Froksi

LELAKI TANPA HOKI

Bermula dari kesialan asmara di tiap tanggal 7, seorang anak muda pergi mencari seorang tetua untuk membersihkan aura. Akhirnya sungguh tak terduga.

title

Musim durian hingga kelengkeng tak lekang dari masa tumbuh subur untuk berbuah. Namun,  apa jadinya jika memang saat waktu tiba untuk saling berpamitan. Antara ranting dan daun yang menguning, berguguran helai demi helai yang jatuh diterpa angin. Mungkin waktu yang diberikan telah habis.

***

Masih membekas di benakku saat kali pertama pertemuanku dengannya.  Mulai dari hitam rambutnya, yang terurai panjang meski tak lurus. Begitu bergelombang. Lesung pipi,  menjadi pelengkap dari segala yang ada padanya. Ala pedesaan itulah ciri  khas yang mudah tertangkap di memoriku. Natural tanpa polesan bahkan solekan. Kau memakai baju kurung bercorak batik kuning kejinggaan. Ya, seperti warna senja sore itu sebelum turunnya hujan. Kala itu aku sedang mencari dukun penghilang sial.

Kesialan yang kualami adalah setiap tanggal tujuh aku selalu putus hubungan asmara dengan wanita. Putus jalinan asmaraku pun bukan tanpa alasan. Paling dominan aku selalu menolak untuk berciuman dengan kekasihku, rasanya ia tak menarik dan aku merasa jijik. Maka tak segan mantan kekasihku menjuluki Adi banci atau gay lah. Sebenarnya ini cukup di bawah kenormalanku. Aku mengalami hal ini semenjak aku pulang dari pendakian.

Salah satu sahabatku menyarankan untuk pergi pada dukun atau orang pintar untuk menghilangkan kesialan itu. katanya, dukun itu bisa mengetahui tujuan kita. Menurutnya banyak teman-teman di sekelilingnya berhasil setelah pulang dari sana, entah sukses dalam karier, asmara, rumah tangga dan lainnya yang tidak dapat kusebutkan semua.

Namun, ia hanya memberiku nama desanya dan warna rumahnya. Anehnya, sahabatku tidak mendeskripsikan alur rumahnya. Hanya berkata, kampungnya ditinggali beberapa rumah yang saling berjarak belasan kilometer, selain itu hanya terdapat hamparan tumbuhan padi yang sedang masa masak susu. Sedangkan aku bukan penghuni kampung  dukun itu. Bingung, itulah yang kurasakan, apalagi ini sudah hampir senja. 

Setiap sampai di perempatan jalan aku bertanya dengan seseorang untuk menayakan letak  dukun itu melalui tanda-tanda rumah dukun itu. setelah beberapa orang kutanyai, aku bertanya dengan seseorang yang sedang memegang sapu untuk membersihkan teras rumah. Tanpa berpikir dalam kuparkirkan sepeda motorku di halaman rumah itu. Kusapa dirinya. Ramah dan santun yang ia tampilkan kepadaku. Aku pun bercerita perihal kepentinganku. Ia tersenyum  dan dengan tubuh yang langsing  melangkah menuju pintu masuk rumahnya. Tanpa memberikan jawaban pula atas pertanyaanku. Tak lama ia datang keluar dari pintu membawa baki. Ia menyuguhkan buah durian, kelengkeng serta dua cangkir teh hangat kepadaku. Sebelumnya ia mempersilahkanku untuk duduk berlanjut untuk bercengkrama pada obrolan senja. 

Dari teras tampak aki-aki bertopi gunung bersampir cangkul  datang dari kejauhan menuju teras. Ia menebak kalau diriku mencarinya. Jelas aku mengelak. Lelaki tua itu tertawa. Tanpa panjang lebar bibirku mengutarakan tujuanku pada mereka  berdua. Setelah mendengarkan penjelasan atas perkataanku, aku berpamitan dan pulang menuju rumah. Niatku melanjutkannya besok sepulang kerja.

Senja selanjutnya ia memperlakukan diriku dengan hal yang serupa dengan hari lalu. Dengan durian, sepiring kelengkeng beserta dua cangkir teh hangat. Aki-aki itu keluar dan bercengkerama kepadaku. Obrolannya pun menunjukkan kalau dia memang seorang dukun seperti yang diceritakan sahabatku. Perihal kepentinganku yang tersampaikan lewat obrolan senja secara tidak langsung aki-aki itu menjawab pertanyaanku. Pada intinya aki-aki tersebut mengatakan jika dalam suatu perjalanan (pendakian) aku sering kencing di sembarang tempat. Sehingga ada makhluk ghaib yang mengikuti dan menyukaiku. Sebab aku telah membasahi area bermainnya.

