Froksi

HALAMAN TERAKHIR

Untuk 30-Day Writing Challenge Froyonion November ini, cerpen dari Civillion Semarang ini mengangkat perjuangan anak muda yang menghadapi beragam tantangan dalam kehidupan.

title

1

Sinar mentari mengintip lewat sela-sela ventilasi yang terpasang di kamar Lucky, sinar yang bukan lagi hangat seperti dekapan ibu waktu hujan badai, melainkan sudah memanas seperti gosip tetangga yang beredar bahwa dia seorang pengangguran yang tak punya masa depan. 

Masa depan? Apa itu masa depan? Baginya itu adalah sebuah gambaran yang masih tidak jelas. Masa depan? Apa itu masa depan? Bahkan harapan saja ia tidak punya, dipandang sebelah mata oleh orang terdekatnya adalah sebuah hal yang sangat klise bagi Lucky, telinganya sudah tebal dan tersumbat akan gosip dan teriakan tetangga bahwa dia seorang beban orang tua.

Seorang pemuda dengan tinggi 180 cm membuat kamar terasa lebih kecil dari biasanya, petak plafon yang berjejer seragam 3 x 3, menjadi tempat ternyamannya untuk saat ini, tempat untuk dia membunuh waktu yang sangat singkat baginya, yang selalu dianggap kurang. Dengan internet yang tajam seperti halnya pisau dapur ibu yang dengan lugas menebas tiap sayuran yang di hadapannya, ia sering kali berselancar di media sosial yang menyajikan gemerlap nikmat dunia kalau dia punya uang dan privilege yang seabrek banyaknya. Sampai dia lupa akan hari sudah berganti, dan ayam sudah mulai mencari makan.

“Apa-apaan ini?” guman dalam hati Lucky, dengan menyeka liur yang mengering di dagunya, ia menyadari bahwa hari ini sepertinya ada yang berbeda dari biasanya, ada sesuatu yang janggal setelah ia telaah lebih lagi. “Apa ya? apa yang aku lewatkan?” dengan mengerutkan dahi dan diusapnya bak tutup Ale-ale, minuman yang menemani dia semasa kecil, yang mengajarkan bahwa harapan sangat berpotensi dipatahkan oleh apapun atau siapapun dan menghasilkan luka karena ekspektasi yang sering ditaruh terlalu tinggi melampaui harapan itu sendiri.

“Ah sialan! Aku telat lagi!” teriak dia kencang-kencang dengan kepalan tangan memukul tembok di sebelah kanannya, rasa sakit yang ditimbulkan tak seberapa dengan rasa kecewa yang ia hasilkan dengan kebodohannya sendiri. Hari ini adalah hari dia bisa mengubah nasib dan meninju gosip. Lamaran yang ia ajukan kapan hari untuk menjadi seorang penata grafis, pekerjaan yang ia idamkan dari dulu akhirnya membuahkan hasil.

Dibukanya kunci smartphone miliknya, dengan kombinasi kata sandi 2-0-4-8. ini bukanlah sandi tahun dia akan hidup atau mati, tetapi itu dibuat agar seperti tanda salib yang dipakai oleh umat katolik sebelum dan seusai berdoa, ia berharap ia diberkati dan usaha mendekatkan diri dengan Tuhan walau hanya sebatas peringatan bahwa jari ini sudah membuat tanda salib tiap hari dia membuka smartphone yang dia miliki.

“Jancok! setengah sepuluh, wawancaraku jam sembilan, apa ini yang namanya berkat?” suara dalam hati yang memercikkan pemikiran usang yang selalu berkecambuk dalam otak dia bahwasannya apakah hidup akan seperti ini. “Ohalah, project thank you sialan!” teriak dia lirih karena mengingat apa yang dia lakukan semalam suntuk. Usaha Lucky membantu temannya untuk membuat perlengkapan digital untuk promosi usahanya. Ia membuatkan logo, dan brosur digital dengan sukarela, ia menganggapnya sebagai portofolio nantinya, ternyata malah berbuah hilangnya harapan untuk meraih pekerjaan yang ia idamkan sejak lama. Menjadi penata grafis profesional di sebuah kantor ternama.

“Ah gimana ini? Telat apa masih boleh?” tanya Lucky dalam hat dengan diselimuti oleh rasa panik, kecewa, sedih, marah. Semua rasa itu bercampur aduk menjadi satu. Mengingat jarak yang harus ditempuh tidaklah dekat yang membutuhkan waktu singkat, sesingkat peluru yang menembus dada seorang preman di masa orde baru, harapannya semakin terkikis. Estimasi 30 menit di luar perkiraan kejadian random yang mungkin terjadi di dunia ini, tabrakan atau hal lain yang membuat macet di jalan.

