Froksi

HUKUM ISMAIL

Putri seorang ulama di sebuah kampung ketahuan hamil di luar nikah. Apakah ia akan dirajam sampai mati sesuai hukum yang diajarkan sang ayah? Cerpen ini mengajak kita menyadari bahwa kehidupan manusia tak sesederhana hitam dan putih.

title

Hukum karma pala itu menjadi pengingat bagi Ismail agar lebih waspada dalam menyampaikan ceramah. Ajaran agama memang memiliki ruang lingkup kehidupan baik itu individu maupun sosial.

Tiada hari yang berwajah muram bagi Ismail, seorang tokoh agama di kampungnya yang kini  tak lagi disegani oleh warganya. Kesadaran diri membuat ia merasa tak pantas memberikan pidato dalam kultum seusai ibadah subuh. Jika melihat kenyataan yang dialami oleh putri bungsunya. Membuat tekanan darah tingginya kumat. Bagaimana tidak? Saat ini ia telah berbadan dua tanpa belahan jiwa yang menemani harinya bahkan sekedar mengelus perutnya.

Ia begitu murka dengan putrinya sendiri. Ia menyuruh mulutnya untuk tak lagi bicara kepada Ratna. Diam menjadi jalan terbaik untuk saat ini. Apalagi putrinya tak memberi tahu siapa yang telah merusak keperawanannya. Ia juga meminta ayahnya untuk tidak menikahkannya dengan lelaki mana pun. Ia juga berhasil membuat janji kepadanya agar tak akan menuntut ke ranah hukum jika sosok laki-laki yang digandrunginya datang bertemu dengannya.

Warga sekitar selalu menganggap jika yang dialami putrinya sekarang adalah karma pala dari perbuatan ayahnya sendiri. Mulanya memang salahnya sendiri kala ia memberikan contoh nasehat yang kurang tepat, bahkah menyinggung Bu Hilda. Anak yang kedua Bu Hilda telah hamil di luar acara pernikahan. Tanpa sungkan ia memberikan pertanyaan yang cukup memalukan bagi Bu Hilda.

Gunjingan serta cemoohan warga sekitar memang hal yang tidak dapat dihindari Bu Hilda dan keluarganya. Hingga suatu hari ia tidak dilayani oleh penjual toko kelontong dekat rumahnya. Baginya ini bukan masalah besar. Toh ia bisa membeli kebutuhan pokok di mini market, tak masalah jika harga jualnya lebih mahal.

Warga yang tidak menyukai musibah yang terjadi pada Bu Hilda bersekongkol dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat termasuk juga Ismail yang menerangkan bahwa secara agama anak Bu Hilda itu harus dihukum sesuai dengan hukum agama atau adat istiadat yang ada  di kampung itu. Mereka mengusulkan dua hukuman dari dua sumber itu.

Bagi Ismail ini bukan berniat melukai atau sejenisnya, tetapi hanya membuat jera pelakunya, dan menyadarkan jika perbuatan itu merupakan dosa besar. Dengan begitu perilaku tersebut harus dijauhi. Memang belum diketahui oleh warga kenapa anak Bu Hilda itu bisa hamil di luar nikah sejak pulang dari kota.

Jarum jam di dinding rumah Ismail terus berputar. Mulut mereka juga ikut berdemokrasi untuk mengambil keputusan. Setelah berdebat dan menghabiskan waktu, mereka menyetujui untuk mengusir anak Bu Hilda. Sebab merajamnya lalu menggiringnya keliling kampung merupakan hal yang menyakitkan hati siapapun termasuk keluarga Bu Hilda. Namun begitulah  hasil keputusan dalam musyawarah  yang bersepakat itu dan disahkan oleh Ismail. Selain itu Ismail juga bertugas untuk  memberitahu keputusan tersebut kepada Bu Hilda. Mereka pun menetapkan hari penghakiman bagi anak Bu Hilda.

Tiba saat pada hari yang telah diputuskan. Hari yang tak pernah diinginkan oleh siapapun. Apapun kesalahannya, hari itu telah menjadi hari pembuka aib. Tangis air mata dari anak bu Hilda pun mengucur deras meskipun ia sendiri menyuruhnya untuk berhenti mengucur. Hilda pun pingsan berkali-kali kala melihat anak perempuannya harus menerima hukuman itu. Baginya hukuman itu terlalu pahit bagi anaknya yang selama ini menjadi kebanggaan desanya tersebut.

Lapangan desa mulai ramai dengan suara pembawa acara yang memandu kegiatan penghukuman. Setelah acara dibuka, megaphone diambil alih oleh Kepala Desa dan Babinsa. Riuh cercaan bagi anak malang itu pun ikut memeriahkan suasana penghakiman. Dalam suara yang menggema, anak Bu Hilda yang lebih memilih untuk dirajam dari pada meninggalkan ibunya tercinta itu pun menyetujui dan melaksanakan perintah dari Kepala Desa. Kepala Desa pun menanyakan kepada anak Bu Hilda, perihal kesiapannya di hari tersebut.

Sebelum acara penghukuman itu, Ismail selaku tokoh agama pun menerangkan mengenai perzinahan dan hukuman yang pantas bagi pezina. Seusai menutup pidatonya, penghukuman pun dilakukan.

