Froksi

.SINTAS (Part 24-TAMAT)

Dalam rangka Tantangan Menulis 30 Hari di bulan November 2021 yang diadakan Froyonion, seorang Civillion menuliskan novel pendek dengan tema 'apocalyptic pandemic'. Ikuti kisah El, sang tokoh utama, hanya di Froyonion.com.

title

CATATAN 24: IBU

Jo memandang El kebingungan. Darimana seorang mayat memiliki ibu. Ibu macam apa yang dimaksud.

“El, misi kita udah selesai, sekarang kita balik.” Jo meyakinkan El untuk kembali.

“Ngga Jo, mereka belum habis dan bisa jadi ada serangan yang lebih berbahaya.” El melawan ajakan JO.

“Tapi itu bakal ngebahayain kita semua. Apalagi kita punya 5 orang yang sekarat.”

“Siapa yang mau ajak mereka?” El menggertak.

El nekat akan melakukan penyelidikan sendiri. Sesuatu yang tidak bisa dibiarkan oleh Jo. Terlalu berbahaya membiarkan seorang yang merupakan warga sipil untuk berkeliaran sendiri di situasi seperti ini. Terlebih, El merupakan suatu aset yang harus dilindungi.

“Lu gila El? Lu itu sendirian disini. Kalau ada apa-apa, gue yang tanggung jawab. Sekarang kita balik ke markas!” Jo masih memaksa El untuk kembali ke pelabuhan.

“Jo, yakin sama gua. Sebelum matahari tenggelam, gue udah balik. Gue bakal nyusurin lebih luas lagi dan dapetin info yang lebih baik buat kedepannya. Yakin ke gue JO.” El memelas pada Jo. Semangat El tampak nyata. Ia masih belum puas dengan raungan bernada minta tolong tadi. Terlebih, panggilan tadi berbunyi “ibu”.

“Ok, sebisa mungkin gue nutupin kalo lo diluar sini sendiri. Kembali sebelum matahari tenggelam dan jangan mati!” Jo akhirnya luluh dan memberikan izin pada El. 

“Okeh, cuman kita berdua yang tahu ini, jangan sampai yang lain tahu, terutama Tiara.”

Jo membalas dengan anggukan singkat seraya mengulurkan tangannya.

Good luck El.” Mereka pun bersalaman. 

El pun segera menyusuri ibu kota sendirian, sedangkan Jo, hanya mampu memandanginya dari jauh. Berharap keputusannya tidak salah. Jo melirik jam tangannya. Pukul 1 siang. Semoga El bisa kembali. Semoga.

Jo kembali ke mobil militer tanpa El. Tentunya itu menimbulkan pertanyaan di tiap kepala yang  ada di sana. Sebelum ada yang membuka mulut, Jo berkata.

“Tidak ada pertanyaan. Ini semua punya tujuan tertentu meskipun diluar dari misi.” Jo tidak menatap siapapun dan mobil pun bergerak menuju pelabuhan. Meninggalkan El sendirian menelusuri ibu kota.

Di tempat yang berbeda, El menyusuri tiap gang yang ada. Berharap ada petunjuk yang bisa diambil. Setelah cukup jauh berjalan, El sampai di sebuah jembatan layang. Disana ia berniat istirahat, duduk tenang sambil memikirkan apakah yang ia lihat tadi benar adanya. Ia takut itu hanya spekulasi tanpa bukti.

Tak berselang lama, El melihat sekumpulan kecil mayat berlari menuju ke arah sebuah gedung. Sebuah hal yang cukup aneh mengingat mereka tidak memiliki akal pikiran yang sehat. Sontak EL mengikuti mereka dari jauh untuk mendapatkan informasi lebih.

Mereka memasuki sebuah gedung yang tampak seperti bekas sebuah pusat perbelanjaan.  Itulah markas besar mereka. Tapi masih diperlukan bukti lebih lagi sebelum menyimpulkan itu markas para mayat itu.

“Hidup cuman sekali. Itu pun kalau aku bisa mati.’ Gumam El yang akhirnya masuk ke dalam gedung.

Jo turun dari kendaraan militernya disambut oleh pak Suep dan beberapa jenderal.  Senyum sumringah terbit diwajah mereka kala mereka melihat satu per satu tim yang hilang itu selamat. Tapi senyum itu tidak bertahan lama ketika mereka menyadari tidak EL di dalam sana. Jo yang bertanggung jawab atas operasi tersebut diminta memberikan penjelasannya oleh pak Suep.

“Kamu jelaskan sekarang. Kamu tahu pertanyaan saya apa.” Pak Suep berbisik kejam di telinga Jo.

“Dia tahu bahasa mayat itu pak. Dia menemukan tempat persembunyian mereka. Dia sendiri yang memaksa dan berjanji akan kembali sebelum petang.” Jelas Jo sambil gugup. Ia sedikit menyesali keputusannya.

“Bodoh! Kamu membiarkan aset masa depan negara kita berkeliaran di kota yang sudah mati ini. Dimana akal mu Jo?” Pak Suep jelas marah pada Jo akibat keputusannya yang cukup sembrono.

“Saya yakin dia kembali pak. Saya jamin.” Jo berani bertanggung jawab.

“Semoga saja ia kembali. Kalau tidak, kamu yang akan menjadi umpan pertama ketika para mayat itu kembali kesini.” Ancam pak Suep seraya pergi.

Jo berjalan mondar-mandir di menara pengawas. Jam tangannya menunjukkan pukul 5 lebih 15 menit. Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya. Lampu-lampu di area pelabuhan sudah mulai dinyalakan, membuat Jo makin panik tentang keberadaan El.

“Cepat El.” Jo berbicara dengan dirinya sendiri.

Tamu yang tak Jo harapkan kedatangannya muncul, Tiara. Dengan raut tak kalah cemasnya, ia menghampiri Jo.

“El udah kembali belum?” Tiara tahu kalau Jo meninggalkan El. Tapi El bukan tipe orang yang tidak memiliki tujuan, sehingga tak mungkin Jo meninggalkan begitu saja.

Jo menggelengkan kepalanya.

“Lu ngga mau jemput El kek, atau apa gitu.” Tiara tidak sabaran sahabatnya itu tak kunjung kembali.

“Ngga bisa ra, kita harus...” Pembicaraan itu terpotong oleh teriakan seorang tentara.

“ITU EL!!” Sambil menunjuk ke suatu arah.

Tampak El dengan pakaian yang terkoyak-koyak berjalan layaknya tidak terjadi apa-apa. Bajunya menunjukkan bahwa ia telah bertarung hebat, tapi tidak dengan badannya yang baik-baik saja. Satu lagi, El menenteng sebuah kepala.


 

CATATAN 25: MEREKA BERMUTASI

El menaruh kepala yang ia bawa di atas meja operasi yang sama ketika ia di operasi. Di tenda medis itu ada pak jendral, pak Suep, Jo, Zahwan dan juga El. Kepala yang ia taruh tampak seperti seorang wanita dengan rambut cukup panjang, mata yang hilang setengah, kulit yang teramat rusak dan tak ketinggalan rahang yang nyaris terpisah dengan tengkorak utama.

“Ini emang rahangnya yang patah atau gimana?” Zahwan yang melihatnya kebingungan.

“Itu gue yang nyabutnya kekencengan. Maap.” El menunduk malu. Terlihat ia menggunakan kekuatannya agak berlebihan.

“Ini ibu?” Jo tampak familiar dengan istilah ibu karena ia yang pertama kali tahu.

 El tak memberikan jawaban apapun. Itu sudah cukup jika jawabannya adalah iya.

“Ceritain kronologi lengkapnya. Mulai dari mana lu tau markas mereka, baju lo yang robek-robek parah, sampai ni kepala yang kayak dicabut paksa dari badannya.” Zahwan meminta kejelasan pada El sebagai pelaku.

“Ok, gue mulai ngikutin beberapa mayat yang berjalan menuju gedung itu. Gue mikirnya aneh aja, kalau mayat-mayat ini punya tujuan. Setelah itu, gue berniat buat masuk diam-diam, gue berusaha sebaik mungkin biar ngga ketahuan. Di pintu masuk gue udah ngerasain ada sesuatu yang ngontrol pikiran mayat-mayat ini. Semua lancar, sampai di tengah pusat perbelanjaan itu. Di sana, gue lihat ada si ibu ini. Badannya seukuran wanita pada umumnya. Tapi di punggungnya muncul akar yang merambat di hampir semua dinding. Jadi dia ngambang dengan akar-akar yang menyangga dia. Ngerti kan maksud gue?” El berhenti sejenak.

“Kita cepetin sampai bagian dimana lu mencabut ni kepala.” Zahwan ingin cerita ini cepat selesai.