Lucky memutuskan untuk berpikir sejenak, langkah apa yang sebaiknya dia ambil. Dengan menghitung jari dengan mengacapakan “Gas, rem, gas, rem, gas, rem.” yang ternyata berakhir di kata rem. “Persetan! Gas ae lah!” disambut dengan langkah mantap dia untuk menjejakkan kaki menuju kamar mandi. Ia nekat kali ini.

2

Melangkahkan kaki ke kamar mandi dengan penuh semangat, Lucky menyabet dengan tangkas alat mandi beserta handuk semasa dia kuliah, yang sudah kumal dan sudah mengalami penurunan gradasi warna menjadi lebih muda menandakan handuk yang sudah sangat lama, bahkan lebih lama dari hubungan percintaan dia yang kandas beberapa waktu lalu.

Lucky mandi dengan tekun, membersihkan badan yang gempal dengan lemak-lemak yang bergelambir di bagian perut serta pahanya yang mungkin kalau dijadikan ayam geprek bisa untuk 3 keluarga. Dan mandi yang benar-benar bersih, itu tidak memakan waktu yang singkat. Tinggi badan 180 membuat Lucky sibuk, apalagi ini adalah hari dimana dia dipanggil untuk mendatangi sebuah wawancara. Dimana itu adalah sebuah yang sangat penting untuk saat ini. Ya saat ini, di saat semua orang menggunjingi dia akan bagaimana hidup yang berantakan itu bisa ia hidupi dengan lapang dada dan tidak sombong. Sombong? lagipula Apa yang bisa disombongkan.

Seiring Lucky mandi, ada seorang wanita lanjut usia, tetapi dia harus tetap bekerja semampu dan sebisa dia walau sudah usia senja. Kerut di wajah bukanlah sesuatu yang baru, dan kini kerutan itu sudah tak terhitung jumlahnya. Pipi dan mata yang sedikit turun, seperti longsoran ekonomi yang dirasakan keluarga kecil Lucky. Itu sudah cukup menjadi penanda bahwa hidup yang dijalani tidaklah segampang orang lain di sekitarnya.

Ibu yang selalu tersenyum dan memberi tawa dengan lelucon yang mungkin sedikit “Berdarah” kalau orang lain mendengar. Bagaimana tidak? Jika orang lain mendengar sang Ibu melontarkan niat akan membedah perut anaknya dengan nada yang keras, atau sang anak mengutarakan niat ingin memukul sang wanita tua, bukankah itu hal yang menyeramkan? Tetapi tidak bagi keluarga kecil ini, guyonan semacam itu akan disambut dengan gelak tawa oleh kedua belah pihak seperti mereka sepakat kalau hidup yang brengsek ini harus diimbangi oleh guyon yang sedikit brengsek juga, dan itu menjadi obat stres yang mereka bisa minum tiap hari tanpa efek samping yang berkepanjangan, guyonan itu menjadi bukti keluarga ini baik-baik saja walau hidup yang mereka jalani terkadang brengsek dan Dewi Fortuna tidak berpihak kepada keluarga kecil ini.

“Luck! Luck! Tumbenan kamu mandi? Meh ada apa to le?,” seru Ibu dari dapur.

“Wes pokoknya penting buk, aku bakalan beli mobil!” sahut Lucky dari kamar mandi.

“Lolololo yang bener kamu? Tak sobek mulutmu nek kamu bohong, biar kaya Yoker – Joker, Ibu Lucky sering memplesetkan kata dengan mengganti huruf depannya.”

“Beneran kok, lihat aja nanti buk, pulang-pulang bawa carry pick up!” sahutnya.

“Mbeeeelgedhes*! Tak geprek biar kaya ayam kamu kalo bohong!” ancam sang Ibu.

“Aahahaha wwwhhooo ndakpapa, kan mayan jadi lauk buat seminggu.” sahutnya lagi.

“Assshhh emang anak ga jelas kamu tuh.” Teriak Ibu Lucky dengan sembari makanan untuk anak kesayangannya, diiringi deburan air yang disiramkan dengan gayung berbentuk hati khas mamang-mamang penjual perabot yang sering berkeliling ke perumahan warga akar rumput yang kehadirannya ditandai dengan lagu dangdut masa kini, disetel volume keras lewat pengeras suara merek Toa.
 

“Beranjak dari kasur, buru-buru mandi.

Buka lemari baju, mana saja hari ini?

Bergegas beranjak pergi, jangan terlambat lagi,

Ini bukan di pagi hari, sudah pukul 2 siang.”

Lagu “Hari yang Baik untuk Berbohong” dari Baskara alias Hindia, Lucky lantunkan keras-keras memenuhi seisi rumah, lagu yang sangat relevan pembuka hari Lucky saat ini, kesiangan untuk wawancara kerja yang diidam-idamkan, membuat semua terlihat buru-buru dan semua berjalan dengan cepat, lemari yang rapi karena Lucky bukanlah orang yang awut-awutan dalam menata baju, memang seperti suatu keajaiban di saat orang lain memandang hidupnya penuh dengan kesuraman, tetapi dia menata barang-barangnya dengan rapi dan teratur, selain memudahkan mencari baju, kultur di keluarganya untuk rapi adalah suatu kewajiban.

