Froksi

DILEMA SANG SEKDES

Telingamu mungkin tak asing lagi dengan desa yang subur nan makmur, bukan? Orang-orang memanggil dengan sebutan Desa Singkek. Saat kau berkunjung di Desa Singkek, kau akan menemukan macam-macam sayuran yang tumbuh menggemuk di kiri dan kanan jalan. Demikian pula dengan buah-buahan, setelah memasuki gapura dengan tulisan “SINGKEK, Sing Ngekek” (yang tertawa).

title

Telingamu mungkin tak asing lagi dengan desa yang subur nan makmur, bukan? Orang-orang memanggil dengan sebutan Desa Singkek. Saat kau berkunjung di Desa  Singkek, kau akan menemukan macam-macam sayuran yang tumbuh menggemuk di kiri dan kanan jalan. Demikian pula dengan buah-buahan, setelah memasuki  gapura dengan tulisan  “SINGKEK, Sing Ngekek” (yang tertawa). 

Bila kau berjalan kaki di sepanjang jalan ini kau akan disambut dengan suara warga yang saling melempar senyum dan sapa hangat saat berjumpa.

 “Untung kita punya lurah seperti pak Sarwo Untung,” cetus salah satu ibu-ibu yang tengah membeli sembako di depan rumah Karni.

Mendengar itu Karni melebarkan bibirnya. Lalu lelaki kepala dua itu geleng-geleng heran, melihat ayamnya yang tak mau makan beras. Sebagai Sekdes (Sekretaris Desa), Karni memiliki segudang konsep yang tertata rapi untuk melakukan hal yang diinginkan. Termasuk perjuangan Karni untuk memberikan ganjaran yang setimpal untuk Sarwo Untung, ayahnya sendiri. Rencana itu tak tercium oleh siapa pun kecuali istrinya. Ia begitu muak melihat Sarwo yang lambat laun semakin kelewatan batas.

 Jika kau tau, pada awal periode pemerintahan Sarwo, warga Desa Singkek hampir tidak ada yang kelaparan meski hanya sehari semalam. Setiap bulannya warga fakir miskin mendapatkan kebutuhan pokok secara gratis. Sedangkan untuk warga menengah ke atas disediakan pasar murah setiap tiga bulan sekali. Harga beras kualitas tinggi bisa dibeli dengan harga 5.000 rupiah per kilogram, gula pasir bisa dimiliki dengan harga 4.000 rupiah per kilogram dan minyak goreng perkilogram hanya merogok goceh sebesar 5.000, begitupun kebutuhan pokok lainnya yang wajib di dapur. Melihat hal itu  memang tak masalah jika tak meminjam uang Karni untuk melakukan semua itu. Sarwo Untung berulang kali menjanjikan hasil panen untuk mengganti uang tersebut.

“Bapak sudah panen padi, kapan bapak mau membayar utang?” tanya lembut Karni kepada ayahnya.

Bapak Karni yang menduda sejak Karni usia balita hanya tersenyum dan mengatakan ia akan mengganti semua uang pinjaman setelah musim panen jagung. Alasannya hasil panen tahun ini hendak ia jadikan modal segala kebutuhan sawah musim selanjutnya. Karni memaklumi hal itu karena gaji Lurah tak begitu besar. Pulang dengan tangan kosong, membuat Karni berpangku tangan di kursi depan rumah.

Kebiasaan itu dialami Karni selama satu periode awal kepemimpinan ayahnya. Tak mau diam saja, ia bercerita tentang hal itu dengan istrinya. Mendengar hal itu istri Karni memerah matanya dan mengepalkan kedua tangannya. Ia enggan menanggapi cerita Karni. Ia lebih memilih membanting pintu dan meninggalkan Karni di luar sendirian. Sebagai lelaki, Karni masih bisa tenang dan santai mengatasi hal tersebut.

Sarwo Untung sudah menjajaki akhir periode kepemimpinan.  Ia memulai aksinya layaknya kucing garong. Hutang yang menumpuk belum terbayarkan. Membuat Sarwo mengubah peraturan. Jika biasanya beras raskin dibagikan oleh masing-masing ketua RT, kini harus diambil di rumah Sarwo. Selain itu pengambilan beras harus diambil hari itu juga. Warga yang mengambil beras keesokan  harinya, ia akan mejawab bahwa berasnya sudah habis. 