“Jadi di sekitar ibu ini ada banyak mayat yang tidur. Bahkan bisa dibilang semua mayat yang ada di dalam sana itu tidur. Gimana gue ngambilnya ya dengan kekerasan. Mau gimana lagi?” Perkataan El ada benarnya. Satu-satunya cara membunuh ibu ini ialah kekerasan.

“Dari mana kamu tahu kalau ibu iuni mengontrol pikiran para mayat ini?” Pak Suep ikut bertanya.

“Karena saya merasakannya juga pak. Kan saya separuh dari mereka.” Jelas El.

“Sebenarnya hal seperti ini harus diantisipasi. Mereka tidak hanya sekedar ‘mati’, mereka bermutasi, sama seperti El. Virus yang ada di serum tersebut menyebabkan mereka bermutasi, meskipun presentase tiap dari mereka berbeda.” Zahwan sebagai mantan pegawai lab L menjabarkan kemungkinan tersebut.

“Kalau begitu, tengah malam nanti kita berkumpul di tenda rapat. Ada banyak hal yang harus dijelaskan. Silahkan bubar.” Perintah jenderal.

El dan Tiara makan malam berdua sambil ngobrol-ngobrol keseharian mereka, dan mereka sampai di percakapan yang cukup dihindari oleh El.

“Lu kenapa nekat sih El?” Tiara menemani El makan malam setelah membersihkan diri. Kebetulan mereka makan di luar tenda. Duduk bersila beralaskan tanah. Hanay mereka berdua.

“Gue tahu kalau apa yang gue lakuin bakal bermanfaat buat orang banyak. Toh gue juga ngga akan mati.” El membela diri.

“Ya ngga ada yang tahu El. Lu bisa pergi kapan aja. Gue ngga mau lo kenapa-kenapa.”

“Tumben lu peduli sama gue.” El menyantap suapan terakhir makan malamnya.

Tiara diam saja. Ia tak mau El tahu perasaannya pada EL. Ia masih takut mengungkapkan.

“Ya, kapan-kapan ngga lagi deh.” El menjawab seadanya.

“Pokoknya jangan.” Pesan Tiara terakhir.

“Iya iya, bawel. Udah ya, gue habis ini mau ada rapat.” Pamit El.

“Tentang kepindahan kita?”

“Bisa jadi.” El pun beranjak pergi meninggalkan Tiara.

Di dalam tenda rapat sudah ada beberapa petinggi dan orang-orang yang terlibat dalam operasi tersebut. Tentunya ada Jo, Zahwan, pak Suep, pak Eric dan El. Rapat tersebut kini dipimpin oleh pak Suep sebagai penanggung jawab operasi yang baru dilakukan pagi sebelumnya.

“Baik, rapat akan langsung saya mulai. Laporan yang kita ketahui sejauh ini adalah tim yang hilang sebelumnya telah kembali bersama kita. Selain itu, El juga melakukan hal gila yang membawakan hasil. Zahwa silahkan presentasikan.” Zahwan dipersilahkan mempresentasikan hal yang ia temukan setelah El membawa kepala ibu.

“Baik semuanya, selamat malam. Tadi petang, El membawa sebuah kepala yang diduga sebagai induk dari mayat-mayat ini. Setelah saya mengecek banyak file dari lab L, saya menemukan beberapa fakta penting. Pertama, virus ini dapat berevolusi. Ada banyak contoh evolusi meskipun, persentase tiap individu berbeda-beda.”

“Ada contohnya Bondem yang mengalami penebalan daging dan kulit sehingga tubuhnya menjadi lebih besar. Lalu ada Mak Lampir yang mengalami peningkatan kemampuan pada tangan dan kaki. Memungkinkan mereka bergerak lebih cepat karena menggunakan 4 alat gerak sekaligus. Selain itu otak mereka ternyata mendorong mereka untuk lebih agresif.”

“Mohon maaf menginterupsi, nama-nama itu berasal darimana?” Tanya seorang jendral.

“Itu reflek jendral. Tanpa dasar apapun. Bisa saya lanjut?” Zahwan meminta izin melanjutkan.

“Silahkan.” Jendral itu mempersilahkan.

“Baik. Lalu ad Karakas yang asam tubuhnya meningkat sampai badannya hampir meledak. Dalam beberapa kasus, mereka bisa beranak pinak.” Zahwan berhenti sambil menelaah beberapa file di tangannya.

“Ada ibu yang merupakan perubahan berpresentasi paling rendah sejauh yang saya tahu. Karena ibu di file ini belum teridentifikasi tapi sudah ditandai kemunculannya. Presentasenya hanya sekitar 2%. Jadi masih bisa ada yang lain diluar sana.”

“Bentar-bentar, maksudmu masih ada kemungkinan markas besar mereka diluar sana?” Potong Jo.

“Bisa dibilang, iya. Kita nggak tahu tempat mereka di mana saja.” Zahwan memberikan jawabannya.

“Jendral, dengan penuh rasa hormat, sebaiknya kita segera menelpon negara sekutu. Kekuatan kita tidak terlalu besar disini.” Jo memohon pada jendral.

“Operasi ini bisa berjalan beberapa hari ke depan. Mungkin sudah saatnya kita kembali menjadi Nomaden.” Ucap sang jendral.

CATATAN 26: NOMADEN

“Nomaden?” El kebingungan dengan istilah itu.

“Nomaden adalah sebuah cara hidup manusia purba, yang mana, mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Operasi ini sudah disiapkan semenjak wabah mayat kanibal ini merajalela. Kita tidak bisa bertahan lama di satu tempat dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Kita harus terus bergerak.” Jelas jendral tersebut.

“Izin bertanya jendral. Bagaimana kita mengatur kehidupan yang sekarang ini?” Kali ini Jo yang mengajukan pertanyaannya.

“Itu masih jadi pertimbangan. Karena keadaanya jauh lebih parah dari dugaan kita sebelumnya. Belum lagi ternyata ada markas-markas para mayat itu di luar sana. Ruang gerak  kita jadi semakin terhambat.” Sang jendral tampak pasrah karena rencana pihak militer yang matang tak bisa berjalan lancar.

“Kalau begitu kita bagi dua saja jenderal. Sebagian kita pecah regu Nomaden, sebagian bertahan disini guna menguji bagaimana cara hidup keduanya.” Usul pak Eric.

“Mohon maaf memotong, saya rasa tidak bisa pak. Terlalu tidak adil rasanya.” Tolak Zahwan yang memotong tiba-tiba.

“Lalu, bagaimana? Kita harus bertindak cepat.” Pak Suep ikut berpikir keras.

“Izin bertanya, kalau kita menghubungi negara sekutu, kira-kira berapa lama mereka akan sampai kesini?” Tanya El.

“Kurang lebih 2-3 hari. Estimasi paling cepat jika tidak ada kendala apapun. Perlu diingat kita dalam situasi perang dan pemerintahan kita sedang tumbang.” Jendral mengingatkan mereka kalau negara mereka sedang “mati”.

“Begini, saya rasa harus ada regu kecil bernama nomaden yang bertugas hidup berpindah-pindah. Semua anggotanya harus merupakan pihak militer dan warga sipil yang terlatih atau mampu. Mereka harus mempelajari, serta mencatat bagaimana pola hidup para manusia nomaden modern. Mulai dari bangun tidur, mencari makan, beristirahat, menjaga diri, sampai saling menjaga, semua harus tercatat dengan baik. Sisanya, menjaga pihak sipil disini sampai bantuan negara sekutu datang. Itu saran saya.” El lagi-lagi memberikan solusi yang lebih masuk akal.

“Jadi maksudmu, tim nomaden ini dikorbankan begitu?” Pak Eric mempertanyakan perihal ide El.

“Memang harus ada yang dikorbankan pak Eric.” Bela pak Suep.

“Saya rasanya itu ide yang paling masuk akal. Bagaimana? Ada pendapat lain?” Jo sebagai pemimpin rapat kembali bertanya.

Tidak ada lagi saran dan suara. Maka sudah sah operasi nomaden usulan El.

“Baik kalau begitu, dengan ini kita akan segera membentuk tim nomaden. Hal-hal terperinci lainnya akan dijabarkan esok hari. Silahkan semuanya bisa istirahat dengan tenang. Selamat malam.” Rapat ditutup.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, El berniat menulis buku hariannya tanpa alasan tidak bisa tidur. Ia duduk termenung di pesisir pantai sambil menatap langit malam dan mendengarkan suara deburan ombak. Sebuah ketenangan yang tak ia dapat selama beberapa minggu terakhir.

Dear death,

Rasanya sudah sangat lama aku tak sedamai ini. Sebuah hal yang mahal ternyata. Membuat aku kembali bertanya-tanya, apakah setiap langkah yang kuambil sudah benar. Apakah kali ini aku akan salah? Atau malah aku menjadi pahlawan? 