Mengenakan kemeja polos milik ayah yang sepostur dengan dia, Lucky terlihat seperti bapaknya plek-ketiplek  hanya saja rambut keriting yang dia miliki entah dari mana asalnya yang membuat beda. Postur Ayahnya walau tidaklah tinggi seperti Lucky, tapi berbadan gempal menuju ke gemuk menjadi alasan Lucky bisa berbagi pakaian dengan Ayahnya yang hampir masuk kepala 7. Celana hitam legam pemberian saudara ayahnya yang Lucky kenakan juga hampir sama ukurannya, walau sedikit memaksa di bagian perut Lucky yang membuat kontur badan agak offside antara area kemeja dan celana yang dimasukkan, bagi dia tidak masalah selama itu bisa mengirit pengeluaran agar tak membeli pakaian baru agar uangnya bisa dipakai untuk keperluan lain. Karena keluarga Lucky terkenal menjadi “Tempat Pembuangan” pakaian bekas keluarga besarnya yang ekonominya lebih dari cukup, padahal sejatinya pakaian itu masih sangat layak pakai karena itu harganya mahal dengan didukung perawatan baju yang baik.

“Buuukk, ibuk, makasih lho ini udah dibikinin sarapan, enaknya pol!” teriak Lucky sambil melahap tempe goreng dan sayur bening kesukaan dia, yang Ibu dia buat pagi tadi, saat dunia Lucky belum berputar. Di meja makan juga ada sekotak nasi dengan wadah yang tak asing bagi Lucky, ya, itu adalah kotak makan semasa dia SMA yang sering dia bawa. Ternyata Ibunya juga menyiapkan makanan untuk dia bawa, walau entah Ibunya tidak tahu akan tujuan Lucky berlabuh. 

Seusai Lucky makan dengan lahapnya, ia menyiapkan segala sesuatunya, ia menyiapakn surat lamaran kerja, dan riwayat diri dia yang dia buat dengan apik dan niat. Bagaimana tidak? Seorang yang notabene lulusan anak “Teknologi Informasi”, tidak bisa membuat riwayat diri yang menarik agar dilirik oleh perusahaan? Dan di zaman yang sangat maju ini, semua bisa diciptakan dengan mudah lewat bantuan internet, itu seperti sebuah kemustahilan bagi orang yang mau bergerak. Mungkin hanya orang-orang yang template, tidak mau mengusahakan lebih baik dari hanya sekedar diketik dengan latar putih tulisan hitam, yang sangat terlihat oldschool.

Lucky memasukkan semua kebutuhan dia, dengan semangat dia membuat daftar yang harus dibawa untuk hari besar yang mungkin sudah tidak terlalu besar-besar banget. Semua masuk tas dengan rapi, ia menutup dan mengancing pintu. Lalu ia menstarter vespa tua miliknya. “Masa depan! Aku datang!” teriak Lucky dalam hati.

3

Kota Semarang, kota yang panasnya seperti planet yang berada di antara Matahari dan Merkurius di kala musim panas, suhu 30-35 derajat celsius adalah hal yang biasa. Kalau tidak menggunakan pendingin ruangan, atau minimal kipas angin yang nyala setiap saat, Semarang adalah neraka yang dibuat oleh kita sendiri. Dengan emisi gas yang cukup tinggi, lahan hijau yang semakin menipis, disertai polusi dari kendaraan dan pabrik-pabrik yang berdiri di sekitar Kota Semarang adalah tersangka utama neraka ini tercipta.

Vespa Lucky berjalan di tengah aspal hitam mengeluarkan lidah fatamorgana yang menjilat-jilat, dia mantap menarik kabel gas dan menyelipkan vespa tuanya di antara riuhnya kendaraan yang kini semakin mudah didapat dengan modal KTP dan uang 500 ribu rupiah, bahkan mungkin 0 rupiah, jadi hanya modal senyum serta KTP bisa dapat motor. Di negara berkembang seperti Indonesia, ini jadi suatu hal yang lumrah. Saat pemanasan global makin menggila, sampai-sampai orang mulai tak mau mempunyai anak, Lucky malah tetap teguh merawat vespa tua pemberian Ayahnya, dengan alasan ekonomi pastinya. Tapi sering kali ia berkilah kalau dia tak mau beli motor keluaran terbaru atau paling tidak yang sudah 4-Tak disebabkan karena emisi yang tinggi, padahal motor 2-Tak lebih banyak mengeluarkan emisi gas.

