namapak sosok pria yang berdiri tegap sambil menenteng senjata AK-47 menatap mereka berlima. Tak lama, ia berucap.

“Mereka semua baik-baik saja di pelabuhan.”


 

CATATAN 18: PELABUHAN

“Mohon maaf, anda siapa ya?’ Pak Suep bertanya dengan sopan.

“Anda ngga perlu tau sekarang. Kalian bisa tau nanri, sekarang ikut saya. Saya sudah nunggu kalian selama 2 hari.” Pria itu nampak kesal dengan balutan setelan tentara pada umumnya.

   Dibalik gerbong yang terguling tersebut ternyata sudah ada sebuah helikopter yang baru dinyalakan, mereka diinstruksikan agar cepat-cepat naik. Tentu saja mereka hanya bisa menurut. Mereka tidak punya pilihan lain.

   Helikopter pun terbang, meninggalkan kawasan kereta yang membawa mereka sampai ke ibu kota. Terbang tinggi menuju arah selatan. Selama perjalanan, mereka hanya diam tanpa bisa bercakap-cakap. Tentu saja karena angin yang cukup kencang dan suara dari mesin helikopter yang tak kalah bisingnya. 15 menit kemudian, mereka melihat dari kejauhan sebuah pelabuhan yang sudah dialih fungsikan menjadi camp pengungsian. Di sekelilingnya terpasang pagar besi yang cukup tinggi beserta kawat berduri diatasnya. Dua menara penjaga juga terlihat berdiri kokoh. Di sebelah kanan terdapat beberapa tenda besar. Di tengahnya adalah lapangan berisi beberapa tentara yang sedang berlatih. Dan di sebelah kiri adalah lapangan untuk beberapa kendaraan militer.

   Ketika mendarat, mereka disambut hangat oleh pak Eric dan beberapa rekannya.

“Selamat datang, di pelabuhan. Ah, kamu pasti Zahwan?” Pak Eric menyalami mereka sambil menjabat tangan mereka satu per satu.

“Pak, perkenalkan ini dua orang yang kami bawa. Ada pak Suep, dia yang memberi kami tumpangan tempat untuk tidur dan Zahwan, orang yang saya cari selama ini. Pak Suep, zahwan, ini pak Eric, orang yang memberi tumpangan kereta padaku dan Tiara.” El memperkenalkan masing-masing dari mereka.

“Jadi ini pak, orang-orang yang bapak ceritakan?” Tentara yang menjemput mereka ikut nimbrung di pembicaraan tersebut.

“Tentu saja ini mereka. Perkenalkan, ini Jo, letnan muda didikan terbaik akademi angkatan laut. Oelh karena itu saya pasrahkan mereka ke dia.”

Jo hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.

“Kalau begitu kalian silahkan bawa barang-barang kalian dan pergi tenda 7. Disana sudah ada beberapa penghuni kereta lainnya.” Pak Eric menginstruksikan mereka untuk segera pergi ke tenda dan menemui penghuni kereta lainnya yang sudah menunggu mereka.

   Kelimanya pun berkemas dari area parkir kendaraan militer menuju tenda-tenda pengungsian. Ketika melewati lapangan, mereka melihat sekumpulan anak-anak sedang bermain riang gembira. Sepertinya mereka belum tahu apa yang sedang terjadi. Setidaknya, mereka masih bisa menikmati masa kecil sebelum menemukan realita bahwa dunia sudah hancur. Mereka berlima terus berjalan menuju area tenda. Disana telah berdiri banyak tenda yang menampung banyak orang. Mereka memandangi El, Tiara, Rico, Zahwan, dan pak Suep dengan tatapan bahagia sekaligus keheranan. Mungkin karena kelimanya terlambat datang sehingga menimbulkan kebingungan.

“KAK TIARAAA!” Seorang gadis kecil menghampiri Tiara sambil berlari kecil. Gadis itulah yang berjanji dengan Tiara.

“Halo! Gimana kabarnya?” Tiara memeluk gadis tersebut sambil berjongkok.