Mencetuskan ide mengerikan bukan hanya untuk ku tapi untuk semua orang di negara ini. Sebuah ide untuk kembali ke zaman purba dengan ilmu seadanya. Benar-benar menjadi manusia primitif

Tuhan, bantu aku. Semoga kali ini aku tak salah.

 

El”

“El, kita dipilih buat masuk tim nomaden.” Rico membangunkan El yang kesiangan.

   Matahari sudah berada hampir di atas kepala ketika El tersadar dari tidurnya. Mungkin El terlalu lelah memikirkan keputusannya tadi malam. Memang tak baik berfikir berlarut-larut di malam hari.

“Ayo, kita dipanggil di tenda utama.” Rico kembali menggoyangkan badan El yang masih setengah sadar.

“Iya iya.” El bangun dengan setengah hati.

“Kita udah ditunggu Zahwan sama Tiara. Cepetan!” Rico semakin tidak sabar.

“Hah?! Tiara sama Zahwan ikut?” Seketika kesadaran El terisi penuh.

“Ayo udah!” Rico menarik tangan El agar segera beranjak dari kantong tidurnya.

Di tenda utama, sudah ada beberapa anggota militer serta warga sipil yang pernah membantu mereka menjaga garis pertahanan melawan serangan para mayat tempo hari. Benar kata Rico, Tiara dan Zahwan terlibat dalam operasi tersebut. El tak menyangka kalau kedua temannya akan ikut terlibat. Sebab, dia tak mau mereka terlibat dalam masalah.

“Baik semua, kalian mendapat amanah untuk menjalankan operasi nomaden. Yakni hidup berpindah-pindah selama beberapa minggu, mencoba bertahan hidup sambil terus menghubungi kami. Setelah beberapa minggu bertahan, kalian akan kami jemput sama seperti warga sipil lainnya. Ada pertanyaan?” Jo memberikan instruksi singkat karena El dan Rico memang terlambat.

“Bagaimana kalau kami gagal?” Tanya seorang diantara mereka.

“Kalian akan dikenang dan diceritakan pada anak cucu kita yang selamat.” Jawaban Jo singkat, namun sangat menunjukkan kalau operasi ini sangat berbahaya.

Semua terdiam, termasuk El, sang pencetus ide. Dari awal dia tahu kalau ini ide buruk meskipun bisa menyelamatkan banyak nyawa.

“Silahkan persiapkan barang yang harus kalian bawa. Perkirakan kalian bisa bertahan selama berapa hari dengan bekal itu. Kalian akan berangkat pukul 3 sore. Satu lagi, tolong tunjuk seorang ketua di antara kalian.” Jo menutup rapat singkat tersebut sambil melirik El.

Sontak semua mata tertuju pada El.

“Semuanya sudah kumpul belum?” El dan semua tim nomaden sudah berada di luar pagar besi. Mereka bersiap berangkat menuju kota. Tim beranggotakan 30 orang tersebut sudah siap.

“Baik semuanya, kali ini saya akan membagi tim ini. Ada tim senjata yang bertugas mengurus semua hal di bidang senjata dan tentunya yang paling depan ketika ada serangan. Yang kedua ada tim medis, yang bertugas melakukan pertolongan pertama pada luka apapun. Lalu ada tim pembaca peta, yang mana mereka bertugas untuk membaca peta dan penunjuk arah. Terakhir ada tim makanan yang bertugas mengurusi segala kebutuhan perut tim.”

“Gue tahu kalau ini berat. Berkorban demi sesuatu yang lebih baik ke depannya. Mungkin ini kesempatan terakhir kita hidup. Setidaknya kita bermanfaat untuk masa depan yang lebih baik. Ini bukan misi hidup atau mati. Ini misi mempertahankan hidup, melawan yang mati.” Pidato El ditutup dengan tatapannya pada seluruh anggotanya.




 

CATATAN 27: SERANGAN DI TENGAH MALAM

Tim Nomaden sedang dalam perjalanan menuju ibu kota. Tigapuluh orang yang berjalan beriringan tanpa arah. Berniat membangun dunia yang baru di tanah yang sudah mati ini. Sebuah koloni kecil yang rela berkorban demi masa depan negara mereka.

“Selain kita diperintahkan melaporkan semua yang terjadi, fungsi dari tim ini apalagi?” Tiara memulai percakapan setelah beberapa saat hening.

“Untuk menahan mereka tentunya. Kita bisa dibilang sebagai pancingan agar mereka tidak menyerang ke pelabuhan.” Balas seorang tentara yang ikut dalam tim tersebut.

“Target kita bertahan selama berapa minggu?” Giliran Rico yang bertanya.

“2 sampai 3 minggu. Itu pun kalau mereka kembali.” Balas El.

“Yap. Sebuah misi bunuh diri lagi.” Keluh seorang diantara mereka.

“Ei, dengerin!” El yang berjalan paling depan berhenti dan berbalik badan, menatapnya tajam.

Seluruh anggota tim ikut berhenti dan ikut larut dalam ketegangan tersebut.

“Semua yang kita lakuin sekarang bukan tanpa alasan. Kita bisa menjadi pondasi awal negara kita ketika kita kembali ke masa yang lebih baik. Kita mungkin menjadi pahlawan untuk generasi selanjutnya. Dan itu, tidak akan pernah tercapai kalau semua orang di tim ini punya sifat mengeluh macam dirimu. Jadi berhenti mengeluh, dan jadilah berguna untuk koloni kecil kita.” Tangan El menuding wajah pemuda tersebut. Perkataan El membuat banyak dari mereka terkesima. Pemuda tersebut pun hanya bisa diam. Mungkin usianya tak jauh beda dengan El. Namun, kepemimpinan El cukup berpengaruh.

“Kita lanjutkan perjalanan. Semua bergerak.” Perintah El sambil kembali berjalan.

Mereka menempuh perjalanan sekitar 2 jam sampai akhirnya mencapai pinggiran ibu kota. Masih ada beberapa toko ataupun swalayan yang masih memiliki persediaan makanan disana. Namun yang paling penting, terdapat gedung-gedung terbengkalai untuk tempat mereka singgah dan beristirahat.

“El, di sana ada gedung bekas tempat parkir kayaknya. Gimana kalau kita cek?” Seorang tentara menyarankan pada El.

“Hmm oke. Ini sudah mulai agak gelap. Divisi senjata kita bagi menjadi dua. Satu menemani divisi makanan untuk mencari makanan di sekitar sini, sisanya ikut yang lain menuju gedung itu. Kembali secepat mungkin karena dari tadi kita hanya bertemu beberapa mayat. Mengerti semua?” Perintah pertama El pada hari itu.

“MENGERTI!” Jawab mereka serempak.

Mereka kini berada di lantai 3 sebuah gedung bekas parkiran mobil. Gedung itu punya 4 lantai, lantai 4 mereka fungsikan untuk mengawasi keadaan sekitar. Kondisi disana masih cukup sederhana. Ada dua api unggun yang mereka buat dari tong besi bekas dan bahan bakarnya kayu-kayu yang bisa mereka temukan. Tenda-tenda kecil didirikan untuk mereka yang beristirahat. Setiap 3 jam sekali, mereka akan bergiliran menjaga satu sama lain agar tetap aman. Kebetulan malam itu menu makan malamnya adalah sup kaleng.

“Ini mungkin nggak banyak, tapi seharusnya cukup rata buat semuanya.” Tiara sebagai kepala koki divisi makanan memberitahu semua anggota tim.

   Mereka makan memakai kaleng kemasan sup sebelum dimasak. Kondisinya sangat jauh berbeda dengan di pelabuhan yang memiliki persediaan makanan yang cukup.

“Baik semua, sekarang kita melewati sehari pertama menjadi tim Nomaden. Dimohon pengertiannya untuk saling mengerti kondisi satu sama lain. Selamat menikmati makan malam” El tak lelah terus mengingatkan anggota timnya.

“Sekarang jam berapa El?” Rico mendapat shift jaga yang sama dengan El.

“Masih jam setengah 12 malam. Udah capek lu?” Goda El.

“Kagak. Cuman pingin tau aja.”

El dan Rico sedang berjaga di lantai 4, ditemani sinar bulan purnama dan angin malam yang cukup kencang. Pemandangan kota yang gelap gulita sedari tadi menjadi tontonan mereka.

“Aneh ya.” El tiba-tiba berdiri sambil memandangi kota yang mati tersebut.

“Apanya yang aneh?” Rico membalas pertanyaan tersebut dengan pertanyaan sambil masih duduk bersila membersihkan senjatanya.