Lampu merah Tugu Muda adalah tempat penyiksaan neraka yang ada di dunia, waktu tunggu yang sangat lama karena dari 5 arah yang berbeda dan saking padatnya kendaraan yang lalu-lalang mengitari kota kecil ini. 

“Ayoooo jangan merah dulu! Jangan merah dulu! Jangan merrraaaaah!” harap Lucky dalam hati dengan memacu motornya lebih kencang, berharap bisa ikut rombongan lampu merah barusan. “Ayo Reddie! Tunjukkan kamu kalau bisa lari!” ia menepuk-nepuk kepala Vespa yang ia punya, Reddie adalah nama yang ia berikan untuk Vespa P150X pemberian ayahnya. Menjelang Zebra Cross ia semakin khawair, lampu masih saja hijau, tapi lampu yang mendadak merah bukanlah suatu kemungkinan mustahil. 

“Ijo, ijo, ijo, ijooooooooooooooooooo,” harap dia dalam hati.

“Ccccciiiitttttt.” suara rem yang pakem dari Vespa tua yang Lucky kendarai, rupanya harapan tidaklah selalu jadi kenyataan. Lampu mendadak merah. Lucky memutuskan untuk menghentikan motornya karena ada satu pertimbangan pasti: POLISI. 

Polisi di Tugu muda bukanlah polisi yang santai seperti polisi tidur, sering kali Lucky mendapati orang yang digiring di pos polisi terdekat entah karena hal apapun itu. Bisa karena lupa menyalakan lampu, pajak yang terlewat, salah menyalakan lampu sein, atau karena aksesoris motor yang tidak sesuai dengan standar aturan yang berlaku. Apalagi kalau melanggar peraturan yang akan sangat terlihat jelas di mata Pak Polisi yang punya CCTV di mana-mana. Lucky tidak mau mempersulit diri dengan melakukan hal-hal konyol meski dia dalam keadaan yang tidak enak, seperti saat ini Lucky yang terburu-buru, terjebak di lampu merah bukanlah suatu hal yang menguntungkan bagi dia.

“Ciiiiiittttttttt……..BRAK.” suara dari kendaraan berusaha memperlambat laju secara tiba-tiba datang dari belakang, suara yang pasti mengagetkan untuk siapapuun yang ada di barisan depan. Dan dentuman suara yang menandakan besi bertemu besi, itu bukan lah hal yang baik untuk didengarkan.

“KAKEKANE!* RAK MHASOK BLAS!” umpat Lucky keras-keras mengagetkan semua orang di barisan depan lampu merah. Umpatan itu adalah respon Lucky setelah motor kesayangan dia diseruduk oleh mobil di belakangnya, Mobil Pajero yang sering kali dibuat leluconnya kalau Pajero berarti Panas Njobo Jero  atau panas luar dalam, Lucky pikir kali ini yang mengendarai mobil ini sedang panas hati sehingga ngebut tak karuan.

“Maaf, maas, maaf banget,” suara itu dikeluarkan oleh seorang wanita yang kepalanya keluar dari sisi kiri mobil. Wanita itu anggun dengan pakaian sporty khas wanita yang dicukupkan dalam hal materi. Kulit wanita itu kuning langsat dan bersih, jelas perawatan kulit dari wanita ini mungkin bisa membeli Vespa untuk satu atau dua biji. “Mas ndakpapa kan? Ada yang sakit mas?” pertanyaan standar bagi orang yang baik hati disusulkan oleh wanita itu. Lucky hanya memandangnya sambil memegang stang motornya yang dalam kondisi hampir ambruk karena tertabrak tadi. Ia masih syok dan kaget, di tengah terburu-burunya dia dikejar waktu untuk menghadiri wawancara kerjanya. Entah mimpi apa semalam sampai dia mendapat hal yang tak terduga ini. 

“Udah, udah mas, ndak usah ngobrol di sini, itu ada Pak Polisi, ntar berabe, yok ikut dengan saya mas, ambil jalan lurus saja ya. Ketemu di depan Udinus.” Lelaki dari dalam mobil berteriak sambil menunjuk arah lurus menuju depan Kampus Udinus, kampus yang Lucky ingin masuki tapi karena terpentok oleh biaya kuliah yang mahal, UKSW adalah jawabannya. 

Karena motor Lucky yang ditabrak tak cukup parah, bahkan masih nyala mesinnya, itu bukanlah kendala yang berarti, tetapi Lucky hanya mengikuti orang yang menabraknya, karena dia sadar ini perlu reparasi walau tak seberapa, mungkin hanya menggetok di bengkel lengganan dia dengan uang yang tak seberapa.

Vespa berhenti dengan rem yang pakem, diikuti mobil warna hijau yang parkir di depannya, mobil itu memiliki plat nomor B, berarti sudah dipastikan orang luar daerah Kota Semarang. Jakarta.