“Baik kak. Semua disini nunggu kalian.” Gadis itu nampak bahagia Tiara mampu memenuhi janjinya.

“Bagus deh. Liat nih apa yang kakak bawa, Tadaaa!” Tiara menunjukkan boneka beruang yang tertinggal di gerbong kereta.

“Lho? Kok bisa ada di kakak? Masuk aja yuk cerita di dalam!” Gadis itu menggandeng lengan Tiara.

   Mereka akhirnya bercengkrama dan saling berkenalan di dalam tenda 7. Tidak lupa mereka saling bertukar cerita satu sama lain. Mulai dari menghajar Bondem bersama-sama, lalu berformasi mata angin untuk meloloskan diri dari kepungan mayat, sampai menghadapi Karakas. Tak lupa mereka menceritakan kebenaran yang sebenarnya.

“Iya, kami tau kalau ini bukan karena wabah. Pihak militer sendiri yang bercerita.” Seorang bapak-bapak yang kala itu menolak untuk pergi ke lab L menceritakan bahwa pihak militer sudah mengakui kekacauan tersebut.

“Lalu, gimana tanggung jawab mereka pak?” El bertanya.

“Tidak ada tanggung jawab. Ini bukan salah mereka.”

“Hah? Kok bisa?” El masih belum puas dengan jawaban tersebut.

   Belum selesai bapak itu membuka mulut, pak Eric datang menghampiri El.

“El, mari ikut saya. Ada beberapa hal yang mau saya sampaikan.” Pak Eric tampak mengajak El, Rico, dan Zahwan menuju ke sebuah tenda khusus petinggi militer. Disana sudah ada meja panjang lengkap dengan makanan yang disajikan diatas piring.

“Mari, silahkan menikmati hidangan yang ada.” Seorang jenderal menyambut mereka dengan hangat.

“Sebenarnya saya mau menceritakan keseluruhannya. Tapi mari kita tunggu petinggi yang lainnya.” Jendral itu tersenyum ramah sambil menawari anggur pada El dan Zahwan.

“Pak, bukan bermaksud lancang, tapi saya sudah disuntik serum pak, dan berhasil.” El membuka topik dengan sang jendral.

“Oh tentu saja kami tahu.”

“Darimana bapak tahu?” 

“Kita tunggu saja. Sebelum itu, kamu pernah dengar istilah perang dingin?”


 

CATATAN 19: PERANG DINGIN

“Tentu saja tau pak. Itu kondisi dimana ada dua negara yang sedang berseteru tapi dalam diam bukan?” El menjawab pertanyaan pembuka dari jendral tersebut.

   Sang jendral yang belum menyebutkan namanya itu hanya tersenyum sambil meminum segelas anggur. Tak berselang lama, masuklah beberapa orang lain yang tampak berpangkat sama dengan sang jendral. Tidak ketinggalan pak Eric, Jo dan pak Suep. Ya, pak Suep.

“Kamu pasti sudah kenal dengan orang satu ini. Kebetulan Suep merupakan salah satu tentara yang saya tugaskan untuk menemani kalian. Ia tidak ada hubungannya dengan siapapun di ruangan ini karena dia memang intel negara.” Sang jendral memperkenalkan pak Suep pada Zahwan dan El yang tampak terkejut.

“Memangnya keadaaan seperti apa yang sedang kita hadapi sekarang pak?” Jo yang duduk bersebelahan dengan Zahwan ikut bertanya. Keanggotaan tentara saja masih belum tau apa yang terjadi.

“Jendral, boleh saya menjabarkan apa yang saya ketahui?” Pak Suep tiba-tiba berdiri dari kursi makannya.

“Iya, silahkan.” Sang jendral mempersilahkan.

“Baiklah. Selamat sore semuanya. Perkenbalkan saya Suep, saya adalah mata-mata negara yang ditugaskan pada negara seberang yang merupakan musuh dari negara kita. Kebetulan saya bertugas untuk mematai projek rahasia mereka yang dinamakan unbeatable soldier. Mereka ingin menciptakan tentara yang tak tertandingi. Namun, setelah saya dalami, ternayat itu bukan projek untuk mereka, itu adalah senjata pemusnah massal yang sengaja ditebarkan akibat perseteruan dengan negara mereka. Wabah yang sedang melanda dunia hanyalah topeng untuk menutupi kejahatan mereka. Senjata tersebut berupa virus yang disebarkan di satu titik di tiap kota di negara kita.”