“Aneh aja. 21 hari yang lalu aku masih mencoba bertahan dalam kos ku dengan persediaan makanan yang tipis. Sekarang, aku sudah berada di puncak gedung bekas parkiran dan memimpin sekumpulan orang yang mencoba menjadi manusia purba. Aneh.” El menjelaskan maksud perkataannya sambil tersenyum.

“Selain bergerak cepat, hidup juga aneh El.” Balasan Rico singkat, padat dan menohok.

“Apa boleh buat.”

Di tengah percakapan yang damai tersebut, seorang tentara yang berjaga di lantai pertama datang menghampiri mereka.

“El, ada segerombolan mayat datang.” Tentara itu nampak siaga.

“Berapa jumlah mereka?”

“Di atas 30, di bawah 50.”

“Estimasi mereka sampai?”

“10 menit. Mereka jelas bergerak kemari.” 

“Baik, bangunkan semua anggota. Blokade jalan masuk seperti yang kita rencanakan.” Perintah perang pertama El resmi terjadi.

“Dari mana mereka tahu keberadaan kita?” Rico bingung mengapa mereka masih bisa ketahuan.

“Ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, mereka melihat kita. Kemungkinan kedua, ada Mak Lampir di gerombolan itu yang memiliki penciuman yang tajam.” Jelas El.

“Mereka terlalu banyak untuk peluru kita El, kita harus menghemat amunisi.” Rico mengingatkan El akan persediaan yang krusial itu.

“Aku tahu. Oleh karena itu kita harus membangunkan yang lain segera.” El nampak memiliki ide.

Sampai di lantai 3, semua sudah bersiap. Jalan sudah di blokade, tim senjata sudah bersiap dengan posisi bertahan, dan sisanya mencoba untuk tetap bermanfaat.

“Baik semuanya, ujian serangan kita yang pertama hari ini. Rico akan memimpin disini. Untuk tim makanan dan medis ikut aku.” El berlari ke arah lain sambil membawa beberapa perlengkapan.

Rico yang tak tahu apa yang dipikirkan El, langsung memimpin tim bertahan. Tidak ada waktu untuk bertanya-tanya.

“KALIAN DENGAR SEMUA? SEKARANG BERSIAP?” Rico dengan M16 nya siap menghajar siapa saja yang berada di depan.

Suara teriakan dan erangan dari mayat-mayat itu mulai terdengar. Perlahan namun pasti terdengar makin keras. Ketika sebagian mereka sudah terlihat, tim senjata langsung menghujani mereka dengan peluru tanpa ampun.

“TEMBAK!!” Rico memekik diikuti pekikan para mayat.

Kegaduhan besar terjadi. Perpaduan antara suara tembakan bertubi-tubi, dicampur dengan teriakan serta erangan para mayat membuat tengah malam itu terasa berbeda. Bulu kuduk siapapun akan berdiri mendengarnya. Sebuah kengerian bercampur hasrat untuk tetap hidup.

“El anjing! Di mana coba dia! TERUS TEMBAK!” Rico masih mengomandoi tim tersebut yang mati-matian bertahan.

Tak berselang lama, terdengar El dari arah belakang berlari. Derap langkahnya terdengar nyaring.

“MINGGIR!” Teriaknya sambil membawa dua bom molotov di kedua tangannya.

Di belakangnya diikuti beberapa orang lain yang ikut membawa bom molotov. Sampai di blokade jalan, giliran mereka yang akan menghujani para mayat dengan api-api tersebut.

“BERI JALAN!” Rico memerintahkan tim senjata untuk berhenti menembak dan beranjak dari tempatnya.

   Mereka yang membawa molotov, tanpa perintah siapapun langsung melempari gerombolan mayat yang tersisa dengan botol berisi bensin tersebut. Alhasil, mereka semua terbakar habis sambil perlahan mundur. Sebagian dari mereka mati, tapi ada pula yang berhasil kabur memilih mundur daripada ikut dibakar.

   Sorak sorai para penyintas menggema di lantai 3 tersebut. Mereka tidak menyangka bisa bertahan sejauh ini dengan bekal seadanya. Semua bersukacita di tengah malam tersebut.

“Lu kemana aja dah? Capek gue nahan mereka.” Gerutu Rico.

“Ya maaf. Tadi habis buka salah satu mobil buat diambil bensinnya. Botolnya juga bekas minum kita tadi makan malem kan.” El merangkul Rico.

 Mereka bersiap kembali untuk istirahat.

“Ra, tolong laporin hal ini ke markas ya. Radio kontaknya tanya tim senjata. Ok?” El memberitahu Tiara yang kini merangkap jabatan sebagai sekretaris.

Tiara hanya membalas dengan acungan jempol.

“Tapi El, gue lihat ada yang aneh tadi.” Ungkap Rico.

“Di mana?”

“Di balik bukit.”


 

CATATAN 28: DI BALIK BUKIT

“Emang ada apa di bukit?”  Tanya El keheranan.

“Jadi sore tadi gue sempet lihat ke arah bukit. Bukitnya banyak pohonnya kan? Nah gue lihat si pohon-pohon itu gerak-gerqak. Beberapa tumbang malah, kayak dilewatin banyak gerombolan atau ngga dilewatin sam sesuatu yang gede mampus.” Penjelasan Rico belum terlalu meyakinkan El.

“Terus mau diapain? Kita harus ke bukit gitu? Kalau itu sarang mereka gimana? Bunuh diri beneran itu mah namanya.” El tidak terlalu percaya dengan gambaran yang diberikan Rico.

“Kita udah ada tempat aman disini. Perjanjiannya kita berpindah-pindah tiap 1 minggu sekali. Jadi jangan punya pemikiran aneh-aneh, dan tetap dalam track  kita. Ok?” El meyakinkan Rico kalau semua akan baik-baik saja.

Rico yang tidak punya alasan lain pun hanya bisa mengiyakan perkataan El. Tak lama berselang, Tiara datang menghampiri El.

“El, laporan hari ini udah sampai dan tercatat di markas. Mereka cuman berpesan kalau ada apa-apa segera hubungi markas.” Lapor Tiara.

“Cuman itu?” Balas El.

“Oh iya, mereka juga telat berangkat ke negara sekutu karena satu dua hal. Jadi durasi kita bisa jadi lebih lama.”

“Hmm, baik. Sekarang lu berdua istirahat lagi aja. Malam masih panjang. Gue juga ngantuk.” Pesan El pada Rico dan Tiara.

Mereka bertiga pun menuju tenda masing-masing.

Fajar mulai menampakkan dirinya. Langit pagi sudah terlihat, namun belum begitu terang. El menggenggam gelas besi berisi kopi panas. Semalam ia hanya terlelap sekejap. Mungkin karena kebiasaanya, meskipun El sedang tidak memikirkan apa-apa. Dengan inisiatifnya sendiri, El mencoba teropong milik salah satu tentara yang ia pinjam. Sejak lama ia ingin mencoba barang tersebut.

Hal pertama yang El cari adalah taman kota dekat lab L. Taman yang cukup bersejarah untuk El, Rico, Tiara dan Zahwan. Masih tampak pohon besar yang difungsikan sebagai rumah pohon oleh pak Suep. Kemudian El berputar-putar menikmati pemandangan kota mati seperti di video game maupun film-film. Terus berputar sambil menikamti kopi hitamnya. Lalu, pandangan El berhenti pada sebuah bukit. Bukit yang dijelaskan oleh Rico.

Nampak bukit itu sebelumhya ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan yang lebat. Sekarang, kondisinya sama persis dengan apa yang di jelaskan oleh Rico. Lebih parah malah. Sebagian besar pohon tumbang, beberapa tampak rusak, seperti dilewati sesuatu berukuran raksasa. Tampak juga jalan setapak yang cukup lebar membentang sampai ke arah belakang bukit. Memang benar, ada sesuatu di balik bukit.

El yang tak mau menyia-nyiakan waktu, langsung mencari Rico. Sebagian besar anggota tim masih terlelap. Hanya tim penjaga yang sedang shift jaga dan tim makanan yang sedang menyiapkan sarapan. Kebetulan Rico sudah bangun dan sedang menghangatkan badan dekat api unggun.

“Lu bener. Bukit itu makin rusak sekarang.” Bisik El pada Rico dengan terus mengawasi sekitar. El tidak mau kabar tidak mengenakkan ini terdengar oleh yang lainnya.

“Apa juga gue bilang. Sekarang baru percaya lo?” Rico balik berbisik dengan nada sedikit kesal.

“Itu rusaknya bukan seukuran orang. Dan Bondem ngga mungkin segede itu. Kita harus cari tau.” 

“Lu nekat apa gimana? Gue yang liat samar-samar aja takut. Sekarang lu yang liat jelas mau asal kesana aja.”

“Kan cuman kita berdua. Sekarang berangkat, mumpung semua masih tidur. Sore kita pulang.” Rencana El terdengar sebatas berangkat lalu kembali pulang.

