Froksi

BERKATMU AKU KUAT

Dari Surabaya, Civillion ini mengirimkan cerpennya dalam rangka 30-Day Writing Challenge Froyonion bulan ini.

title

Menjadi dewasa bukan hanya persoalan usia yang semakin tua, bukan juga kerutan di area mata, tetapi juga belajar soal tanggung jawab. Menjadi dewasa seperti pohon yang rimbun, yang akarnya semakin kuat dan menyebar ke segala arah, bahkan menembus beton.

“Seandainya saja, aku dapat kembali ke masa kecilku, aku nggak perlu mikirin yang namanya kerjaan sebanyak ini,” ucap Elda, seorang project manager di agency di Surabaya, Jawa Timur. Kesibukannya setiap hari menyiapkan materi konten yang hendak dipresentasikan, menyiapkan photoshoot, bertemu dengan key of leader dan banyak lainnya.

“Otak rasanya pengen meledak!”

Elda sudah menekuni profesi ini sudah 5 tahun lamanya sejak ia lulus kuliah. Hanya bermodalkan ijazah sarjana ekonomi, Elda nekad melamar posisi project manager yang sebenarnya ia tak cukup paham soal posisi tersebut. Saat itu Elda cuman diminta ibunya agar segera bekerja, maklum, dirinya adalah lulusan cumlaude dan orangtuanya malu karena anaknya menganggur berbulan-bulan, padahal Elda saat itu berharap bekerja di bank karena passion-nya. Sederhananya, Elda ingin pekerjaannya sejurusannya yang ia pelajari waktu kuliah.

Elda pun juga teringat teman-teman kuliahnya, banyak dari mereka bekerja di perusahaan BUMN, menjadi PNS, atau meneruskan kuliah S2 di luar negeri. Melihat dirinya yang sering kelelahan di agency, Elda menjadi dirinya tak berguna dibanding teman-temannya sewaktu kuliah. Sebut saja Rossy, IPK-nya bahkan tak sebagus Elda, bukan lulusan terbaik tetapi dia punya jabatan yang oke dan kariernya selalu naik. Rossy sekarang bekerja di salah satu BUMN. Apalagi Rossy kini sudah punya keluarga yang dikaruniai putri berusia 5 tahun.

Sementara itu, Elda teringat teman dekatnya, namanya Ilham. Ilham sempat menganggur hampir 2 tahun dan Elda langsung mendapat pekerjaan kurang dari setahun, tapi semua itu berubah. Ilham mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi S2. Ilham melanjutkan studinya di Melbourne University, Australia. Sebentar lagi Ilham wisuda dan langsung menjadi dosen tetap di salah satu universitas ternama di Indonesia.

Kalau dibanding dengan Elda, seorang project manager di sebuah agency kecil, jelas jauh sekali. Memang Elda datang dari keluarga yang berada, namun bagnya tetap saja seharusnya ia mendapat yang lebih baik dari kedua temannya tadi. Karier di agency hanya mentok di situ saja, jujur saja, Elda ingin melanjutkan studinya, sempat terpikirkan kalau dia stuck di agency ia ingin banting setir ke dunia pendidikan dan menjadi dosen.

“Kapan ya bisa kayak mereka?” gumamnya selagi tangannya masih melanjutkan pekerjaannya. “Capek banget, usia mau nyentuh 30 tahun tapi kerjaan kayak gini terus mana belum ada calon buat nikah.” Kehidupan quarter life crisis memang melelahkan, Elda juga tak jarang overthinking memikirkan masa depannya. Membandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain.

Seusai Elda ngomel-ngomel pekerjaan yang menumpuk, perempuan berambut panjang sebahu itu memutuskan untuk rehat sejenak. Memasak mie goreng instan, memotong-motong cabai rawit dan juga sawi hijau. Dimasukkannya ke panci yang sudah mendidih. Selagi menunggu, Elda mendengarkan lagu favoritnya, “There Is a Light That Never Goes Out” dari The Smith.

Pikirannya kini sudah mulai sedikit mencair saat mendengar suara Morrisey dan tak lama setelah itu mi sudah matang. Ditiriskannya mi tersebut dan diaduk bersama bumbu-bumbu gurih itu. Di dalam setiap gigitannya, Elda membayangkan dirinya bekerja di suatu tempat yang disukainya.

“Enak kali ya jadi influencer, cuman tinggal nge-post foto aja udah dapat duit dua digit. Gini yang jadi project manager gaji UMR aja udah alhamdulillah,” ucap Elda setelah menyeruput mie goreng itu. Memang betul yang dikatakan Elda, profesi influencer ini sangat timpang soal status sosial.