“Mas, mas, gimana masnya?” suara wanita yang lembut terdengar diiring langkah kaki dia turun dari mobil yang terlihat angkuh.

“Oh, baik kok tante. Oh, eh mbak,” jawab lucky singkat dengan sedikit revisi karena ternyata yang dilihatnya adalah mbak-mbak umur masih cukup muda.

“Hush! Jangan panggil tante! Saya masih 30 tahun ahaha,” senyum tipis menyusul  jawaban itu

“Eh iya Mbak, maaf. Saya ndakpapa kok mbak aman,”

“Serius ndakpapa? Itu Vespa kamu bonyok gitu kok ndakpapa,”

“oh serius ndakpapa sih kalau badan saya, motor saya aja yang agak dad,”

kok dead Mas?” tanya wanita ini bingung.

“kan dad artinya papa Mbak, jadi motornya agak papa hehe,”

“Ohalah dad tho! Tak kira kenapa Mas, tak kira mati,” setelah mengetahui salah presepsi antara kata “Ayah” dan “Mati” dalam Bahasa Inggris, wanita ini senyum lebar.

“Mas, Mas, maaf ya tadi saya ngebut dan main HP, ini client minta ketemu cepet di kantor, dan tadi baru lihat tabel koin kripto andalan saya ternya turun drastis, kaki saya malah turun juga kebablasan injak gas,” terang lelaki muda yang turun dari mobil.

Lelaki itu berpostur besar dan tegap seperti lucky, hanya saja dia lebih atletis dibanding Lucky. Tak ditemukan gelambir lemak yang timbul di kontur tubuhnya dengan kaos hitam berkerah  pres-body yang ia pakai, beserta jam tangan yang gemilap karena sinar matahari, jam tangan itu terlihat tidak murahan, hanya saja agak norak karena warna emas terang, yang sinarnya terang melebihi  masa depan Lucky. Sejenak Lucky memandangi dan menganalisa pasangan muda ini, Lucky dapat memastikan mereka bukanlah orang yang berkerja kantoran, paling tidak dia punya usaha yang maju atau semacamnya, jadi kerjaan dia hanya ongkang-ongkang kaki dengan melihat tabel kripto, usahanya dijalankan oleh anak buahnya. Sempurna.

“Gini wes mas, daripada kita ke polisi dan malah amsyong dua-duanya serta urusannya jadi panjang. Ini tak ganti aja ya mas, kita damai aja ya?” negosiasi bermulai di sini.

“Wah, Mas, betul itu! Saya juga ndak ada duit mas,” tukas Lucky singkat.

“Ya udah, Masnya mau berapa duit?”

“500 ribu rupiah saja mas, paling buat benerin body vespa doang” Lucky sambil menunjuk bagian yang cekung kedalam kira-kira 10 cm dan kaca indikator remnya pecah.

“Serius Mas 500 ribu saja?” tegas Lelaki itu.

“Serius Mas, ini murah kok, yang agak mahal nge-cat ulang body-nya,”

“Okay dah Mas, minta nomor rekening,”

“898503311221123, Bank Berlian Berkilauan.”

“Pssfftt, joget dong itu bank?”

“Lho kok bisa Mas?” tanya Lucky bingung.

“Kan BBB mas, itu yang Rafi Ahmad nyanyi Let’s Dance,” sahut Mas-mas itu singkat

“Ohalah, hehe, receh yak, dah lah mas ndang transfer gih, saya ada acara,” tukas lucky menandakan jadi orang yang sok penting.

 “Baik, tunggu bentar ya. Mah, sini bentar.” 

Pasangan muda ini sedikit menjauh dari Lucky untuk sebentar berdiskusi mengenai barusan yang terjadi. Setelah sebentar wanita membuka smartphone-nya dan mengangguk-anggukan kepala kepada lelaki itu mereka berdua kembali ke Lucky.

“Sudah Mas, sudah kami transfer,” wanita itu melempar senyum.

“Oh iya, Mas, Mbak. Terima kasih ya,” tukas Lucky singkat.

“Ini mas kartu nama saya, kalau kurang hubungi saya ya,” Lelaki itu menyodorkan kartu nama berwarna putih dari dompetnya.

“Oh ya Mas. Terima kasih.” Lucky hanya menerima dan menganggukan kepala.

“Syip Mas. Saya lanjut dulu ya, hati-hati di jalan.” Seusai memberikan salam pasangan muda ini kembali ke mobil dan menyalakan mesin, pasangan muda itu membuka kaca dan melambaikan tangan ke arah Lucky. Klakson yang dinyalakan saat berpapasan dengan Lucky, menarik perhatian orang disekelilingnya, karena sangat kencang sekali.