Rico diam sejenak sebelum akhirnya buka mulut.

“Kalau emang ini ngga urgent, jangan pernah laporin ke markas. Tujuan kita cuman mastiin ada apa disana.” Rico mewanti-wanti El untuk uttup mulut. Tindakan mereka sebenarnya mengancam keberlangsungan seluruh tim.

“Siap. Sekarang, persiapin semua bekal, termasuk senjata. Kita berangkat setengah jam lagi.” El menepuk bahu Rico sambil beranjak pergi.

Rico yang ditinggal pergi El hanya bergumam “Gila ni anak.”

Setengah jam berlalu, Rico sudah berada di lantai 1 sambil menenteng senjatanya. Sedangkan El masih menyerahkan tugasnya pada salah seorang tentara yang bertugas. Ketika hendak turun, Tiara melihat El yang hendak pergi tanpa berpamitan.

“Mau kemana kamu?” Tanya Tiara.

El pun membalikkan badannya.

“Gue mau ngecek sesuatu sama Rico. Cuman bentar kok.” 

“Bentar ngapain bawa tas gede coba?”

“Percaya gue, cuman bentar kok ra. Udah ya, keburu malem. Dadah.” El buru-bur meninggalkan Tiara dengan ketidak jelasannya. Tiara sendiri merasa aneh dengan yang dilakukan El.

Sampai di bawah, El langsung menghampiri Rico yang sudah siap dengan kompas dan peta ibu kota.

“Kalau dari sini, kita ke arah utara. Karena kita jalan kaki dan ngga mau mengundang kerusuhan, estimasi perjalanan kita sekitar 2 jam atau lebih. Tergantung waktu istirahat dan medan yang nanti kita hadapi.” Jelas Rico.

“Kita cuman berdua. Harusnya bukan halangan yang gede dong?” El memastikan perjalanan mereka hanya akan sesederhana berangkat, lalu kembali pulang.

“Harusnya iya.” Rico tampak ragu.

“Ya udah ayo, jalan.” 

 Dimulailah perjalanan dua orang tersebut menuju sesuatu yang mereka tak tahu. Selama setengah jam pertama, rintangan yang mereka hadapi masih tergolong mudah. Hanya ada beberapa mayat hidup yang menghadang dan tidak berarti dihadapan El dan Rico. Perjalanan ereka terus berlanjut, sampai dimana mereka bertemu dengan jembatan yang roboh sehingga menutupi jalan mereka.

“Kita ngga mungkin lewat sini. Kita harus berputar ke 2 blok dari sini El.” Usul Rico sambil elihat peta.

“Itu bakal mbikin perjalanan kita makin lama dong?”

“Mau ngga mau.” Rico mengangkat kedua bahunya tanda pasrah.

Seperti saran Rico, mereka melanjutkan perjalanan dengan mengambil jalan memutar. 2 jam 20 menit akhirnya mereka sampai di kaki bukit tersebut. Tinggi bukit itu setengah dari rata-rata gunung. Pemerintah mengubahnya menjadi hutan lindung yang dihuni banyak tumbuhan dan rumah bagi banyak satwa.

“Ngga jauh beda sama apa yang gue lihat tadi pagi.” Celetuk El.

Kondisi kaki bukit itu saja sudah cukup memprihatinkan. Pos-pos rusak, jalanan rusak, dan tumbuhan yang rusak. Mereka tidak yakin itu dilewati oleh sesuatu yang besar, karena tidak mungkin rasanya ada mayat yang bermutasi melebihi ini.

“Kita naik, atau lewat jalur lain?” Rico memberi opsi menuju balik bukit.

“Sebaiknya kita naik.”

“Yakin?”

“Yep.” El nampak yakin dengan pilihannya entah mengapa.

“Ok.” Lagi-lagi Rico hanya bisa mengiyakan kemauan El.

Mereka mulai mendaki bukit yang tidak terlalu terjal itu. Mendakinya masih bisa dengan persiapan yang biasa saja. Memang mereka harus cukup berhati-hati karena mereka tidak tahu apa yang ad di balik sana.

Hampir mendekati puncak, dan mereka sudah berada di penghujung perjalanan. Sebelum berdiri di puncak bukit dan melihat apa yang ada disana, El berpesan pada Rico.

“Apapun yang kita lihat setelah ini, sebesar ataupun seburuk apapun itu, gue cuman mau bilang terima kasih sama loe Co.”

“Simpan ucapan lo buat nanti kalau kita selamat dari sini.” Rico tak begitu menggubris ucapan El.

Sesaat kemudian mereka berdiri serempak melihat apa yang selama ini yang ada dibalik bukit. Ketika melihat benda itu, El dan Rico saling menatap. Hanya menatap karena mereka sama-sama kehabisan kata-kata.

“Mati kita semua, anjing!” Umpat El.


 

CATATAN 29: THE LAST STAND pt.1

Layaknya seekor ulat, para makhluk tak bernyawa ini melakukan perubahan wujud. Yang dilihat oleh EL dan Rico sekarang adalah lautan kepompong mayat. Mereka diselimuti kulit tipis transparan. Tiap dari mereka terhubung dengan “ibu” yang memiliki tentakel akar yang lebih banyak daripada yang sebelumnya pernah dihadapi oleh El. Akar-akar tersebut seperti memberi makan para kepomping kelaparan itu.

“Kita harus segera kembali.” Ajak El pada Rico setelah mengamati selama setengah jam.

“Tapi kalau kita kembali, kita ngga akan ngasih tahu semua orang kan?”

“Kita kembali ke pelabuhan, bodoh! Kita ngga akan bisa ngelawan para kepompong kita ngga tahu akan berubah jadi apa ini. Kalau pun kita bisa bertahan, tanah ini akan selamanya mati!” Perasaan El bercampur antara bingung dan ketakutan. Pikirannya benar-beanr kacau.

“Kalo gitu kita segera kembali, kita hubungi radio,  lalu kita tunggu kabar selanjutnya.”

“Ok.” Jawab El singkat.

   Mereka pun buru-buru menuruni bukit dengan tergesa-gesa. Langkah kaki mereka kini lebih cepat ketimbang sebelumnya. Durasi istirahatnya pun dipersingkat. Ini bukan hanya masalah kepompong itu akan berubah menjadi apa, tapi juga soal kapan mereka akan menetas dan mulai memburu mereka semua.

   Setelah setengah jam datang lebih cepat, El buru-buru mencari radio yang menghubungkan mereka dengan pelabuhan.

“Eh, katanya sampai sore?” Tiara menyambut mereka dengan memberikan hidangan makan siang.

“Ngga ada waktu ra. Radionya mana?” El sedang tidak bernafsu saat ini. Ia hanya ingin memberi kabar ini pada pelabuhan. Setelah mendapatkan radio, ia segera menghubungi pelabuhan.

“Halo? Markas? Ini El ganti.” 

“Halo markas pada El, ada laporan terbaru? Ganti.” Suara di seberang sana membalas.

“Ngga ada waktu buat ngejelasin, tolong hubungkan aku dengan jendral sekarang. Ganti.”

“Markas pada El. Sepertinya jendral sedang sibuk. Mungkin setelah ini...” 

“INI URGENT! BILANG PADA JENDRAL KITA MUNDUR SECARA TERPAKSA. KU ULANGI, SECARA TERPAKSA.” El membanting gagang penghubung radio, menendangnya, lalu mebanting radio tersebut karena kesalnya bukan main. Ia bingung harus bilang apa ke semua orang.

“Ada apa El?” Seorang anggota El memberanikan diri bertanya.

Semua orang rupanya memperhatikan El yang sedari tadi meluapkan emosinya lewat radio. EL diam. Ia bingung. Benar-benar bingung. Tak lama ia terduduk lemah.

“Ingat kabar mereka berevolusi?” Rico mencoba membantu El menjelaskan situasi terkini.

“Ingat.” Jawab Zahwan yang membantu El berdiri kembali.

“Kini mereka berada dalam kepompong. Entah berubah, entah hanya istirahat. Tapi yang ku tahu, itu bukan pertanda yang baik.” Rico sendiri tak yakin mereka bisa bertahan disana lebih lama.

“Itu alasan mengapa jumlah mayat tak sebanyak ketika pertama kali virus ini menyebar?” Tanya salah seorang tentara.

“Kemungkinan iya. Mereka sadar kalau populasi mereka makin sedikit. Jadi mereka memperkuat diri. Meskipun begitu kita harus cepat-cepat kembali ke markas. Ini sesuatu yang berada di luar rencana.” Rico setuju dengan El yang membatalkan misi.

“Kita berangkat besok pagi. Terlalu sore untuk berjalan ditengah-tengah gelap. Sedangkan ancaman datang lebih besar daripada yang kita kira.” Jawaban El datar dengan tatapan kosong.