Laporan-laporan warga mengenai sistem pembagian beras itu sampai ke telinga Karni dan juga istrinya. Bukan saja iba kepada warga namun ia juga harus menanggung malu ulah ayahnnya. Meja yang tersedia kopi dan pisang goreng yang menjadi pelengkap pagi itu, malah tercemar oleh aduan warga yang membuat gelisah Karni. Ia menyeruput kopi lalu memandang ke depan seperti menyusun rencana. Burung gereja berhenti berkicau. Ayam-ayam jantan di pekarangan tiada berkokok. Saatnya kini Karni yang berbicara. Tanpa menghabiskan kopi dan pisang goreng, ia lantas berdiri memakai sandal dan berjalan menuju rumah ayahnya. Langkah-langkah Karni tak seperti biasanya yang lembut dan menyapa para warga. Ia tampak berjalan cepat dan tak peduli dengan apa yang dilakukan warga.

Pintu rumah Sarwo pagi itu masih tertutup, suasananya juga masih sepi. Hanya saja suara kambing tetangga yang lapar, terus berbunyi “Mbek, mbek, mbek....” Langkah tegap Karni mengantarkannya sampai ke depan pintu rumah Sarwo. Suara ketukan Karni berbunyi begitu keras dari benturan tangan Karni pada pintu coklat berbahan jati. Sesekali ia memanggil bapak. Mata tajam Karni tak berubah menjadi teduh meski ini musim penghujan bahkan sekarang sedang gerimis. Ia memanggil Sarwo dengan begitu keras.

 “Bapak! Bapak!”. 

Suara langkah kaki Sarwo begitu jelas meski ia masih berada dalam rumah. Tangan Sarwo mengulur untuk menarik pintu. Ia tersenyum melihat anaknya pagi-pagi begini sudah heboh  di depan rumahnya.

“Kar, inikan hari minggu . Bapak tidak ngantor.”

“Bukan itu pak, terus terang saja. Saya ingin meminta uang yang sebelumnya bapak pinjam tempo hari, bukan kemaren bapak habis  menjual jagung?”

“Iya Kar ini sudah ada uangnya.”

“Dari mana bapak mendapatkan uang ini?” Dengan nada tinggi dan mengerutkan wajah di dahi.

“Terima saja. jangan banyak tanya!”  Jawab ketus bapak.

Dari mimik wajah Sarwo, Karni dapat membaca jika ayahnya itu menyembunyikan sesuatu. Dugaan Karni benar adanya, jika uang tersebut adalah hasil penjualan beras raskin yang bapak timbun tempo hari. 

Sepanjang jalan menuju rumah, Karni berpikir untuk mencari tengkulak yang sudah  berkerja sama dengan ayahnya. Sebab beberapa hari yang lalu ia melihat truk yang mengangkat karung yang sudah ditimbang dari rumah ayahnya. Ia berpikir bahwa tengkulak tersebut adalah tengkulak yang biasanya tempat bapak menjual hasil panennya. Tanpa ragu namun tetap dingin, melalui percakapan yang santai Karni berhasil membuat tengkulak itu mengaku dengan sendirinya. Karni memberitahu tengkulak itu bahwa apa yang dilakukan itu keliru. Ini bisa termasuk korupsi.

Sejak itu ia diam-diam mengawasi sikap, gerak-gerik, serta siapa saja yang berjumpa dengan Sarwo. Tak hanya itu ia juga mengecek rekening tabungan ayahnya yang begitu mengejutkan. Total saldo bertambah ratusan kali lipat. Ia pun menghitung berapa jumlah saldo yang seharusnya masuk dalam rekening. Begitu juga dengan laporan tengkulak melalui kuitansi. Tidak mungkin tambahan itu dari hasil panen. Data demi data ia kumpulkan. 

Burung gereja berterbangan ke sana dan ke mari di depan halaman rumah Karni. Burung itu berterbangan hendak minum air gerimis. Ia membutuhkan data beras yang diberikan pemerintah untuk desa Singkek. Agar mengetahui seberapa banyak beras yang di timbun oleh bapak. 