Lucky hanya memasukkan kartu nama itu tanpa membacanya, ia pikir ini hanya omong kosong, dia sudah skeptis kalau menghubungi tidak akan dibalas. Jadi buat apa mempersulit diri sendiri dengan ngemis kepada orang yang sombong? Apakah semua di dunia ini yang mempunyai power hanyalah orang berduit? Lucky tidak membantah apapun yang dikatakan oleh orang asing yang memberi kesialan terhadapnya, dia hanya tak mau mempermasalahkan apa yang sudah terjadi karena dia takut telat mengejar wawancara kerjanya.

Masalah dikirim betulan atau tidak uang ganti ruginya, Lucky tidak bisa memastikan. Dia tidak punya layanan Internet Banking  di smartphone karena tak punya cukup ruang penyimpanan. Smartphone-nya butut. Jadi yang dilakukan hanya mengiyakan apapun itu. Ia hanya pasrah, karena ia sekali lagi ingat, tak mampu sumber daya juga ia membela diri, apalagi kalau dibawa di kantor polisi, bukannya semakin ringan masalah, bisa jadi semakin berat. Jalan damai via “Kekeluargaan” ialah satu-satunya opsi yang ia ada.

Lucky menyalakan motor bututnya, kali ini tidak sekali genjot mesin itu menyala, agak sedikit dipaksa dan dimiringkan ke kanan agar bensin di tangki turun ke karburasi. Dengan perasaan yang agak sedikit jengkel dan pasrah ia melihat bagian belakang Vespa dia rusak sedikit parah. Lucky kembali meneruskan perjalanan. “Pes apes! Gini banget ya idup dah.” Dalam hati ia menggerutu dan menanyakan apakah seperti ini cara dunia bekerja?.

4

Dengan motor yang tak lagi muda usianya, Lucky bergerak meter demi meter untuk menuju lokasi di mana masa depannya mungkin bisa berubah. Sebuah kesempatan yang orang seperti dia tak akan melewatkan untuk kesekian kalinya. Walau gosip tak terdengar langsung di telinga Lucky, tapi senyum sinis merendahkan adalah bukti betapa santernya bisikan gosip itu beredar.

Lampu merah kali ini bukanlah seperti yang di Tugu Muda, tidak padat dan hanya beberapa kendaraan yang lewat. Walau kawasan itu adalah kawasan industri, jam 10 pagi bukanlah waktu yang tepat di Semarang untuk berangkat kerja ataupun berlalu-lalang. Orang-orang di daerah industri polanya lebih teratur. Pukul tujuh pagi, adalah saat aspal dipenuhi oleh roda kendaraan yang ditunggangi oleh para pekerja yang memulai untuk memutarkan roda kehidupannya. Saat matahari merangkak sedikit lebih naik, aspal hanyalah lahan kosong yang sedikit orang di atasnya. Dan saat matahari mulai condong untuk rebahan, aspal kembali diisi kembali selayaknya pagi tadi, hanya saja klakson-klakson mulai bersahut-sahutan memberi tanda untuk melaju cepat.

“Mas, mas, jam berapa ini?” sapa orang di sebelah Lucky.

“Oh, jam 10 lewat 20 Mbak,” jawab lucky setelah melirik jam tangannya.

“Oh, mas tau Jalan Imam Bonjol?” 

“Wah Mbak, kelewatan, putar balik lampu merah pertama ambil kiri Mbak,”

“Kalau rumah sampean mau ke mana Mbak?”

“Ndak mau kemana-mana Mas, kalau jalan ke rumah Mas?”

“Lholololo mau ngapain Mbak?” Lucky semakin bingung.

“Mau lamar kamu mas hihihihi,” senyum menyegarkan terdengar dari wanita itu.

“Ah, gondes kamu Mbak.”

“Hihihihi ndak kok Mas, yaudah makasih yak mas.” Percakapan itu ditutup dengan berubahnya lampu merah menjadi hijau. Percakapan yang barusan terjadi meninggalkan tanda tanya di hati Lucky. Percakapan absurd yang terasa abu-abu antara serius atau bercanda, tapi percakapan tadi meninggalkan sedikit harapan bagi Lucky. Baginya, lelucon lamaran adalah lelucon yang bisa membuat sakit hati atau malah jadi motivasi bagi Lucky.

Lampu berubah menjadi hijau, jalan mulai berasap dan debu mulai diterbangkan oleh hembusan angin yang  dihasilkan oleh cepatnya laju kendaraan. Lucky berharap semoga semuanya akan baik-baik saja. Gedung tujuan Lucky sudah berada di depan mata. Bangunan ruko yang berjejer warna-warni yang hanya ada MMT di tengahnya bertuliskan dibuka lowongan kerja untuk PT. Harapan Tanpa Batas menjadi tempat persinggahannya.