Semuanya hanya bisa kembali ke tugasnya masing-masing dengan rasa was-was yang luar biasa.

Tim Nomaden kini kembali ke pelabuhan dengan keadaan penuh kebingungan. Mereka telah mendengarkan semuanya dari El dan Rico. Mereka berharap markas masih mau menerima mereka, karena mereka sendiri tak kuasa menghadapi para makhluk itu tanpa peralatan yang memadai.

“Kalau kita ngga diperbolehin masuk gimana El?” Zahwan bimbang dengan kondisi mereka saat ini.

“Gue ngga tahu. Sungguh, gue ngga tahu.” El menatap Zahwan dalam, mengisyaratkan kebingungan yang tak terkira.

Mereka tinggal beberapa ratus meter menuju gerbang pelabuhan. Menara kembar yang memantau keadaan sekitar pun sudah nampak. Terlihat beberapa penjaga ditambah untuk memberikan pengamanan ekstra. Sampai di depan gerbang, mereka disambut oleh Jo dengan wajah tak ramah, menatap tim Nomaden dengan penuh kekecewaan.

“Kalian ngga seharusnya disini.” Jo menatap ketus pada El dan seluruh timnya.

“Dan kami ngga bisa ada disana. ada sesuatu yang berada di luar kendali kami.” EL membela diri beserta seluruh timnya.

“Itu urusan kalian.” 

“Para mayat yang kini membentuk kepompong, bisa menetas kapan saja, dan kita tidak tahu mereka akan menjadi seperti apa. Lalu kami harus melawannya dengan persenjataan yang terbatas, begitu?” El mendekatkan wajahnya pada Jo dan melirihkan suaranya.

Jo tampak terkejut, kemudian kembali ke ekspresi wajah sebelumnya. Ia diam tak membalas.

“Mungkin kalau mereka dibiarkan, yang mati bukan hanya kami, tapi seluruh tanah ini akan ikut mati. Kalau pun kami selamat tapi membiarkan para makhluk itu makin kuat, tidak ada bedanya dengan menyuruh seekor tikus menghadapi kawanan kucing.” Nada bicara El lebih tenang sekarang. Membuat Jo berfikir sejenak.

“Silahkan masuk. Jelaskan semua yang lu lihat ke jendral. Kita ngga tahu langkah apa yang akan mereka ambil. Misi ini harusnya berjalan 2 minggu, bukan 2 hari. Dan beri tahu seluruh anggotamu untuk tutup mulut.” Akhirnya Jo mempersilahkan mereka masuk.

   Bagi siapapun yang berada dibalik pagar besi, mereka akan merasa aman. Namun, hal itu tidak berlaku bagi tim Nomaden. Mereka telah mendengar mimpi buruk yang tak mungkin dibuat-buat. Ketakutan mereka masih nyata adanya.

   El dan Rico langsung masuk ke tenda utama untuk disidak. Memasukinya sudah membuat keringat dingin mengucur ke seluruh tubuh. Tapi itu tidak seberapa, daripada melihat langsung dengan kepala mata mereka sendiri kepompong-kepompon gitu.

“Saya ngga mau bertele-tele karena waktu kita sedikit. Mengapa kalian mundur dari misi, dan apa yang kalian maksud dengan kepompong?” Jendral menatap El dan Rico secara bergantian.

“Kami mundur karena kepompong ini jendral. Kami ngga tahu harus bagaimana menghadapi mereka, sedangkan mereka bisa kapan saja menetas.” Rico menjawab perihal mengapa mereka mundur dari misi.

“Kalau soal kepompong, mereka berada di balik bukit di arah selatan dari sini. Bentuknya seperti mayat-mayat yang dilapisi kulit tipis dan mereka tidak bergerak sama sekali. Namun, masih ada kehidupan disana karena ad “Ibu”, monster yang kapan hari saya bawa kepalanya kemari.” Disusul El yang menjelaskan perihal kepompong.

“Saya ngga tahu seberapa bahayanya kepompong ini, yang jelas itu bakal mematikan tanah ini secara keseluruhan bila mereka kembali bermutasi. Kita harus cepat-cepat memusnahkan mereka.” Nada bicara sang jendral sudah mulai melunak. Alasan mereka memang bisa saja dibuat-buat, tapi El dan Rico memang tidak membuat-buat.

“Jendral, bagaimana kalau saya, satu orang pasukan saya, dan mereka terbang menuju lokasi untuk memusnahkan mereka? Kami bisa membawa sekitar 3 misil RPG.” Usul Jo.

“Kalau begitu segera persiapkan helikopter dan persenjataan. Kalian berdua, silahkan berkoordinasi dengan pilot helikopter untuk letak kepompong-kepompong itu.” Sang jendral kembali memberikan instruksi yang langsung dilaksanakan oleh mereka bertiga.

Beberapa saat kemudian, mereka sudah ada di samping helikopter yang mesinnya sudah mulai dinyalakan. Masing-masing dari mereka menggunakan helm yang dilengkapi mic untuk berkomunikasi satu sama lain ketika di udara.

“Ke arah mana?” Tanya pilot helikopter itu pada El.

“Arah selatan. Di salah satu sisi di bukit tengah kota.” Teriak EL yang suaranya kalah dengan mesin helikopter.

“Baik. Segera naik kalian!”

Mereka pun berangkat menuju tujuan. Dengan membawa beberapa senjata, mereka percaya bisa menumpas kepompong-kepompong ini dengan mudah. Setidaknya itu yang dipikirkan mereka. Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di lokasi. Jo yang memakai kacamata hitam langsung melepasnya sangking tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Lautan kepompong mayat yang sempat ia tak percaya.

“Terbangkan sedikit mendekat!” Perintah Jo pada sang pilot.

Mereka pun terbang mendekat dan mempersiapkan RPG yang mereka bawa. Tanpa basa-basi, Jo melontarkan peluru RPG pertama ke arah Ibu. Ibu yang memiliki banyak tentakel, secara tak terduga menangkap peluru tersebut, lalu meledakkannya dengan sekali remasan.

BLAAAARR!

Hal itu membuat seisi helikopter tercengang. Mereka tak menyangka ibu akan sekuat itu. Disaat yang bersamaan, para mayat itu sudah mulai merangsak keluar dari kulit kepompongnmya.

“Peluru kita tinggal dua, mereka sudah mulai merangsak keluar dari kepompong. Bagaimana ini?” Tanya Rico.

“Aku tahu. Rico, lu pegang RPG ini, gue tembak ibu di kepalanya, kalau udah kena, lu sikat kepompongnya. Ok?” Jo memberi instruksi singkat pada Rico.

“Ok.” Rico mengacungkan jempolnya.

Jo pun mengambil sniper yang ia bawa. Mengambil ancang-ancang untuk menembak. Rico pun juga sudah siap mengarahkan pelurunya ke arah kepompong-kepompong itu.

“Mati lu bangsat.” Gumam Jo sambil menarik pelatuknya.

DOORR!!

Sebuah peluru melesat cepat ke arah kepal Ibu. Membuat kepala sang Ibu pecah dan akhirnya tumbang seketika. Rico yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan, langsung melontarkan peluru RPG kedua kearah kepompong yang sudah mulai keluar.

BLAAARR!

Kepompong-kepompong tadi rusak mengeluarkan isinya. Namun, kepompong yang lain masih banyak. Rico harus segera mengisi ulang RPG nya.

“Tembak!” Jo menunjuk ke arah dimana banyak kepompong berdempetan. Hal itu menguntungkan mereka karena akan banyak kepompong lain yang gugur.

BLAARR!

Peluru kedua telah diluncurkan dan meledak saat itu juga. Namun, mimpi buruk mereka baru saja dimulai. Mereka melihat dengan mata dan kepala mereka sendiri, kepompong-kepompong itu merangsak keluar. Peluru RPG mereka tidak cukup memusnahkan sebagian besar dari mereka. Para mayat itu keluar dengan bentu fisik yang tampak lebih kuat. Kulit lebih pucat, lebih ganas, lebih lapar. Erangan mereka terdengar sahut-sahutan satu dengan yang lainnya. Mereka siap menyerang. Mereka siap membalas dendam.

“El.” Panggil Jo pada El.

El hanya menoleh, sedangkan Jo tidak menoleh sama sekali. Ia masih memandangi lautan mayat tersebut.

“Ini kiamat.” Jawab Jo singkat.


 

CATATAN 30: THE LAST STAND pt.2

Mereka segera kembali menuju pelabuhan. Mereka harus segera memperingatkan semua yang ada di pelabuhan. Serangan bisa datang kapan saja dengan musuh yang jauh lebih kuat. Banyak nyawa yang harus segera di selamatkan.

