Froksi

HUJAN DI JAKARTA

Ditulis oleh salah satu Civillion dalam rangka 30-Day Writing Challenge Froyonion bulan ini, cerpen yang menyorot kehidupan kaum marjinal saat pandemi ini bisa menggugah rasa kemanusiaan lu.

title

RATNA DAN RATNO


 

Udara pagi hari ini semakin dingin walaupun AC kamarnya telah dimatikan, untuk ketiga kalinya ia meraih telepon genggamnya untuk mematikan alarm. Dengan mata yang masih setengah terpejam ia bangun dan membuka jendela kamarnya yang hanya memberikan sedikit cahaya. Ia menatap jendela kamarnya samar-samar terlihat dirinya di kaca yang bertitik-titik air hujan. Ia sudah bisa membayangkan betapa basahnya sepatunya nanti saat terkena genangan air hujan di jalan, belum lagi harus berhimpitan menunggu bus Transjakarta menuju kantornya. Teringat akan kantor ia lalu bergegas menuju kamar mandi.

Dengan tergesa-gesa mula-mula ia memakai foundation bedak kemudian lipstick, dan menyatok rambutnya yang Panjang walaupun nantinya juga akan lepek terkena hujan dan angin namun ia tetap selalu melakukan rutinitas itu. Ia tetap melakukan hal yang sama walaupun tau itu akan sia-sia, sebelum keluar kamar tak lupa ia memakai masker.

Agak kerepotan juga saat harus mengunci gerbang kosan sembari membawa payung agar tidak kehujanan. Saat itu hujan tinggal menyisakan gerimis-gerimis lembut namun dengan intensitas yang lumayan besar. Gerimis-gerimis terus menghujani payung perempuan itu dengan irama yang sama. Hingga hampir tiba  di halte Transjakarta ia melihat bus arah ke kantornya baru saja berhenti, ia pun mempercepat langkah kakinya, brukkkkk! Ia terpeleset hingga saat ini celananya menjadi basah dan payungnya juga terpental. Dengan malu ia berusaha bangkit dan meraih payungnya, sakitnya memang tidak seberapa namun malunya karena jam tersebut merupakan jam saat halte-halte di Jakarta sangat ramai.

Akhirnya bus berikutnya datang karena setelah kejadian tadi pun bus sebelumnya tetap tak terkejar. Di dalam bus Transjakarta Raisa berdiri diantara orang-orang dengan tangan kiri menggenggam payung tangan kanan berpegangan pada handle bus mata pandangannya kosong namun penuh memproses kejadian yang ia alami pagi ini kenapa ia sangat sial, belum lagi kalau dia nanti akhirnya telat lagi yang berarti akan menerima SP1 karena akan menjadi keterlambatan yang ketiga kali dalam 1 minggu. Saat-saat seperti ini ia merindukan WFH Kembali walaupun membosankan namun paling tidak ia tak perlu terpeleset jatuh dan basah-basahan ketika hujan. 

Tes,

Tes,

Tes… 

Suara tetesan air hujan yang jatuh ke dalam baskom, akhir-akhir ini memang sering ia dengar terutama saat pagi hari. Dari dalam kamarnya harum nasi goreng buatan Ibunya sudah tercium. Apabila ada sisa nasi semalam maka esok harinya ia akan sarapan nasi goreng. Namun ia tidak bosan, anak lelaki kecil itu menyukai semua masakan Ibunya.

Air di bawah tenang dan berwarna coklat karena bercampur tanah dan pasir, kemudian bergelombang saat kakinya itu turun dari tangga ke lantai bawah yang sudah terendam air. Sepertinya hujan semalam lumayan deras hingga sampai di atas mata kakinya. Dengan Langkah agak berat, bukan karena masih mengantuk namun memang karena air yang menggenang di lantai rumahnya yang masih belum di keramik itu membebani setiap langkah yang ia ambil.

Ia terus berjalan hingga ke dapur dan mengambil piring yang diletakkan di atas lemari tujuannya adalah agar tidak tergenang air, namun ia harus naik dipan agar bisa meraihnya. Setelah berhasil mengambil piring, baru mengambil nasi goreng yang masih ada di dalam wajan. Memakan sarapannya di atas dipan dengan perlahan, seperti meresapi setiap bulir-bulir nasi yang masuk ke dalam mulutnya. Ia tahu Ayahnya harus bertaruh nyawa untuk dapat membelikan keluarganya beras. Ayahnya menggadaikan nyawa setiap hari pada lautan hanya demi butir-butir nasi untuk keluarga yang menanti di darat yang saat ini mungkin juga hampir menjadi laut. Sarapannya sudah habis, tanpa ada satupun butir nasi yang tersisa di dalam piringnya. 

Ia tak sedang buru-buru pagi ini, bukan karena sekolah saat ini daring, namun ia memang telah berhenti sekolah seperti kebanyakan teman-teman di sekitar rumah. Dikarenakan terlalu senang mencari uang di jalan daripada pergi bersekolah. Keluarganya pun juga tidak punya uang untuk membeli buku-buku LKS walaupun sekolah sudah gratis, belum lagi pungutan-pungutan lainnya.