Mungkin ada pendapat yang bilang: “Kan itu sebanding dengan risikonya. Jadi influencer juga berat, dihujat di mana-mana pantas gajinya begitu.” Namun berbeda dengan Elda, selama dirinya berkarier sebagai project manager juga sering dapat kritik mulai dari klien hingga Account Executive (AE), ya bisa dibilang sama-sama kena mental juga.

Elda kemudian melanjutkan pekerjaannya, tinggal memindah beberapa foto, menyatukannya di Powerpoint, dan dipresentasikan di depan klien pada pagi harinya. Semua pekerjaan telah beres, kini Elda waktunya merebahkan badan. Tapi, namanya juga sibuk kerja membuat Elda masih betah mantengin layar ponselnya. Wajar memang, bekerja ‘9 to 5’ membuat Elda sampai lupa untuk menikmati me time.

Scrolling TikTok seolah seperti mesin waktu, tak terasa Elda sudah menghabiskan waktu hampir 2 jam. Alamak, jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Hidupnya berantakan dan tak punya work life balance, seperti kebanyakan generasi muda. Elda segera mematikan ponselnya dan memejamkan mata.

Pukul 6 pagi, Elda membuka mata dan segera bergegas ke kamar mandi. Baju untuk pergi ke kantor sudah digantung di pintu lemari, tubuhnya disemprot cologne aroma mawar, Elda masuk ke mobilnya sambil membawa barang-barangnya. Sambil memutar Nina Simone “Feeling Good”, Elda berharap bahwa dirinya akan memiliki perasaan bahagia di dadanya.

Kurang tidur dan kantuk yang masih menempel di mata, membuat Elda berhenti di McDonald, memesan Americano di pagi hari. Kurang tidur dapat mempengaruhinya presentasi karena suasana hati yang tak terkendali. Pukul 7 pagi, Elda sudah tiba di kantor. Membawa barang-barangnya padahal di kantor belum ada batang hidung siapa-siapa.

Elda masih mengurus beberapa file yang ingin dipresentasikan. Perasaannya gugup, mungkin karena Americano yang diteguk terlalu banyak. Ah tidak, Elda memang sedang cemas dan panik karena ini klien yang cukup besar. Meski sudah berprofesi sebagai project manager hampir 5 tahun, Elda masih saja dihantui perasaan was-was dan kegagalan.

Pukul 7.53 Elda mendengar langkah kaki seseorang, namun dirinya masih berkutat pada moodboard dan juga strategi campaign. Oh, ternyata Rio, desainer grafis satu tim dengan Elda. Rio memiliki perawakan yang cukup besar dan tinggi, berkacamata bulat, dan kumis tipis seperti lele.

“Sibuk bener Da, persiapan buat nanti ya?” ucap Rio sambil menaruh ranselnya di samping tempat ia duduk.

“Iya nih, yo. Mana kliennya tuh baru dan lumayan rewel,” balas Elda sambil tetap berfokus ke layar laptopnya.

“Santai aja Da, ini aku yakin kamu pasti bisalah. Kan udah pernah megang hampir 20 klien lebih,”  Rio berusaha menenangkan Elda.

Elda memang seorang project manager yang berpengalaman. Saat masa probation-nya, Elda pernah menjalankan 6 campaign dalam waktu kurang lebih 2 bulan saja. Mulai dari brand food and beverages, fashion, social service, sampai public relations pernah dipegangnya. Entah kenapa Elda kali ini merasa tidak begitu antusias saat melakukan pekerjaannya.

“Nggak tahu deh Io, karena kemarin brief dari AE tuh lumayan banyak. Apalagi ini kan klien baru dan sifatnya multinasional. Aku kan belum pernah megang yang jasa arsitektur gini. Banyak banget strategi yang kudu siapin. Mana KPI-nya tinggi juga yo,” jelas Elda.

“Emang nanti presentasi klien jam berapa Da?”

“Di Zoom sih jam 9 yo. Kayaknya aku perlu buat istirahat bentar deh, mata udah mulai panas soalnya.”

Kurang 7 menit sebelum pukul 9, Elda sudah menyiapkan diri, headset sudah terpasang di kedua telinganya, outer beige sudah dikenakannya dan kacamatanya sudah terpasang. Elda menarik napas dalam-dalam sebelum presentasi dimulai.