Namun, ketika mereka kembali, betapa terkejutnya mereka. Ada helikopter jenis Black Hawk yang sedang landing di parkiran helikopter mereka. Dengan terpaksa mereka landing di luar pagar besi, di lahan ketika mereka berperang pertama kali. Turun dari helikopter, Jo langsung mencari Jendral.

“Kita harus segara pergi dari sini, yang mereka katakan benar. Semua yang mereka katakan benar adanya. Makhluk-makhluk itu bermutasi menjadi lebih kuat, lebih menegrikan, dan saya yakin kita akan kalah melawan mereka.” Jo, diikuti El dan Rico merangsak masuk tenda utama tanpa permisi. Tidak waktu untuk permisi.

“Tenang Jo, tenang. Kamu baru aja membawa 3 peluru RPG dan sekarang kamu mau kita cepat-cepat mengevakuasi para penyintas. Ada apa ini?” Jendral tampak kebingungan dengan sikap Jo yang tak seperti biasanya.

“Mereka benar bermutasi. Dan mereka bisa membalas dendam kapan saja. Maka dari itu, sebaiknya kita segera pergi dari sini.” Nada bicara Jo terdengar lebih tenang.

“Kalau begitu kita harus bersabar. Satu Black Hawk di sana bisa menampung beberapa kelompok penyintas dan sekelompok tentara. Kami telah melakukan pendataan ketika kalian berangkat. Dan masih ada 4 Black Hawk lainnya." Jelas sang jendral.

“Berapa lama mereka akan selesai menampung seluruh penyintas?” Tanya El.

“Sampai besok fajar. Black Hawk terakhir akan menyusul besok fajar.” Kata Jendral.

“Kalau begitu kita harus membuat tim Nomaden baru. Tugas mereka adalah penjemputan terakhir. Mereka harus melindungi kita semua sampai semua penyintas terevakuasi. Setidaknya kita harus selalu berjaga-jaga sekarang.” Jo melihat ke arah jendral dan El secara bergantian.

“Lagi? Terakhir kali mereka dibentuk tim itu mengecewakan kita.” Sang jendral berdiri menatap El dan Rico. Ia mungkin masih kecewa dengan tim Nomaden terdahulu.

“Jendral, saya tau anda kecewa dengan mereka. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk mengungkit masa lalu. Lagi pula tugas tim Nomaden berbeda dengan yang dahulu. Ini demi kepentingan kita semua. Keselamatan kita semua.” Jo kini membela El dan Rico.

Sang jendral masih diam tak berkata sedikit pun. Ia menatap mereka bertiga secara bergantian. Satu per satu.

“Harus ada yang berkorban. Dan kalian salah tiganya.” Sebuah kode persetujuan dari sang jendral. Tinggal menunggu waktu kapan mereka akan berperang.

Malam sudah cukup larut, namun El masih berada di luar tenda. Ia masih membantu beberapa penyintas membawa barang bawaan mereka. Helikopter ketiga sudah mendarat dan tinggal menunggu satu helikopter lagi. Sebagai seorang yang tergabung di tim Nomaden, ia terus membantu sebisanya, apapun itu. Tiba-tiba, seorang menepuk pundak El dari belakang. Itu Tiara.

“Boleh ngobrol bentar ngga?” Ajak Tiara.

El menelan ludah, lalu mengangguk sambil mengikuti Tiara dari belakang.

Mereka kini berada di pesisir pantai, mendengar deburan ombak serta menatap langit malam.

“Indah banget malam ini.” Tiara masih mencoba berbasa-basi.

Sedangkan EL diam saja. Ia bingung harus bicara apa.

“Aku tahu kamu bakal tinggal disini.” Akhirnya Tiara mengutarakan maksudnya.

“Cuman buat jaga-jaga. Aku ngga mau ada korban lagi.” Nada bicara El dan Tiara sudah cukup berubah drastis, entah apa penyebabnya.

“Kenapa ngga diam-diam ikut helikopter keloter 4 aja? Kita bisa sama-sama ke negara sekutu.” 

“Emang kenapa kalau aku disini?”

“Gue ngga mau kehilangan orang yang gue sayang lagi El.” Mata Tiara mulai berkaca-kaca.

“Sama. Gue juga ngga mau. Maka dari itu gue bertahan disini. Biar lo, Zahwan dan banyak penyintas lain bisa pergi. Biar kalian bisa selamat.” El juga mulai merlinang air mata.

“Gimana kalau lo ngga selamat? Gimana kalau lo ngga hidup?”

El mengambil sesuatu dari kantongnya. Itu buku hariannya yang selama ini menemaninya tiap malam. Yang menemaninya ketika ia gundah. Benda yang selalu bersama EL dari awal terjadinya kekacauan sampai detik ini.

“Ini buku harian gue. Gue ngga tahu apakah ini bakal berguna kedepannya. Tapi yang jelas, semua hal yang terjadi selama beberapa minggu terakhir gue catat disitu. Termasuk ketika gue ketemu wanita yang sekarang lagi di depan gue. Ketika kita sama-sama hampir mati di kereta. Dan juga ketika gue dan dia berdansa bareng di rumah pohon di taman kota. Semua gue tulis disini. Kalau gue ngga selamat, setidaknya tulisan gue masih hidup, ra. Semua cerita gue masih bisa diceritain ke generasi selanjutnya. Sekarang, buku ini punya lo. Jaga dia baik-baik.” El menyodorkan buku hariannya yang sudah cukup usang pada Tiara.

Tiara yang tak kuasa menahan air mata menerimanya dengan tangan gemetaran. Ia tahu El suka menulis sebelum tidur. Tapi ia tak menyangka El akan mengingat tiap memori dari pertemuan mereka.

“Kita baru kenal beberapa minggu. Tapi kenapa gue bisa sesayang ini sama lo?” Tiara mencoba menggenggaam tangan El. El pun menatap genggaman itu seraya berkata.

“Cinta kadang aneh ra. Dan gue juga ngerasain hal yang sama.” El menatap mata Tiara dalam-dalam. Memastikan tatapan itu tulus sepnuh hati.

Beberapa waktu mereka saling menatap. Hanya ada suara deburan ombak, angin malam, dan suara helikopter yang lepas landas. Mungkin ini kenangan manis mereka untuk terakhir kalinya.

“Gue harus bantu yang lain lagi. Gue duluan ya.” Pamit El sambil mencoba berdiri.

Sontak, Tiara menarik kepala El dan mengarahkannya pada kepalanya. Mereka berciuman. Ditengah malam, dibawah sinar rembulan, kisah cinta mereka mungkin akan berakhir malam ini. Mereka berdua sadar mereka tidak akan bisa bersama. Cinta, takut, sedih, semua bercampur aduk. Sebuah kisah cinta di kiamat dunia. Malam itu akan selalu terkenang di memori keduanya.

“Hati-hati ya wan di sana. Titip Tiara disana.” El memeluk Zahwan yang juga satu keloter dengan Tiara.

“Lu jangan kelamaan nyusulnya.” Zahwan tak kuasa menahan air mata sambil memeluk sahabatnya itu. Dulu mereka berdua pernah berpisah. Kini, mereka harus mengulangi hal yang sama.

“Iya. Satu dari lo yaang ngga berubah, bacotnya masih sama. Hahahaha.” Canda El yang berusaha menutupi kesedihannya.

Mesin helikopter sudah dinyalakan. Zahwan segera naik menuju helikopter itu. Sedangkan Tiara sudah berada didalam. Mereka berdua hanya bisa saling melambaikan tangan. Tanda perpisahan paling klasik yang pernah ada.

Helikopter mulai terbang tinggi membelah lautan. Meninggalkan tim Nomaden yang terus bersiaga akan tiap serangan yang ada.

“Nanti siang harusnya kita nyusul mereka.” Jendral menyapa El dari belakang.

“Lho? Bapak ngga ikut mereka?” El kebingungan karena sang jendral tidak ikut dalam helikopter itu.

“Ngga. Saya masih mau di sini. Saya masih ingin memberikan komando terakhir. Saya tidak seperti Eric yang ikut helikopter kedua. Kalau pun saya mati, saya mati di tanah kelahiran saya.” Sang jendral menepuk pundak El sambil beranjak pergi.

El mencoba menyusul sang jendral. Berdiri di sampingnya dan berbicara beberapa perihal.

“Maaf jendral, kalau boleh tahu, mengapa kita tidak menuju seberang laut saja. Bukannya mereka juga negara sekutu kita?”

“Iya, mereka memang negara sekutu kita. Tapi nasib mereka jauh lebih buruk.”

“Jauh lebih buruk?” El masih penasaran dengan kejelasannya.

“Laporan terakhir, tidak ada kehidupan disana. saya kira hanya satu dua negara saja yang terdampak. Ternyata 5 negara termasuk kita menjadi sasarannya.” Jendral masih terus berjalan menuju tendanya.