“Karena para petinggi militer sudah menyadari hal ini, maka diberilah tugas pada beberapa ilmuwan dan tenaga medis untuk membantu kami menemukan penawarnya. Bukannya berhasil, kita malah hanya menemukan seorang tentara yang malah menyerang dari dalam. Rencana kita cukup berantakan sekarang. Untungnya, serum tersebut masih selamat dan ada pada darah anak ini.” Pak Suep menunjuk El. Memang, darah El masih mengandung serum yang berhasil tersebut.

“Jadi ini bukan karena wabah. Ini murni perang dingin dengan melemahkan kita dari dalam. Mematikan negara kita secara perlahan-lahan.” Pak Eric menambahkan.

“Ya, wabah hanya kambing hitam.” Sang jendaral membenarkan perkataan pak Eric.

“Sebentar, lalu apa hubungannya dengan serum yang telah disuntikkan pada saya? Kalau memang terbukti berhasil, mengapa tidak kita produksi massal saja?” El memotong pembicaraan kedua jendral tersebut.

“Karena kamu projek rahasia sebenarnya El.” Zahwan malah menjawab pertanyaan El.

   El menoleh pada Zahwan. Ia tidak mengerti maksud dari shabatnya tersebut. Sedangkan tatapan mata Zahwan dan semua orang di dalam ruangan tersebut tampak serius. Apa yang sebenarnya terjadi.

“Ketika kamu disuntukkan serum tersebut, serum itu lah serum yang saya curi. Serum unbeatable soldier, serum yang sekaligus penawar dari penyakit mayat mematikan ini. Masalahnya, kita belum tahu efek sampingnya. Oleh karena itu kami masih membutuhkanmu.” Pak Suep kembali menceritakan cerita yang tak terduga.

“Tapi fokus kita sekarang bukan ke penawar tersebut. Tapi bagaimana memberikan para penyintas tempat yang aman bagi mereka. Kita juga harus berjaga-jaga jika suatu saat ada gelombang serangan yang masif.” Jo sebagai letnan muda berani mengintrupsi atasannya.

   Seisi ruangan tersebut terdiam. Mereka tidak tau dimana lagi mereka harus berlindung. Semua kota di negara tersebut telah hancur, ibu kota sendiri sudah tumbang, tidak ada lagi harapan selain terus menerus bertahan.

“Ada satu jalan. Tapi cukup beresiko. Oleh karena itu saya mengumpulkan kalian semua disini.” Sang jendral kembali berbicara setelah lama berfikir.

   Suasana tegang menyerang seisi ruangan. Tidak ada yang berani berbicara sepatah kata pun. Masa depan negara berada di rencana yang akan mereka susu kali ini.

“Negara sekutu kita menawarkan tempat berlindung. Tetnunya berupa tanah luas dan kita sendiri yang harus membangun tenda pengungsiannya. Mereka memberika kita tumpangan pada kita lewat pesawat militer mereka yang akan menjemput kita sehari setelah rencana ini disetujui. Keputusan ada di tangan kita semua.” Jendral menyampaikan rencanan cadangannya.

“Baik semua, siapa yang setuju dengan rencana ini?” Pak Eric sebagai veteran perang ingin segera keputusan diambil. Mereka tidak punya banyak waktu.

   Semua orang yang ada dalam ruangan tersebut mengangkat tangan tanda setuju. Mereka sendiri juga sadar bahwa tidak ada lagi cara lain selain pergi ke negara sekutu tersebut.

“Baik, saya akan menelpon negara sekutu kita. Untuk semua silahkan persiapkan apapun yang akan kita bawa. Terpaksa kita akan meninggalkan kendaraan perang yang tidak dapat kita bawa. Lalu jangan lupa...” perintah jendral terpotong seorang tentara yang tiba-tiba masuk tanpa permsi.