Tika istri kesayangan Karni sedang hamil tua. Ia menanyakan apakah hari ini Karni  mendapatkan uang tanggihan atau tidak. Selesai bertanya bibirnya ia lenggokkan ke kanan dan ke kiri sambil menyodorkan teh hangat untuk suaminya. Ia menebak jika suaminya gagal menagih hutang kepada ayahnya sendiri. Lalu ia duduk di samping Karni dengan wajah suntuk. Karni tersenyum kepada istrinya. Ia menceritakan bahwa ia berhasil membawa uang tagihan hutang Sarwo. Namun Karni seketika mengerutkan dahi. Ia mengalihkan pandangannya pada burung gereja tanpa secuil kata ataupun kalimat. “Mas, kita gunakan uang itu untuk beaya persalinan kita” tegas tika. Istrinya yang memiliki nama lengkap Atika Rahmawati bangkit dari duduk dan membanting pintu.

Hari masih senja, kebetulan Karni dimintai tolong oleh ayahnya untuk mengatarkan ke kanator kelurahan karena charger laptopnya tertinggal. Sedang ia harus menyelesaikan pekerjaannya minggu ini juga. Ia menawarkan kepada ayahnya agar ayahnya tetap di rumah saja sedang ia saja yang mengambil charger laptop. Ayahnya pun menyerahkan beberapa kunci kepada karni untuk membuka pintu kelurahan.

Dengan semangat yang menggebu, ia menggunakan sepeda motor menuju kantor kelurahan. Setelah berada dalam kantor ia pun mencari berkas terkait data keterangan mengenai jumlah warga yang mengambil jatah beras dan jumlah beras raskin dari pemerintah yang dikirimkan ke Kelurahan. Mencari kertas itu tak semudah menemukan warung makan di pinggir jalan. Wajah Karni bercucuran keringat. Ia mondar-mandir mengambil data di lemari, laci meja, hingga tumpukan kertas di atas kardus. Pukul lima sore serasa begitu singkat baginya. Lalu ia secepat dan tepat mungkin ia menilik berkas berkas tersebut. 

Sarwo yang berada di rumah merasa bimbang kenapa mengambil charger laptop saja membutuhkan waktu yang lama, ia pun menghubungi Karni melalui pesan singkat kepada Karni. Namun tiada balasan yang masuk ke telepon genggamnya dari Karni. Angan-angan Sarwo timbul berbagai macam prasangka. Salah satunya Karni akan mengecek  berkas-berkanya di kantor termasuk berkas berisikan data mengenai beras raskin dari pemerintah. 

Sarwo berhasil membawa berkas yang dicarinya. Ia menggunakan jok sepeda montor untuk menyembunyikan berkas tersebut. Karni menuju arah rumah ayahnya. Kedatangan Karni disambut senyuman oleh ayahnya.

“Kenapa kog lama sekali, charger bapak ada di lubang tikus?”, tanya ayahnya dengan memanyunkan wajahnya.  

Karni hanya diam dan memberikan charger itu kepada ayahnya. Dan bergegas pulang. 

Namun malam harinya Sarwo merasa tak tenang, iringan langkah warga membuat otot Sarwo membentuk saluran air begitu menojol pada leher kurus nan keriput. Lelaki paruh baya itu gelisah ketika diluaran sana banyak warga yang berdemo tentang beras raskin. Melalui pintu belakang ia kabur menuju rumah karni dengan berpegang senter. Saat ini warga Singkek sudah tidak bisa dibohongi lagi. 

Karni menutup seluruh pintu rumahnya dan mencegat Sarwo di pertigaan jalan menuju Jalan raya. Sarwo mengarahkan kecurigaanya tentang sore hari tadi kepada Karni. 

“Keparat kamu, Anak durhaka!” bentak Sarwo. 

Tak hanya bentakan dan kata-kata kecewa jua kotor keluar dari mulut Sarwo tapi juga tamparan ke pipi Karni. Karni tetap dingin. Ia tak menangis, justru ia tertawa mengejek ayahnya.

“Muka bapak, muka tembok! Bapak tidak malu apa yang telah bapak lakukan? Memang bapak dihormati. Tapi aku yang merima kotoran babi. Aduan-aduan bapak tentang penimbunan beras raskin.”

Tika yang mengintip pertikaian itu segera memanggil polisi. Sedangkan aksi saling pukul masih berlanjut. Tak lama kemudian terdengar suara tembakan di udara dan polisi menangkap Sarwo yang saat itu sedang membawa sejata tajam. Tangan Sarwo pun berlumur darah yang berasal dari perut Karni.


 

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Ikalista

Pegiat sastra di komunitas soeket teki semarang, owner Blarak.id.