“Bagaimana nasib pemerintahan kita pak? Saya masih bertanya-tanya perihal itu.”

“Presiden dan seluruh jajarannya sudah dievakuasi menuju negara sekutu yang membantu kita saat ini. Sebenarnya ini hanya permulaan dari sebuah perang.” Jawaban jendral tidak begitu panjang. Mungkin ada rahasia negara yang memang disembunyikan.

“Begitu ya.” El cukup puas dengan jawaban tersebut. Sebagai rakyat, pertanyaan macam itu pasti muncul di benak banyak orang.

Ketika mereka hendak memasuki tenda, terdengar suara gemuruh yang berasal jauh disana. suara seperti orang berlari dengan jumlah yang banyak. Suara itu bisa datang dengan cepat. Ketika mereka menoleh pada asal suara itu, Jo menghampiri mereka.

“Jendral, El, tamu kita sudah datang.”

Mereka langsung berpencar mengambil persenjataan masing-masing. El membawa dua parang yaang ia selipkan di punggungnya layaknya seorang ninja. Senapan laras panjang jenis AK-47 dengan 5 magazine tak luput dari bawaannya, serta 3 buah granat. El sudah siap berperang.

Jumlah tim Nomaden terakhir hanya sekitar 1 kompi. Dan mereka semua berlindung di balik pagar besi. Sebisa mungkin mereka mencoba bertahan hidup. Jantung yang berdegup kencang sudah seperti genderang perang yang bertabuh. Inilah pertahanan terakhir, The last stand.

Para mayat mulai terlihat. Kulit mereka makin pucat dengan suara erangan yang makin tidak karuan. Berlari ke arah pelabuhan dengan membawa dendam yang membara. Sang jendral masih memberi aba-aba untuk menahan serangan, masih terlalu juah jarak tembak mereka.

“TAHAN!” sang jendral mengepalkan tangannya keudara. Masih menahan.

Ketika par mayat itu berdiri sekitar 100 meter didepan pagar, saat itu lah perintah menembak dikeluarkan.

“TEMBAK!”

Suara peluru yang keluar dari senapan saling bersahutan, diikuti suara erangan kesakitan dari mayat-mayat yang tumbang. Beberapa mereka sudah menyentuh pagar besi, namun masih belum bisa menembusnya. Keadaan masih unggul.

Dari belakang para mayat, tampak Bondem yang ikut berubah mencoba berlari menerobos pagar besi. Dengan sigap, El melompat keluar pagar, mendaratkan dirinya dipundak sang Bondem, lalu menusukkan kedua parang di kepalanya. Satu orang Bondem gugur. Berhubung EL berada di luar pagar, ia harus meladeni beberapa mayat lainnya. Menebas, membelah menusuk, semua mayat yang tampak didepan matanya ia bantai habis-habisan.

Sial, ada Bondem lain yang berhasil menembus sisi lain dari pagar. Sebuah lubang besar membuat para mayat leluasa masuk ke area pelabuhan. Pasukan Nomaden sedikit kocar kacir karena mereka kebingungan. Beberapa diantaranya sudah menajdi santapan.

   El yang melihat hal itu langsung masuk kembali, membantu teman-temannya yang hendak menjadi santapan para mayat. Tapi, jumlah mereka masih terlalu banyak. Mereka beanr-benar kewalahan.

“El, gue ada ide.” Rico menunjukkan senapan mesin yang ia temukan.

Sejurus kemudian, Rico mulai menembak ke arah gelombang besar para mayat. Membuat Rico menjadi incaran utama.

“RICO, MUNDUR!” El berteriak pada Rico.

“AAAAAHHHHH! MAJU SINI LO SEMUA ANJEENG!” Rico masih terus menembaki, meskipun gelombang mayat itu sudah sangat dekat dengannya. Tak lama, peluru yang ada di senapan mesinnya habis. Rico hanya bisa berbalik badan sambil tersenyum pada El. Kemudian, seorang mayat dengan mudah merobohkan Rico. Rico pun tewas menjadi santapan mereka.

Pengorbanan Rico tidak sia-sia. Jumlah mmayat dan manusia kini sudah mulai seimbang meskipun masih banyak jumlah mayat. Tak berhenti disitu, gelombang mayat yang kedua datang. Membuat pasukan Nomaden kian menipis. Jendral yang melihatnya hanya bisa pasrah dan berlutut. Di kala itu, Jo sebagai prajurit sejati, mencoba membangkitkan semangat sang jendral.

“Pak, kita lahir ditakdirkan menjadi tentara, dan tidak sepantasnya tentara mati tanpa perlawanan.” Jo menatap dalam sang jendral sambil menggengam dua granat di tangannya, dan beberapa yang lainnya menempel di badannya.

“Jo? JO JANGAN JO!” Sang jendral mencoba menahan Jo untuk melakukan bom bunuh diri.

“Titipkan salam saya pada istri dan anak saya. Saya sayang mereka pak.” Jo pun berlari menuju gelombang mayat itu, menabrakkan diri, lalu...

BLAAARR!!

   Jo melakukan aksi bak pahlawan. Mengorbankan dirinya agar perjuangan lainnya lebih mudah. El yang melihatnya dari jauh tak bisa membendung amarahnya. Ia berubah menjadi brutal, membantai semua mayat yang ada di hadapannya. Matanya berubah menjadi merah, nafasnya menajdi berat. Ia menghajar habis tiap mayat yang ada sambil teringat orang-orang tercintanya. Semua orang disekitarnya. Ia babt habis tanpa ampun. Perlahan, tap pasti, pasuka mayat itu mulai habis.

   Ketika El selesai dengan semuanya, ketika tak ada lagi mayat yang tersisa, ia menoleh ke area pelabuhan. Ia pandangi setiap jengkal area tersebut. Semuanya rata dengan tanah. Tidak ada mayat tersisa, tidak ada manusia tersisa. El, menjadi manusia terakhir, di tanah itu. El, menjadi satu-satunya, yang tersisa.

   El pun menghampiri tenda yang ternyata masih ada jendral disana. ia terluka hebat. Perutnya robek menampakkan isinya. El yang tahu bahwa tidak ada lagi harapan, hanya bisa mendekat dan mendengarkan kata-kata terakhir sang jendral.

“Sepertinya, ini akhirnya. Setidaknya kita menyelamatkan masa depan kita. Kerja bagus El.” Sang jendral terbatuk-batuk sambil menahan sakitnya.

“Saya titip pesan. Pada seluruh rakyat disana, tolong kenang tim Nomaden ini. Agar kematian kami semua tidak sia-sia. Sampaikan salam perpisahan Jo pada istri dan anaknya. Buat nama kami abadi El.” Sang jendral meneruskan.

“Kamu prajurit terhebat yang pernah aku jumpai. Tetap hidup ya nak. Oh iya, nama saya Rian. Jendral Rian.” Ungkap jendral Rian sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

   El tak kuasa menahan kesedihannya. Hari ini, ia kehilangan banyak orang terkasih. Ia kehilangan banyak orang yang sayang padanya. Hanya ada satu cara untuk meluapkan itu semua. Menulis.

   El pun mencari secarik kertas. Ia tak kuasa meluapkan kesedihannya pad kertas tersebut. Oleh karena itu, ia mencoba menulis pesan untuk siapa saja yang menemukan tulisan itu.

 

Bagi siapapun yang menemukan kisah ini, kuharap kalian mampu bertahan dari Bondem, Mak Lampir dan Karakas. Kuharap kalian juga tidak pergi ke gedung Lab L dimana ini semua terjadi. Aku juga berharap kalian tidak meneruskan perjalanan menuju seberang sana. Percayalah, di sana hanya ada mimpi buruk.

   Perkenalkan, aku El. Tak perlu kalian tahu nama asliku. Karena aku pun tak tahu. Aku penyintas terakhir dari regu Nomaden. Pertarungan terakhirku di pelabuhan akhir tahun ini ketika surat ini kutulis. Setelah surat ini selesai kalian baca, aku mungkin sudah jauh menuju selatan. Terus berjalan tanpa henti.

   Dunia yang kita kenal memang sudah berubah. Tak ada lagi kedamaian. Tak ada lagi keindahan. Namun, tetaplah bertahan, para penyintas. Agar bumi ini tetap bernafas.

Salam,

El.”

El meninggalkan surat itu di dalam tenda. Berharap seorang yang akan datang menjemput mereka menemukan kertas itu. Dengan ini, El secara resmi menjadi penyintas tunggal. Sendiri. Selamanya.

Sambil menenteng bekal bawaannya, El bergumam “Kayaknya gue butuh buku baru deh.”

 

TAMAT.

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Fandy Sulthan

Peracik kata, penikmat dunia 3 dimensi dan pengagum rahasiamu