“Halo, selamat pagi. Saya Elda, sebagai Project Manager yang akan handle campaign dalam 2 bulan ini,” Elda mulai terbiasa dan tak gugup. Jujur saja, ketakutan Elda terbesar adalah penolakan dan rasa tidak puasnya klien apabila tidak sesuai permintaan klien. Meski sudah lebih dari 5 tahun, masih ada yang kurang baginya.

Presentasi sudah berakhir pukul 10.25 ya berarti satu jam setengah Elda sudah mengeluarkan tenaganya untuk presentasi. Sadar dirinya seorang introver, Elda segera buru-buru menutup laptopnya. Kemudian dia mengelap pelipisnya yang sudah berkeringat dingin itu.

“Gimana Da, lancar?” tanya Rio.

“Ya gitu deh, kayaknya mereka kurang semangat dan cocok dengan planning-ku,”  jawabnya sambil mengucek-ucek mata.

“Ya udah, pulang kantor mau nggak kita ngobrol-ngobrol yuk. Kutraktir deh, gimana?” Rio menawarkan.

“Duh, lagi nggak mood sih sebenernya,” jawab Elda sambil memijat lehernya. Ototnya tegang dan sepertinya tekanan darahnya mulai naik.

“Udahlah, kerja terus tuh nggak baik Da, lagian ngapain hidupmu pertaruhkan di depan kepuasan orang lain?”

“Ya udah, nanti ikut deh. Mau nongkrong di mana?”

“Di coffee shop biasanya ajalah. Coffee latte-nya enak kan?”

Elda dan Rio akhirnya pergi ke coffee shop langganan mereka. Elda memesan caramel latte sementara Rio dengan coffee latte Sejak awal masuk kerja, Elda sering menghabiskan waktu meeting di coffee shop tersebut. 

“Aku masih inget sih Da, kamu sering banget ngajak klien meeting di sini. Kayaknya waktu itu tahun keduamu di kantor ya?” Tanya Rio sambil mengaduk-aduk latte-nya.

“Ha, masih inget aja sih. Iya, jadi dulu emang menurutku tempat nih tuh cocok dan cozy,” balas Elda. Elda senang sekali memperhatikan model coffee shop yang dihiasi dengan tanaman dan dipadukan dengan konsep industrial. Jawabannya terdengar klise memang, coffee shop kekinian kebanyakan berkonsep industrial, di mana warnanya didominasi monokrom. Tapi, sebenarnya bukan itu alasannya Elda.

Seketika, Elda teringat saat awal-awal bekerja sebagai project manager, menghabiskan waktu  coffee shop itu karena dirinya pernah dekat dengan seorang barista. Namanya Erik, wajahnya tampan, hidungnya mancung, dan kacamata bulatnya. Elda jadi senyum-senyum sendiri saat ingat masa itu.

“Mau meeting ya, mba?” tanya Erik setelah memberikan struk Elda. Elda memutar ingatan itu di kepalanya.

“Hahaha, iya nih mas. Capek nih meeting-meeting terus kaya raya yo nggak,” jawabnya sambil cengengesan.

“Sering tak perhatiin, mbaknya selalu sibuk buka laptop. Ngerjain apa sih mbak?”  

“Waduh, banyak sih. Biasanya ya bikin plan buat klein,” jelas Elda.

“Serius amat soalnya, oh iya sering ke sini tapi belum kenal ya. Erik,” Erik menjabat tangan Elda.

“Elda,” jawabnya sambil senyum malu.

“Semangat ya mbak, ini ya caramel latte-nya.”

Ingatan tersebut diputus oleh Rio yang menyenggol punggung tangan Elda dengan stylus. Elda gelagapan saat Rio menyentuhnya dengan stylus pen.

“Eh, kenapa yo?”

“Ngelamun mulu, mikirin meeting tadi?”

“Oh, nggak kok, jadi gimana yo?”

Meski Elda berpura-pura tertarik dengan pembahasan Rio, sebenarnya ia masih mengingat-ingat masa manisnya saat Erik memberikan perhatian khusus. Karena Elda ingin menghargai ajakan Rio, akhirnya ia berfokus pada pembicaraan tersebut.

Sebenarnya obrolan Elda dan Rio tak begitu dalam, mereka cuman berbagi keluh kesah soal klien yang sedang digarap agency mereka. Mulai dari klien yang minta revisinya banyak, klien yang putus kontrak, sampai klien baru yang gede.