“Ada apa? Apa kamu ngga lihat kami sedang rapat?” Jo membentak tentara tersebut.

“Maaf pak, tapi, tapi...” Tentara itu tampak terbata-bata.

“TAPI APA?” Jo kesal dengan interupsi ini.

“Ada serangan dari arah barat dan utara! Kita sedang disergap pak!” Tentara itu meneruskan.

   Semua yang ada dalam ruangan nampak kebingungan. Rencana mereka berantakan. Seharusnya mereka masih bisa selamat kalau tidak ada serangan mendaadak seperti ini.

“Berapa jumlah mereka?” Jo mengambil alih komandan dari jendral.

“Satu peleton dari tiap arahnya.”

“Sialan, mereka banyak.” Jo memutar otak, menabrakkan pilihan antara berperang atau kabur.

   Di situasi tersebut, El memberanikan diri memberi saran.

“Saya ada saran.”


 

CATATAN 20: PENYERGAPAN DI PELABUHAN

   Seisi ruangan menoleh kepada El. Bisa-bisanya warga sipil biasa memberi interupsi pada petinggi tentara. Namun, tidak waktu untuk memikirkan hal tersebut. Jabatan tidak lagi penting saat ini. Yang penting, keselamatan nyawa orang banyak dapat diamankan. Tak peduli kau warga sipil, ataupun jendral tentara.

“Silahkan El.” Pak Eric mempersilahkan.

“Jadi begini pak, anda tetap menghubungi negara tetangga untuk menjemput kita disini. Namun, untuk sementara, para tentara dan pria yang mampu mengangkat senjata, harus menahan laju para mayat tersebut. Setidaknya sampai semua persiapan sudah selesai dan tumpangan sudah datang. Bagaimana pak?” El membeberkan sarannya.

“Oke, saranmu cukup masuk akal. Jo, kamu komandoi beberapa tim untuk bertahan sesuai strategi yang pernah kita bahas pada saat itu. Bapak-bapak sekalian ikut mengangkat senjata. Saya mohon, untuk kali ini saja. Untuk terakhir kalinya bagi negara ini. Zahwan dan El mengkoordinasi para warga sipil untuk tetap tenang dan mempersiapkan segala jenis keperluan. Jelas semuanya?” Jendral memberikan arahannya.

“Jelas jendral!” semua menjawab serempak.

   Kini mereka keluar dari tenda. Nampak para tentara menyerbu mayat-mayat yang terus berdatangan dengan senjata mereka. Mulai dari senapan biasa, hingga senjata berat sekalipun. Semua kekuatan dikerahkan untuk menahan para mayat yang ada di luar pagar tersebut. Di saat yang bersamaan, kondisi di area tenda tidak kalah paniknya. Tidak sedikit para penyintas yang histeris ketakutan, terutama para anak-anak. Mereka tidak mau ajal cepat-cepat menjemput mereka.

“Kita harus keliling El. Jangan sampai kepanikan warga berlanjut.” Tiara menyadarkan El dari lamunannya.

   El yang baru sadar pun hanya bisa mengangguk. Ia mulai berkeliling dari tenda ke tenda. Menjelaskan pada para penyintas bahwa masih ada harapan di suatu tempat. Jadi, mereka diharapkan untuk tetap tenang karena semua akan baik-baik saja.

“Ngga mungkin ada harapan dek. Kota kita aja udah hancur lebur gitu.” Seorang ibu-ibu pesimis dengan kabar yang dibawa El sambil menenangkan balita di pangkuannya.

“Masih ada ibu, masih ada obatnya disana. Sekarang tetap tenang sambil nyiapin barang-barang ya?” El dengan sabar meladeni si ibu.

   Ketika suasana mulai sedikit reda, pak Suep dan Rico masuk ke tenda dimana El menenangkan para penyintas lain.

“Nah, disini kamu, ayo ikut saya! Tiara mana?” Pak Suep mencari El kesana kemari ternyata.

“Tiara di tenda sebelah pak. Ada apa ya?” El mendekati pak Suep yang memanggilnya.