Setelah memarkirkan motornya di depan ruko bersama 4 motor lainnya, Lucky sempat bertanya-tanya, mengapa tempat yang dalam bayangannya ramai selayaknya kantor pada umumnya tak ditemuinya kali ini. Ruko-ruko di sebelah kanan dan kirinya tertutup rapat. Lucky mulai agak skeptis. Apakah ini adalah tempat yang tepat untuk merubah masa depannya?, karena dia hanya melihat 1 sosok lelaki tua di depan ruko persis, dengan mengenakan baju seperti polisi, tapi postur dan citranya tidaklah demikian. Perut buncit dan kancing seragam yang seolah-olah menjerit menahan isi di dalam baju itu untuk keluar bak Tobey Maguire di film Spider-Man 2 saat adegan menahan kereta agar tak menerobos dari rel buntu yang bermuara ke lautan.

“Selamat pagi menjelang siang Pak Polisi,” sapa Lucky.

“Pagi Mas, ada yang bisa di bantu? Saya bukan Polisi Mas, saya Satpam” jawab satpam.

“Lho kok bajunya cokelat Pak?” 

“Iya mas, dari kantor mengikuti peraturan terbaru,” jawaban satpam ini membuat Lucky lega, dan sedikit menurunkan perasaan skeptisnya. Karena jika Satpam saja diperhatikan bagaimana dengan pekerja yang posisinya di atasnya? Mungkin saja ini kantor baru yang menyewa ruko yang agak terlalu bagus dan agak sepi karena kepentok biaya, atau mungkin bisa jadi perusahaan ini adalah start-up jadi tidak memakai fasilitas fancy lainnya.

“Jadi begini pak, ini perusahaan benar membuka lowongan kerja?”

“Oh benar mas, masuk saja, tanya di bagian resepsionis,”

“Baik pak, terima kasih ya Pak Ilham.” Jawab Lucky sembari melirik sekejap bagian dada kanan satpam itu. Lucky mengira, orang akan lebih senang dipanggil namanya.

Langkah yang mantap dijejakkan Lucky menuju pintu masuk yang berkaca hitam, dengan logo gambar gear dengan simbol dolar di tengahnya, sekilas seperti tidak menunjukkan gambaran harapan tanpa batas seperti nama perusahaan yang tertera di depan gedungnya. Bagi orang yang melek dengan olahan grafis dan fungsi dari logo, ini tergolong aneh.

“Selamat pagi Mas,” sapa Lucky kepada lelaki bertubuh ceking nan necis.

“Selamat pagi Mamas ganteng,” nada berkelok-kelok adalah jawaban yang tak terduga.

“Eehhh, saya Lucky, apakah benar kantor ini membuka lowongan pekerjaan sebagai desain grafis? Kalau benar, apakah wawancaranya masih dibuka?” tanya lucky setengah canggung.

“Ohh bener dong ganteng, sini-sini CV-nya, saya serahkan ke Babe” 

“Babe?”

“Iya Babe, bos kita dipanggil Babe di sini,” jawaban yang semakin aneh bagi Lucky.

“Oh baiklah Mas, ini berkas-berkas saya.” Jawab Lucky sembari mengambil surat lamaran dan data dirinya untuk diberikan sang resepsionis. 

“Okay ganteng, sana duduk dulu di ruang tunggu.” Kedipan mata dilemparkan olehnya ke arah Lucky dengan senyum manja. Bulu roma Lucky tidak sanggup menutupi apa yang sedang dirasakannya saat ini, perasaan yang aneh nan janggal yang sangat jarang dan paling tidak mau ia alami. Ia sebenarnya tidak mau menyerahkan berkas lamaran kerjanya, tempat ini yang sepintas memberinya harapan masa depan dari perhatian perusahaan terhadap satpam dan kini dia dihadapkan dengan lelaki yang bertingkah sedikit kegenitan terhadapnya. Kalau yang genit itu adalah wanita yang berparas lumayan, itu akan menjadi pemikiran yang berbeda, tapi ini seorang lelaki. Ya, lelaki setengah tua yang Lucky tafsir sekitar umur 30 sampai 35 tahun dan belum menikah. Karena ia mengamati sekilas tidak ada cincin yang melingkar di jari-jemari yang lentik dan terawat seperti wanita.

Lucky masuk ke lorong yang bertuliskan “Ruang Tunggu” dengan arah panah lurus di jalan sebelah kanan meja resepsionis. Ia berjalan saja dengan sedikit keraguan karena hal-hal aneh yang barusan terjadi di depan matanya. Lucky sudah masuk di ruangan itu dan membuat keputusan untuk memberikan data dirinya adalah sebuah komitmen untuk tetap maju. Karena ia mengingat harus ada reparasi terhadap motornya yang barusan diseruduk dari belakang oleh orang yang entah dari mana asalnya, dan perasaan ia harus merubah hidupnya untuk yang lebih baik bagaimanapun caranya, mengalahkan perasaan bimbang yang menerpanya saat ini.