Elda dan Rio mengakhiri diskusi mereka pada pukul 9 malam, sudah hampir dua jam mereka membicarakan pekerjaan dan juga potongan hidup lainnya. Saat di mobil, Elda menyalakan lampu dan melihat ke arah spion.

“Erik, di mana sih kamu sekarang?”

Selama perjalanan pulang, “I Love You” Billie Eilish terputar di radio. Blar! Semua ingatan soal Erik, barista favorit Elda pun muncul. Elda tak sanggup menahan air matanya, semua tumpah ke pipinya yang merah itu.

Di lampu merah, Elda teringat sebuah percakapannya dengan Erik. Elda tidak berkutat pada laptopnya dan Erik tidak menggunakan apron kerjanya, mereka berdua janjian untuk tidak bekerja di waktu itu.

“Kamu capek kerja, Da?”

“Capek, ngelihat layar laptop terus. Enak ya jadi barista, ngga perlu mikirin riset, ketemu klien, dan cuman campur-campur gitu doang,” guraunya.

“Nggak gitu dong, Da. Namanya kerja juga ada capeknya. Terus ngga asal nyampur gitu ajalah, orang dokter aja harus ada resepnya.”

“Kasih tahu dong rahasianya, kok kamu semangat jadi barista. Aku nggak pernah lihat kamu murung atau sedih pas hadepin customer,” tanyanya.

“Da, kerja tuh juga pakai hati kali. Kalau kamu nggak mencintai pekerjaanmu, apa kamu menikmatinya? Nggaklah, aku cinta jadi barista, ya awalnya aku seneng minum kopi. Emangnya kamu nggak inget kenapa kamu jatuh cinta sama pekerjaanmu?” jawab Erik sambil menyeruput espresso-nya.

“Rik, aku kerja ini kalau nggak tuntutan orangtua ya nggak bakal ambil ini sih.”

“Da, bukan gitu dong. It’s not what you do, it’s about how you perceive yourself. Itu yang penting sih, kamu kerja cuman gajinya aja? Gaji penting buat bertahan hidup, tapi yang bikin manusia bertahan hidup karena selalu punya semangat menjalani segala pekerjaannya,” Erik menatap Elda. Tatapannya seperti menusuk relung Elda, begitu hidup dan serius.

“Iya Rik, mungkin aku harus belajar lebih mindful soal pekerjaanku.”

“Nah gitu dong. Jangan pernah kehilangan Elda lagi. Aku sering merhatiin kamu, serius dan kamu orangnya bertanggung jawab. Kalau kamu udah bertanggung jawab, kamu tandanya sudah punya semangat.”

“Iya, Rik. Makasih banget ya udah motivasi aku. Aku ternyata banyak belajar dari seorang barista dibanding pas aku kuliah.”

“Nah, kalau gitu jangan lupa dibayar SKS-nya ke Erik ya. Hahaha,” canda Erik menimpali omongan Elda.

“Yeuhh dasar.”

Lampu lalu lintas berubah jadi hijau, saatnya jalan. Elda meneruskan perjalanan pulang dan akhirnya tiba di rumah. Elda masih tidak tahu keberadaan Erik di mana sekarang, sebab yang ia dapatkan Erik resign dan pindah ke luar kota.

Elda jadi teringat pesan Erik: “Jangan pernah membandingkan dirimu dengan orang lain ya, Da. Soalnya setiap orang punya jalannya masing-masing. Nikmati saja perjalananmu.” Elda meletakkan tasnya di kursi meja makan, dirinya melamun kurang lebih 5 menit dan kemudian mengambil segelas air dari galon.

Pikirannya kembali meruminasi soal kenangannya bersama Erik. Elda sadar, Erik hanya bekerja di coffee shop tapi dia menikmati pekerjaannya dan tak menunjukkan dukanya saat bekerja. Itulah yang membuat Elda kagum dengan Erik, kecintaannya dalam bekerja dan selalu tersenyum saat menyapa customer.

Sekarang Elda tak dapat menghubungi Erik kembali, semua kontaknya hilang dan sosial medianya diblokir. Elda sempat marah karena Erik menghilang tanpa kabar, inikah yang dinamakan ghosting? Pergi di saat seseorang sudah nyaman bersamamu. Elda membaringkan badannya di kasur, menatap langit-langit kamar.

“Setidaknya aku belajar darimu, Rik. Aku menemukan semangatku kembali, tapi kamu hilang entah ke mana.” (*/)

  • whatsapp
  • twitter
  • facebook
  • remix
Penulis

Yosua Pirera

Copywriter, content writer, poet