Kegiatan itu mulai berupa sebuah pengakuan dari diri anak malang itu di depan umum. Di atas kitab suci ia disumpah untuk berkata jujur. Dengan memakai daster, wanita itu berdiri di depan para penyidang. Sesekali ia menggigit gigi kosong sebab tangannya kesaktian saat diikat dengan tiang yang berada di tengah-tengah lapangan. Sinar surya yang terik menjadi saksi bisu atas acara penghakiman yang sedikit konyol.  

“Iya, saya sudah melakukan hubungan badan dengan seseorang. Eh bukan seorang tetapi di sana banyak laki-laki yang menyentuhku. Namun yang berani melakukan hubungan badan itu dua orang,” jelas anak Hilda.

“Apakah mereka semua mengenalmu?” tanya kepala desa.

“Tidak, aku tidak mengenal mereka semua,” bantah anak malang itu.

“Jawab dengan jujur, bagaimana kamu melakukan hal itu dengan orang yang tidak kamu kenal?”

“Saya tidak tahu,” jawab pasrah.

“Sekali lagi jawab dengan jujur bagaimana hal itu bisa terjadi?” tanya Ismail.

“Jika aku menjawab dengan jujur apakah kalian akan membebaskan ku dari keputusan yang gila ini?” ia melempar.

“Hukuman tetap berlangsung, sebab yang namanya zina ya, zina tak ada jawaban jujur yang bisa menghilangkan penghakiman atau pun mengembalikan dirimu seperti semula.” Tegas Ismail.

“Sewaktu itu telah terjadi penjarahan di kota tempatku merantau. Aku pun mengemasi barang-barangku dan berlari menuju stasiun. Pembalakan terhadap rumah etnis negeri tirai bambu pun tak dapat dihindari. Bahkan transportasi itupun dibakar oleh siapa yang tidak diketahui golongannya. Lalu aku berlari menyusuri lorong-lorong pasar. Aku pula mendengar suara jerit tangis perempuan yang tak kuketahui dari mana sumber suara itu berasal. Aku pun terus berlari. Keringat di dahi mengalir seperti arus sungai yang deras. Nafasku pun tiada beraturan. Aku pun beristirahat di ujung lorong. Kudapati seekor anjing yang menggonggong,” terang anak Hilda dengan menangis.

“Lalu bagaimana kau bisa terjadi demikian?”

“Karena aku takut anjing, aku memasuki salah satu kios yang tak kuketahui itu milik siapa, aku pun beristirahat di sana. Saat malam tiba, aku terbangun oleh suara tawa laki-laki yang tidak kuketahui dari mana asal mereka sampai ke tempat tersebut.”

“Setelah itu apa yang terjadi,” desak Ismail.

“Lalu mereka menjagal tangan dan kakiku, salah satu dari mereka menikmati tubuhku,” tuturnya dengan pandangan menunduk.

“Jika demikian kami akan menurunkan hukuman tersebut,” balas Ismail.

Segenap perangkat desa beserta tokoh masyarakat mempertimbangkan kembali mengenai hal itu. sebagian dari mereka mengusulkan untuk dibatalkan saja kegiatan penghukuman tersebut. Karena dari kejadian tersebut bukanlah murni kesalahan yang disengaja oleh  dirinya sendiri. Melainkan sebuah musibah yang kita sendiri tidak mengharapkan hal itu terjadi bagi siapapun. 

Namun sebagian yang lain menuntut untuk tidak membatalkan kegiatan penghukuman tersebut karena sudah digelar dan menjadi pelajaran bagi semua agar lebih berhati- hati dan tidak mendekati perkara tersebut. Selain itu kita juga tidak mengetahui yang dikatakan tadi benar adanya atau sebaliknya. Mereka pun saling adu pendapat mengenai perkara tersebut. Meski demikian Ismailah yang berhak mengambil keputusan tersebut atas persetujuan dari Lurah setempat. Mereka pun sibuk mencari keputusan yang tepat juga adil. Selain itu mereka juga menginginkan agar warga menjauhi dan tak mendekati perbuatan tersebut.

Akhirnya Ismail mengambil jalan tengah untuk keputusannya, anak Bu Hilda tersebut akan digiring keliling desa tanpa telanjang, dan dicambuk sebanyak sepuluh kali. Selain itu perangkat desa akan bekerjasama dengan pihak kepolisian untuk menangkap pelaku pemerkosaan tersebut dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Namun bibir warga memperbincangkan keputusan itu, mereka rasa keputusan tersebut  kurang tepat. Sebab yang terjadi tak ada unsur kesengajaan, bahkan peristiwa tersebut bisa dikatakan sebagai musibah.

Mata sembab Bu Hilda semakin berkaca-kaca saat tersadar lalu menyaksikan peristiwa tersebut. Ia juga percaya apa yang dikatakan oleh anaknya tidak lain kecuali kejujuran. Justru ia meragukan keadilan yang telah diputuskan oleh Ismail. Ia begitu percaya bahwa hukum karma suatu saat akan terjadi pada Ismail. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Ikalista

Pegiat sastra di komunitas soeket teki semarang, owner Blarak.id.