Froksi

MIMPI TERAKHIR

Ditulis dalam rangka 30-Day Writing Challenge Froyonion bulan ini, cerpen ini ditulis oleh seorang Civillion dengan mengangkat tema yang tak pernah usang: cinta pertama.

title

Bunga tidur yang sedang mekar-mekarnya terkuncup akan terik matahari. Ikan  menghilang saat aku datang. Sungai mengering saat kudekati. Buah-buahan yang berasa manis jadi asam. Semua berubah sejak aku datang. Entah apakah aku yang pembawa sial, ataukah aku tak cocok untuk hidup atau bahkan kehidupan tidak menerimaku untuk menjinjitkan kaki di bumi. Membuatku ganjil.

Devini itulah anugerah yang kuterima dari orang tuaku. Lahir dengan wajah Asia dan tumbuh pendek itu hal yang lumrah. Beruntungnya diriku masih dikatakan manusia yang sempurna. Hidup dengan seadanya membuat hidup orang tuaku harus bekerja  keras. Tapi aku merasa senang orang tuaku masih memberiku peluang untuk bergurau dan menikmati hari-hariku bersamanya.

Kini usiaku menginjak remaja, ya usiaku 19 tahun. Selama 19 tahun yang lalu, kategori hidupku masih dibilang genap. Apa-apa yang kuinginkan mudah sekali tercapai. Sekarang aku menganggapnya tidak normal lagi, apa yang aku inginkan memang tercapai namun, lebih parah dan di luar sangkaanku. Bulan April kala itu aku menyandang status mahasiswa semester 2 di salah satu universitas negeri di kotaku. Aku bertempat tinggal di sebuah kos yang dekat dengan kampusku. Kuliah di tempat yang sama sekali tidak kuinginkan. Aku hanya mengikuti kata hatiku, “Ah, coba aja kuliah di sini, murah kok deket rumah pula.” Di sisi lain aku mempunyai alasan yang paling dangkal yakni aku bisa sekampus dengan orang yang dari zamannya bocah ingusan, aku sudah berteman dengannya. Irfan, biasa aku memanggilnya dengan sebutan “Papan”.  

Lubuk hati yang paling dalam berkecamuk rindu dan kecemasan. Rasanya jantungku mau copot ketika aku ingin berjumpa dengannya. Walaupun diriku serta dirinya hanyalah sebatas teman. Hingga saat ini pun rasanya masih sama. Malam berganti malam, pilu tangisan akan kerinduan sering mengantarkanku ke dalam mimpi. Mimpi itu bisa membuatku tidur dengan nyenyak.

***

Langit malam tersenyum kepadaku. Di atas tebing benih-benih asmara bersemi di musim penghujan. Aku dan Papan duduk berdampingan, selayaknya liburan  perayaan tahun baru. Biasa kami rayakan di bukit panorama asmara. Sebuah tempat wisata yang menyediakan tempat came maupun penginapan berupa villa. Terlihat banyak bintang-bintang dan juga lampu-lampu masyarakat di dataran rendah dari atas tebing. Bulan tersipu malu seperti wajahku yang nampak kemerahan. Baru kali ini aku merasa senang sekali bisa melihat gemerlap bintang dan lampu-lampu pedesaan. Hal yang biasa dilakukan saat tahun baru, teman-teman membunyikan terompet dan menyalakan kembang api saat memasuki 11:59:59. Namun kami berdua hanya tersenyum malu dan kontak mata kami tak tersekat oleh keramaian yang teman-teman lakukan. Saling pandang bak tahu masing-masing isi hati.

Mendengar nama panggilannya yang keluar dari mulut Irfan serta senyuman dengan gigi gingsulnya, Devini seketika hatinya meluap-luap bagai waduk yang tak mampu memuat debit air. Percakapan keduanya membuka perasaan yang mereka alami saat itu terutama pengungkapan kebahagian masing-masing. Devini hanya menjawab lontaran pertanyaan papan secukupnya untuk menutupi perasaanya yang ingin tetap bersembunyi di goa hati.

Dari ketinggian bukit yang standar  rumput jepang ikut menyaksikan. Tanganku tak henti mencabut dan merobek daun rumput yang tak nampak jelas ukuranya. Kami hanya membungkam mulut, malu akan berkata-kata. Hati membuncah, mata bersinar menatap bintang dan kembang api. Seakan-akan mengetahui apa yang kami alami. Pandanganku tersentak beranjak dari lamunan madu. Melihat bintang jatuh seakan menari indah atas kebahagian kami. Kami make a wish dengan mengangkat kedua tangan dan memejamkan mata seraya diriku berkata: “Semoga aku tahun ini bisa menjalin kasih dengan orang yang kusayangi. Papan adalah cinta pertamaku, perasaanku juga masih utuh meski aku pendam selama tujuh tahun. Kabulkanlah! Amin!” Aku yang semula berkata bintang jatuh mengganti ucapanku dengan meteor yang jatuh. Kami berdebat antara bintang jatuh dan meteor yang jatuh.

Angin semilir meluncurkan meteor dengan kemiringan 450 berwarna kuning lampu obor mendarat kelengan kanan Papan. Papan merasa biasa saja tanpa mengeluh dan tetap tersenyum kepadaku. Padahal nyata di depan mataku luka bakar jelas di lengan papan. Kupegang tangan papan dengan segenap rasa khawatir, takut dan dengan air mata yang tulus takut akan keadaan tangan papan.