Ia bersama 2 orang teman lainnya berjalan menuju perempatan jalan sekitar 2-3 kilometer dari rumahnya untuk mengamen. Langit pagi itu sangatlah mendung, cahaya matahari pagi tidak ada yang bisa menembus pekatnya langit. 

Saat pagi seperti ini jalanan ramai tapi orang-orang enggan merogoh receh dari kantongnya, pengendara mobil juga enggan membuka kaca mobilnya. Namun anak kecil itu tetap bernyanyi dengan lantang dan menodongkan kaleng tempat recehan. Berkecamuk dengan pikiran-pikiran orang dalam kemacetan menuju tempat kerja mereka masing-masing.

Dikarenakan penghasilan tidak terlalu ramai, mereka akhirnya memutuskan pulang lebih awal. Sampai rumah ia memberikan uang hasil mengamen yang telah dibagi dengan teman-temannya ke Ibunya, lalu ia mengambil serokan jaring di dapur lalu pergi lagi. Tidak jauh dari rumahnya ada genangan air yang agak besar saat banjir menyebabkan ikan-ikan terjebak di dalamnya, bersama teman-temannya dengan seru berlomba-lomba untuk mendapatkan ikan hingga bajunya saat ini telah basah kuyup. Dalam mendung, udara lembab, dan tanah yang basah Rino bergembira dengan teman-temannya dengan cara yang sangat sederhana hingga tak terasa senja sudah tiba.

Saat ini sudah hampir larut malam disuatu jalanan di Jakarta, namun hingga saat ini dagangannya belum ada yang membeli, jangankan membeli, tawaran pun tak ada sama sekali. Hingga rokok di dalam bungkusnya tinggal 5 batang, kalau dipikir-pikir ia malah rugi mengeluarkan uang untuk membeli rokok tapi tidak mendapat masukan selama menunggu ada pelanggan.

Lama-lama ia menghisap rokoknya dengan perlahan agar tidak lekas habis. Namun tetap tidak bisa menutupi kegelisahannya dari setiap hisapan dan hembusan rokoknya. Jalanan masih basah karena dari pagi hingga sore Jakarta diguyur hujan, Apabila ada angin kencang ia juga akan terkena jatuhan air yang menggenang di dedaunan dan dahan pohon di atasnya. Tak heran beberapa bagian bajunya pun basah. Tidak seperti malam-malam biasanya di luar saat habis hujan seperti ini udara Jakarta juga lumayan menjadi dingin apalagi dengan pakaian yang ia kenakan saat ini angin malam bebas menembus pada setiap sela-sela bajunya.

Sengaja ia memilih tempat yang tidak terlalu tersorot lampu jalanan agar dari jauh tidak begitu terlihat namun dari dekat akan jelas terlihat. Di saat hujan dan pandemi seperti ini orang memang jarang keluar rumah, mungkin saat ini suami-suami sedang memilih istri mereka di rumah. Saat ini sudah hampir jam 1 malam temannya yang mangkal di seberang jalan baru saja mendapatkan pelanggan. 

Tinggallah ia sendirian sekarang di pinggir jalan, dengan rokok terakhirnya yang tinggal sebatang dinyalakan. Ia bernama Ratna namun kalau siang bernama Ratno, siang bekerja sebagai kuli panggul pasar, sedangkan malam ia menjajakan diri, semua itu dilakukan agar saat pulang kampung ia dapat memberi oleh-oleh dan uang untuk istri dan anaknya. Ratna membatin pada dirinya sendiri apabila sampai jam 3 belum ada juga pelanggan yang datang ia akan pulang. Hingga tibalah jam menunjukkan pukul 3 pagi ternyata memang tidak ada pelanggan malah jalanan semakin sepi. Ratna pun memutuskan untuk pulang dan berjalan dengan gontai.

Namun, tiba-tiba ada mobil yang mendekatinya dan membuka jendela, ia dirayu dan di panggil “cantik”, di dalam mobil ada 4 remaja lelaki tanggung dan salah satunya memegang HP seperti terlihat merekamnya. Ia tak menggubris karena berpikir remaja sekarang memang suka merekam semua hal. Hingga akhirnya mereka bilang tidak ingin booking namun ingin memberi rezeki berupa bingkisan sembako yang dibungkus kardus indomie. 

Dengan senang Ratna menerimanya dan membuka dengan kemayu kardus tersebut. Namun setelah dibuka ternyata kardus tersebut hanya berisi sampah. “Asuuuuuuuuuuuuu!” teriak Ratna dan membanting kardus itu ke arah mobil. Lalu mereka kabur dan tertawa-tawa di dalam mobil meninggalkan Ratna sendiri di pinggir jalan dalam hening dan sepi malam.”Bocah ra duwe tata. Jancuuuuuuuk!” Sekali lagi ia berteriak memecah keheningan malam. (*/)

 

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Tria

Pendatang yang suka bahasa tapi kerja menghitung duit orang.