Lelaki kepala enam itu menganjurkanku untuk menjalani kegiatan rukyah syar’iah. Agar yang mengikutiku kembali ke asalnya tanpa diusir secara langsung. Ia juga menyarankan untuk berbuat baik, serta menjaga tatakrama. 

***

Meski gerimis bermain mengunjungi bumi, payung dan jas hujan tak bisa lengkang dari tubuh insan yang berlalu lalang. Sengaja kulamunkan peristiwa itu sambil mununggang sepeda motor. Aku tersenyum sendiri melihat bayangan itu pada kaca spion.

Membuyar lamunanku, ketika ia datang dengan membawa pakaian untuk ritual rukyah bersama aki. Aku pun memasuki ruangan khusus untuk ritual tersebut. Pertama, aku diperintahkan untuk mensucikan diri dengan mandi bunga setaman dengan 21 kali siraman. Aneh sekali saat siraman ke 20 dan 21 pandanganku terlihat aneh. Seperti terdapat kabut asap di seluruh ruangan. Saat itu pula aki-aki itu membaca mantra dengan bibir yang  berkomat-kamit. Aku sendiri tak memahami bahasa yang diucapkannya. Setelah itu menyuruhku mengambil air wudlu, dilanjutkan dengan beribadah khusus untuk pertaubatan. Ritual berikutnya berupa pembacaan ayat suci jua kalimat thoyyibah oleh aki. Sedang aku duduk bersila dengan mata yang sengaja diperintahkan untuk terpejam. Selain itu aku didampingi putrinya yang menganjurkan agar memegang botol plastik berisi air putih tanpa ditutup.

Selepas rangkaian rukyah selesai, pandanganku terlihat normal kembali. Ia juga berpesan kegiatan tersebut setidaknya dilakukan selama satu minggu. Hari pertama telah selesai kulakukan maka tiba saatnya  aku berpamitan.

“Nak Adi, hapal jalannya kan? Jika demikian jangan sekali-kali menoleh ke belakang,” pesannya padaku. 

Hari-hari seterusnya sama, aku disambut hangat oleh putrinya. Hingga kami terbiasa dengan berbagi cerita. Aku pun merasakan imbas kasih yang ia simpan di matanya.

Hari ke tujuh pun tiba, aku merasa tubuhku ringan. Ritualnya pun dilakukan lebih awal sebab ritual ini disudahi dengan makan bersama anak yatim piatu dengan hidangan ayam ingkung. Tak hanya wajahku yang kelihatan berseri-seri akan tetapi semua orang yang ada di sana. Aku berencana mengutarakan isi hatiku padanya sebelum pulang dari sini.

Aki-aki itu tersenyum karena konon katanya auraku tak lagi suram, aku pun memberikan salam tempel kepadanya sebagai tanda terima kasih. Tanpa basa-basi di depan semuanya aku melamar putri bungsunya. Seketika itu mereka diam dan terasa khidmat.

“Ini, ada surat untukmu dari bapak. Kau bacalah tulisan di dalamnya dengan teliti,” sembari mengulurkan kertas itu padaku.

Tanganku pun bergemetar kala menerimanya. Tangan kananku mencoba untuk membuka lipatan kertas itu. Setelah aku membacanya, hatiku tercengang. Bola mata ini melirik ke sana ke mari mencari keberadaan Aki. Namun mata ini tak mampu menangkap keberadaannya. Kaki dan tangan bergemetar ketika memahami isi surat itu dan menyadari jika Aki telah menghilangkan. Sebentar, akan kusampaikan isi surat itu.

“Sebagai pribadi yang baru ialah menggenggam keikhlasan. Jua demi keselamatan kita, kamu tak akan berhasil dengan nama wanita yang saat ini kau simpan dalam lubuk hatimu. Demikian telah kubuat perjanjian dengannya (makhluk ghaib). Setelah rasa ini kau gugurkan, kamu akan berjumpa dengan belahan dirimu yang sejati.”

Kedua tanganku kuperintahkan untuk bekerjasama melipatnya kembali seperti semula, lalu menyodorkan kepada wanita yang kini harus kupupuskan hatinya. Seharusnya aku tak mengisi hatiku akan rasa itu. Begitu pula dengan obrolan senja yang memang tak perlu terjadi. Terkadang diam atas ketidakadilan dunia sangat diperlukan. Mau dibuat apalagi inilah garis yang semesta ingin disampaikan padaku. Entah perihal cobaan ataukah proses pendewasaan. Biarlah waktu menjawab pertanyaan yang melayang di kepalaku saat ini. “Apakah hari ini tanggal tujuh?” teriakku dalam batin. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Ikalista

Pegiat sastra di komunitas soeket teki semarang, owner Blarak.id.