Lorong itu kosong tidak ada orang, hanya ada kursi panjang yang berhadapan yang berisi kotak menandakan hanya 4 orang yang boleh menduduki kursi itu, tapi saat ini sangat lenggang dan hanya Lucky sendiri di situ. Ia duduk dan menaruh tas punggung andalannya disebelahnya. 

Sekitar 30 menit lamanya ia duduk dengan tenang, Lucky selama itu tidak mengeluarkan smartphone-nya sama sekali, dan sudah ia ubah dengan mode senyap agar tidak ada pikiran atau hal asing yang menggangu, karena ia takut kalau ternayta di ruang tunggu itu dia diamati di balik kaca jendela yang hitam menghadapnya atau semacamnya, ia takut kalau itu akan jadi nilai negatif untuknya, dan menggagalkan ia untuk bekerja di tempat ia bernafas saat itu.

Selama itu juga, Lucky tak mencurigai apakah ada yang jangal di kantor ini, tetapi 5 menit kemudian Lucky mulai gelisah akan apa yang akan terjadi kedepannya. Ia berpikir kenapa memakan waktu lama sekali untuk menunggu panggilan, dan di dalam kantor ini sangatlah hening, tidak ada suara apapun. Serta sulit dipercaya kalau selama 30 menit lebih tidak ada aktivitas lain di dalam kantor yang sepertinya prestisius itu. Dengan lampu yang menyala terang di dalamnya, membuat suasana seperti menggambarkan masa depan Lucky kalau ia berhasil bekerja di kantor ini nantinya.

“Ah tenang aja, mungkin lagi wawancara serius.” Lucky mencoba untuk tetap berpikiran baik terhadap kantor ini, ditengah kegelisahannya, ia memasang earphone  di telinganya. Lucky ingin membunuh perasaan negatif dari dalam dirinya dengan lagu-lagu andalan dia yang dari media steaming lagu andalan dia, karena di sana ada beberapa daftar putar yang ia secara pribadi yang dia susun sesuai dengan suasana yang sedang ia hadapi.

Membuka smartphone menyadarkan dia bahwa waktu telah menunjukan pukul 11.15 siang, mendekati makan siang. Suara dalam hati menginginkan Lucky untuk segera cabut dari tempat itu, tetapi kenyataan yang dia hadapi sekarang memaksa dia untuk tetap tinggal dan melanjutkan semua yang telah dia lalui.

Daftar putar lagu kesayangan dia dengan nama In case if you need tenaga dalam  menjadi penanda bahwa semangat Lucky walau sedikit padam, ia tetap optimis, dengan pemutaran lagu-lagu yang tersusun di daftar putar, diharapkannya menjadi suntikan semangat untuk Lucky. Lagu dari band masa kini menghiasi daftar putarnya, lagu dengan lirik yang positif dan iringan yang semangat, Lucky memutarnya keras-keras dan mulut komat-kamit seperti dukun yang mencoba mengobati orang kesurupan. Kondisi hatinya mulai membaik.

Selama bumi berputar.

Rintangan jelas menjelang,

Dan badai pasti berlalu.”

Refrain yang diulang-ulang selama 3 kali dari lagu yang berjudul Mars Pengangguran, dari band bernama Syarikat Idola remaja menjadi lagu terakhir dalam daftar putar Lucky. Lagu yang menjadi injeksi semangat jika ia mengalami kesulitan, membuat perasaan bosan menunggu ini jadi hal yang menyenangkan. Meski harapan yang mungkin saja dipatahkan oleh apapun itu. Tapi harapannya saat ini malah jadi berkobar-kobar, karena ia percaya kalau badai pasti berlalu.

Lagu-lagu dalam daftar putar Lucky sudah habis, 47 menit telah berlalu, dan masih belum ada kepastian. Ini sudah lebih dari pukul 12.00 siang, jam makan siang. Ia teringat kalau dia membawa makanan yang dibawa dari rumah, yang disiapkan oleh wanita kesayangannya. Ya bekal dari Ibunya ia buka dengan mantap, karena ia pikir kalau jam jam 12 siang adalah waktu yang tepat untuk dia mengeluarkan masakan ibunya untuk memenuhi gizi tubuhnya yang ia rasa mulai berkurang karena menunggu terlalu lama.

Ia keluar kantor, ia menilik di bagian meja resepsionis juga kosong, dan tulisan Istirahat terpampang di atas mejanya. “Oh benar kan, berarti saatnya istirahat, kumakan dulu lah bekalku ini, lantas akan kembali lagi.” Kata Lucky dalam hati sembari membuka pintu dan melangkahkan kaki ke luar kantor untuk mencari tempat yang pas di mana ia menyantap makanannya. (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Yosua Lucky

Civillion