Irfan : “Udah nggak papa yo tangan ku..,” (sambil tersenyum dan menyeka ujung mataku)

Devini : “Nggak papa apanya, jelas-jelas ini tu sakit banget sampai kulitmu terbakar kayak gini! Ya Allah sembuhkan tangan Papan ya Allah,.... Kembalikan seperti semula tangan papan ya Allah.” (isak tangis dan air mata bercucuran tiada henti membasahi lengan Papan).

Seraya memohon pada Tuhan agar kulit tangan Papan kembali. Bahkan aku rela nyawaku Engkau ambil ya Allah asalkan Papan sembuh. Diriku terus merengek menangis dan mengusap tangan Papan. Hingga berharap tetesan darah bening dapat menutup lukanya. Kala itu diriku sendiri berjanji aku akan menjauh dari Papan. Jika memang dengan begitu Papan dapat sembuh, suara meracau terus keluar dari bibir mungil ini bak burung yang lapar. “Apakah gara-gara aku di dekatnya ia menjadi terluka?”

Indahnya paras Papan tak mampu menghentikan air mataku. Ia malah tersenyum dan seolah-olah tidak ada apa-apa. Tangan kasarnya perlahan menyeka ujung mataku. Dia memegang tanganku mengatakan tanganku sudah sembuh. Tidak terasa apapun.  Mencoba menenangkanku dengan duduk bersandar dengan menyanyikan lagu favorit kami Charlie Puth “We Don’t Talk Anymore.”

Suara alarm berhasil memekakan telingaku, hingga diriku membuka kelopak mata. Napas tersengal-sengal, keringat bercucuran kaki gemetar, membuatku sadar bahwa semua itu hanyalah bunga tidur. Beranjaklah diriku untuk bangkit dari ranjang dengan seribu bunga tidur. Bergegas sembahyang dan berdo’a. Itu hanya mimpi gumam hatiku di atas sajadah.

Keesokannya aku mendaki sendirian menuju kampus, firasatku hari ini aku akan bertemu dengan Papan. Terdengar olehku suara klakson. Seketika diriku berhenti dan kutoleh ke belakang. Ternyata itu ulahnya Papan. Papan tak segan-segan menawarkan tumpangan motornya kepadaku. Tanpa berpikir panjang aku langsung naik di motornya. Tersentak di pikiranku akan mimpi semalam, aku nyeplos menanyakan kabarnya tanpa berterimakasih terlebih dahulu. Jawabnya santai ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Ia merasa sehat bugar, malahan hari ini terasa ringan dan segar sekali. Meskipun ia sempat cerita beberapa hari yang lalu sempat sakit. Mendengar ia bercerita lumayan lega bahwa semua itu hanyalah mimpi. Aku dan Papan masuk kelas dengan ruangan yang berbeda karena kami juga beda fakultas.

Buka bersama di Maerokoco membuatku terpikir oleh Papan, bahkan dari awal perjalanan hingga tempat tujuan. Rasanya hatiku tercabik-cabik oleh burung elang. Entah mengapa aku tidak mengerti penyebabnya. Senyuman menghias bibirku kala selesai buka bersama duduk santai bergurau dengan teman-teman sambil memandang emasnya danau yang terpantul cahaya lampu.

Isya’ mengantarkanku sampai di persinggahan tidurku. Kamar-kamar tetanggaku tertutup rapat.  Kulihat dari ruang tamu, pemilik kamar duduk di depan pintu kamarku dan seperti ingin menggerebek. Salah satu temanku memberitahu kepadaku  seakan-akan diriku melakukan kesalahan yang fatal. Ia menjelaskan kepadaku untuk berekspresi biasa saja saat ia memberitahuku. Ia mengatakan temanmu Papan masuk rumah sakit. Tanyaku padanya, “Emangnya dia kenapa kecelakaan? Mustahil tadi pagi saja aku baru bertemu dengannya.” Kubuka pintu kamarku seraya menganggap temanku hanyalah guyonan saja.

Temanku memaksaku untuk diam dan relax. Aku mengira teman-temanlah yang tidak bisa rileks. Aku membantah aku biasa saja. Kalianlah yang cemas dan bergemetar. Bahkan kalianlah yang iri kepadaku karena aku baru saja bukber di luar kos dengan gratis.

Lampu terang dan hiasan bunga seraya ikut berbisik apa yang dibisikkan temanku: “Papan kini telah tiada.”  

Langit berlampu bintang dirundung kelabu, menyelimuti hati yang tak berkeyakinan. Aku jelas kaget, menangis dan meracau berharap Papan dapat hidup kembali meskipun aku jauh darinya. Temanku yang iba melihat keadaanku mencoba menenangkanku, dan mengajakku ke rumah sakit untuk melihat jenazahnya. 

Gemetar tubuhku hingga bibir sulit untuk berkata-kata, melihat papan terbujur kaku di atas ranjang di ruang jenazah. Teman-teman kuliah Papan tampak begitu memenuhi ruangan. Dengungan surat Yasin terdengar jelas di telingaku. Perasaan ragu masih menyelimuti hati. Kubuka selimut yang menutup seluruh tubuhnya, benar ia telah tiada. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Ikalista

Pegiat sastra di komunitas soeket teki semarang, owner Blarak.id.