“Cepat panggil Tiara, lalu pergi ke tenda strategi ditengah, kita memerlukan banyak orang.” Pak Suep percaya dengan mereka bertiga karena memang keempatnya pernah bekerja bersama di taman kota.

“Jangan lupa ajak Zahwan, dia penting di tim medis.” Tambah pak Suep.

   El mengambil langkah seribu menjemput Tiara dan mencari Zahwan. Ia tahu betul rakyat sipil keberadaannya juga dibutuhkan sekarang. 

“Ra, ayo ikut aku.” El menggandeng Tiara ketiak sudah melihatnya.

“Eh, eh, mau kemana kita?” Tiara yang tiba-tiba ditarik kebingungan.

“Mau perang.” Jawab El singkat.

    El yang melihat Zahwan juga langsung mengajak Zahwan.

“Wan, kita perlu tim medis.” El hanya memberikan kode tersebut dan Zahwan langsung mengangguk.

   Lengkap sudah tim mereka yang dibutuhkan pak Suep. Sekitar 1 menit mereka berlari dari araea tenda penyintas menuju area tenda para tentara. Kondisi diluar cukup mengerikan. Mereka seakan-akan berada di zona perang. Bedanya, jumlah mereka tidak seimbang. Mayat hidup itu kian banyak dan para tentara yang maju ke medan perang menjadi santapannya. Mereka terus mendatangi pelabuhan seakan-akan mereka tahu dimana para manusia itu berkumpul. Ledakan, suara tembakan, teriakan dari para mayat, semua menusuk telinga siapa pun yang mendengarnya.

   Sampai di area tenda tentara, mereka segera mencari tenda yang dimaksud pak Suep. Ketika mereka memasuki tenda tersebut, di dalam sana sudah ada 10 warga sipil lainnya yang beberapa mereka kenali. Termasuk Rico yang berada di samping pak Suep. Mereka semua berdiri mengitari sebuah meja yang di atasnya terdapat peta strategi. Lengkap dengan pion-pion dan beberapa coretan.

“Baiklah, karena semua sudah berkumpul disini, saya hanya ingin tahu apapun pengetahuan kalian tentang para monster diluar sana yang cukup berguna untuk kita disini, karena jujur saja, kita sudah cukup kehilangan banyak anggota yang keluar pagar sedangkan persediaan senjata kita mulai menipis.” Pak Suep menjabarkan kondisi mereka saat ini.

   Zahwan mengacungkan tangannya.

“Ya, silahkan Zahwan.” Pak Suep mempersilahkan.

“Jadi begini pak, ada beberapa hasil dari lab kami yang menandakan bahwa mereka berevolusi. Sejauh ini ada 3 yang sudah pernah kita ketahui. Bondem, si raksasa yang menduplikasi kekuatannya. Lalu ada Karakas, si bom bunuh diri yang bisa mengeluarkan bayi. Dan yang terakhir ada Mak Lampir, sosok mayat wanita yang bergerak cepat menggunakan kaki dan tanganya serta serangan yang lebih cepat ketimbang mayat lainnya. Sejauh ini, itu yang saya ketahui.” Terang Zahwan.

“Lalu cara membunuh mereka?” Seorang bapak-bapak berbadan tegap bertanya pada Zahwan.

“Untuk Bondem kita harus mengincar lehernya, karena itu titik lemah Bondem. Kemudian untuk karakas, kita bisa menghujaninya dengan peluru, tapi tetap waspada dengan asam yang ia ledakkan. Sedangkan Mak Lampir, kecepatannya saja yang merepotkan.” Zahwan menjawab pertanyaan bapak tersebut

   Pak Suep nampak berpikir keras. Ia menggaruk kepala botaknya yang tidak gatal. Mengetuk-ngetuk meja seraya menatap pion-pion yang diam tanpa makna.

“Penyergapan ini tidak pernah ada dalam rencana.” Ujar pak Suep. (*/bersambung)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Fandy Sulthan

Peracik kata, penikmat dunia 3 dimensi dan pengagum rahasiamu